|
Memang, semua merek bagus.
Lihat saja mereka produk atau nama perusahaan dan badan
apa pun: Ada Hotel Nirwana, tetapi tidak ada Hotel Neraka.
Toko lampu bernama Terang Benderang, bukan Gelap Gulita.
Koran bernama Sinar Harapan, bukan Putus Harapan. Kita
makan di restoran Sudi Mampir, bukan Enyah Bedebah. Di
gereja ada paduan suara Nafiri Malaikat, bukan Nafiri
Iblis. Ada Taman Kanak-kanak Si Mungil, mana ada Si Jahil.
Banyak nama perumahan membubuhkan kata Elok, Indah,
Permai, bukan Jelek, Banjir, Kotor.
Merek berfungsi untuk meyakinkan konsumen. Untuk merek
mobil dipilih nama binatang yang kuat dan berlari cepat
seperti Kijang atau Panther, bukan Bekicot atau Penyu.
Kapal terbang memakai nama burung yang anggun seperti
Garuda atau Merpati, bukan Kalong atau Kampret yang
terbangnya cuma berputar-putar dekat pohon jambu. Pokoknya
semua merek bagus.
Buku yang sedang Anda baca adalah Seri Selamat terbitan
BPK Gunung Mulia, bukan Seri Celaka terbitan BPK Gunung
Nista. Merek atau nama yang bagus sama sekali tidak salah.
Silahkan pikir dan ciptakan merek yang bagus. Bukankah
konsumen menyukai merek yang bagus? Mana ada ibu-ibu yang
sengaja mencari bedak Cap Kulit Badak atau shampo Cap Kutu
Busuk?
Merek bagus bukan soal. Yang menjadi soal adalah kalau
dari luar bungkus dan mereknya bagus, tetapi apa yang ada
di dalamnya jelek.
Pemangkas rambut itu bermerek Pangkas Rapih, tetapi
pangkasannya sembrono. Penjahit itu bermerek Halus, tetapi
jahitannya kasar.
Maskapai penerbangan itu bermoto nyaman dan aman, tetapi
ternyata keberangkat annya selalu tertunda dan bagasinya
sering hilang. Bis itu bermerek Suka Maju, tetapi selalu
mogok atau mandeg. Botol saus tomat itu bergambar tomat,
padahal bahannya bukan tomat melainkan ubi dan labu yang
diberi zat pewarna dan zat rasa. Itu bohong.
Yang lebih bohong adalah iklan yang mengatakan bahwa es
krim bisa mencerdaskan otak. Atau bahwa obat kebugaran
bisa membuat nyonya tampak dua puluh tahun lebih muda. Ah,
yang bener aja. Akan tetapi, yang lebih jadi soal adalah
bila hidup dan diri kita tidak sesuai dengan merek yang
kita pasang. Kita memasang sebutan Hamba Tuhan, tetapi
dalam prakteknya kita Hamba Uang sebab yang kita utamakan
adalah rezeki, berkat, sukses, persembahan dan perpuluhan.
Kita pasang merek pelayan
gereja, tetapi kita bersikap sebagai tuan besar. Kita
disebut gembala sidang, tetapi jarang menggembalakan
domba-domba kita yang jompo dan jelata sebab kita sibuk
tampil di kebangunan rohani di hotel-hotel berbintang atau
seminar di luar negeri. Kita disebut pengusaha yang
berjiwa sosial, tetapi sebetulnya kekayaan kita itu
diperoleh secara tidak jujur. Kita bermerek pemimpin yang
arif dan bijaksana, tetapi di belakang layar kita
menyalahgunakan kekuasaan. Kita menyebut diri Kristen,
tetapi gaya hidup kita jauh berbeda dari gaya hidup
Kristus yang sederhana, damai dan mau berkorban.
Mereknya bagus tetapi isinya buruk. Itulah kecaman Tuhan
Yesus terhadap para pemimpin agama di dalam Matius 23.
Yesus mengecam, " ... kamu sama seperti kuburan yang
dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih
tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang
belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah
kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar dimata orang,
tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan
kedurjanaan" (ay.27,28).
Jangan salah paham. Yesus tidak menentang ajaran para
pemimpin agama. Yesus malah menganjurkan umat untuk
menaati ajaran para pemimpin itu.
Tetapi Yesus menyuruh umat untuk tidak meniru perbuatan
para pemimpin itu. Kepada umat Yesus menegaskan, "...
turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka
ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti
perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya
tetapi tidak melakukannya" (Mat. 23:3).
Merek para pemimpin agama itu bagus, tetapi isinya
berbeda. Perhatikan kecaman Yesus: " ... Perpuluhan dari
selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang
terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan
dan belas kasihan dan kesetiaan" (ay. 23). " .. Cawan dan
pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah
dalamnya penuh rampasan dan kerakusan .. bersihkanlah
dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga
akan bersih" (ay. 25,26).
Luarnya bersih, dalamnya kotor. Luarnya bagus, dalamnya
jelek.
Barangkali begitu juga hidup kita. Atau pekerjaan kita.
Barangkali begitu juga rumah kita. Atau perusahaan,
yayasan dan lembaga kita.
Barangkali begitu juga gereja kita. Dari luar
berkilau-kilau, dalamnya kacau balau. Dari luar tampak
berkembang, dalamnya banyak yang curang.
Mereknya bagus. Memang semua merek juga bagus.***
(Sumber : Dr. Andar Ismail)
|