Ya, Butet adalah sosok yang inspiratif dengan apa yang telah ia lakukan. Bahkan, seorang Presiden Susilo Bambang Yudoyono pun tak begitu saja menutup mata pada spirit kepahlawan Butet, perempuan kelahiran Jakarta, 12 Februari 1976 itu.
Dalam artikelnya, The Making of a Hero, yang diterbitkan di majalah TIME Asia, edisi 3 Oktober 2005, Presiden SBY mengawali tulisannya dengan kalimat: “Every society needs heroes. And every society has them. The reason we don’t often see them is because we don’t bother to look.” Setiap masyarakat membutuhkan figur pahlawan. Dan setiap komunitas sebenarnya memilikinya. Hanya saja kita sering mengabaikannya, itu karena kita sering menutup mata padanya.
Apa yang dilakukan Butet setidaknya juga telah menginspirasinya kembali untuk melahirkan “SOKOLA RIMBA”, buku “diary” yang ditulis Butet berdasarkan pengalamannya selama mengabdi di bagi komunitas Orang Rimba di pedalaman Bukit Dua Belas Jambi.
Buku setebal 250 halaman yang ia rangkum selama rentang waktu enam tahun ini, selain banyak bercerita dari sudut pandang Butet sebagai pendidik dengan berbagai tantangan yang dihadapinya, juga menceritakan kultur Orang Rimba yang kerap dianggap bodoh, miskin, primitif dan stereotip negatif lainnya.
“Padahal, mereka sebenarnya memiliki kehidupan sendiri yang sama sekali jauh dari stereotip itu,” kata Butet. “Orang sering menyebut mereka (Orang Rimba) Kubu, padahal arti Kubu sebenarnya memiliki kesan merendahkan,” jelas Butet lagi.
Di kalangan penduduk Jambi sendiri, kata “Kubu” selalu distereotipkan kepada komunitas yang dianggap terpinggirkan, bodoh, bau, primitif, (tidak modern). Karena “kebodohan” itu, komunitas Orang Rimba seringkali menjadi korban penipuan oleh pendatang-pendatang asing yang menganggap dirinya, pintar, modern, beradab, “manusia yang benar-benar manusia”.
Maka dalam pengabdiannya, Butet sebenarnya bukan hanya mengajari Orang Rimba membaca dan menulis, tapi juga turut membantu memecahkan persoalan yang selama ini sering mereka hadapi. Misalnya, bagaimana agar mereka sadar bahwa hutan yang mereka tempati harus dijaga kelestariannya, bagaimana juga agar mereka tidak kerap tidak berdaya menghadapi orang asing yang ingin menebang hutan mereka, dan persoalan sosial lainnya.
“Untuk menjaga kelestarian hutan, tak cukup hanya menyadarkan mereka bahwa hutan adalah tempat tinggal mereka, tapi juga perlu dibekali pengetahuan hukum agar mereka tidak mudah diperdaya pendatang asing yang ingin menebang hutan mereka,” kata Butet yang memiliki dua gelar sarjana, Sastra Indonesia dan Antropologi Unpad Bandung itu.
Dalam acara bedah buku yang juga dihadiri pembicara, Sofian Tan (YEL), Ryhta Tambunan dan Taufan Damanik dari Fakultas Antropolog FISIP USU dan Billy Khaeruddin (Kompas) itu, Butet juga menceritakan bagaimana ia merintis Yayasan SOKOLA yang telah berdiri sejak 2003.
Yayasan “SOKOLA” merupakan wadah pendidikan alternatif yang mencoba menjangkau komunitas-komunitas di Indonesia yang tidak terjangkau sekolah formal. Selain Jambi, beberapa wilayah yang telah dijangkau di antaranya Flores, Halmahera, Bulukumba, Aceh, Yogyakarta, Makassar, Klaten dan Kampung Dukuh. “Kami menyebutnya Sekolah untuk Kehidupan,” kata Butet.
Upaya Butet, sekali lagi, adalah upaya yang tidak mudah, setidaknya untuk memberikan perubahan kepada negara ini, khususnya di bidang pendidikan. Tak salah jika Butet disebut pahlawan, di saat bangsa ini memang membutuhkan sosok seperti dia. Maka, seperti kata SBY di akhir tulisannya tadi, “Perhaps there is a hero in all of us. We just need to look,” apa yang telah dilakukan Butet memang pantas kita beri apresiasi, pujian dan yang paling utama adalah dukungan.
