Selanjutnya jenazah diberangkatkan dari gereja untuk dikremasi di Krematorium Cilincing. Eka meninggalkan seorang istri, Evang Meyati Kristiani, dan seorang putra, Arya Wicaksana, yang tinggal di Australia bersama istrinya Vera Iskandar.
Pendeta bergelar doktor dalam bidang agama dan masyarakat dari Andover-Newton, Boston, Amerika Serikat (1982) itu selama ini bertugas sebagai pengerja (pengurus) di GKI Jatinegara sampai pensiun (emeritus). Dia telah melayani dan mengabdikan diri di lingkungan gereja kurang lebih 21 tahun. Hampir seluruh waktunya tercurah dalam pelayanan gereja dan sosial baik di dalam negeri maupun luar negeri. Berbagai buku hasil karyanya sudah banyak diterbitkan dan diminati pembacanya.
Berbagai tulisan dan makalahnya disajikan dalam bahasa yang lugas dan tegas. Dia juga sering menjadi pembicara dalam berbagai seminar. Rubrik “Sabda” yang merupakan artikel tetap Eka Darmaputera di Sinar Harapan dan dimuat setiap hari Sabtu merupakan kumpulan tulisan-tulisan yang sangat diminati pembacanya, dan telah dibuat dalam bentuk buku.
Sinar Harapan (29/6/2005) memberitakan bahwa pada acara Malam Doa Bersama untuk Eka Darmaputera 9 Maret 2005,, Eka dalam pesan tertulisnya berkata, ”Saya cuma mohon didoakan agar sekiranya benar ini adalah tahap pelayaran saya yang terakhir, biarlah Tuhan berkenan memberikan saya dan keluarga keteguhan iman, kedamaian dan keikhlasan dalam jiwa.”
Kendati dia sudah pensiun (emeritus), Eka tetap melayani jemaat GKI Jatinegara hingga akhir hayatnya. Idia juga mengajar di almamaternya di Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta dan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Terlahir dengan nama The Oen Hien, anak seorang pewarung kecil di desa Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Sebuah keluarga yang hidup pas-pasan. Terkadang mereka berminggu-minggu hanya makan singkong. Dia anak sulung dari dua bersaudara.
Dalam pergaulan keseharian, dia lebih dikenal dengan nama Eka Darmaputera. Sejak kecil, dia memang sudah lebih senang bergaul dengan anak-anak muda penduduk asli. Kendati ayahnya melarang bergaul dengan ''anak kolong tangsi'' (rumah mereka berdekatan dengan kompleks militer), Eka dengan sembunyi-sembunyi sering pergi ke rumah teman di kompleks militer itu.
Dia mengganti pakaiannya dengan sarung dan pici. Seringkali Eka bergabung dengan para ‘gang tangsi’ itu berkeliling naik sepeda ke Pecinan (perkampungan Cina). Tidak jarang mereka terlibat perkelahian.
Dia menamatkan pendidikan daasar dan menengah di SD Masehi, Magelang (1953), SMP BOPKRI, Magelang (1957) dan SMA Negeri, Magelang (1960). Setamat SMA, ia ingin masuk AMN, ingin menjadi militer. Tetapi, dengan pertimbangan ekonomi, akhirnya dia menerima ajakan seorang teman mendaftar di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (STTJ).
Di sana dia diterima dan diasramakan di Jalan Proklamasi. Selama di asrama, seringkali dia kehabisan uang karena kiriman orangtua memang terbatas. Kadangkala saat kehabisan uang kenakalannya kambuh. Bersama teman-teman, dia malah pernah mencuri barang dalam gudang asrama untuk dijual.
Masalah keuangan kemudian sedikit teratasi setelah dia diterima mengajar di SMA BPSK Jakarta, dengan gaji Rp 1.500 sebulan. Selain itu, Eka juga aktif dalam berbagai kegiatan Dewan Gereja Indonesia (kini Persekutuan Gereja di Indonesia). Dengan aktivitasnya di DGI itu, ia pun mendapat beasiswa.
Dia meraih gelar STh dari STTJ pada 1966. Setelah melayani di Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat selama sebelas tahun, kemudian ia dikirim mengambil gelar doktor di Boston College, Massachusetts, Amerika Serikat. Enam tahun dia di sana bersama istri dan anak tunggalnya, Arya. Setelah meraih gelar doktor (PhD) dengan disertasi berjudul Pancasila and the Search for Identity and Modernity in Indonesian Society -- An Ethical and Cultural Analysis, dia bersama keluarga kembali ke Indonesia.
Selama di Amerika, dia terutama puteranya, Arya, sangat bangga dengan keindonesiaannya. Tetapi beberapa hari setelah kembali ke tanah air, Arya dengan wajah murung datang menemui Eka, ayahnya. ''Why do they call me Chinese? I'm not, am I?'' katanya. Eka dengan lirih menjawab, ''Ya, kau memang Cina. Namun, lebih dari itu, engkau Indonesia.''
Gustiku Akan Membawa Aku
Ada permintaan saya. Bila Anda berdoa untuk saya, baik di sini maupun di mana saja, saya mohon janganlah terutama memohon agar Tuhan memberi saya kesembuhan, atau mengaruniai saya usia panjang, atau mendatangkan mukjizat dahsyat dari langit! Jangan! Biarlah tiga perkara tersebut menjadi wewenang dan ”urusan” Tuhan sepenuhnya!
Sinar Harapan 30/6/2005: Kalimat-kalimat di atas tentu sangat mengejutkan bisa hadir dari orang yang justru membutuhkan kesembuhan. Ini adalah bagian dari surat Pdt. Em. Eka Darmaputera PhD kepada khalayak yang berkumpul di GKI Kebayoran Baru untuk mengikuti Malam Doa Bersama Eka Darmaputera pada 9 Maret 2005.
Acara ini memang diselenggarakan untuk mendoakan kondisi fisik Eka Darmaputera yang kian parah. Sudah 21 tahun, ia berperang melawan kanker lever. Februari 2005, penyakit Eka semakin parah. Ia dirawat di RS Husada, Jakarta.
Awal Mei, Eka sempat menjalani perawatan di Singapura. Di situlah dokter mengatakan satu-satunya jalan agar Eka sembuh hanyalah transplantasi hati, namun Eka menolak mentah-mentah dengan berbagai pertimbangan etis dan teologis.
Jumat, 10 Juni 2005, Eka makin tak kuasa melawan penyakitnya. Ia masuk RS Mitra International, Jatinegara. Ditunggui oleh sang istri tercinta, Evang Meyati Kristiani, hamba Tuhan yang begitu disayang jemaatnya itu pun mengembuskan napas terakhir, pada Rabu (29/6), pukul 08.15 pagi, juga di RS Mitra International.
Saat SH hendak berbincang dengan Evang ketika melayat, Evang masih tak sanggup menahan duka. Kepasrahan dan kerelaan memang terpancar dari wajahnya, namun guratan kesedihan tak bisa disembunyikan.
Ke Militer
Eka Darmaputera lahir 16 November 1942 dengan nama The Oen Hien. Ia adalah anak sulung dari dua bersaudara. Ayahnya mengelola sebuah warung kecil di Mertoyudan, desa kelahirannya di Magelang, Jawa Tengah. Rumah Eka berdekatan dengan kompleks militer. Tak heran, setamat SMA, ia ingin meneruskan ke AMN—sekarang Akabri. Tetapi rencana hidup membawanya mendaftar di Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta.
Setamat dari STT Jakarta, Eka ditempatkan di GKI Bekasi Timur yang dilayaninya terus sampai masuk masa emeritus pada 23 Oktober 2000, bahkan sampai akhir hayatnya. Eka mendapatkan kesempatan menempuh studi lanjut di Andover-Newton, Boston, AS, pada 1977.
Ia berhasil mempertahankan disertasinya berjudul Pancasila: In Search of Identity and Modernity.
Dalam beberapa kesempatan, Eka Darmaputera sering mempresentasikan keyakinannya tentang Pancasila sebagai perekat dari keberagaman budaya dan agama negeri ini. Pancasila diyakininya memiliki prinsip inklusif yang dibutuhkan negara ini.
Saat ini, model keyakinan pemahaman Eka bisa jadi sedang diuji di tengah maraknya “keinginan untuk melupakan” Pancasila. Simbol-simbol keagamaan bermunculan di mana-mana, eksklusif, dan saling berbenturan satu dan lainnya.
Dalam sambutannya pada suatu acara menandai masa emeritus, Eka berujar, ”Dulu saya memang pernah punya daftar agenda dan rencana yang panjang dan rinci, mengenai apa yang ingin saya lakukan bila pensiun nanti. Saya mau melakukan post-doctoral study. Saya mau menulis lebih sering. Saya mau berkonsentrasi pada pembinaan kader. Saya mau mengalihkan kegiatan saya ke partai. Saya mau ini. Saya mau itu. Banyak lagi.”
Tapi, menurutnya lagi, “kini daftar panjang itu sudah saya buang. Saya tidak lagi bergairah untuk bikin rencana apa-apa. Sebab berulang-ulang kali, sejak saya masuk STT, hampir selalu Tuhan menggagalkan rencana saya. Ke mana pun Gustiku akan membawaku, ya, manut saja. Saya nderek sajalah.”
Keinginannya masuk ke partai memang cukup menarik. Eka, seperti diakuinya, memang mendaftarkan diri menjadi anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Pada masa pemilihan umum dengan sistem pemilihan langsung untuk pertama kali di Indonesia pun, Eka dengan tegas berpihak pada Megawati Soekarnoputri, bukan rival Mega yang akhirnya memenangkan pemilihan—Susilo Bambang Yudhoyono—tidak pula netral seperti biasanya para tokoh masyarakat mengambil posisi.
Kita sebagai bangsa dan sebagai gereja telah tiba di satu titik, di mana kita mesti mempunyai pilihan yang jelas. Tidak bisa lagi main ‘netral-netral’an,” demikian katanya dalam sebuah artikel berjudul “Punai di Tangan atau Burung di Udara? Mengapa saya memilih Mega?”
Tentu ini suatu sikap yang cukup mengundang kontroversi, mengingat Eka telah diposisikan sebagai guru spiritual bagi banyak orang karena jabatannya sebagai pendeta maupun orang yang sangat menjunjung pluralitas. Namun, ini bukan menunjukkan Eka menjadi seorang partisan. Tanggung jawab untuk membimbing umat ke arah bernegara yang lebih baik, itulah yang mendorong Eka menegaskan di mana dia berdiri.
Lewat bukunya, Konteks Berteologi di Indonesia, yang terbit 1988, Eka telah berhasil memosisikan teologi bukan sekadar dogma. Produktivitas Eka dalam menulis bukan main hebatnya. Lewat tulisan dan bukunya, ia menyatakan bahwa kekristenan bukan sekadar dogma, tetapi juga harus berlaku sesuai dengan konteks zamannya.
Harian ini pun merasakan “derasnya” semangat seorang Eka Darmaputera menerjemahkan topik-topik sulit dalam kekristenan. Lewat kolom “Sabda” yang muncul setiap hari Sabtu, Eka berbicara tentang berbagai dogma, namun penjelasannya begitu cair.
Orang tentu malas berbicara tentang Sepuluh Firman Allah, namun Eka malah menantang dengan pertanyaan yang juga sangat menantang, “Apakah Sepuluh Firman Allah dimuseumkan saja?”. Setelah itu, mengalirlah penjelasan begitu rupa tentang bagaimana konteks Dasa Firman itu dalam kehidupan modern.
Menulis menjadi senjatanya dalam menghadapi ketidakberesan di depan mata. Eka sudah menulis sejak SMP, termasuk menulis puisi. ‘’Saya mendapat kepuasan dengan menulis dan membaca,’’ kata Eka yang senang berolah raga jogging dan bulu tangkis.
Menurut beberapa orang dekatnya, menulislah yang membuat ia masih bisa bertahan hidup, walau waktunya tak terlalu lama dari saat dokter memvonisnya tak tertolong lagi.
SH masih akan menurunkan kolom “Sabda” dengan tulisan karya Eka Darmaputera sampai dua minggu ke depan. ”Bapak sudah menyiapkan tulisan untuk kolom itu dalam bentuk disket, mungkin bisa sampai dua atau tiga minggu ke depan,” kata Evang.
Semangat pengabdian seperti itu rasanya sulit untuk dilupakan. Eka Darmaputera mengajarkan bagaimana sebuah komitmen harus dijalankan, bukan pada institusi yang “mengontraknya”—dalam hal ini SH yang menyediakan kolom untuk tulisan-tulisannyaónamun pada umat di segala penjuru yang selalu menunggu bimbingannya lewat tulisan, tak peduli apakah itu warga GKI atau warga dari berbagai denominasi gereja.
Pernikahan Eka dan Evang dikaruniai seorang putera bernama Arya Wicaksana yang menikah dengan Vera Iskandar dan tinggal di Sydney, Australia. Beberapa hari menjelang kepergiannya, Eka mendengar sebuah kabar baik yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Ia akan mendapatkan seorang cucu. Namun, Eka tak sempat melihatnya, hanya kebahagiaan saja yang dia rasakan.
Dan kemudian, biarlah tangan Tuhan dengan setia terus tanpa putus menggandeng—bila perlu menggendong—Evang, Arya, Vera, serta (mudah-mudahan) cucu-cucu saya melanjutkan perjalanan mereka.
(Bagian suratnya yang dibacakan pada Malam Doa Bersama Eka Darmaputera pada 9 Maret 2005)
(Sumber: Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Eka Darmaputera In Memoriam
Salah seorang tokoh dan pemikir Protestantisme di Indonesia yang paling saya kagumi dan paling mempengaruhi pandangan saya, khususnya dalam persoalan Pancasila, adalah alm. Pdt. Eka Darmaputera, PhD. (1942 -2005). Berulang kali kami mendiskusikan pandangannya, terutama keyakinannya yang tak pernah goyah bahwa Pancasila merupakan “jalan pengelolaan kemajemukan terbaik” untuk Indonesia.
Kadang saya merasa dia terlalu naif. Bagi saya agaknya jelas, lewat pengalaman lebih dari tiga dekade pemerintahan otoriter Orde Baru, bahwa Pancasila merupakan “senjata ideologis” yang berbahaya. Dan ketika Soeharto tumbang, sepertinya kita semua enggan menengoknya lagi. Tetapi Eka mengingatkan saya, hanya soal waktu saja sebelum kita semua kembali merasakan kebutuhan bagi Pancasila. Masa-masa pasca-Mei 1998 merupakan–dalam istilahnya–masa “purifikasi Pancasila yang memang harus dijalani, sebelum ditemukan kembali.”
Agaknya Eka benar. Tilikan profetisnya memperlihatkan hanya kurang dari satu dekade kita kembali bergairah untuk “menggali Pancasila” (judul tulisan Goenawan Mohammad di TEMPO). Apalagi ketika kontroversi Ahmadiyah, kasus Lia Eden, RUU APP (sekarang UU Pornografi), Tragedi Monas, dan rentetan penutupan gedung gereja, membuat kita kembali–mau tidak mau, suka tidak suka–menengok Pancasila.
Karena itu saya kembali teringat pada Eka dan warisannya. Saya menulis teks ini, mulanya sebagai bahan diskusi dalam Seminar mengenang Eka tahun 2005 lalu. Baru beberapa waktu lalu, Jurnal PENUNTUN milik Sinode GKI Jabar memuat tulisan tersebut (silakan diunduh di sini). Saya memang berbicara “pasca-Eka”. Dengan itu saya mau membaca ulang secara kritis warisannya, sembari meneroka untuk mencari jalan guna melangkauinya. Tetapi, agaknya, kita masih bergerak di dalam horison yang disibakkannya.
Semoga berguna!
(Sumber: Blog by trisnosutanto on November 11, 2008)

Gedung GKI Bekasi Timur, tempat pelayanan beliau yang terakhir
|

Sebagian remaja dalam kegiatan
gereja
|
Persekutuan Pemuda Remaja
Sabtu, 25 Agustus 2001 Pk. 10 pagi di 885A Canning Hwy, Applecross.
Dipimpin Pdt. Em. Dr. Eka Darmaputera
|
|
| |
|