|
Bu Mangun dari Klaten,
sebuah kota kecil di Jawa Tengah sudah puluhan tahun
memproduksi kripik paru sapi, rasanya gurih dan renyah
sehingga sangat disukai bahkan dibeli orang untuk di jual
lagi di kota-kota besar, termasuk Jakarta.
Kini Bu Mangun sudah digantikan anaknya dan semakin maju,
jumlah karyawan semakin banyak sehingga sehari mampu
memproduksi kripik paru sedikitnya satu setengah kwintal,
bahkan selain kripik paru mereka juga memproduksi belut
goreng.
Meskipun produk keluarga Bu Mangun banyak dikirim ke
Jakarta, namun kita akan kesulitan kalau mencarinya di
super market-super market berkelas, seperti Sogo misalnya.
Selain produk tersebut tidak ada mereknya, juga
supermarket-supermarket berkelas mengisyaratkan, salah
satunya, kemasan yang menarik. Andaikan Bu Mangun memahami
pelanggan Sogo, akan jadi lain ceritanya. Lain halnya
kalau kita ke toko khusus makanan kecil, kita bisa
menemukan kripik paru walaupun sudah diberi merek toko
bersangkutan atau dalam wadah yang sudah rapi tanpa merek.
Ini cerita yang lain lagi. Keramik atau gerabah dari desa
Kasongan, Yogyakarta, sekarang begitu dikenal orang,
bahkan telah menjadi komoditi ekspor ke manca negara.
Kasongan sendiri menjadi salah satu tujuan turis lokal
maupun asing karena keramiknya. Padahal ketika saya masih
kuliah di Yogyakarta kerajinan keramik dari Kasongan hanya
dikenal oleh kalangan senirupa, baik para seniman maupun
orang yang gemar seni keramik.
Saptohudoyo, seorang seniman Yogyakarta, adalah orang yang
gigih memikirkan dan mengajarkan seniman-seniman Kasongan
bagaimana memoles keramik Kasongan sehingga disukai oleh
orang awam, pas dengan kebutuhan pasar. Saptohudoyo
melihat potensi seni keramik Kasongan begitu bagus, hanya
sayang finishingnya kurang pas sehingga penampilannya
tidak bisa dinikmati banyak orang. Tapi setelah diupayakan
perbaikan kini masyarakat seni Kasongan bisa hidup dari
keramik, dan banyak orang asing bisa menikmatinya.
Selain mohon kekuatan Roh Kudus, dari kedua cerita nyata
tersebut kita bisa belajar bagaimana seharusnya
memfasilitasi perjumpaan manusia dengan Tuhan, sebagai
core business gereja. Bu Mangun bisa begitu maju dan
disukai orang karena kripik parunya berkualitas, gurih dan
renyah meskipun tanpa merek atau kemasan yang bagus.
Tetapi sayangnya produk yang bagus itu tidak bisa
dinikmati oleh konsumen Sogo hanya karena tidak dikemas
dengan menarik sehingga tidak ada di shelf Sogo. Demikian
juga keramik Kasongan yang materi seninya pada dasarnya
begitu bagus. Mungkin orang banyak tak akan pernah bisa
menikmati seni Kasongan tanpa dipoles dan dikemas dengan
baik. Kita musti menyesuaikan kemasan tanpa mengurangi
kualitas produk itu sendiri.
Maka sebaiknya kita meniru apa yang sudah dilakukan oleh
Saptohudoyo, yang dengan jeli melihat kualitas seni
Kasongan yang begitu bagus lalu dengan kerja keras
mempelajari kekurangan dan kelebihannya, membuat konsep
perbaikan penampilan nya dan mengajarkannya kepada seluruh
masyarakat seni Kasongan. Bahannya sama, corak seninya
sama tetapi tehnik kemasannya lebih pas.
Kalau hal seperti ini kita lakukan, saya yakin banyak
orang akan setia menikmati persekutuan kita dan merasakan
perjumpaan dengan Tuhan. Karena bukan hanya isi yang bagus
tetapi kemasanyapun pas dengan kebutuhan orang, sehingga
orang suka menghampiri, membeli dan yang penting menikmati
isinya.
Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti
Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi........
(1 Korintus 9:20-27)
J. Adi Tanudirjo
Penatua GKI di Jakarta
|