Butet Peduli Kubu
|
 |
Butet Manurung (Alumni Fisip- Antropologi Unpad)
Saat yang lain berlomba mencari kerja di kota, Saur Marlina "Butet" Manurung justru masuk hutan, bergelut dengan suku pedalaman. Ia memang tidak mencari pekerjaan. Niatnya hanyalah, bisa berguna bagi orang lain. Maka, ia pun mengabdikan diri dengan memberi pendidikan kepada Orang Rimba/suku Anak Dalam atau Kubu di Taman Nasional Bukit 12 (TNBD) dan Bukit 30, Jambi. |
Saur Marlinang Manurung, lebih dikenal dengan nama Butet manurung. Wanita 32 tahun itu dianugerahi gelar "Woman of The Year" bidang pendidikan oleh televisi swasta Anteve pada tahun 2004. . Ia juga berhak menerima trofi dan tabungan senilai Rp 20 juta dari Bank Mandiri.
Selama ini, kerap tampil di TV sebagai model iklan harian Kompas, Jakarta. Di situ, lulusan Antropologi Universitas Padjadjaran, Bandung, itu tampil sebagai pendidik anak-anak suku Kubu di pedalaman hutan Jambi . Aktivitas itulah yang mengantarkan Butet meraih gelar tersebut.
Butet akrab dengan hutan sejak kuliah. Ketika lulus pada 1998, mantan aktivis pencinta alam ini melamar jadi guru. Lamarannya diterima di Jambi, 1999. Selama mengajar, ia menyempatkan masuk ke pedalaman hutan. "Di situ saya berkenalan dengan suku Kubu," katanya. Mulanya ia dicurigai. Kini ia mengasuh selusin anak-anak suku Kubu.
Butet Manurung, sulung dari empat bersaudara kelahiran 21 Februari 1972, awalnya adalah "anak papi". Ayahnya, Victor Manurung, begitu menjaga putri tunggalnya. Melewati masa kecil di Belanda, ke mana pun Butet pergi, selalu diantar. Biarpun dimanja, Butet dididik mencintai alam dan tak mementingkan diri sendiri. Bila menemukan kucing terlantar, misalnya, Butet akan membawa pulang dan merawat. Kematian sang ayah saat ia menginjak kelas 3 SMA mengubahnya jadi pemurung. Teman-temannya di kelompok pencinta alam SMA, membujuknya naik gunung. Berhasil merayu ibunya, ditemani adiknya, Butet pun mendaki Gunung Ciremai di Kuningan, Jawa Barat. "Dalam lelah dan dingin, saya tertidur dan bertemu Papa dalam mimpi." Tak cuma mendaki gunung yang dia sukai. Olahraga petualangan lain macam arung jeram, penelusuran gua, panjat tebing pun ia lakoni, ia biayai dari uang memberi les organ. Butet berkawan dengan ibunya, Anar Tiur Samosir, lulusan Sastra Belanda yang menjadi pendidik, dan kemudian sama-sama mengambil kuliah Antropologi. Skripsinya tentang Suku Dawan di perbukitan Timor Barat. Ia sempat berniat mengabdikan diri untuk suku asli di Papua, tapi niat itu urung dijalaninya. "Seorang antropolog tak hanya mengunjungi permukiman suku asli dan membuat laporan, tapi juga harus berhubungan baik dengan suku yang ia teliti, termasuk menjadi penengah masalah, bila perlu," katanya mengutip Heri Yogaswara, peneliti LIPI dan kakak kelasnya di Jurusan Antropologi Unpad, yang menguatkan pilihan hidupnya dengan Orang Rimba. Soal pilihannya, yang bagi banyak orang bisa dicap "aneh", ia berujar, "Aku menganggap keterlibatanku sebagai relawan, bukan pekerjaan. Gajiku toh tak seberapa, dan tak apa-apa kalau tak digaji. Niatku hanyalah, bisa berguna bagi orang lain, mengamalkan ilmuku, minatku pada alam, dan kecintaanku pada anak-anak."
(Sumber : Website UNPAD, blog The Muse, Toga Simangunsong, blog Manurung United,Gatra.com, Intisari. Times.com)
Gallery Picture Butet Manurung
|
 |
|
 |
|
1 |
2 |
3 |
|
Keterangan gambar:
1. Presiden SBY didampingi Ibu Negara, menerima Butet Manurung, Kamis (4/12/08) siang, di Kantor Kepresidenan
2. Butet Manurung dengan bukunya"Sokola Rimba"
3. Butet Manurung bersama anak-anak komunitas Kubu, Orang Rimba di pedalaman Bukit Dua Belas, Jambi.
|
|
| |