Home | Tentang Kami | Kesaksian | Acara rohani | Link
 
Swara Surgawi
Video Streaming
Gratis CD Sabda
Alkitab Elektronik
Hollypower.net
E-mail Gratis
 
eXTReMe Tracker
  sosok

Menampilkan kisah tentang pribadi, bisa tokoh, pemimpin ataupun orang biasa yang berkarya tanpa pamrih, melayani dengan hati, bisa dijadikan
contoh dan tauladan bahkan bisa memotivasi diri.
Sumbernya bisa dari media, email maupun cerita
yang bisa dipertanggungjawabka
n


TH Sumartana
(In Memoriam)

Potret Cendekiawan Kristiani





Nama:
Th. Sumartana
Lahir:
Banjarnegara, Jawa Tengah, 15 Oktober 1944
Meninggal:
Bogor, 24 Januari 2003
Agama:
Kristen
Pendidikan:
Sarjana Teologi dari Sekolah Tinggi Theologi Jakarta, tahun 1972
Studi dialog antaragama di Geneva (1972-1973)
Memperoleh gelar Ph.D. pada jurusan Misiologi dan Perbandingan Agama, Freij Universiteit, dengan judul disertasi Mission at the Cross Road.
Pekerjaan:
Ketua Badan Pengurus Demos
Direktur Yayasan Dialog Antar Iman (Dian)
Direktur Interfidei, Yogyakarta
Redaktur Teologi pada BPK Gunung Mulia (1972-1975)
Staf Lembaga Penelitian dan Studi Dewan Gereja-gereja di Indonesia, Jakarta (1975-1982).
Pengajar tetap pada Program Pasca-sarjana Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, tahun 1991-1995.
Alamat Rumah:
Jalan Merdeka Utara I/A 5-6 Sidorejo Lor Salatiga

TH Sumartana yang dikenal sebagai cendekiawan Kristiani dan Dosen Universitas Satya Wacana Salatiga, meninggal dunia secara mendadak saat santai baca koran di ruang tengah sebuah hotel di Wisma Daerah Gadog, Kabupaten Bogor, Jumat 24/01/03 petang pukul 18.00. Ketua Badan Pengurus Demos (sebuah lembaga kajian demokrasi dan hak asasi) itu bersama 11 orang pengurus lainnya ejak hari Kamis sedang membahas program kerja Demos.

Setelah terkulai di kursinya, sejenak dibawa ke dalam kamarnya kemudian dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Ciawi Bogor. “Namun nyawanya sudah tak tertolong,” kata Asmara Nababan, Direktur Eksekutif Demos yang ikut mengantar ke RS Ciawi bersama beberapa pengurus lainnya. Jenazah langsung dibawa ke kediamannya di Jalan Merdeka Utara I/A 5-6 Sidorejo Lor Salatiga dan renacanya akan dimakamkan di Pakem, Yogyakarta.

Th. Sumartana, lahir di Banjarnegara, Jawa Tengah, 15 Oktober 1944. Direktur Yayasan Dialog Antar Iman (Dian) ini, lulus Sarjana Teologi dari Sekolah Tinggi Theologi Jakarta, tahun 1972, dan studi dialog antaragama di Geneva (1972-1973). Memperoleh gelar Ph.D. pada jurusan Misiologi dan Perbandingan Agama, Freij Universiteit, dengan judul disertasi Mission at the Cross Road. Pernah bekerja sebagai Redaktur Teologi pada BPK Gunung Mulia (1972-1975), sebagai staf Lembaga Penelitian dan Studi Dewan Gereja-gereja di Indonesia, Jakarta (1975-1982). Tahun 1991-1995, sebagai pengajar tetap pada Program Pasca-sarjana Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Cendekiawan Kristiani ini seringkali menyoroti perihal kesibukan berteologi yang kurang peka terhadap tanda-tanda zaman. Dalam sebuah tulisan bertajuk "Theologia Religionum: Sebuah Pengantar" ia mengemukakan kesibukan berteologi kita sekarang ini terasa kurang terarah. Mungkin, karena kita kurang merumuskan persoalan dengan jelas, atau bisa juga karena soal yang kita pergumulkan kurang mempunyai pijakan pada kenyataan kehidupan. Kesibukan kita kurang peka terhadap tanda-tanda zaman. Sehingga, teologi kita tidak punya komitmen yang sungguh-sungguh terhadap masa depan.

Kecuali itu, katanya, dalam lingkungan akademis, teologi kita juga tak punya referensi pada perkembangan ilmu-ilmu sosial pada umumnya, sehingga perspektif berpikirnya cenderung berpusing-pusing mengitari diri sendiri. Di sana-sini sekadar sebagai ungkapan yang merupakan pergumulan sepenggal, tidak utuh, dan tidak mempunyai gaung yang mampu merangsang orang untuk memberikan tanggapan.

Sebenarnya perlu kita akui, bahwa ada cukup banyak fragmen yang terserak-serak, yang merupakan buah pikiran reflektif sesaat, namun belum dipadukan dalam sebuah susunan yang menyatu.

Dalam keadaan "impasse" semacam itu diperlukan pemikiran terobosan yang bisa ditawarkan sebagai sebuah kemungkinan pengganti. Sebuah alternatif guna mengawali komitmen berteologi yang berangkat dari pengalaman nyata. Dan dengan demikian lebih punya kemungkinan untuk ditumbuhkan menjadi sebuah diskursus, untuk merangkai usaha berteologi lebih utuh dan berkesinambungan.

Agama Tereduksi Kepentingan Elit
Setiap agama diturunkan Tuhan dalam keadaan fitrah serta mengandung nilai universal. Akan tetapi hanya hasrat disertai kepentingan manusia (self of interest), mengakibatkan universalitas agama menjadi bias maknanya saat di terjemahkan umat. Sudah barang tentu distorsitas nilai agama yang universal ini, akan mereduksi substansi agama itu sendiri.

Hal ini dikemukakan Direktur Institut Dialog Antar Iman Di Indonesia (Institute For Inter-Faith Dialogue in Indonesia (interfidei) Dr TH Sumartana ketika diwawancarai oleh harian Manado Post.

Tentang tereduksinya nilai agama, Th Sumartana menganalogikannya seperti terjadinya gerhana matahari. Dimana cahaya matahari seperti ditutupi oleh bayangan lain sehingga sinar aslinya tidak kelihatan. "Substansi agama yang luhuriah menjadi tereduksi dibawah kepentingan elit agama, elit politik," tutur teolog asal Jogya yang datang ke Manado atas undangan Yayasan Serat Manado.Lanjut salah satu tokoh plurasime Indonesia ini, akibat dari penreduksian nilai kefitrahan agama adalah membuahkan konflik komunalitas antar dua agama di Indonesia. Apalagi kalau keterlibatan negara luar, yang secara sengaja memanfaatkan sikap fanatisme umat terhadap doktrin agamanya. Akan lebih mempertajam ruang konflik, dimana agama dijadikan komoditas semata.

Selanjutnya, dalam jiwa masing-masing penganut agama, sejak dulu telah tertanam memori kolektif akan pertentangan dua agama. "Ini menjadi beban sejarah bangsa kita hari ini, supaya bisa menghilangkan ingatan sejarah konflik tersebut," tandas Sumartana dengan tenang.

Untuk itu, Dr Sumartana memberikan sebuah jembatan perenungan, tentanghadirnya agama untuk manusia. Menurutnya, agama harus kembali memfokuskan sebagai penolong manusia. Seperti peran agama untuk mengembalikan kesadaran batiniah manusia agar dapat keluar dari kemelut, kebencian dan lingkaran setan yang menyelimuti umat. "Akibat saling curiga di antara penganut agama yang berbeda, maka umat tidak mampu menerobos kebuntuan hidupnya," ingat cendekiawan yang malang melintang menggusung teologi inklusif di Indonesia ini.

Selanjutnya, Romo Sumartana ini mengingatkan, apabila konflik tidak bisa direduksi sesegera mungkin, maka ini akan mempengaruhi nilai universalitas agama yang inklusif.

(Sumber: Ensiklopedi Tokoh Indonesia, dari pgi.or.id dan glorianet)

Catatan Lepas Eka Darmaputera
Mengenang Th Sumartana (1944-2003)

Seandainya ia tentara atau polisi, pastilah ia memperoleh kenaikan pangkat anumerta. Seandainya ia pejabat negara, pastilah ia dilepas dengan upacara kenegaraan dan dimakamkan di TMP. Tono, begitu panggilan akrabnya, meninggal dalam tugas. Di sebuah hotel di Cibogo, Jawa Barat, di tengah-tengah tugasnya sebagai ketua DEMOS, sebuah ornop baru konon dengan konsentrasi masalah-masalah demokrasi dan HAM.

Tapi Tono bukan tentara, polisi, atau pegawai negeri. Sebab itu ia meninggal begitu saja. Terkulai di kursi. Tanpa kenaikan pangkat, upacara kenegaraan, atau penganugerahan gelar pahlawan. Tanpa bunyi terompet, genderang, atau tembakan salvo. Malah, saya yakin, tanpa pensiun!

Toh ia tidak pergi dalam senyap. Media massa, baik cetak maupun elektronik, memberitakan kepergiannya. Di malam kepergiannya, Jumat 24 Januari 2003, teman-teman dan kerabatnya pergi pulang Jakarta-Ciawi untuk melihat jasadnya, dan melakukan apa yang perlu. Saya membaca, bahwa hujan lebat ternyata juga tidak menghalangi ribuan orang melayat jenazahnya di Salatiga sampai ke tempat pemakamannya di Pakem, Yogyakarta. Dan pasti lebih banyak lagi yang hanya bisa menangisi kepergiannya dari jauh. Termasuk saya sendiri, sebab baru saja keluar dari rumah sakit.

Tono adalah teman dan saudara banyak sekali orang. Seorang penunjuk serta perintis jalan. Seorang pahlawan dan orang besar dalam arti yang sesungguhnya.
SAYA sering membayangkan, bila saya tiba ke ajal nanti, barangkali Tono akan menulis sesuatu tentang saya. Semacam obituari, begitulah. Tapi Tuhan agaknya menentukan lain. Saya - yang 2 tahun lebih tua dan lebih berpenyakitan - yang kini harus menulis sesuatu, untuk mengenang kehidupannya sekaligus menghormati kematiannya.

Harus! Walau karena kesehatan saya yang buruk, tulisan ini agak terlambat dan agak dipaksakan. Ketika pertama kali mendengar berita duka itu, begitu banyak yang ingin saya lakukan. Tapi saya hanya bisa terkesiap dan tercenung, meneteskan air mata, sambil tubuh "terpasung" di tempat tidur. Dalam keadaan itu, setiap sayatan di hati, astaga, jauh lebih terasa perihnya.

Belum sebulan yang lalu, Tono datang ke rumah bersama Djohan Effendi, Zulkifli Lubis dan Elga Sarapung. Ia bercerita tentang penyakitnya, tetapi - dengan enteng - juga tentang ketidak-berdayaannya melawan godaan rokok dan sate kambing. "Orang seperti ini masih perlu dibebaskan dari keterpenjaraannya," kata Bung Zul.
Kini Tono telah "dibebaskan". Ia tak butuh rokok lagi. Boleh makan sate kambing atau gulai kepala ikan sepuas-puasnya. Tapi yang terpenting, ia kini berada di sebuah alam kehidupan, di mana batas-batas dan sekat-sekat antar agama - realitas yang menjadi pusat kepedulian, keprihatinan, serta konsentrasinya sampai akhir hidupnya - tak ada lagi.

Sebab yang ada "di sana" hanyalah kemanusiaan yang satu dan iman yang satu kepada Tuhan yang satu. Kalau "di sana" Tono kepingin bikin yayasan lagi, yayasan tersebut saya kira lebih pantas diberi nama Unio Fidei; ketimbang "Inter-Fidei". "Dialog dalam Iman" (= DIAM). Bukan lagi "Dialog antar Iman" (= DIAN). Setuju, Ton?

NAMA Th. Sumartana mulai berkibar terutama setelah ia pulang dari negeri Belanda, dan mendirikan Yayasan Dialog-Antar-Iman "INTER FIDEI". Ini dilakukannya sebelum wadah-wadah sejenis semenjamur sekarang. Karena itu, betapa pun kontroversialnya, bersama-sama dengan tokoh-tokoh besar lain seperti Gus Dur dan Cak Nur, Sumartana pantas disebut sebagai salah seorang perintis, pembuka jalan, serta "dedengkot" gerakan dialog antar agama di Indonesia.

Khususnya di kalangan Kristen Protestan, ia membuka - dengan setengah paksa - jendela-jendela kesadaran tentang pentingnya teologi agama-agama (= theologia religionum), misiologi, bahkan kristologi yang baru. Dan ia mengabdikan hidupnya yang relatif singkat tapi produktif itu, dengan memberi contoh bagaimana seharusnya duduk, berdiri dan berjalan bersama dengan orang-orang lain, di sebuah lorong terjal dan berbatu-batu yang bernama "Jalan Kemajemukan". Sayang, jendela-jendela itu, sampai kini, belum juga terbuka sepenuhnya. Dan masih terlampau sedikit orang yang bersedia berjalan di "Jalan Kemajemukan".

Markas "Inter Fidei" di Kompleks Banteng Baru, Yogyakarta, sengaja ia buat bukan hanya sebagai tempat di mana ide-ide akademis ber-"kawin-silang" dengan gaduhnya, tapi juga sebagai tempat di mana orang-orang muda dari berbagai latar belakang etnis, ras, agama dan profesi bisa bersenda-gurau, saling mengejek, tanpa menjadi marah atau menyimpan dendam. Dialog-dialog tak terstrukturkan ini, walau daya jangkaunya mungkin tak luas, hasilnya bisa jauh intens, lebih mendalam, dan lebih awet. Lebih mampu mengubah pribadi, tidak sekadar mencerahkan akal-budi.

TONO dan saya, walau bersahabat erat, sebenarnya tidaklah sekubu sepemikiran. Bila mengambil tamsil dari dunia persilatan, kami berdua bukanlah saudara seperguruan. Di mata saya, pikiran-pikiran Tono sering saya anggap terlalu "liar" dan cenderung "dekonstruktif". Menarik untuk didengar, tapi kurang realistis mempertimbangkan betapa dahsyat implikasi dan konsekuensinya. Ibarat obat yang terlampau "keras" yang mau dipaksakan untuk tubuh yang terlalu "lemah".

Di pihak lain, di pemandangan Tono, saya terlalu "santun", "tidak ada apa-apanya", "terlalu akomodatif". Kepada Martin Sinaga dari Jurnal Teologi "PROKLAMASI", Sumartana memberi penilaian pribadinya tentang saya, antara lain, "Waktu mahasiswa Eka adalah seorang mahasiswa yang menonjol dalam arti memiliki kemampuan berorganisasi. Kepemimpinannya di kalangan mahasiswa sangat mengesankan. Tetapi keberaniannya melakukan eksplorasi dalam pemikiran bagaimanapun tidak menonjol. Sama sekali tidak terkesan bahwa dia memiliki gagasan-gagasan yang diartikulasikan dengan canggih. Waktu itu dia hanya dikenal sebagai seorang Soekarnois, seorang kader dalam arti orang yang berusaha ikut dalam wacana Soekarnois.

Dalam teologi, Eka tidak menonjol sebagai pemikir yang reflektif. Dia sebenarnya mungkin lebih (ber)tipe solidarity-maker, bukan orang yang suka berdebat dan mengadu pendapat sehabis-habisnya. Dia selalu mengerem, tidak sampai pada pemikiran yang tuntas. Jadi dia mungkin dapat dikatakan sebagai teolog yang santun daripada seorang teolog yang terobsesi ..." (No.1/Th.1/2001. h. 21).
Penilaian Tono banyak benarnya. Tapi apa hendak dikata, Tono adalah bagaikan seorang penerbang solo; penerbang akrobatik. Sedang saya adalah penerbang pesawat jumbo, pesawat komersial, membawa banyak penumpang. Saya tidak bisa berakrobat. Tidak boleh, dan tidak mau.

Toh penilaiannya itu tidak menghalangi Tono untuk meminta saya mengetuai Inter-Fidei. Kesadaran bahwa kami berbeda memang membuat ia jarang melibatkan saya dalam pergulatan pemikiran di sana. Tapi bagi saya ini sudah cukup membuktikan jiwa serta semangat kemajemukan Sumartana. Ia bersedia mengundang saya untuk berjalan bersama, walau sadar kami berbeda. Dan saya pun menerima undangan itu dengan ikhlas dan sukacita. Sambil berusaha tahu diri akan "tempat" saya.

PERBEDAAN dalam pemikiran juga tidak sedikit pun mengganggu persahabatan kami dan antara keluarga kami. Kami telah saling mengenal lama sekali, sejak tahun 60an. Bagi mereka yang tidak terlalu mengenal Tono pra-Inter-Fidei, dapat saya katakan bahwa sewaktu kami sama-sama mahasiswa dan hidup seasrama, saya pun tidak mengenal Tono sebagai "teolog".

Saya lebih mengenalnya sebagai - ini amat berbeda dengan saya - mahasiswa yang intens, serius, dan sedikit pendiam. Bakat-bakat seninya jauh lebih menonjol ketimbang minatnya berteologi. Ia penulis sajak dan esai yang handal, cerdas dan mendalam. Juga seorang dramawan yang tangguh. Drama monolog yang ditulis, diperankan, dan disutradarainya sendiri, sampai kini masih berbekas di hati.

Kegemarannya akan kontroversi juga sangat terkenal. Saya tahu, bagaimana ia berperan sebagai "provokator", "tukang kipas" dan "pengatur strategi di belakang layar", dalam gerakan mahasiswa di asrama yang berusaha "menggulingkan" kepemimpinan saya. Ketika bertahun-tahun kemudian saya mengingatkannya tentang ini, dengan terbahak-bahak khas Tono ia menjawab, "Itu 'kan cuma buat bikin rame-rame saja. Ha, ha, ha!" Dua kali , saya ingat, ia dipercaya untuk menjadi ketua dua organisasi. Kedua-duanya berakhir dengan heboh besar. Mengapa? Sebab yang ia lakukan bukanlah mengembangkan organisasi-organisasi itu, melainkan membubarkannya. Dua organisasi yang pernah mengalami "nasib buruk" itu adalah, "Persekutuan Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi" dan "Kampus Diakonia Modern".

Yang juga tak dapat saya lupakan ialah, ketika saya dan istri - waktu itu masih pengantin baru - mengundang Tono dan Julius Syaranamual untuk tinggal bersama kami selama liburan. Baru di situ saya mendapati, bahwa walaupun mereka sudah hampir tamat dari STT, keduanya belum juga "mengaku percaya". Padahal ini adalah syarat mutlak untuk menjadi anggota penuh sebuah gereja. Lha bila jadi "anggota" saja tidak memenuhi syarat, bagaimana pula untuk menjadi "pendeta"?, pikir saya.

Karena itu saya menawarkan kepada mereka untuk "mengaku percaya", tanpa perlu - seperti yang lain - mengikuti kursus pendalaman iman terlebih dulu. Tapi mengenal ke-nyentrik-an mereka, saya pun berpesan wanti-wanti, "Tolong ya, kalau ditanya pimpinan gereja nanti, jangan memberi jawaban yang "aneh-aneh". Munafik sedikit, tak apalah!". Ternyata mereka menurut juga. Dan saya pun lega.

SEJAK aktif dalam gerakan-gerakan kemahasiswaan di tahun 70-an, sikap eksentriknya semakin hilang. Penampilan Tono semakin santun. Kegemarannya adalah mengenakan kemeja batik atau kemeja putih lengan panjang. Gaya bicaranya pun semakin penuh tenggang rasa. Sementara bakat seninya, entah bersembunyi di mana.

Tapi dalam gagasan dan wawasan, ia tetap Tono yang dulu. Intens, serius, keras kepala, kontroversial, terus mencari terobosan-terobosan baru, dan penuh kejutan. Studi formalnya membantunya memberi kedalaman dan koherensi kepada ide-ide spontan yang terus meletup-letup dari benaknya. Dan yang terpenting, seperti ungkapannya sendiri, ia tetap "garuda" yang tak gentar terbang sendiri. Bukan "bebek" yang mencari aman di tengah kerumunan.

Pertanyaannya adalah, akan kita biarkankah ia terus terbang sendirian? Saya menyadari benar, betapa kepergiannya yang amat tiba-tiba itu memperhadapkan kita kepada tantangan yang amat serius. Yaitu, terdorongkah kita untuk terbang bersama-sama dia?

Kepergian Tono, menurut saya, tidak cuma me-"legasi"-kan (= mewariskan) sebuah peta perjalanan serta begitu banyak aset pemikiran, tetapi juga men-"delegasi"-kan (= menyerahkan) segudang agenda yang mesti dikerjakan. Mulai dari cita-citanya mendirikan sebuah "Dialogue Center", sampai kepada yang jauh lebih praktis, misalnya perjalanan Inter Fidei selanjutnya.

Selamat jalan, Ton! Nikmatilah kebebasanmu sekarang! Biarlah yang lain, menjadi kecemasan kami! Mbak Cang, Dyah, Adi dan Nugi, kuatkanlah hati kalian dan lanjutkanlah perjalanan kalian! Elga dan kawan-kawan, teruslah warisi "api"-nya dan lestarikan nyalanya! Agar "Jalan Kemajemukan" tak lagi sepengap sekarang.

(Penulis adalah Ketua Yayasan Dialog-Antar-Iman, sahabat dekat almarhum, Suara Pembaruan, 4/2/2003)


 

 
Sahabat Surgawi, Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999
Tim Sahabat Surgawi