|
"Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti
Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada
mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak
membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,
saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya
sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak
memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi
murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau
mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran
biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan
pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan
tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang
melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai
mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau,
raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain
tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan
sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang
mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia
akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk
menanyakan syarat-syarat perdamaian."
Apabila kita ingin menjadi murid yang sejati kita harus
mengambil langkah iman. Tuhan Yesus dikerumuni oleh orang
banyak. Mereka datang berduyun-duyun mengikut Dia. Dan Yesus
memberi komentar agar barangsiapa mengikut Dia harus memikul
salibnya.
Bagaimana situasi jumlah yang besar pada umumnya? Jumlah yang
besar itu oke-oke saja tetapi Yesus tidak terkesan dengan
jumlah yang besar. Sebab jumlah yang besar itu sering datang
dan pergi. Kadang-kadang mereka bisa berbalik menentangmu.
Yesus turun ke dunia tidak membangun kerumunan orang yang
banyak tetapi Dia membangun gerejaNya.
1. Dia menjalankan agenda surga dengan cara kasih dan
menjelaskan kepada mereka inilah rencanaNya.
Dengan kata lain sepertinya Yesus mengatakan: "Aku yang akan
menjadi nomer satu dalam hidupmu"
Luk 14:28 - "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak
membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,
saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya
sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. "
2. Tuhan menghendaki kita memikui salib kita sambil
mengikut Dia. Luk 14:27 Apakah salib itu? Salib itu adalah
instrumen kematian. Yaitu alat untuk mematikan kita. Kita
hanya bisa mati apabila mau menyerahkan segalanya bukan
separuh, bukan 90% tetapi segalanya. Tuhan Yesus tidak menekan
kita sehingga penyerahan kita menjadi suatu beban yang berat,
tetapi Tuhan Yesus menyatakan hukum untuk mengikut Dia.
Seseorang yang mengikut Yesus dengan penyerahan total harus
menyadari bahwa itulah komitmen yang dia ambil dan dia akan
menjalaninya dengan sukacita.
Ada satu garis yang tinggi yang dituntut oleh Tuhan untuk
komitmen kita. Tuhan seolah-olah berkata demikian: "Jikalau
Aku hanya memiliki 12 orang Aku akan bisa mengubah dunia ini
hanya dengan yang 12 orang itu."
Apabila anda ingin menjadi murid Tuhan asingkan dirimu dari
kerumunan orang banyak untuk menjadi seorang murid yang
sungguh-sungguh komitmen.
POTRET SEORANG MURID YANG KOMITMEN
Ada lima aspek dari murid yang komitmen.
1. Dia komitmen untuk memiliki saat teduh dengan Tuhan
Yesus.
Dia membangun hubungan melalui penyembahan dan itu bukan hanya
menyanyi setiap Minggu pagi di gereja. Itu harus menjadi
penyembahan seumur hidup kita.
Tuhan itu bukan mengejar penyembahan kita tetapi Tuhan
mengejar kita. Dia menginginkan penyembah.
Yoh 4:23,24 - "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba
sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa
dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki
penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa
menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. "
Hubungan kita akan mengalir melalui penyembahan yaitu
penyembahan yang keluar dari dasar hati yang akan menyentuh
hati Allah, dengan iman
2. Mereka ada di dalam persekutuan kasih dengan sesamanya.
Kita perlu terlibat di dalam persekutuan kamunitas dari rumah
ke rumah. Kita tidak bisa membangun persekutuan yang akrab di
dalam ibadah-badah hari Minggu saja sebab hal itu hanya
merupakan hubungan yang dangkal. Kita tidak bisa
sungguh-sungguh saling memperhatikan di dalam ibadah. Di dalam
ibadah kita memang saling melayani tetapi kita akan melayani
kebutuhan mereka secara mendalam pada saat bertemu dari rumah
ke rumah. Kis 2:41-47; Kis 4:32-37.
