|
DAN ALLAHPUN MENGORBANKAN DIRINYA
|
Berkorban adalah memberikan
sesuatu yang sangat berharga atau yang sangat kita sayangi
demi orang lain. Orang yang rela berkorban biasanya
didasari oleh perasaan kasih yang mendalam, sehingga tidak
bisa tidak ia harus berkorban, entah itu dalam bentuk
harta,kekayaan, kedudukan atau bahkan nyawanya sendiri.
Sebuah kisah dari negeri Jepang saya ambil sebagai
contohnya. Seorang petani tua baru saja memanen padinya
dan menumpuknya menjadi sebuah tumpukan yang tinggi
menyerupai sebuah bukit kecil. Hasil panen kali ini begitu
melimpah sehingga bisa membuatnya kaya bila itu dijualnya.
Rumah dan lahan pertanian petani ini terletak di dataran
yang tinggi di atas sebuah desa nelayan yang terhampar di
pantai.
Suatu senja, gempa bumi menggoncang daerah itu, tetapi
penduduk pantai yang sudah terbiasa dengan hal itu tidak
begitu mempedulikannya. Sedangkan petani tua yang rumahnya
berada di ketinggian, setelah gempa itu, memandang ke arah
laut dan melihat bahwa air di kaki langit tampak gelap dan
mengerikan. Ia segera tahu-bahwa itu pertanda gelombang
pasang yang besar akan segera melanda desa yang berada di
tepi pantai.
"Cepat ambilkan obor!" teriak petani itu kepada cucunya.
Tanpa pikir panjang ia segera membakar tumpukan padi yang
baru saja dipanennya itu.
Penduduk desa yang melihat kebakaran itu segera
membunyikan lonceng tanda kebakaran. Berbondong-bondong
penduduk desa menuju rumah petani tua itu untuk membantu
memadamkan kobaran api yang begitu besar dan menyelamatkan
hasil panennya. Tetapi sesampai di atas, petani itu malah
menyambut mereka sambil berteriak dengan tangannya
menunjuk ke arah pantai, "Lihat, lihat!"
Orang-orang berpaling ke belakang dan melihat gelombang
besar mengejar mereka. Ketika gelombang itu menghantam
pantai desa kecil mereka porak poranda dibuatnya. Tetapi,
karena petani tua itu mengorbankan hasil panennya, lebih
dari 400 orang diselamatkan. Petani tua itu sengaja
membakar hasil panennya agar warga desa mengira terjadi
kebakaran dan datang membantunya, dengan demikian mereka
selamat dari terjangan gelombang pasang.
Allah rela meninggalkan tahta kemuliaan-Nya dan
menyerahkan diriNya sebagai penebusan dosa, dengan
tergantung di salib. Anda tahu begitu besar kasih-Nya
kepada kita? Tanpa menyayangkan nyawa-Nya, Tuhan Yesus
membiarkan dirinya dipakukan di kayu salib, agar Anda dan
saya yang memandang pada salib dan karya penebusan dosa
itu terselamatkan dari ancaman hukuman kekal. Tanpa
pengorbanan diri-Nya, bisa dipastikan tak ada seorang pun
yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga
Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap
orang yang percaya kepadanya tidak binasa, melainkan
beroleh hidup yang kekal - Yohanes 3:16.
(Sumber : Rehobot)
|