Home | Tentang Kami | Kesaksian | Acara rohani | Link
 
Swara Surgawi
Video Streaming
Gratis CD Sabda
Alkitab Elektronik
Hollypower.net
E-mail Gratis
E-card
Kartu Ucapan Kristiani
 
eXTReMe Tracker
 


Berisi artikel-artikel yang menyuarakan kebenaran yang ditulis oleh
Pdt. Erastus Sabdono.M.Th.
Artikel ini bersumber dari website Rehobot Online dan ditulis beliau dengan
gaya bahasa yang sederhana, lugas, tegas dan dipersembahkan 
untuk para pembaca sekalian untuk menjadi berkat
 

Bisnis Dan Kekristenan

Harus diakui bahwa sedikit sekali orang Kristen, theolog dan gereja yang memperdulikan etika bisnis. Sikap ini dapat dianggap sebagai sikap yang tidak bertanggung jawab dalam dunia yang faktuil dan riel. Selama ini dunia bisnis telah berubah warna semakin variatif dan laju tidak terkendali seiring dengan modernisasi dan kompleksitas kehidupan manusia. Demikianlah kompleksitas masalah dalam dunia bisnis semakin tinggi. Disisi lain dunia yang semakin gelap dan jahat membawa manusia kepada praktek-praktek hidup yang menjauhi Allah dan melawan hukumNya, juga dalam dunia bisnis. Sementara banyak jemaat Kristen yang berkecimpung dalam dunia bisnis ini ikut hanyut dalam suasana dunia semacam ini. Bisnis adalah bagian hidup dari masyarakat dan dunia kita yang memiliki kekuatan dan kekuasaan sosial sangat besar. Kalau etika tidak menerobos dalam dunia bisnis maka betapa besar dampaknya atas kehidupan manusia dibidang lainnya. adalah sangat berbahaya kalau gereja dan para theolognya mengesampingkan kenyataan ini. Kenyataan diabaikannya pergolakan dunia bisnis ini membawa para pelaku bisnis dan kekristenan dewasa ini pada fakta-fakta sebagai berikut : Orang kristen pelaku bisnis tidak memiliki panduan atau pedoman yang relevan terhadap masalah bisnis yang berlangsung dalam dunia sekuler. Malangnya khotbah- khotbah di mimbar gereja, pendalaman-pendalaman Alkitab, seminar-seminar rohani dan sejenisnya biasanya mengambil tema yang berorientasi kepada pokok-pokok masalah yang tidak berkaitan dengan dunia bisnis. Hal ini tentu mengakibatkan para pelaku bisnis yaitu jemaat yang berprofesi sebagai usahawan yang bergelut dengan dunia bisnis bagai anak yatim piatu yang tidak menerima penggembalaan dan pembinaan yang sesuai dengan kebutuhannya. Para pelaku bisnis ini tidak memiliki solusi yang Alkitabiah dalam menghadapi masalah-masalah bisnis dalam situasi konkrit yang dihadapi. Mereka kurang diperlengkapi dan dibekali dengan konsep etika bisnis yang lengkap dan siap pakai berdasarkan Firman Tuhan. Bila keadaan demikian maka jangan memiliki ekspektasi terhadap jemaat Tuhan yang bergumul di dunia bisnis untuk menjadi jemaat yang benar, sebab tanpa panduan dan pedoman yang yang cukup para pelaku bisnis tidak akan dapat mampu berjalan dalam kebenaran Tuhan. Bisnis dianggap sebagai profesi yang "agak kotor" atau bahkan kotor sama sekali. Bisnis telah dianggap oleh beberapa pihak sebagai a-moral. Tidak jarang para "rohaniawan dan moralis " gereja memandang bisnis sebagai profesi yang "membahayakan" bagi sesamanya. Dalam halini tidak heran kalau ada sekelompok orang yang memandang profesi ini dengan mata pandangan curiga. Sebab mereka mengkaitkan profesi ini dengan praktek- praktek "a-moral", seolah-olah bisnis ini tidak dapat dijalankan tanpa praktek kotor. Bagi para usahawan yang tidak dewasa rohani menganggap bahwa bisnis yang diselenggarakan tanpa kecurangan tidak akan mendatangkan keuntungan. Inilah adalah praduga sekuler yang tidak membawa seseorang kepada kebenaran Allah. Seorang usahawan harus percaya bahwa berjalan dalam kebenaran membawa berkat. Tentu berkat disini harus diartikan secara tepat dan benar. Para pelaku bisnis merasa sebagai orang "tertuduh" yang tipis harapan untuk menjadi orang percaya yang layak hidup ditengah-tengah jemaat Tuhan yang kudus. Tidak jarang diantara mereka menjauhi gereja dan persekutuan dengan Allah. Pada akhirnya bagi mereka dosa seolah-olah sudah menjadi bagian hidup. Kenyataan ini membawa para usahawan Kristen dalam hidup imannya memiliki dua dunia, yaitu dunia gereja sebagai orang percaya dan dunia bisnis sebagai usahawan. Ia merasa bahwa moral dalam dunia bisnis terpisah dari hidupnya sebagai orang percaya dalam gereja. Baginya kekristenan tidak berlaku dalam dunia bisnis. Ditambah dengan kenyataan tidak adanya panduan atau pedoman yang lengkap mengenai pandangan etis theologis terhadap bisnis maka sementara para pelaku bisnis menganggap bahwa Alkitab tidak mampu menjawab kebutuhan mereka dan mereka boleh bertindak bebas bagai di daerah tak bertuan yang tidak ada hukum dan norma. Secara tidak langsung keadaan ini mendidik orang Kristen kepada kehidupan yang tidak realistis dan tidak bertanggung jawab terhadap Tuhan dan masyarakat sekitar. Oleh sebab itu orang percaya, theolog dan gereja harus mulai memikirkan masalah ini. Bisnis tidak dapat atau tidak boleh dipisahkan dari etika. Tidak ada wilayah atau bidang hidup manusia yang dapat diisolasikan dari kebenaran. Tidak ada daerah "netral" bagi etika. Bisnis tidak bisa atau tidak boleh berjalan sendiri tanpa terang Firman Tuhan. Kita harus memiliki kepedulian yang sangat serius untuk dunia bisnis, dimana banyak jemaat Tuhan berkecimpung didalamnya. Kita harus mulai membenahi diri untuk menjadi umat pilihan Allah ditengah-tengah dunia yang gelap dengan pola-pikir dan pola-tindak yang pasti dan jelas beralaskan Firman Tuhan atas segala tindakan dan praktek hidup kita, juga dalam dunia bisnis. Firman Tuhan yang tertulis didalam Alkitab adalah buku panduan yang mempedomani kehidupan orang percaya. Disana ada jawabnya. Alkitab mampu menjawab segala tantangan jaman dan masalah-masalahnya. Dengan demikian jemaat memiliki suatu kerangka untuk menolong para usahawan hidup sebagai warga kerajaan sorga ditengah-tengah pergulatan buasnya dunia bisnis . Gereja harus berani intervensi dalam dunia bisnis dengan menggunakan senjata terang Firman Tuhan. Sekalipun ini bukan pekerjaan yang mudah dan dalam pergumulannya membutuhkan waktu yang cukup panjang. Dalam hal ini gereja terhadap dunia bisnis dipanggil bukan saja untuk bersikap analistis kritis dengan konseptual-konseptual konservatifnya tetapi juga keterbukaan untuk melihat dengan telanjang dunia bisnis yang sedemikian ruwet dan rumit. Intervensi ini harus dilakukan dengan pendekatan yang sebijaksana mungkin, bukan sebagai polisi yang meninterogasi penjahat tetapi bagai orang tua yang menasehati anak-anaknya dengan kasih sayang dan pengertian. Memang harus diakui bahwa dunia bisnis adalah "dunia rawan". Dalam kenyataan bisnis banyak diselenggarakan dalam praktek-praktek yang sangat kotor sehingga muncul ungkapan "bisnis adalah kotor". Nampak disini bahwa dunia bisnis bagi orang percaya adalah medan pergumulan yang berat. Namun demikian gereja tidak boleh menyerah kalah dan membiarkan orang percaya yang berkecimpung di dunia bisnis berjalan tanpa tuntunan. Gereja harus optimis untuk menghadapi medan pergumulan ini dan tampil sebagai pememang, sebab Yesus beserta kita dan tidak ada pergumulan/pencobaan yang melampaui kekuatan kita (1Kor 10:13). Para pelaku bisnis harus percaya bahwa Allah mampu meloloskan kita dari jerat kesulitan bagaimanapun sulitnya. Tidak ada masalah yang tidak dapat ditembus. Didalam penyelenggaraan bisnis, kita harus percaya RohNya mampu membawa kita kepada segala kebenaran dan kesucianNya. Perlu ditambahkan disini walaupun etika terhadap dunia bisnis harus intervensi tetapi intervensi tersebut tidak boleh membatasi gerak laju dunia bisnis itu sendiri. Sebab kalau intervensi etika melampaui batas-batas yang menjadi wilayah etika maka gerak dunia bisnis akan terbatasi, ini berarti kerugian dalam dunia bisnis. Bagaimanapun dunia bisnis harus diberi otonomi untuk mengekspansi kiprahnya. Tentu sejauh tidak menyalahi norma Tuhan. Prinsip-Prinsip Penting Bagi Pelaku Bisnis Tentu untuk menggali sedalam-dalamnya dan menjelaskan seluas-luasnya mengenai etika bisnis dibutuhkan waktu yang cukup panjang. Untuk ini kita mencoba untuk melihat beberapa prinsip yang paling hakiki guna pegangan bagi para pelaku bisnis, paling tidak dapat melengkapi apa yang sudah ada selama ini. Walau penjelasan ini terkesan teoritis dan idealis, tetapi inilah kebenaran terbaik yang dapat kita gali dari Alkitab yang adalah "way of life" orang percaya. Sebab bagi orang percaya tidak ada pilihan lain kalau hendak hidup sebagai warga Kerajaan Sorga harus hidup sesuai dengan Alkitab. Seorang pelaku bisnis yang hendak menyelenggarakan bisnisnya sesuai dengan moral warga Kerajaan Sorga haruslah seorang yang memiliki prinsip- prinsip ini. Prinsip-prinsip ini tidak menyinggung mengenai permasalahan didunia bisnis secara perkasus, tetapi prinsip-prinsip ini merupakan landasan atau titik pijak dalam segala tindakan yang dilakukan oleh para pelaku bisnis. 1.Kelahiran baru Seorang pelaku bisnis yang hendak menyelenggarakan bisnisnya sesuai kehendak Allah harus seorang yang telah lahir baru. Kelahiran baru ini memberikan kepada seseorang "potensi" untuk hidup seturut kehendak Allah. Itu berarti ia memiliki Roh Kudus yang akan memimpinnya kepada segala kebenaran Allah (Yohanes 16:13; Efesus 1:13). Tanpa tuntunan Roh Kudus seseorang tidak akan dapat mengenal kebenaran apalagi mengenakannya. Oleh sebab itu seseorang harus mengalami pembaharuan sebagai langkah awal menerima Roh Kudus (2Kor 5:17). Kepada pribadi-pribadi yang telah mengalami pembaharuan inilah berlaku tuntutan untuk hidup sempurna (Matius 5:20,48). Tuntutan tersebut sekaligus panggilan orang percaya untuk menjadi garam dan terang di kawasan kita masing-masing, bagi para usahawan tentu sekitar dunia bisnisnya (Matius 5:13-16). Melalui proses kelahiran baru, pemulihan gambar Allah yang rusak dapat tertrealisir. Oleh kelahiran baru seseorang dimampukan untuk menyelenggarakan kehidupan yang memuaskan hati Tuhan dan menjadi berkat bagi masyarakatnya. 2. Seorang Pengelola Pelaku bisnis harus menyadari bahwa ia adalah seorang "manager" bukan seorang "owner". Ia adalah seorang pengelola bukan "pemilik". Setiap orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus adalah milik Tuhan (1Kor 6:19- 20). Segenap milik dan diri kita adalah milik Tuhan bahkan partikel yang paling kecil dalam hidup kita. Allah mengajarkan kita untuk menyelenggarakan milik Tuhan dengan tanggung jawab dan bijaksana (Lukas 16:11-12). Kesadaran kita bahwa usaha/bisnis kita adalah milik Tuhan akan menciptakan kepribadian yang kuat. Pribadi yang tidak mudah kuatir dan cemas menghadapi masalah dalam bisnis dan menghindarkan diri dari praktek-praktek bisnis yang bertentangan dengan kehendak Allah, yang melawan hukum dan norma serta merugikan orang lain. Kesadaran bahwa bisnis kita adalah milik Tuhan akan mendorong kita bersungguh-sungguh mempersembahkan bisnis bagi kepentingan Tuhan dan kerajaanNya (Filipi 1:21). Orang percaya adalah "kasir" Tuhan dan Tuhan adalah pemiliknya. Kebenaran ini akan membawa orang percaya berhati-hati dalam penggunaan harta milikNya. Harta yang kita miliki adalah barang pinjaman yang harus dipertanggung jawabkan kepada Sang Pemilik. Sebagai seorang pengelola yang dipercayai mengelola milik Tuhan hendaknya kita mengelolanya dengan sepenuh pengabdian dan sukacita, sebab upah yang menanti kita bukanlah hasil jerih payah kita dalam kerja di dunia itu semata-mata tetapi mahkota abadi yang disediakan bagi setiap orang yang telah mengabdi kepadaNya. 3. Tujuan Hidup Yang Benar Seorang pelaku bisnis haruslah seorang yang menyadari, menghayati dan memiliki tujuan hidup yang benar. Tujuan hidup kita adalah Tuhan dan kerajaanNya, bukan materi (Fil 1:21). Di dalam Tuhan bagi umat Perjanjian Baru harta telah diturunkan dari tahtaNya (Mat 6:33; Matius 19:27-29). Oleh sebab itu harta tidak boleh menduduki tempat utama dalam hidup ini. Harta tidak boleh menjadi tuan atau raja dalam hidup, tetapi harta haruslah menjadi alat pelayanan dan hamba bagi kepentinganNya. Allah memanggil kita untuk mewarisi "langit baru bumi baru", bukan bumi dan langit yang sekarang kita lihat (Wahyu 21:9-27 dan 22:1-5, dll). Oleh sebab itu tujuan hidup kita harus terpancang terus ke depan yaitu panggilan sorgawi dalam Yesus Kritus (Filipi 3:13-14; Matius 6:19-24; Kolose 3:1-4). Kesadaran ini akan membawa orang percaya kepada kehidupan yang tidak terikat oleh mamon (Matius 6:24) dan tidak terkecoh oleh tipu daya kekayaan (Matius 13:22; Lukas 21:34-36). Dengan kebenaran ini orang percaya akan dibawa kepada ibadah yang benar di hadapan Allah (1 Timotius 6:56-10). Ia terhindar dari dosa mamonisme dan keserakahan. Nafsu leviathan dapat dihindarkan. Namun demikian perlu catatan penting bahwa hal ini bukan berarti orang percaya tidak perlu uang lalu memandang materi/uang/kekayaan secara keliru. Tuhan Yesus menganjurkan agar kita menggunakan materi/uang kekayaan untuk mengabdi kepadaNya (Lukas 16:9). Kiranya kita tidak menjadi sedemikian moralis lalu memandang hal-hal tersebut sebagai "najis" yang patut dijauhkan. Materi/uang/harta benda kita adalah berkat Tuhan yang dipercayakan kepada kita untuk digunakan guna mengabdi kepada Tuhan dan dinikmati secara bijaksana. Di sini para pelaku bisnis dapat mengambil bagian dalam pembangunan tubuh Kristus dan pelaksanaan pelebaran Kerajaan Allah dalam dunia ini sebagai bagian dari tubuh Kristus yang juga harus berfungsi (1Kor 12:12-31). Para usahawan menjadi ujung tombak kerajaan sorga dalam mendukung kebutuhan finansiil dalam pelayannan pekerjaan Tuhan. Dukungan ini sangat berarti dalam pelayanan pekerjaan Tuhan di dunia sekarang ini. 4. Terang Dan Garam Dunia Orang percaya, juga pelaku bisnis dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13-16). Ini berarti pelaku bisnis harus menjadi berkat bagi orang lain. Selama ini dunia bisnis menganggap biasa terhadap kenyataan "homo homini lupus" (manusia mangsa bagi sesamanya, manusia menjadi serigala bagi sesamanya). Keuntungan di atas kerugian orang lain, tertawa di atas tangis orang lain, sukses di atas kegagalan orang lain, kelimpahan di atas kebangkrutan orang lain. Bagi warga Kerajaan Sorga praktek hidup seperti ini harus dijauhkan. Hidup kita harus menjadi seperti anggur yang tercurah dan roti yang terpecah bagi orang lain. Dalam penghakiman akhir ternyata ukuran yang dipakai dalam penghakiman adalah tindakan kasih kita terhadap sesama (Matius 25:31-46). Demikianlah kita hidup dalam pengabdian dan pelayanan bagi Tuhan dan sesama kita. Dalam hal ini motivasi terdalam kita melakukan bisnis kita adalah "kasih". 5. Persekutuan Dengan Allah Pelaku bisnis harus tetap hidup dalam persekutuan dengan Allah sehingga ia memiliki mata hati dan kepekaan untuk mengerti kehendak Tuhan. Terutama dalam situasi konkrit dimana pelaku bisnis harus mengambil keputusan, ia sangat membutuhkan tuntunan Roh Kudus. Untuk ini seorang pelaku bisnis harus hidup bersih di hadapan Allah (Matius 5:8) sehingga ia peka dengan kehendak Allah. Banyak situsi konkrit yang membutuhkan pemecahan konkrit dan mendadak dalam dunia bisnis. Seorang yang biasa bergaul dengan Allah dan memiliki ketajaman untuk mengerti kehendak Allah tidak terlalu sukar mengambil keputusan. Ia telah diperlengkapi Tuhan dengan "kebijaksanaan" atau "hikmat" Allah guna menghadapi segala kejadian dalam hidup. Intuisi ilahi seperti ini sangat penting. Kehidupan yang bersekutu dengan Allah ini juga akan menghindarkan pelaku bisnis dari ide atau pikiran mendadak yang membawanya menyimpang dari kebenaran Allah. Oleh sebab itu nasihat Tuhan Yesus harus mutlak dilaksanakan yaitu "berdoa dan berjaga-jaga" (Matius 26:41). 6. Tunduk Kepada FirmanNya Para pelaku bisnis selamanya sebagai anak Tuhan harus tunduk kepada perintah Tuhan yang terdapat dalam FirmanNya. Ini berarti dalam penyelenggaraan bisnis, ada tata tertib yang diberlakukan dalam hidup mereka. Penyelenggaraan harus bisa dilaksanakan dalam kebenaran, kejujuran, keadilan dan kasih. Seorang usahawan yang hati nuraninya telah diperkuat oleh Firman Tuhan dan pikirannya telah mengalami pembaharuan (Roma 12:2) akan tegas menolak segala praktek bisnis yang bertentangan dengan FirmanNya. Inilah kewajiban moral para pelaku bisnis yang tidak dapat dihindari. Apa yang telah dipaparkan dalam penjelasan ini terkesan sedemikian idealis dan teoritis. Tetapi ini merupakan ajakan bagi para usahawan Kristen untuk menemukan jati dirinya sebagai "bangsawan Sorga" yang memiliki pengharapan pasti bukan saja sementara kita hidup dalam dunia ini tetapi juga kehidupan di balik kubur. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak ragu-ragu untuk berdiri di atas kebenaran Firman Tuhan dan percaya Allah yang memiliki hidup kita tidak akan mempermalukan kita. Ia menyertai kita sampai pada kesudahan jaman (Matius 28:20). Praktek hidup dalam kebenaran dan kesucian Allah, juga dalam dunia bisnis tidak akan membawa hidup kita rusak dan dipermalukan oleh dunia tetapi sebaliknya Allah akan mempermuliakan kita, agar namaNya dipermuliakan. Akhirnya profesi ini akan menjadi profesi luhur dan mulia yang membawa kita bukan saja kepada kewajiban hidup sebagai manusia yang harus bekerja guna mencari nafkah tetapi kerja kita diperhitungkan Allah sebagai kerja kekal. Dalam Kerajaan Sorga kita akan beroleh mahkota atas kiprah kita dalam hidup ini sebagai usahawan.


                                                                 (Nantikan artikel selanjutnya!)

 

| A R S I P | OTOBIOGRAFI |

  Sahabat Surgawi, Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 2002-2007,
Tim Sahabat Surgawi