Apabila kita hanya hadir dalam ibadah raya kita tidak memiliki
pertanggungjawaban mengenai apa yang kita dengar dari Firman
Tuhan. Kita perlu sekali memiliki keluarga kecil di mana kita
dapat memperhatikan satu dengan yang lain. Seorang murid akan
membangun hubungan. Kerumunan orang banyak itu kadang-kadang
mengikuti jalannya sendiri. Apalagi bila kerumunan orang
banyak itu tersinggung atau merasa dikecewakan. Apabila ada
seseorang yang melukaimu pergi selesaikanlah dengan orang itu.
Apabila tidak mempan panggillah orang ketiga. Mat 18: 15-20.
3. Seorang murid memiliki hati hamba.
Mat 20:28 - "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk
dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan
nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. "
Mrk 10:45 - "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk
dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan
nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Dia tahu bagaimana mengembangkan karunia-karunia. Kalau kita
memiliki orientasi yang egois terhadap hidup kita itu akan
merusakkan hidup kita sendiri. Seorang murid akan
menghancurkan orientasi yang egois dalam dirinya dan mulai
melayani. Kita perlu menanggapi kebutuhan orang dengan
mengatakan apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain.
Sebagai murid kita juga perlu mengatakan apa yang bisa saya
berikan kepada gereja.
Orang-orang Kudus Vs Setan-setan.
Ada yang melakukan segala sesuatu dengan banting tulang tetapi
ada yang lain duduk santai tidak melakukan apa-apa.
Kadang-kadang diadakan simulasi, presentasi, praktek di kelas
mengalami pengalaman indah tetapi tidak mau pergi melakukan
penjangkauan. Kadang-kadang ada yang saling memukul, saling
bertengkar untuk banyak hal makanya tidak mencapai kemenangan.
Di dalam hal ini 5 jawatan rohani harus melengkapi. Semua
orang diwadahi dalam tugas-tugas mengalahkan musuh.
4. Seorang murid adalah seorang pemberi yang murah hati.
Luk 14:28-30.
Mereka demikian dicengkeram untuk hal-hal yang ada
kepentingannya dengan Yesus. Segala sumber baik daya dan dana
dipersembahkan dengan senang hati dan dengan limpah asal kita
tahu bahwa segala sesuatu yang kita miliki datang dari Tuhan.
Mestinya kita akan rela mengembalikan kepadaNya semaksimalnya.
Untuk hal ini hanya diperlukan perubahan paradigma atau
pergeseran dalam cara berpikir. Karena sebenarnya semuanya
datangnya dari Tuhan.
5. Seorang murid sangat bergairah untuk menginjil.
Dia akan menularkan penginjilan kepada orang-orang lain. Dia
memiliki hati yang sepenuhnya ingin memenangkan jiwa-jiwa bagi
Tuhan. Dia memiliki sukacita yang lebih bila bisa memperoleh
satu orang lebih dari segalanya. Karena satu orang yang
bertobat ada sukacita di surga dan seluruh malaikat di surga
bersukacita. Prioritas surga adalah menyelamatkan yang
terhilang. Marilah kita menjadi mata rantai yang di tengah
atau mata rantai penyambung dan janganlah kita menjadi mata
rantai yang hilang. Bagian dari petualangan besar mengasihi
jiwa-jiwa adalah menjadikan jiwa-jiwa itu orang-orang percaya
dan menjadi murid Yesus. Dengan adanya mata rantai-mata rantai
pemuridan impaknya akan sangat besar kepada dunia yang
terhilang. Seberangilah garis itu. Mulailah bangun
hubungan-hubungan. Jadilah salah seorang yang paling penuh
menjadi murid Yesus.
Kita hanya memiliki satu kehidupan untuk kita jalani. Yesus
ingin kita menjalaninya sepenuhnya. Sasaran kita adalah
memberi dan tidak sekedar menerima.
Luk 8:38 - "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran
yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke
luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu
pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. "
Yoh 10:10 - "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan
membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai
hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. "
Adalah di dalam memberi bahwa kita akan menerima. Hubungan
kita dengan Yesus tidak didasarkan atas rutinitas tetapi perlu
dibakar lagi dan diisi lagi, melalui pergaulan karib denganNya.
Nikmatilah kehadiranNya setiap hari di dalam hidupmu dengan
pujian penyembahan dan merenungkan firmanNya.
(Nantikan
artikel berikutnya!)
|