» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» CERITA  BERMAKNA


cerita bermakna bisa menghibur, menguatkan, bahkan juga menegor dan
menyentil. rubrik ini memuat cerita-cerita serupa itu. Sumbernya kebanyakan dari
imel berantai sehingga sebagian besar sudah tidak jelas lagi asalnya.

 


BAU KERINGAT
Oleh: Peter Purwanegara
 

Setiap Minggu pagi aku pergi ke gereja untuk berbakti. Dan selalu duduk di Bangku nomer dua dari belakang. Kebiasaan tempat duduk ini sudah berjalan 3 tahun. Menjelang Natal, pengunjung gereja pun mulai meningkat. Dan  kebanyakan orang kayaknya mempunyai kesenangan yang sama denganku, yakni duduk di bangku bagian paling belakang. Seperti hukum tak tertulis saja.Di tengah-tengah kebaktian, ketika aku sedang konsentrasi untuk mendengarkan pendeta yang sedang berkotbah. Tiba-tiba tercium bau keringat seseorang yang menyengat hidungku. Aku berpikir, hal itu hanya kebetulan saja. Beberapa menit kemudian, tercium kembali bau tersebut. Kali ini bautersebut lebih lama dan 'tidak mau pergi?dari daerah sekitar hidungku.Aku mulai tak tenang. Tanpa kusadari tangan kananku menutup hidungku. Aku semakin tak dapat berkonsentrasi mendengarkan kotbah. Karena bau keringat itu masih menyengat.Aku mencoba menoleh ke kanan ke kiri melihat orang-orang di sekitarku apakah mereka mencium bau keringat juga? Karena menurutku tidaklah mungkin hanya aku seorang yang mencium bau keringat tersebut, sedang yanglain tidak. Ku lihat ada tiga orang wanita juga menutup hidung mereka dengan'ti-siu? Aku asumsikan mereka juga mencium baru keringat itu. Aku mencoba memperhatikan kotbah yang disampaikan oleh pendeta yang berdiri di mimbar.Tapi? bau keringat itu tetap meng ganggu. Aku pun berdoa dalam hati,memohon Tuhan supaya aku tidak terganggu. Puji Tuhan, paling tidak aku dapat kembali berkonsentrasi untuk beribadah, meski dengan tangan kananku yang masih menutup hidung. Selesai kebaktian, masih pula tercium bau keringat tersebut. Dan hal itu membuatku lebih heran dan penasaran. Siapakah orang yang mempunyai bau keringat tersebut ? Timbul pertanyaan dalam kepalaku, apakah orang tersebut mempunyai bau badan yang seperti bau keringat, atau?.dia belum sempat mandi, misalnya ? Aku mencoba memperhatikan beberapa orang di sekitarku duduk. Untuk mencari kira-kira dari arah mana bau keringat tersebut terse bar. Pilihanku jatuh pada seorang pria yang duduk di bangku paling belakang. Dengan rambutnya yang sebagian telah memutih dan pakaian yang sederhana cukup mudah
untuk dikenali, bahwa penampilan om tersebut tampak beda dengan jemaat yang lain. Akupun mencoba menghampiri dan menyapanya. Dugaanku memang tidak salah, bau keringat tersebut tercium lebih tajam, setelah aku berdiri di hadapannya. Aku juga baru mengenal om itu untuk pertama kali. Aku memanggil dia om Nusa.Minggu depannya, aku melihat om Nusa kembali duduk di barisan bangku paling belakang. Waktu kebaktian aku mencium bau keringat kembali.Dan beberapa orang juga menutup hidung mereka. Dugaanku, bau keringat itu be rasal dari om Nusa. Aku merasa tidak enak jika ingin memberi tahu tentang hal ini secara langsung. Maka aku ada akal. Kebetulan saat itu menjelang Natal, maka tidak ada salahnya jika aku memberi om Nusa sepaket kebutuhan sehari-hari termasuk sabun mandi dan peng hilang bau badan. Aku tidak ingin om Nusa tersinggung. Dua minggu kemudian berte mu dengan om Nusa lagi. Aku bertanya, apakah paket kebutuhan sehari-hari itu sudah dipakainya. Dia sangat senang dengan paket tersebut dan telah memakainya. Aku pun juga senang kalau om Nusa telah memakai pemberianku. Cuma yang membuatku masih heran dan penasaran, waktu kebaktian tadi, aku masih mencium bau keringat. Setelah mengajak om Nusa mengobrol lebih lama dan lebih jauh lagi.Aku baru tahu, kalau om Nusa termasuk kategori lansia dengan usia kepala enam.
