|
New York, 1967, daerah
kumuh yang sangat memprihatinkan. Gedung - gedung
tua berjejer. Apartment yang sempit, tembok yang berjamur,
dan orang-orang aneh menjadi ciri khas daerah itu.
Orang-orang aneh itu sebagian besar adalah pelukis
jalanan. mereka mencari nafkah dengan melukis, baik itu
melukis di kanvas maupun melukis di trotoar. Sebagai
pelukis jalanan, mereka hanya mampu mencukupi makan tiap
hari dan sewa apartment yang murah itu.
Salah satu dari mereka adalah Marie. Dengan adiknya mereka
berdua menyewa kamar yang sempit, yang sangat tidak layak
untuk ditempati.
Tempat tidur yang sudah busuk, dinding yang berjamur dan
menyebarkan bau tidak enak, tapi apa boleh buat... uang
yang mereka dapat tiap hari kadang untuk makan saja tidak
cukup. Biarpun demikian, mereka pantang untuk melakukan
sesuatu yang jelek atau melanggar hukum. Pernah ada yang
menawari Marie dan Joan adiknya untuk memanfaatkan tubuh
mereka demi uang, tapi mereka tetap pada prinsip mereka.
Para pelukis di daerah itu memang gitu, salah satu ciri
khas yang bisa dibanggakan. Mereka lebih memilih hidup
miskin dan berkekurangan daripada berbuat sesuatu yang
salah. Karena mereka, para pelukis itu adalah orang
kristen. Setiap
Minggu mereka selalu berkumpul untuk beribadah, meskipun
tanpa pendeta yang melayani, mereka memakai saat itu untuk
sharing, saling bertukar cerita dan saling menguatkan.
Jika ada yang kurang beruntung suatu hari, mereka akan
saling meno pang dan saling berbagi.
Suatu saat, saat musim dingin menusuk New York, Joan jatuh
sakit.
Tubuhnya menjadi sangat lemah dan semakin parah. Untuk
bangkit dari tempat tidur saja dia tidak kuat. Dengan uang
yang terkumpul dari para pelukis jalanan itu, Marie
memanggil dokter, dan hasil pemeriksaan dokter sungguh
mengejutkan. Joan mende rita radang paru-paru, diakibatkan
dia selalu bekerja di luar menjual lukisan di trotoar, di
tengah musim dingin, dan tanpa baju hangat yang layak.
Untuk sembuh, Joan harus
beristirahat total, makan yang cukup bergizi, dan yang
terpenting adalah semangat hidup yang tinggi untuk
melewati masa-masa kritis di tengah musim dingin. Dan ini
yang menjadi masalah terbesar. Joan sama sekali putus asa
dan tidak mempunyai semangat hidup sama sekali. Setiap
teman datang untuk menguatkan dia, tapi percuma. Dia
berpikir bahwa inilah akhir hidupnya. Dia tahu benar
keadaannya. Dia tidak akan mendapat makanan yang bergizi,
dia tidak akan mendapat kehangatan yang cukup untuk
melewati musim dingin, dan tidak ada obat untuk membantu
dia
bertahan. Semakin hari dia semakin putus asa dan semakin
lemah. Marie sangat sedih akan hal ini. Semua upaya sudah
dilakukan untuk membesarkan hati Joan, tapi sia-sia. Joan
tidak bergairah untuk makan, bahkan untuk berbicara dengan
siapa pun.
Dia hanya mengucapkan beberapa kata di pagi setiap
harinya, yaitu ketika matahari terbit, dia selalu meminta
Marie untuk membuka jendela kamar agar dia dapat melihat
tanaman yang merambat di dinding tembok yang berhadapan
dengan kamar mereka. Tanaman itu merupakan tanaman
menjalar yang berdaun lebar, dan tanaman itu merupakan
semangat hidup Joan satu-satunya. Setiap kali Marie
membuka jendela, dia melihat tanaman itu dan sambil
tersenyum lemah dia berkata, "Tanaman itu lucu sekali, dia
tahu bahwa dia hanya tanaman kecil yang lemah, hanya dapat
bergantung
pada tembok yang kokoh itu. Tapi dia sombong sekali,
mengira bahwa dengan ber sandar pada tembok itu dia dapat
melewati musim dingin yang ganas ini."
Marie sangat sedih setiap kali Joan berkata ini, "Suatu
saat semua daunnya akan gugur dihantam angin musim dingin,
saat itu juga aku akan pergi bersama dia."
Dan setiap pagi Joan selalu menghitung daun-daun itu.
"Tujuh daun lagi." dan besoknya, "Enam daun lagi", "Lima
daun lagi", dan Joan semakin lemah dan lemah. Marie pun
putus asa, tidak ada harapan sama sekali. Dia hanya dapat
berdoa agar daun-daun itu tetap bertahan, dan setiap pagi
dia membuka jendela dengan hati yang berdebar-debar,
berharap masih ada daun di situ.
Suatu pagi, Marie tergoncang sekali ketika melihat hanya
ada satu daun yang tersisa melekat di tembok itu. Joan
tersenyum lemah, "waktunya sudah dekat. Malam ini angin
dingin akan mengantar kami." Marie semakin pasrah. malam
itu dia tidak tidur, dia berdoa dan menangis, seiring
dengan terjadinya badai. Angin mengguncang jendela-jendela
dengan dasyat, Marie tetap berlutut dan menangis kepada
TUHAN. Dia meminta suatu keajaiban, sesuatu yang dapat
menahan kepergian Joan, dia sangat
mencintai adik satu-satunya itu. Akankah Joan pergi dan
bergabung segenap kelu arganya yang telah mendahului
mereka ? Ayah, Ibu, dan adik-adiknya meninggal ketika
kebakaran, api menelan semua harta mereka dan mengantar
seluruh anggota keluarga, kecuali Marie dan Joan. Setelah
mereka bertahan hidup sekian tahun, kini Joan akan pergi
meninggalkan dia juga.
Paginya, suatu pagi yang menentukan, Dengan lemah Joan
membuka mata dan
meminta Marie membuka jendela agar dia dapat melihat
tanaman itu. Dengan gemetar Marie membuka jendela,
dan,.... ajaib ! Daun itu masih melekat pada tembok.
Mustahil ! semalam terjadi badai yang dasyat, dan pagi ini
daun itu masih melekat pada tembok seakan-akan tidak
terjadi apa-apa semalam. Joan tersenyum lagi dan berkata
"Aku masih mempunyai satu hari lagi" Marie sangat senang,
tapi dia tetap khawatir. Hari ini daun itu dapat bertahan,
tapi besok atau hari ini pasti dia akan gugur juga.
Marie benar-benar sudah pasrah akan hal ini. Dia cuma
dapat bersyukur bahwa dia masih boleh bersama Joan hari
ini.
Besoknya, kembali dengan tangan bergetar Marie membuka
jendela, dan.... daun itu masih tetap di situ ! Marie
tidak dapat mempercayai hal ini, tapi dia senang sekali.
Dia mengucap syukur dengan tidak henti-henti.
Beberapa hari setelah itu, daun itu masih tetap bertahan.
Hari ketujuh, Joan terse nyum dan berkata kepada Marie,
"Daun itu menyadarkan aku. Kalau dia bisa sekuat itu, aku
juga bisa. tolong buatkan bubur ya, aku lapar sekali."
Marie sangat gembira. tanpa disuruh dua kali dia segera
menyiapkan bubur buat Joan. Joan sudah mau makan kembali,
itu tandanya semangat hidupnya tumbuh kembali.
Hari demi hari Marie merawat Joan, dan tiga minggu setelah
itu Joan sudah berangsur-angsur sehat. Dia sudah dapat
berjalan-jalan, cuma belum boleh keluar karena di luar
masih musim dingin. Hari minggu kembali para pelukis itu
berkumpul untuk kebaktian. Joan sangat senang dapat
kembali berkumpul dengan sahabat-sahabatnya itu. Tapi dia
merasa ada yang kurang.
" Adakah yang dapat mengatakan kepadaku dimana si tua Paul
? sewaktu aku terba ring sakit dia sering datang
membawakan kue kismis dan menguatkanku. Waktu itu aku
tidak mempedulikan kalian sama sekali.
Mungkin karena itu dia menjadi kecewa, dan sejak bulan
lalu dia tidak pernah datang lagi ke kamar kami. Aku ingin
minta maaf dan berterima kasih kepadanya. dimanakah dia ?
"
Mendadak semuanya terdiam, dan dengan suara perlahan Marie
menjawab, " Joan, bulan lalu si tua Paul ditemukan
meninggal di kamarnya. Pagi hari setelah badai itu, mereka
menemukan dia meninggal kedinginan, di tangannya dia
menggenggam kaleng cat dan kuas. Daun yang terakhir itu,
merupakan karya terakhirnya..... "
|