» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» CERITA  BERMAKNA


cerita bermakna bisa menghibur, menguatkan, bahkan juga menegor dan
menyentil. rubrik ini memuat cerita-cerita serupa itu. Sumbernya kebanyakan dari
imel berantai sehingga sebagian besar sudah tidak jelas lagi asalnya.

 


LUKISAN BERHARGA
 

Pada jaman setelah perang dunia pertama, dalam masa-masa sulit di  Inggris, ada satu keluarga miskin tinggal di sebuah desa terpencil. Sang  ayah, seorang petani yang mempunyai cita-cita yang tinggi, dia ingin  menjadi seorang pelukis terkenal. ketika anak lelakinya beranjak remaja, dia mengajar anak lelakinya itu untuk melukis. setiap kali mereka beristirahat makan siang di sawah, mereka suka duduk di tepi sungai sambil melukis. Bert, sang petani menyadari bahwa cita-citanya itu tidak
mungkin tercapai, dia cuma seorang petani miskin yang sudah terlambat untuk memulai karirnya sebagai pelukis. Karena itu dia mengajar anaknya melukis, dengan harapan sang anak dapat melaksanankan cita-citanya itu.
Alfredo, sang anak, hanya belajar dari orang tuanya. Dia tidak pernah duduk di bangku sekolah. Tiap malam, sang ibu mengajarkan berhitung dan menulis, sementara di siang hari sang Ayah mengajarkan melukis dan teknik dalam mengelola sawah mereka.
Alfredo mempunyai bakat yang luar biasa, dia dapat menjual lukisannya di pasar, biarpun murah, dapat membantu orang tuanya meringankan biaya hidup. Namun Alfredo tidak pernah menjual lukisan yang benar-benar disukainya. tiap kali ada lukisan bagus yang dia suka, dia menyimpannya digudang, tanpa seorangpun tahu. Selama beberapa tahun dia melakukan hal itu.
Sampai ketika terjadi perang dunia kedua, semua pemuda dikirim ke medan perang, termasuk Alfredo. Sebelum berangkat, sang anak dan ayah duduk berdua di tempat kesukaan mereka, di tepi sungai, mereka melukis berjam-jam. Setelah itu Alfredo dilepas keluarga di batas desa.
Satu tahun berlalu, Bert dihujam kabar duka, Alfredo meninggal di medan perang karena melindungi temannya. Bersama keluarganya, Bert berdiri di batas desa, menunggu kereta yang membawa jenasah anaknya. Kereta itu sampai dengan membawa jenasah Alfredo, sebuah kotak berisi pakaian dan peralatannya, dan di dalam kotak itu ada gulungan kertas. Bert mengambil kertas itu dan membukanya, ternyata adalah lukisan anaknya, sebuah lukisan potret diri, Alfredo melukis dirinya sendiri dan di bagian bawah tertulis, " Ayah, aku tahu aku tidak akan kembali dengan selamat. Karena itu aku membuat lukisan ini, supaya aku tetap hidup dalam lukisan itu, di manapun lukisan itu berada, di situ aku hidup. "
Alfredo dimakamkan, tetapi lukisan itu tetap disimpan Bert. Suatu saat, Bert memutuskan untuk meninggalkan desa itu. Dia tidak tahan dengan semua kenangan ttg Alfredo, setiap kali dia membajak sawah, tiap kali dia duduk di tepi sungai, dia selalu menangis akan Alfredo.
Rumahnya dibongkar, dan ketika mereka membongkar gudang, mereka menemukan berpuluh-puluh lukisan Alfredo. Bert membawanya serta ke kota.
Di kota itu, berkat kerja keras, beberapa tahun kemudian Bert menjadi seorang terkenal dan kaya raya. Dia menjadi seorang pedagang yang sukses. revolusi industri mengubah hidupnya 180 derajat. dari seorang petani miskin, kini dia tinggal di rumah besar yang mewah. segala perabotannya mewah, dan di dinding-dinding rumah itu, tergantung berpuluh-puluh lukisan Alfredo. Konon banyak orang kaya yang mengincar
lukisan-lukisan itu, karena mereka anggap bermutu sekali. Mereka berusaha mencari tahu siapa pelukisnya tapi Bert tetap diam. Beberapa bangsawan berusaha menawar lukisan itu dengan harga tinggi tapi Bert tetap mempertahankan. Lukisan itu mempu nyai nilai tersendiri bagi Bert.
Beberapa tahun kemudian, di hari tuanya, Bert mulai sakit-sakitan. Dia mulai memi kirkan siapa yang akan menerima semua warisannya ini kelak.
Dia mempunyai begitu banyak harta, yang jika jatuh ke tangan orang yang salah, akan membuat masalah besar.
Suatu hari Bert pun meninggal tanpa ada seorangpun yang tahu siapa yang  akan mewarisi semua kekayaannya. Orang mereka-reka siapa yang akan mewarisi semua itu. Istri Bert telah meninggal beberapa tahun sebelum dia, semua putri Bert telah menikah dan ikut suaminya ke luar negeri.
Putra satu-satunya, Alfredo telah meninggal berpuluh tahun lalu di medan perang. Bert adalah seorang tua yang hidup seorang diri di masa-masa terakhirnya.
Pengadilan negeri mengumumkan, Bert telah menulis suatu surat wasiat yang menyatakan barangnya akan dilelang untuk umum. Orang-orang kaya sangat heboh dengan berita ini. Banyak yang mengincar lukisan- lukisannya, ada yang mengincar pianonya, ada yang mengincar peralatan makannya. Pas hari pelelangan, rumah Bert penuh sesak dengan para bangsawan. Waktunyapun tiba, para bangsawan duduk di deretan bangku, sementara rakyat biasa cuma menonton dari pintu dan jendela. Juru lelang pun naik ke mimbar lelang. Barang yang pertama dilelang adalah sebuah
lukisan tua, dilukis dengan pensil, dan lukisan itu adalah lukisan yang dilukis Alfredo di medan perang, lukisan dirinya !
" Lelang dibuka dengan harga 100 Pound ! " teriak juru lelang. tapi,... suasana hening.... tidak ada yang mencoba menawar, lalu mulai terjadi bisik-bisik. Lukisan itu adalah lukisan terjelek, karena dilukis dengan pensil. coretannya pun kasar karena saat itu Alfredo di medan perang. Tak ada seorangpun yang menginginkan lukisan itu.
" 100 pound, untuk pertama ? " teriak juru lelang.... orang mulai tidak sabar, mereka berteriak " sudahlah, tidak ada yang membeli lukisan itu, lanjut saja dengan yang berikutnya ! "
" Maaf, sesuai wasiat tuan Bert, sebelum lukisan ini terjual, lelang tidak bisa dilanjutkan ! " kata juru lelang.
orang mulai resah dan tidak sabar. tapi tak ada yang mau membuang-buang uang untuk membeli lukisan jelek itu. Tiba - tiba dari arah pintu ada yang berteriak " saya akan membeli lukisan itu ! "
suasana hening seketika dan semua mata menuju ke seorang bapak miskin yang ternyata berdiri di antara rakyat yang bergerombol di pintu.
" saya tahu tentang cerita itu, tentang Tuan Bert dan anaknya. dia sangat mencintai anaknya, tapi anaknya meninggal di medan perang. saya tahu bahwa itu lukisan yang paling disukai tuan Bert. tapi saya tidak mempunyai cukup uang, saya cuma punya 17 pound sekarang. maukah tuan menjual lukisan itu seharga 17 pound kepada saya ? " teriaknya.
Juru lelang agak ragu, namun para bangsawan teriak-teriak agar juru lelang menjual saya lukisan itu kepada orang miskin itu supaya lelang bisa berlanjut.
" baiklah " kata juru lelang, " lukisan ini terjual seharga 17 pound kepada bapak itu, dan dengan ini lelang ditutup !!! "semua kaget.... para bangsawan protes. " APPAAA ??? LELANG DITUTUP ? lalu bagaimana dengan lukisan lain, dengan peralatan mewahnya, dengan rumah besar ini ??? "
Juru lelang memberi pengumunan, " sesuai surat wasiat tuan Bert, siapapun yang membeli lukisan anaknya itu, berhak atas segala harta dan kekayaan tuan Bert. Semua kekayaan tuan Bert menjadi milik bapak yang membeli lukisan itu. kata Tuan Bert sebelum meninggal, Barangsiapa yang menginginkan harta kekayaanku, dia harus menerima anakku, sama seperti aku menerima anakku. Siapapun yang menerima anakku dan mencintai dia sama seperti menerima aku dan mencintai aku, berhak atas semua harta kekayaanku ! "
 

 

ARSIP

 

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi