|
Serba - Serbi
Rohani |
 |
|
|
|
 |
|

|

 |
 |
» CERITA BERMAKNA |
 |
|
|

|
|
|
|
cerita
bermakna bisa menghibur, menguatkan, bahkan juga menegor
dan
menyentil. rubrik ini memuat cerita-cerita serupa itu.
Sumbernya kebanyakan dari
imel berantai sehingga sebagian besar sudah tidak jelas
lagi asalnya.
|
Pada tahun 1941, seorang pastor bernama Maximilian
Kolbe dipenjarakan di Auschwitz. Di tengah kekejaman
kamp pembantaian itu, Max selalu berusaha melaku kan
kebaikan. Ia menjadi 'orangbenar' sekaligus 'orang
baik' bagi tiap narapidana di sana. Ia berdoa bagi
mereka, membagikan makanan dan menyerahkan tempat
tidurnya untuk mereka yang memerlukan.
Pada satu hari ada seorang napi berhasi melarikan diri.
Telah menjadi kebiasaan, setiap kali ada satu napi
lari, semua napi lain akan dikumpulkan di halaman,
lalu komandan akan memilih secara acak 10 napi. Mereka
akan dimasukkan ke sebuah sel; tidak diberi makan dan
minum sampai mati. Begitulah pagi itu komandan mulai
memilih secara acak mereka yang akan dihukum. Nama
napi kesepuluh yang dipanggil adalah Gajowniczek.
Begitu namanya disebut, ia langsung menangis histeris.
"Oh, istri dan anak-anakku," katanya.
Tiba-tiba dari antara barisan, Max maju ke muka dan
menghadap sang komandan. Ia melepas topinya dan
memandang perwira Jerman itu tepat di matanya. Ia
berkata: "Tuan komandan, ijinkan saya mengajukan
permohonan. Saya ingin mati untuk menggantikan napi
ini," katanya sambil menunjuk Gajowniczek yang masih
terus menangis. "Saya tidak punya istri dan anak-anak.
Selain itu, saya sudah tua. Lebih baik orang itu saja
yang hidup lebih lama." Sang komandan diam seribu
bahasa, juga para napi lainnya tercengang, termasuk
Gajowniczek. Akhirnya terdengar suara: "Permohonanmu
dikabulkan!"
Betapa penting peristiwa itu bagi Gajowniczek! Ia
bersaksi: "... saya merasa sangat tercengang dan
hampir tidak dapat mempercayai apa yang terjadi. Saya
orang terhukum akan tetap hidup, sementara orang lain
dengan sukarela menyerahkan nyawanya untuk saya orang
yang tidak saya kenal! Apakah ini mimpi?"
Max akhirnya tidak mati karena kehausan atau kelaparan,
tetapi karena disuntik racun pada tanggal 14 Agustus
l941. Sementara Gajowniczek berhasil lolos dari
pembantai an. Ia bisa kembali pulang kekampung
halamannya setelah perang selesai. Namun setiap tahun,
setiap tanggal 14 Agustus ia kembali ke Auschwitz. Ia
kembali untuk mengucapkan lagi rasa terima kasih
kepada orang yang telah mati menggantikannya. Di
halaman belakang rumahnya didirikan sebuah tanda
peringatan yang diukir dengan tangannya sendiri,
sebagai penghargaan pada Maximilian Kolbe - orang yang
mati baginya agar ia tetap hidup!
* diadopsi dari Embun Bagi Jiwa: Kaum Muda. Editor:
Alice Gray
|
|
|
|
| |
|
Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi
|
|