|
BAU KERINGAT
Oleh:
Peter Purwanegara
|
Setiap Minggu pagi aku
pergi ke gereja untuk berbakti. Dan selalu duduk di Bangku
nomer dua dari belakang. Kebiasaan tempat duduk ini sudah
berjalan 3 tahun. Menjelang Natal, pengunjung gereja pun
mulai meningkat. Dan kebanyakan orang kayaknya
mempunyai kesenangan yang sama denganku, yakni duduk di
bangku bagian paling belakang. Seperti hukum tak tertulis
saja.Di tengah-tengah kebaktian, ketika aku sedang
konsentrasi untuk mendengarkan pendeta yang sedang
berkotbah. Tiba-tiba tercium bau keringat seseorang yang
menyengat hidungku. Aku berpikir, hal itu hanya kebetulan
saja. Beberapa menit kemudian, tercium kembali bau
tersebut. Kali ini bautersebut lebih lama dan 'tidak mau
pergi?dari daerah sekitar hidungku.Aku mulai tak tenang.
Tanpa kusadari tangan kananku menutup hidungku. Aku
semakin tak dapat berkonsentrasi mendengarkan kotbah.
Karena bau keringat itu masih menyengat.Aku mencoba
menoleh ke kanan ke kiri melihat orang-orang di sekitarku
apakah mereka mencium bau keringat juga? Karena menurutku
tidaklah mungkin hanya aku seorang yang mencium bau
keringat tersebut, sedang yanglain tidak. Ku lihat ada
tiga orang wanita juga menutup hidung mereka
dengan'ti-siu? Aku asumsikan mereka juga mencium baru
keringat itu. Aku mencoba memperhatikan kotbah yang
disampaikan oleh pendeta yang berdiri di mimbar.Tapi? bau
keringat itu tetap meng ganggu. Aku pun berdoa dalam
hati,memohon Tuhan supaya aku tidak terganggu. Puji Tuhan,
paling tidak aku dapat kembali berkonsentrasi untuk
beribadah, meski dengan tangan kananku yang masih menutup
hidung. Selesai kebaktian, masih pula tercium bau keringat
tersebut. Dan hal itu membuatku lebih heran dan penasaran.
Siapakah orang yang mempunyai bau keringat tersebut ?
Timbul pertanyaan dalam kepalaku, apakah orang tersebut
mempunyai bau badan yang seperti bau keringat, atau?.dia
belum sempat mandi, misalnya ? Aku mencoba memperhatikan
beberapa orang di sekitarku duduk. Untuk mencari kira-kira
dari arah mana bau keringat tersebut terse bar. Pilihanku
jatuh pada seorang pria yang duduk di bangku paling
belakang. Dengan rambutnya yang sebagian telah memutih dan
pakaian yang sederhana cukup mudah
untuk dikenali, bahwa penampilan om tersebut tampak beda
dengan jemaat yang lain. Akupun mencoba menghampiri dan
menyapanya. Dugaanku memang tidak salah, bau keringat
tersebut tercium lebih tajam, setelah aku berdiri di
hadapannya. Aku juga baru mengenal om itu untuk pertama
kali. Aku memanggil dia om Nusa.Minggu depannya, aku
melihat om Nusa kembali duduk di barisan bangku paling
belakang. Waktu kebaktian aku mencium bau keringat
kembali.Dan beberapa orang juga menutup hidung mereka.
Dugaanku, bau keringat itu be rasal dari om Nusa. Aku
merasa tidak enak jika ingin memberi tahu tentang hal ini
secara langsung. Maka aku ada akal. Kebetulan saat itu
menjelang Natal, maka tidak ada salahnya jika aku memberi
om Nusa sepaket kebutuhan sehari-hari termasuk sabun mandi
dan peng hilang bau badan. Aku tidak ingin om Nusa
tersinggung. Dua minggu kemudian berte mu dengan om Nusa
lagi. Aku bertanya, apakah paket kebutuhan sehari-hari itu
sudah dipakainya. Dia sangat senang dengan paket tersebut
dan telah memakainya. Aku pun juga senang kalau om Nusa
telah memakai pemberianku. Cuma yang membuatku masih heran
dan penasaran, waktu kebaktian tadi, aku masih mencium bau
keringat. Setelah mengajak om Nusa mengobrol lebih lama
dan lebih jauh lagi.Aku baru tahu, kalau om Nusa termasuk
kategori lansia dengan usia kepala enam.
Dia hidup sendiri, istrinya telah meninggal, anak-anaknya
telah berkeluarga dan tidak mau tinggal bersama dengan om
Nusa. Uang pemberian anak-anaknya tidak mencu kupi un tuk
biaya hidupnya. Maka om Nusaharus bekerja untuk
mendapatkan uang tambahan. Pada hari Minggu pagi pun om
Nusa harus bekerja di pabrik pemotongan ikan. Setelah
selesai bekerja, om Nusa berjalan kaki menuju ke gereja,
yang ditem puhnya dengan kurang lebih setengah jam! Di
atas kepalaku seakan menyala lampu halogen yang sangat
terang. Aku baru menyadari, dengan berjalan kaki kurang
lebih setengah jam, maka tidak heran om Nusa berkeringat.
Aku pun bertanya padanya, mengapa om Nusa tidak mau naik
kendaraan umum saja untuk pergi kegereja, supaya tidak
bersusah payah kelau ke gereja. Jawabnya sederhana, biar
uang untuk angkutan umumitu bisa ditambahkan dengan uang
persembahan yang telah dipersi apkannya. Aku pun tertegun
mendengar jawaban om Nusa tersebut. Pintu hatiku seakan
diketuk untuk disadarkan setelah mendengar jawaban itu.
Aku sebelumnya menyangka bukan-bukan tentang om Nusa. Kini
aku lebih menyadari bahwa dugaanku dengan hanya melihat
penampilan om Nusa dariluar saja, itu ternyata salah
besar. Dan aku tidak pernah berpikir apa yang terjadi
sebenarnya. Apakah kebanyakan dari kita seperti demikian?
Ketika kita berhadapan dengan seseorang yang sederhana
(terutama di gereja), kita belum-belum sudah mempunyai
prasangka terhadap sese orang tersebut. Ah, Tuhan seakan
memberikan suatu pelajaran buatku, lewat cara Nyayang
unik. Karena dengan mencium bau keringat di waktu
kebaktian itu, aku beroleh suatu pelajaran dari seorang
tua yang sederhana. Dan aku mengenal satu jemaat lagi di
gerejaku. Bukankah kita seringkali dalam satu gereja tidak
pernah bertegur sapa dengan jemaat yang lain? Seringkali
kita tidak pernah mengenal dan tidak mau mengenal jemaat
yang duduk di sebelah kiri,kanan, depan, belakang kita.
Sepertinya tujuan kita ke gereja itu begitu'agung??kita
datang ke gereja hanya untuk beribadah kepada sang
Pencipta kita. Kita tidak peduli dengan orang lain. Tetapi
Tuhan mempunyai keinginan yang berbeda dengan kita. Tuhan
menginginkan kita untuk dapat bersekutu dengan sesama kita
juga. Dari bau keringat om Nusa, aku dapat mengetahui
masalah om Nusa yang terbatas dalam transportasi. Dan aku
dapat memasukkan nama om Nusa dalam daftar doaku pula.
Bukankah itu yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan? Kita
dapat menolong sesama saudara seiman kita dan mendoakan.
Jika kita tidak mengenal jemaat lain yang dalam masalah
bagaimana kita dapat menolong atau mendoakan mereka
?Setelah kejadian hari Minggu itu, pada minggu-minggu
berikutnya akupun dapat berbakti dengan tenang, tidak
terganggu oleh bau keringat lagi.Karena sekarang om Nusa
pergi ke gereja bersamaku dengan mengendarai mobil,
sehingga om Nusa tidak perlu berjalan kaki dan
?.berkeringat.Dan marilah kita saling memperhatikan supaya
kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan
baik. Ibr 10:24.
Vancouver, 21 Maret 2003
===="Jadikan semua bangsa muridKU" (Mat 28:19)====
Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu
dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang
ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang
memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan
meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus
Yesus. Fil 1:5
|