» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» CERITA  BERMAKNA


cerita bermakna bisa menghibur, menguatkan, bahkan juga menegor dan
menyentil. rubrik ini memuat cerita-cerita serupa itu. Sumbernya kebanyakan dari
imel berantai sehingga sebagian besar sudah tidak jelas lagi asalnya.

 


KASIH SEORANG ANAK
 

Hanya kami saja yang membawa anak di restoran itu. Aku mendudukkan Erik di
kursi khusus untuk anak dan mulai memperhatikan orang-orang yang dengan
tenang makan sambil berbincang-bincang. Erik memekik gembira dan berteriak
"Halo!". Dia menepuk-nepukkan tangan bayinya yang montok ke nampan di kursinya. Matanya membelalak gembira dan ia tersenyum lebar memperlihatkan mulutnya yang masih belum bergigi. Dia menggeliat-geliat dan tertawa-tawa kesenangan. Aku melihat ke sekeliling dan segera menemukan sumber kegembiraannya. Ada seorang pria dengan jas yang compang-camping, kotor, berminyak, dan usang. Dia memakai celana baggy dengan resleting yang setengah terbuka dan jempol kakinya menyembul dari sepatunya yang sudah hampir hancur. Bajunya kotor dan rambutnya yang kotor tidak disisir.
Cambangnya terlalu pendek untuk bisa disebut sebagai jenggot, dan hidungnya penuh guratan sehingga tampak seperti peta jalanan.

Kami duduk cukup jauh sehingga tidak mencium baunya, tapi aku yakin dia pasti bau sekali. Dia melambaikan dan menggoyang-goyangkan tangannya.
"Halo, sayang. Halo anak pintar. Ciluk ba!", dia berkata pada Erik.
Suamiku dan aku saling berpandangan, "Apa yang harus kami lakukan?" Erik terus tertawa dan menjawab "Halo, Halo." Semua orang di restoran memandangi kami dan pria itu. Orang tua yang aneh sedang mengganggu bayi manisku.

Makanan kami datang dan pria itu mulai berteriak dari seberang ruangan.
"Kamu tahu kue pastel? Kamu bisa cilukba? Hei, dia bisa ciluk ba." Tak ada seorangpun yang menganggap pria itu lucu. Menurutku dia pasti mabuk.
Suamiku dan aku sangat malu. Kami makan dengan diam, kecuali si Erik, yang mulai menyanyikan semua lagu yang dikenalnya untuk si gembel yang mengaguminya, yang memberikan komentar yang lucu-lucu.

Akhirnya kami selesai makan dan beranjak pulang. Suamiku membayar ke kasir
dan menyuruhku menunggu di tempat parkir. Pria tua itu duduk di antara kami dan pintu keluar. "Tuhan, biarkan aku keluar dari sini sebelum dia sempat berbicara dengan aku atau Erik." doaku. Saat mendekati pria itu, aku berjalan menyamping untuk menghindari baunya. Saat aku melakukan itu, Erik menyandar pada lenganku dan merentangkan kedua tangannya minta digendong. Sebelum aku sempat menghen tikannya, Erik sudah meronta dari tanganku dan menuju tangan pria itu. Tiba-tiba, pria tua yang sangat bau dan seorang bayi yang masih kecil mewujudkan rasa sayang mereka. Erik, dengan penuh kepercayaan, sayang, dan pasrah merebahkan kepala nya yang mungil ke atas pundak pria itu. Mata pria itu terpejam dan aku bisa melihat air mata menggenang di bawah bulu matanya.
Tangan tuanya yang kotor dan penuh tanda-tanda kepenatan karena terlalu sering dipakai untuk bekerja keras, dengan lembut, sangat lembut menimang bayiku dan mengelus punggungnya. Belum pernah ada dua insan yang dapat menyayangi dengan begitu dalam hanya dalam waktu sesingkat itu.

Aku terpaku. Pria tua itu menggoyang dan menimang Erik di pelukannya selama beberapa saat, dan kemudian matanya terbuka dan memandangku dalam-dalam. Dia berkata dengan tegas, "Jaga bayi ini dengan baik."
Kerongkonganku bagai tersumbat batu. Entah bagaimana caranya, aku berhasil
menjawab, "Baik". Dia menjauhkan Erik dari dadanya, dengan tak rela, dan
berlama-lama, seolah merasakan nyeri yang mendalam. Aku menerima bayiku
dan kemudian pria itu berkata, "Tuhan memberkati anda, Nyonya. Anda telah
memberiku hadiah Natal." Aku tidak dapat berkata apapun selain menggumamkan terima kasih. Dengan memeluk Erik, aku berlari ke mobil.

Suamiku bertanya kenapa aku menangis sambil memeluk Erik dengan eratnya,
dan berkomat-kamit, "Ya Tuhan, Tuhanku, ampunilah aku." Aku baru saja
menyaksikan kasih Yesus terpancar melalui kepolosan seorang anak kecil yang tidak memandang dosa, tidak menghakimi; seorang anak yang memandang jiwa, dan seorang ibu yang hanya melihat penampilan luar saja. Aku adalah seorang Kristen yang buta, memeluk seorang anak kecil yang dapat melihat.
Aku merasakan Tuhan bertanya kepadaku, "Apakah engkau bersedia membagi
anakmu untuk beberapa saat saja?" bukankah Ia telah membagi anakNya untuk
selama-lamanya. Gembel tua itu, tanpa disengaja, telah mengingatkanku
"Untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita harus menjadi seperti anak-anak."

Theresa Hunt
Matius 22:39 "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri"

Versi Inggris--------------------------------------------------------------------------------------------------
We were the only family with children in the restaurant. I sat Erik in a high chair and noticed everyone was quietly eating and talking. Suddenly, Erik squealed with glee and said, "Hi there." He pounded his fat baby hands on the highchair tray. His eyes were wide with excitement and his  mouth was bared in a toothless grin. He wriggled and giggled with merriment. I looked around and saw the source of his merriment. It was a man with a tattered rag of a coat; dirty, greasy and worn. His pants were
baggy with a zipper at half-mast and his toes poked out of would-be shoes.
His shirt was dirty and his hair was uncombed and unwashed. His whiskers were too short to be called a beard, and his nose was so varicose it looked like a road map.

We were too far from him to smell, but I was sure he smelled. His hands waved and flapped on loose wrists. "Hi there, baby; hi there, big boy. I see ya, buster," the man said to Erik. My husband and I exchanged looks,
"What do we do?" Erik continued to laugh and answer, "Hi, hi there."
Everyone in the restaurant noticed and looked at us and at the man. The old geezer was creating a nuisance with my beautiful baby.

Our meal came and the man began shouting from across the room, "Do ya know
patty cake? Do you know peek-a-boo? Hey, look, he knows peek-a-boo."
Nobody thought the old man was cute. He was obviously drunk. My husband and I were embarrassed. We ate in silence; all except for Erik, who was running through his repertoire for the admiring skid-row bum, who, in turn, reciprocated with his cute comments.

We finally got through the meal and headed for the door. My husband went to pay the check and told me to meet him in the parking lot. The old man sat poised between the door and me. "Lord, just let me out of here before he speaks to me or Erik," I prayed. As I drew closer to the man, I turned my back trying to sidestep him and avoid any air he might be breathing. As I did, Erik leaned over my arm, reaching with both arms in a baby's "pick-me-up" position. Before I could stop him, Erik had propelled himself from my arms to the man's. Suddenly, a very old, smelly man and a very young baby consummated their love relationship. Erik, in an act of total trust, love, and submission laid his tiny head upon the man's ragged shoulder. The man's eyes closed, and I saw tears hover beneath his lashes. His aged hands full of grime, pain, and hard labor -- gently, so gently, cradled my baby's bottom and stroked his back.
No two beings have ever loved so deeply for so short a time.

I stood awestruck. The old man rocked and cradled Erik in his arms for a moment, and then his eyes opened and set squarely on mine. He said in a firm commanding voice, "You take care of this baby." Somehow I managed, "I will," from a throat that contained a stone. He pried Erik from his chest--unwillingly, longingly, as though he were in pain. I received my baby, and the man said, "God bless you, ma'am, you've given me my Christmas gift." I said nothing more than muttered thanks. With Erik in
my arms, I ran for the car.

My husband was wondering why I was crying and holding Erik so tightly, and why I was saying, "My God, my God, forgive me." I had just witnessed Christ's love shown through the innocence of a tiny child who saw no sin, who made no judgment, a child who saw a soul, and a mother who saw a suit of clothes. I was a Christian who was blind, holding a child who was not.
I felt it was God asking -- "Are you willing to share your son for a moment?" -- when He shared His for all eternity. The ragged old man, unwittingly, had reminded me, "To enter the Kingdom of God, we must become as little children."

By Theresa Hunt
Matthew 22:39 "Thou shalt love thy neighbor as thyself."


Diterjemahkan oleh: Mey Febriana

 

 

ARSIP

 

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi