» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» VOICE OF VICTORY                                                               Pdt. Mary Hartanti,D.Min.

 

PERKAWINAN
"MENCINTAI DIA KARENA DIA"

Cinta, sejuta rasanya, kata mereka yang sedang bercinta. Cinta menuju kepada pernikahan.
Pernikahan bukan pestanya. Pernikahan bukan gaun pengantinnya. Pernikahan bukan setelan jas mempelainya. Pernikahan bukan dekorasi dan tempat resepsinya.
Cinta adalah komitmen antara seorang pria dan wanita single yang dewasa dalam iman, dewasa dalam kemandirian keuangan.
Masuk ke dalam pernikahan berarti sudah siap menghadapi tantangan.
Hidup baru dengan pasangan yang dicintai tidak selalu mudah dan mulus.
Hidup baru dengan pasangan yang dicintai berarti mulai menghadapi tantangan.
Mengapa menghadapi tantangan dalam kehidupan?
Dua pribadi yang saling tidak tahu sepenuhnya menjadi satu, . . Bagaimana caranya menekan odol. Bagaimana caranya tidur.
Ada perempuan yang setelah beberapa bulan menikah tidak mau tidur seranjang dengan suaminya sebab suaminya ngorok.
Kadang-kadang pasangan tidak tahu apa kesukaan dan apa yang tidak disukai pasangannya. Apa kesulitannya? Kadang-kadang manusia cenderung melakukan apa yang dia sukai, ingin pasangannya mengerti dan mengikutinya, tetapi dia sendiri tidak memahami kesukaan pasangannya; mengabaikannya, atau tidak mau mendukungnya. Ada pasangan yang tidak mau mempersoalkannya, tetapi ada yang kemudian menimbulkan persoalan.
Kebahagiaan dalam rumah tangga bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Tetapi kebahagiaan harus diusahakan oleh kedua belah pihak, bukan dengan saling menuntut atau saling memaksa, tetapi dengan saling memahami, saling memberi atau saling memperhatikan, bahkan saling berkorban.
Sukses di dalam pernikahan bukan meminta atau menuntut pasanganmu menjadi orang yang tepat, tetapi jadilah orang yang tepat untuk pasanganmu.
Pernikahan sukses bukan dengan sekedar mengharapkan kebahagiaan dari padanya, tetapi dengan menanamkan kebahagiaan ke dalamnya.
Apa kuncinya? Saling memberi, saling memperhatikan, saling melayani. Rela berkorban, selalu menyangkal diri, suka mengampuni.
Dalam dialog selama pernikahan atau dalam kehidupan kapan saja, dengan siapa saja, ada beberapa reaksi untuk suatu percakapan.
Pilihlah untuk tidak mudah marah, atau pilihlah perbincangan yang tidak menyulut kemarahan.

I Ptr 3: 7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang."

Suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu. Hiduplah dengan pengertian terhadap perasaannya, sebab wanita biasa main perasaan. Jangan sakiti atau kecewakan perasaannya.
Apa yang anda lakukan atau ucapkan, untuk kesalahan yang kecil, itu dapat disimpan lama dalam memorinya.

Ef 5:25 "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. "

Mengasihi isteri seperti Kristus mengasihi jemaat adalah mengasihi dengan sempurna, mengasihi habis-habisan, sehingga siap mati baginya, artinya rela berkorban baginya.
Perhatikan emosinya, waktu dia sakit, waktu dia lemah atau lelah. Janganlah hal ini menjadi janji nikah semata-mata, tetapi untuk menggenapi janji itu perlu latihan dalam hal yang kecil-kecil.
Jangan lupa berpacaran dalam pernikahan, ingat ulang tahun masing-masing, ingat ulang tahun pernikahan.
Kasihi dengan seutuhnya, saling menerima apa adanya. Kasihi dengan kelembutan hati dan sikap. Kasihi dengan perasaan yang dinyatakan dalam tindakan.
Cintai dia karena dia. Bukan karena wajahnya. Bukan karena tubuhnya. Semua bisa berubah. Minta Tuhan memampukan kalian saling mengasihi dan menjadi saksi di dalam dunia yang kurang kasih.

Ef 5:22-24 – “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. "

Isteri terpanggil untuk tunduk kepada suami, yaitu menghargai suami, bukan karena kecakapan atau kekayaannya, tetapi sebab dia adalah suami, yang adalah kepala untuk rumah tangga. Dia payung bagi keluarga. Dia yang melindungi dan bertanggungjawab atas keluarga,
Bagaimanapun dia adalah manusia yang tidak sempuma, yang perlu. ditopang, didukung, dihargai, dihormati. Jangan merendahkan suami dalam perkataan dan perbuatan.
Kalian masing-masing bukan orang yang sempurna. Namun kalian sudah cukup lama saling mengenal. Kalian sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun demikian setelah kalian menjadi satu dalam pernikahan, masih akan ada banyak hal yang kalian berdua perlu pe!ajari.

Ams 27:17 – “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya."

Pernikahan adalah tempat di mana kita saling mengasah dan menajamkan, membuat 2 pribadi makin bijaksana.
Biarlah Tuhan mengikat kalian dengan kasihNya yang abadi di dalam pernikahan. Tuhan memberkati sekarang dan selamanya.

(Nantikan artikel selanjutnya!)

| A R S I P | B I O D A T A |


Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi