berbuat lebih terhadap pulau dan danau tersebut.”Kita tidak perlu menyalahkan siapa-siapa kalau tidak banyak yang peduli dengan kondisi Danau Toba dan Pulo Samosir. Mari berbuat nyata,” kata Viky kepada SH beberapa waktu lalu.
Berangkat dari kondisi ini, dia membentuk komunitas yang peduli dengan nasib Pulau Samosir, Danau Toba dan warga penghuninya. Programnya dinamakan seperti nama album rekamannya, Toba Dream. Program ini bergerak di bidang konservasi hutan, air bersih dan sosial masyarakat.
”Program ini saya presentasikan kepada teman-teman dan tokoh-tokoh Batak. Ternyata mereka mendukung saya secara moral dan materi,” ungkap Viky.
Dia semakin termotivasi setelah mendapat dukungan penuh dari ayahnya, Monang Sianipar yang dikenal sebagai pengusaha sukses di bidang jasa pengiriman barang dan dokumen, MSA Cargo. Pada Maret 2008 kegiatan dimulai dengan penanaman pohon di sekitar Pulau Samosir, terutama di area yang gundul dan kritis. Melihat partisipasi masyarakat yang ikut dalam kegiatan ini, Viky optimistis program penanaman pohon akan berjalan lancar.
”Kita transparan dalam operasional. Tiap rupiah yang masuk dan keluar kita laporkan dan dapat diakses di website tobadream.org,” jelas Viky. Untuk sosialisasi, secara berkala diadakan acara coffee morning berupa diskusi tentang lingkungan dan kegiatan sosial.
Viky juga sangat prihatin melihat sulitnya penduduk Pulo Samosir mendapatkan air bersih. Sebab sungai-sungai sudah tidak ada airnya, sedangkan tingkat keasaman air danau cukup tinggi karena pencemaran sehingga tidak layak konsumsi. Banyak penduduk yang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk memperoleh sedikit air bersih. Kondisi ini memperparah penderitaan warga yang sudah dililit kesulitan ekonomi. Dalam waktu dekat Yayasan Toba Dream akan membangun infrastruktur untuk mengalirkan air dari beberapa sumber mata air yang masih ada.
Menurut Viky, pemanfaatan mata air untuk suplai air bersih lebih efisien dan tidak mengancam lingkungan jika dibandingkan dengan sistem pengeboran tanah yang dikhawatirkan membuat beberapa sungai mengering. ”Memang agak sulit karena posisi mata air justru ada di daerah yang rendah, sedangkan warga yang membutuhkan air, banyak tinggal di dataran yang lebih tinggi,” kata Viky. Namun hal itu dapat diatasi dengan bantuan mesin untuk mendorong air ke desa-desa di perbukitan.
Khusus untuk pemberdayaan perekonomian masyarakat, Viky berencana mengajak para pelaku usaha, terutama yang berhubungan langsung dengan dunia wisata, untuk meningkatkan produk-produk daerah.
”Saya beberapa kali minum kopi di lapo-lapo (kedai kopi dan makanan) sekitar Balige, rasanya enak sekali dan menurut saya lebih nikmat dari kopi yang ada di Starbuck Cafe. Padahal harganya cuma seribu perak segelas. Bandingkan dengan di Starbuck yang lebih dari Rp 30.000,” ungkapnya.
Dia menambahkan, yang perlu ditingkatkan adalah kemasan produk dan pelayanan. Yayasan Toba Dream dalam aksi pertamanya akan memberi modal kerja dan biaya renovasi untuk beberapa pemilik lapo di Pulau Samosir.
TobaDream Water Supply Program (TWSP) Desa Partungkoan, Samosir
Bantuan Masyarakat, Program Air Bersih Program yang memakan biaya Rp.30.000.000,- ini pada awalnya disampaikan oleh Tongam Sirait atas keluhan penduduk desa Partungkoan karena sulitnya untuk mengambil air bersih di daerah ketinggian 1,640 DPL itu. Program ini disetujui oleh anggota komunitas yang kemudian mulai mencari donatur.
Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan sistem air dengan cara menyalurkan air dari mata air (mual) terdekat ke desa Partungkoan yang ketinggiannya 300m lebih lebih tinggi dari mual tersebut. Kemudian air akan ditampung dengan menggunakan tangki. Dengan demikian penduduk setempat tidak perlu jalan kaki memasuki semak belukar dan menuruni tebing curam untuk mengambil air bersih
Konservasi Hutan Martoba, Samosir
Komunitas TobaDream akan memulai gerakan pertamanya yang bernama Program Konservasi Hutan di lahan milik Kel. Kasner Sidabutar di Desa Martoba, Kec. Simanindo, Kab. Samosir. Konserp dari program ini adalah menanam pohon keras dan pohon buah guna menggemburkan kembali “tanah tidur”, mencegah longsor, dan memberikan sumber penghasilan kepada penduduk setempat.
Untuk memulai program ini akan diadakan seremoni kecil-kecilan secara sederhana berupa simbolis penanaman 3 buah pohon oleh 3 orang pelajar SD, SMP dan SMU pada tanggal 3 bulan 3 tepat jam 3 sore. Acara akan dimulai jam 2 siang diawalai dengan beberapa sambutan yaitu dari ‘sang penggagas program’, Viky Sianipar; Pembina komunitas TobaDream, Monang Sianipar; bupati Samosir, Mangindar Simbolon; dan wakil dari pemuka adat setempat. Tepat jam 3 sore, tiga orang pelajar dari SD, SMP, dan SMU St. Michael, Pangunguran akan melakukan penanaman pohon, secara simbolis, di halaman Gereja HKBP Martahan. Acara akan ditutup dengan doa dari salah satu pemuka agama setempat dan ramah-tamah sambil minum kopi dan makanan ringan khas Batak. Di saat yang bersamaan 20 siswa/i St. Michael akan melakukan penanaman di lokasi konservasi yang terletak di belakang gereja.
Acara ini hanyalah semacam seremoni biasa sebagai simbol terlaksananya Program Konservasi Hutan TobaDream. Penanaman akan berlangsung seterusnya dengan total 2000 bibit pohon di areal seluas 2 ha. Penanaman dan pemeliharaan bibit akan dilakukan oleh penduduk setempat yang dipilih komunitas.
(Sumber : Harian Sinar Harapan, Yayasan TobaDream )
Gallery Foto TobaDream
|
|
|
Pada hari Senin tanggal 3 Maret 2008, berlangsung seremoni TobaDream Conservation Program (TCP) yang pertama yang diadakan di halaman gereja HKBP Martahan, Desa Martoba, Kec. Simanindo, Kab. Samosir, Sumatera Utara. Acara yang sederhana ini dihadiri sekitar 100 orang yang terdiri dari pejabat setempat, TobaDreamer, para simpatisan lingkungan, mahasiswa dan masyarakat sekitar. Keadaan mendung bahkan hujan rintik-rintik tidak mematahkan semangat TobaDreamer dan peserta lain untuk menanam pohon.
|
 |
Hutan Martoba yang kritis di Desa Martoba, Kec. Simanindo, Kab. Samosir, Sumatera Utara, seluas 2 ha. akan ditanami 2000 pohon |