Dia hidup sendiri, istrinya telah meninggal, anak-anaknya telah berkeluarga dan tidak mau tinggal bersama dengan om Nusa. Uang pemberian anak-anaknya tidak mencu kupi un tuk biaya hidupnya. Maka om Nusaharus bekerja untuk mendapatkan uang tambahan. Pada hari Minggu pagi pun om Nusa harus bekerja di pabrik pemotongan ikan. Setelah selesai bekerja, om Nusa berjalan kaki menuju ke gereja, yang ditem puhnya dengan kurang lebih setengah jam! Di atas kepalaku seakan menyala lampu halogen yang sangat terang. Aku baru menyadari, dengan berjalan kaki kurang lebih setengah jam, maka tidak heran om Nusa berkeringat. Aku pun bertanya padanya, mengapa om Nusa tidak mau naik kendaraan umum saja untuk pergi kegereja, supaya tidak bersusah payah kelau ke gereja. Jawabnya sederhana, biar uang untuk angkutan umumitu bisa ditambahkan dengan uang persembahan yang telah dipersi apkannya. Aku pun tertegun mendengar jawaban om Nusa tersebut. Pintu hatiku seakan diketuk untuk disadarkan setelah mendengar jawaban itu. Aku sebelumnya menyangka bukan-bukan tentang om Nusa. Kini aku lebih menyadari bahwa dugaanku dengan hanya melihat penampilan om Nusa dariluar saja, itu ternyata salah besar. Dan aku tidak pernah berpikir apa yang terjadi sebenarnya. Apakah kebanyakan dari kita seperti demikian? Ketika kita berhadapan dengan seseorang yang sederhana (terutama di gereja), kita belum-belum sudah mempunyai prasangka terhadap sese orang tersebut. Ah, Tuhan seakan memberikan suatu pelajaran buatku, lewat cara Nyayang unik. Karena dengan mencium bau keringat di waktu kebaktian itu, aku beroleh suatu pelajaran dari seorang tua yang sederhana. Dan aku mengenal satu jemaat lagi di gerejaku. Bukankah kita seringkali dalam satu gereja tidak pernah bertegur sapa dengan jemaat yang lain? Seringkali kita tidak pernah mengenal dan tidak mau mengenal jemaat yang duduk di sebelah kiri,kanan, depan, belakang kita. Sepertinya tujuan kita ke gereja itu begitu'agung??kita datang ke gereja hanya untuk beribadah kepada sang Pencipta kita. Kita tidak peduli dengan orang lain. Tetapi Tuhan mempunyai keinginan yang berbeda dengan kita. Tuhan menginginkan kita untuk dapat bersekutu dengan sesama kita juga. Dari bau keringat om Nusa, aku dapat mengetahui masalah om Nusa yang terbatas dalam transportasi. Dan aku dapat memasukkan nama om Nusa dalam daftar doaku pula. Bukankah itu yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan? Kita dapat menolong sesama saudara seiman kita dan mendoakan. Jika kita tidak mengenal jemaat lain yang dalam masalah bagaimana kita dapat menolong atau mendoakan mereka ?Setelah kejadian hari Minggu itu, pada minggu-minggu berikutnya akupun dapat berbakti dengan tenang, tidak terganggu oleh bau keringat lagi.Karena sekarang om Nusa pergi ke gereja bersamaku dengan mengendarai mobil, sehingga om Nusa tidak perlu berjalan kaki dan ?.berkeringat.Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Ibr 10:24.

Vancouver, 21 Maret 2003
===="Jadikan semua bangsa muridKU" (Mat 28:19)====
Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. Fil 1:5

 

 

ARSIP

 

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi