|
Serba - Serbi
Rohani |
 |
|
|
|
 |
|

|

 |
 |
» CERITA BERMAKNA |
 |
|
|

|
|
|
cerita bermakna bisa menghibur, menguatkan, bahkan juga menegor dan
menyentil. rubrik ini memuat cerita-cerita serupa itu. Sumbernya kebanyakan dari
imel berantai sehingga sebagian besar sudah tidak jelas lagi asalnya. |
YANG LEMAH DIKUATKAN
|
Sejak kecil saya (WS) dididik sebagai orang
Kristen oleh orang tua saya. Tetapi dalam
perjalanan hidup kekristenan itu, saya mengalami
kemunduran oleh karena keangkuhan diri.
Contohnya, saya meninggalkan gereja karena saya
merasa pengurus gereja meremehkan saya dengan
tidak menatap mata saya pada saat bersalaman
setelah kebaktian. Jika istri saya mengajak
pergi ke gereja, salah satu cara saya untuk
menghindar adalah dengan datang terlambat ke
gereja; kebaktian biasanya dimulai pukul 09.00
pagi dan saya berangkat dari rumah dengan
kecepatan rendah, sehingga tiba di gereja pukul
10.00 lebih. Dengan alasan "malu" karena sudah
terlalu terlambat, maka kami pergi ke tempat
lain. Karena kesuksesan saya dalam bisnis, saya
merasa bahwa sayalah yang memunyai kemampuan dan
kepandaian yang hebat, sehingga bukan saja
keangkuhan saya semakin menjadi-jadi, tetapi
saya pun semakin jauh dari Tuhan.
Pada saat Irak menyerang Kuwait, peperangan
tersebut ternyata berindikasi buruk terhadap
keadaan perekonomian di Indonesia. Pemerintah
membentuk "Crisis Center" dan beberapa pengusaha
-- termasuk saya -- mendapat tugas untuk
mengatasi penurunan volume ekspor karena embargo
PBB terhadap Irak, dengan mengembangkan ekspor
ke negara-negara lain yang sebelumnya belum
tergarap oleh para pengusaha Indonesia. Untuk
itu, pemerintah memberikan dukungan penuh, agar
para pengusaha yang ditunjuk dapat melakukan
usahanya di negara-negara tersebut dengan
sebaik-baiknya. Saya ditunjuk untuk menangani
daerah Eropa Timur (bekas negara-negara komunis)
dan beberapa negara lain di luar kawasan itu.
Hanya dalam kurun waktu 2 tahun, saya telah
membentuk 12 perusahaan patungan di 12 negara di
daerah tersebut, karena kami didukung sepenuhnya
oleh pemerintah, sehingga segala fasilitas,
terutama yang menyangkut dengan keuangan, kami
peroleh dengan mudah tanpa melalui prosedur yang
bertele-tele. Kami juga sangat disegani oleh
para wakil pemerintah di negara-negara tersebut,
karena kami dianggap sebagai utusan-utusan
khusus pemerintah dengan tugas penting -- untuk
kepentingan ekonomi Indonesia.
Pada tahun 1993-1994 terjadi gejolak di
negara-negara Eropa Timur dan terjadi reformasi
besar-besaran. Pasar dibuka dengan berbagai
kemudahan tetapi tidak didukung dengan hukum
yang jelas, sehingga para investor asing
mengalami kesulitan dengan hukum yang tidak
jelas, inflasi yang luar biasa tinggi, serta
tidak memunyai dukungan pemerintahan
negara-negara di Eropa Timur untuk menjaga
stabilitas moneternya. Dalam waktu kira-kira
tiga bulan, perusahaan-perusahaan kami di daerah
tersebut mengalami kehancuran, dan ini merembet
ke anak-anak perusahaan di negara-negara lain,
termasuk perusahaan induknya. Sebagai dampaknya,
bukan saja seluruh struktur keuangan dari
perusahaan kami mengalami kehancuran, tetapi
kami tidak mampu membayar karyawan yang
berjumlah ratusan. Hanya lima orang karyawan
yang sudah bekerja selama belasan tahun yang
bersedia melalui masa-masa yang sulit bersama
dengan saya dan mereka tidak menerima gaji untuk
beberapa bulan.
Saya mengalami depresi yang berat dan merasa
malu dengan segala kegagalan tersebut, dan untuk
beberapa bulan saya tidak mau dan tidak berani
bertemu dengan orang-orang. Pada saat saya
sedang berjalan dalam krisis tersebut, Tuhan
mengutus seorang ibu datang memberikan sebuah
buku yang berjudul "That The Strong Man Should
Stand". Setelah membacanya, saya mulai sadar dan
kembali kepada Tuhan. Sebuah Alkitab yang sudah
berdebu karena tidak pernah disentuh selama
bertahun-tahun mulai saya baca kembali. Bahkan
saya menyelesaikan pembacaan Alkitab itu hanya
beberapa bulan.
Pada suatu hari, sebuah faks penawaran harga
tersasar ke kantor kami. Karyawan kami yang
tinggal 5 orang dan bekerja secara sukarela
bertanya kepada saya, apakah faks tersebut perlu
dijawab atau tidak. Karena saya berpikir
permintaan tersebut tidaklah serius dan saya
tidak pernah memunyai hubungan dagang dengan
Korea Selatan sama sekali, maka saya berkata
agar ia membalas secukupnya saja. Selang
beberapa waktu kemudian, penawaran yang kami
buat dibalas, bahkan mereka mengirim kontrak
melalui faks tanpa menawar harga sebelumnya,
serta berpesan "Kontrak pemesanan akan segera
diurus". Segera staf saya menandatangani kontrak
tersebut lalu mengirimkannya kembali. Suatu hari,
staf saya menerima telepon dari sebuah bank agar
kami mengambil dokumen yang ternyata adalah
sebuah L/C (Letter Of Credit) yang sudah dibuka
sejak 2 bulan yang lalu dan masa berlakunya 3
bulan. Staf saya menunjukkan kepada saya L/C
orisinal yang bernilai sama seperti ekspor
kelima negara di Eropa Timur. Saya mengucap
syukur sambil menangis di hadapan Tuhan. Saya
melihat bahwa Tuhan itu baik dan memberikan
pertolongan-Nya pada saat yang tepat.
Pada suatu hari, perusahaan kami yang bergerak
di bidang perkayuan dan kayu gelondongan menyewa
sebuah kapal yang besar untuk mengangkut kayu
gelondongan tersebut. Ternyata muatan yang harus
diangkut belum tersedia, sehingga kapal tersebut
harus menunggu. Saya memutuskan untuk pergi ke
Banjarmasin dan menyelesaikan persoalan tersebut.
Sementara itu istri saya, tanpa sepengetahuan
saya, telah membuat janji untuk mengikuti
rekaman acara rohani di studio Hal ini telah
membuat saya emosi kepada istri saya. Tetapi
saya sadar, bahwa saya telah berjanji untuk
melakukan pekerjaan Tuhan dan akhirnya saya
mengisi rekaman sampai jam 12.00 siang. Karena
studio tersebut dipakai oleh artis-artis, maka
rekaman untuk kami ditunda, sehingga
mengakibatkan saya tidak dapat berangkat ke
Banjarmasin, dan hanya relasi saya yang sudah
berangkat lebih dahulu untuk menunggu saya di
sana.
Malam harinya, saya menyaksikan siaran berita di
TV. Saya sangat terkejut ketika mendengar sebuah
pesawat yang lepas landas dari Banjarmasin, 30
menit kemudian jatuh dan terbakar, dan tidak ada
seorang pun yang selamat. Ternyata pesawat itu
adalah pesawat yang membawa rekan saya dan nama
saya tercantum dalam daftar penumpang, karena
rekan saya sudah "check-in" tiket atas nama saya
dan saya ditinggal karena saya belum tiba pada
saat keberangkatan. Saat itu saya baru merasakan
bahwa sesungguhnya hidup itu ada di tangan Tuhan,
dan Tuhan masih memberikan kesempatan kepada
saya untuk hidup karena Dia masih ingin memakai
saya untuk bekerja bagi Dia di dunia ini. Sejak
saat itu, saya memberikan sebagian besar waktu
saya untuk melayani Tuhan dan sisanya saya
gunakan untuk kegiatan bisnis. Saya ingin
mengatakan, "Pada saat saya merasa mampu,
sebenarnya saya lemah, dan pada saat saya jauh
dari Tuhan, saya sebenarnya tidak berdaya.
Tetapi pada saat saya di dalam Dia, maka saya
menjadi kuat".
Diambil dari:
Judul majalah: SUARA, Edisi 69, Tahun 2003
Penulis: KM
Penerbit: Communication Department Full
Gospel Business Men's Fellowship International -
Indonesia
Halaman: 22 -- 24
|
|
| |
|
Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 1999, Tim Sahabat Surgawi
|
|