|
Serba - Serbi
Rohani |
 |
|
|
|
 |
|

|

 |
 |
» CERITA BERMAKNA |
 |
|
|

|
|
|
|
cerita
bermakna bisa menghibur, menguatkan, bahkan juga menegor
dan
menyentil. rubrik ini memuat cerita-cerita serupa itu.
Sumbernya kebanyakan dari
imel berantai sehingga sebagian besar sudah tidak jelas
lagi asalnya.
|
|
PENGEMIS DAN PELAYAN TOKO
|
"Peliharalah kasih persaudaraan ! Jangan kamu lupa
memberi kebaikan kepada
orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang
dengan tidak
diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." Ibrani
13:1.
Ada kisah tentang kebaikan dan kasih yang tercecer
dari antara perayaan-perayaan Natal. Semacam kisah
Orang Samaria yang Baik Hati. Kisah tentang kasih yang
indah ini sayangnya tidak terjadi di gereja, tetapi di
sebuah Dept. Store di Amerika Serikat.
Pada suatu hari seorang pengemis wanita yang dikenal
dengan sebutan "Bag Lady" (karena segala
harta-bendanya hanya termuat dalam sebuah tas yang ia
jinjing kemana-mana sambil mengemis) memasuki sebuah
Dept. Store yang mewah sekali. Hari-hari itu adalah
menjelang hari Natal. Toko itu dihias dengan indah
sekali. Lantainya semua dilapisi karpet yang baru dan
indah. Pengemis ini tanpa ragu-ragu memasuki toko ini.
Bajunya kotor dan penuh lubang-lubang. Badannya
mungkin sudah tidak mandi berminggu-minggu. Bau badan
menyengat hidung.
Ketika itu seorang hamba Tuhan wanita mengikutinya
dari belakang. Ia berjaga-jaga, kalau petugas sekuriti
toko itu mengusir pengemis ini, sang hamba Tuhan
mungkin dapat membela atau membantunya. Wah, tentu
pemilik atau pengurus toko mewah ini tidak ingin ada
pengemis kotor dan bau mengganggu para pelanggan
terhormat yang ada di toko itu. Begitu pikir sang
hamba Tuhan wanita. Tetapi pengemis ini dapat terus
masuk ke bagian-bagian dalam toko itu. Tak ada petugas
keamanan yang mencegat dan mengusirnya. Aneh ya ?
Padahal, para pelanggan lain berlalu lalang di situ
dengan setelan jas atau gaun yang mewah dan mahal. Di
tengah Dept. Store itu ada piano besar (grand piano)
yang dimainkan seorang pianis dengan jas tuksedo,
mengiringi para penyanyi yang menya nyikan lagu-lagu
natal dengan gaun yang indah. Suasana di toko itu
tidak cocok sekali bagi si pengemis wanita itu. Ia
nampak seperti makhluk aneh di lingkungan gemerlap an
itu. Tetapi sang "bag lady" jalan terus. Sang hamba
Tuhan itu juga mengikuti terus dari jarak tertentu.
Rupanya pengemis itu mencari sesuatu di bagian Gaun
Wanita. Ia mendatangi
counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal
bermerek (branded items) dengan harga di atas $ 2500
per piece. Kalau dikonversi dengan kurs hari-hari ini,
harganya dalam rupiah sekitar Rp. 20 juta per piece.
Baju-baju yang mahal dan mewah ! Apa yang dikerjakan
pengemis ini ? Sang pelayan bertanya, "Apa yang dapat
saya bantu bagi anda ?" "Saya ingin mencoba gaun merah
muda itu ?" Kalau anda ada di posisi sang pelayan itu,
bagaimana respons anda ? Wah, kalau pengemis ini
mencobanya tentu gaun-gaun mahal itu akan jadi kotor
dan bau, dan pelanggan lain yang melihat mungkin akan
jijik membeli baju-baju ini setelah dia pakai. Apalagi
bau badan orang ini begitu menyengat, tentu akan
merusak gaun-gaun itu.
Tetapi mari kita dengarkan apa jawaban sang pelayan
toko mewah itu. "Berapa
ukuran yang anda perlukan ?" "Tidak tahu !" "Baiklah,
mari saya ukur dulu."
Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati pengemis
itu, mengukur bahu,
pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung
terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia
cuek saja. Ia layani pengemis ini seperti satu-satunya
pelanggan terhormat yang mengunjungi counternya. "OK,
saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya !
Cobalah yang ini !" Ia memberikan gaun itu untuk
dicoba di kamar pas. "Ah, yang ini kurang cocok untuk
saya. Apakah saya boleh mencoba yang lain ?" "Oh,
tentu !" Kurang lebih dua jam pelayan ini menghabiskan
waktunya untuk melayani sang bag lady. Apakah pengemis
ini akhirnya membeli salah satu gaun yang dicobanya ?
Tentu saja tidak ! Gaun seharga puluhan juta rupiah
itu jauh dari jangkauan kemampu an keuangannya.
Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi
dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan
sebagai layaknya seorang manusia. Biasanya ia
dipandang sebelah mata. Hari itu ada seorang pelayan
toko yang melayaninya, yang menganggapnya seperti
orang penting, yang mau mendengarkan permintaannya.
Tetapi mengapa pelayan toko itu repot-repot
melayaninya ? Bukankah kedatangan pengemis itu
membuang-buang waktu dan perlu biaya bagi toko itu?
Toko itu harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba
itu ke Laundry, dicuci bersih agar kembali tampak
indah dan tidak bau. Pertanyaan ini juga mengganggu
sang hamba Tuhan yang memperhatikan apa yang terjadi
di counter itu.
Kemudian hamba Tuhan ini bertanya kepada pelayan toko
itu setelah ia selesai melayani tamu "istimewa"-nya.
"Mengapa anda membiarkan pengemis itu mencoba
gaun-gaun indah ini ?" "Oh, memang tugas saya adalah
melayani dan berbuat baik (My job is to serve and to
be kind !) "Tetapi, anda 'kan tahu bahwa pengemis itu
tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal ini ?"
"Maaf, soal itu bukan urusan saya. Saya tidak dalam
posisi untuk menilai atau menghakimi para pelanggan
saya. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat
baik."
Hamba Tuhan ini tersentak kaget. Di jaman yang penuh
keduniawian ini ternyata masih ada orang-orang yang
tugasnya adalah melayani dan berbuat baik, tanpa perlu
menghakimi orang lain. Hamba Tuhan ini akhirnya
memutuskan untuk membawakan khotbah pada hari Minggu
berikutnya dengan thema : "Injil Menurut Toko Serba
Ada". Khotbah ini menyentuh banyak orang, dan kemudian
diberitakan di halaman-halaman surat kabar di kota
itu. Berita itu menggugah banyak orang sehingga mereka
juga ingin dilayani di toko yang eksklusif ini.
Pengemis wanita itu tidak membeli apa-apa, tidak
memberi keuntungan apa-apa, tetapi akibat perlakuan
istimewa toko itu kepadanya, hasil penjualan toko itu
meningkat drastis, sehingga pada bulan itu
keuntungan naik 48 % !
|
|
| |
|
Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi
|
|