|
Cinta, sejuta
rasanya, kata mereka yang sedang bercinta. Cinta menuju kepada
pernikahan.
Pernikahan bukan pestanya. Pernikahan bukan gaun pengantinnya.
Pernikahan bukan setelan jas mempelainya. Pernikahan bukan
dekorasi dan tempat resepsinya.
Cinta adalah komitmen antara seorang pria dan wanita single
yang dewasa dalam iman, dewasa dalam kemandirian keuangan.
Masuk ke dalam pernikahan berarti sudah siap menghadapi
tantangan.
Hidup baru dengan pasangan yang dicintai tidak selalu mudah
dan mulus.
Hidup baru dengan pasangan yang dicintai berarti mulai
menghadapi tantangan.
Mengapa menghadapi tantangan dalam kehidupan?
Dua pribadi yang saling tidak tahu sepenuhnya menjadi satu, .
. Bagaimana caranya menekan odol. Bagaimana caranya tidur.
Ada perempuan yang setelah beberapa bulan menikah tidak mau
tidur seranjang dengan suaminya sebab suaminya ngorok.
Kadang-kadang pasangan tidak tahu apa kesukaan dan apa yang
tidak disukai pasangannya. Apa kesulitannya? Kadang-kadang
manusia cenderung melakukan apa yang dia sukai, ingin
pasangannya mengerti dan mengikutinya, tetapi dia sendiri
tidak memahami kesukaan pasangannya; mengabaikannya, atau
tidak mau mendukungnya. Ada pasangan yang tidak mau
mempersoalkannya, tetapi ada yang kemudian menimbulkan
persoalan.
Kebahagiaan dalam rumah tangga bukan sesuatu yang datang
dengan sendirinya. Tetapi kebahagiaan harus diusahakan oleh
kedua belah pihak, bukan dengan saling menuntut atau saling
memaksa, tetapi dengan saling memahami, saling memberi atau
saling memperhatikan, bahkan saling berkorban.
Sukses di dalam pernikahan bukan meminta atau menuntut
pasanganmu menjadi orang yang tepat, tetapi jadilah orang yang
tepat untuk pasanganmu.
Pernikahan sukses bukan dengan sekedar mengharapkan
kebahagiaan dari padanya, tetapi dengan menanamkan kebahagiaan
ke dalamnya.
Apa kuncinya? Saling memberi, saling memperhatikan, saling
melayani. Rela berkorban, selalu menyangkal diri, suka
mengampuni.
Dalam dialog selama pernikahan atau dalam kehidupan kapan saja,
dengan siapa saja, ada beberapa reaksi untuk suatu percakapan.
Pilihlah untuk tidak mudah marah, atau pilihlah perbincangan
yang tidak menyulut kemarahan.
I Ptr 3: 7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah
bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah!
Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia,
yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang."
Suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu. Hiduplah dengan
pengertian terhadap perasaannya, sebab wanita biasa main
perasaan. Jangan sakiti atau kecewakan perasaannya.
Apa yang anda lakukan atau ucapkan, untuk kesalahan yang kecil,
itu dapat disimpan lama dalam memorinya.
Ef 5:25 "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus
telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.
"
Mengasihi isteri seperti Kristus mengasihi jemaat adalah
mengasihi dengan sempurna, mengasihi habis-habisan, sehingga
siap mati baginya, artinya rela berkorban baginya.
Perhatikan emosinya, waktu dia sakit, waktu dia lemah atau
lelah. Janganlah hal ini menjadi janji nikah semata-mata,
tetapi untuk menggenapi janji itu perlu latihan dalam hal yang
kecil-kecil.
Jangan lupa berpacaran dalam pernikahan, ingat ulang tahun
masing-masing, ingat ulang tahun pernikahan.
Kasihi dengan seutuhnya, saling menerima apa adanya. Kasihi
dengan kelembutan hati dan sikap. Kasihi dengan perasaan yang
dinyatakan dalam tindakan.
Cintai dia karena dia. Bukan karena wajahnya. Bukan karena
tubuhnya. Semua bisa berubah. Minta Tuhan memampukan kalian
saling mengasihi dan menjadi saksi di dalam dunia yang kurang
kasih.
Ef 5:22-24 – “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti
kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti
Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus,
demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. "
Isteri terpanggil untuk tunduk kepada suami, yaitu menghargai
suami, bukan karena kecakapan atau kekayaannya, tetapi sebab
dia adalah suami, yang adalah kepala untuk rumah tangga. Dia
payung bagi keluarga. Dia yang melindungi dan bertanggungjawab
atas keluarga,
Bagaimanapun dia adalah manusia yang tidak sempuma, yang perlu.
ditopang, didukung, dihargai, dihormati. Jangan merendahkan
suami dalam perkataan dan perbuatan.
Kalian masing-masing bukan orang yang sempurna. Namun kalian
sudah cukup lama saling mengenal. Kalian sudah tahu kelebihan
dan kekurangan masing-masing. Namun demikian setelah kalian
menjadi satu dalam pernikahan, masih akan ada banyak hal yang
kalian berdua perlu pe!ajari.
Ams 27:17 – “Besi menajamkan besi, orang menajamkan
sesamanya."
Pernikahan adalah tempat di mana kita saling mengasah dan
menajamkan, membuat 2 pribadi makin bijaksana.
Biarlah Tuhan mengikat kalian dengan kasihNya yang abadi di
dalam pernikahan. Tuhan memberkati sekarang dan selamanya.
(Nantikan artikel selanjutnya!) |