Home | Tentang Kami | Kesaksian | Acara rohani | Link
 
Swara Surgawi
Video Streaming
Gratis CD Sabda
Alkitab Elektronik
Hollypower.net
E-mail Gratis
E-card
Kartu Ucapan Kristiani
 
eXTReMe Tracker
 
 

PDF

Cetak

E-mail


PESONA JIWA diulas secara sederhana, lugas dan tuntas
oleh penulis Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th.
untuk mempesona jiwa Anda agar bertumbuh dan disegarkan.
Artikel ini diadopsi dari
www.holyspiritministry.info dan seijin beliau
untuk menjadi berkat bagi pembaca sekalian
 

Kemarahan yang kudus

 

Salah satu warisan yang Yesus tinggalkan untuk diamati dan dicermati oleh orang percaya adalah sifat kemarahanNya yang meledak-ledak memporak-porandakan segala sesuatu yang terformat rapi dalam tatanan ibadah di Bait Allah.

Emosi yang terbakar yang tidak dapat terbendung oleh siapapun dan apapun kecuali diriNya sendiri identik dengan murka Allah jika sedang diperhadapkan dengan dosa yang sudah menaun dilingkungan para tokoh spiritual.Sekalipun sifat kemarahan manusia pada umumnya merupakan pancaran dari ketidak stabilan emosi atau lebih parahnya identik dengan bad charakter yang mendatangkan dosa atau merugikan orang lain tetapi berbeda dengan jenis kemarahan pribadi Yesus Kristus. KemarahanNya dapat dikategorikan sebagai kemarahan kudus yang tidak sedikitpun terkontaminasi oleh dosa dan kepentingan diri sendiri.

KemarahanNya terpancar dari kekudusan yang sempurna dan bersumber dari kasih yang mendalam kepada Bapa dan umat manusia. Kemarahan yang kudus ini keluar dari hati yang murni ini jarang ditemukan dilingkungan gereja dan dalam kehidupan anak-anak Tuhan sehingga perlu perenungan kembali bahwa kemarahan yang benar akan mendatangkan perubahan dan pemulihan.

Yesus Kristus adalah pribadi yang tidak pernah menunjukkan power melalui emosi yang tidak stabil namun sebaliknya mayoritas karakter yang terpancar dari dirinya adalah kelemah lembutan dan belas kasihan yang dapat dinikmati orang-orang di sekitarnya. Ia sendiri tidak pernah terpancing emosinya oleh siapapun yang menjebaknya melalui doktrin, pengajaran atau pelayananNya! Pribadi yang tidak tampak garang ini bukan berarti lembek dan tidak berdaya sebaliknya didalamnya tersembunyi kekuatan tanpa batas yang sanggup menghancurkan kekuatan apapun juga.

Kemarahan secara lahiriah sangat jarang di tunjukkan biasanya berupa tegoran ringan dan bersifat personal yakni kepada para muridNya saja sering kali kemarahan ringan didalam dirinya dipicu oleh ketidak percayaan atau kekurang pengertian akan kebenaran ataupun rencana Allah oleh para muridNya. Namun berbeda ketika Yesus Kristus berada dihadapan tokoh spiritual atau para pengajar Taurat kemarahanNya meledak-ledak dan kata-katanya pedas sangat menyakitkan hati lawan bicaraNya.

Perombakan Bait Allah yang sebenarnya dari yang lahirian menjadi batiniah harus melalui proses kemarahan Yesus Kristus. Bentuk kemarahan ini adalah menjungkirbalikkan tatanan yang sudah mapan seperti perasan dan pemerkosaan hak-hak jemaat di bait Allah yang dimanifestasikan melalui penjualan burung dara, kambing domba dengan harga yang selangit dan para penukar uang dengan fluktuasi nilai sesuka pedagang. Hal tersebut disinyalir disengaja oleh para ahli Taurat yang memperoleh keuntungan dari penjualan itu oleh sebab itu perdagangan di Bait Allah hasil konfirasi para pedangang dan ahli Taurat!

Yesus membenci ibadah yang menekankan hal-hal yang lahiriah saja seperti persembahan domba sebab Ia datang untuk menggenapinya sehinga persembahan kambing domba sudah layaknya ditiadakan. Apalagi hal tersebut menjadi komoditas yang bisa diperjual belikan dalam bentuk jasmani yang merugikan Jemaat sehingga tatanan kerohanian menjadi stagnan tanpa kerinduan akan Allah yang terpancar dari nurani yang murni sebagai akibatnya kehidupan kerohanian jemaat terpola seperti para ahli Taurat. Yesus mengubahnya pola kehidupan rohani seperti dirinya dengan menantang : “rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Yoh 2;19).

Kesanggupan Yesus membangun Bait Allah yang baru dalam jiwa seseorang tergantung seberapa jauh seseorang menerima kemarahan Yesus terhadap dosa dan baru kemudian bertobat atau tetap mengeraskan hati seperti para ahli Taurat. Berangkat dari peristiwa kemarahan Yesus di bait Allah ini malah menjadikan mereka bertambah kebenciannya kepada Yesus dan bersepakat untuk menfitnah Yesus dan menyalibkanNya (Luk 23:33, 24:20).

Hal tersebut menunjukkan bahwa kehidupan Kristen yang tidak mau bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan terus mengeraskan hatinya hanya memandang karakter Yesus Kristus dari sisi kelemah lembutan dan belas kasihanNya saja tanpa mencermati sisi kemarahan atau lebih tepatnya murkaNya maka orang tersebut menempatkan dirinya dalam bahaya besar. Kekristenan seperti model diatas dapat diidentikkan sebagai orang farisi yang bebal akan kebenaran Kristus, tidak mau bertobat dan akhirnya menyalibkan Yesus Kedua kalinya ( Ibrani 6:6).

Paulus menegaskan dalam suratnya di Roma bahwa : “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasanNya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahanNya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahanNya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga (Roma 11:22). Kehidupan Kristen tidak boleh di”ninabobok”kan hanya persoalan berkat dari kemiskinan dan pengampunan gratis dari Kristus Yesus tetapi harus diperhadapkan akan ketegasan yang tanpa kompromi bila menyangkut hati yang beribadah kepada Tuhan yakni panas atau suam-suam kuku (Wahyu 3:16).

Bila karakter kemarahanNya sedang muncul ke permukaan kehidupan ini maka siapapun dan apapun juga tidak akan sanggup menghambat dan meredakannya kecuali diriNya sneidi. Ahli taurat dan para penguasa yang ada di Bait Allah dibuatnya tidak berkutik menyaksikan kemarahanNya yang menjungkirbalikkan meja dan kursi para pedagang atau segala sesuatu yang mapan yang ada dalam lingkungan bait Allah. Padahal orang-orang yang dihadapi oleh Yesus bukanlah orang yang tidak memiliki kuasa di bidang politik dan spiritual tetapi justru dihadapan para penguasalah kemarahanNya dialamatkan.

Kemarahan Yesus Kristus di tempat yang tepat kepada orang yang tepat! Tempat dimana adanya ketidak adilan dan korupsi dengan mengatasnamakan penyembahan kepada Tuhan. Tempat dimana Yesus marah bukan terletak diluar wilayah Bait Allah yang penuh kenajisan dan kekotoran melainkan justru diwilayah didalam bait Allah dimana keadilan dan belas kasihan seharusnya dikumandangkan dan bukan perlakuan tidak adil. Di dalam bait Allah seharusnya kemurahan Allah harus dinikmati bukan kemarahanNya dilampiaskan, untuk itulah Yesus memiliki kesukaan mengobrak-abrik hal yang mapan bila hal tersebut tidak mampu menyenangkan BapaNya.

Tindakan Yesus Kristus yang memporak-porandakan para penjual yang berada di Bait Allah secara tersirat dapat disebutkan sebagai menyucikan bait Allah dari sarang penyamun. Namun secara tersurat perlakuan seperti ini sangat merugikan para pedagang yang ada. Yesus ingin mengajarkan bahwa Bait Allah harus terbebas dari para calo dan pemeras yang mengakbiatkan para penyembah Allah datang dengan keterpaksaan lahiriah sebab menyembah Allah adalah menyembah dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24).

Yesus Kristus membongkar tata cara ibadah menurut konsep manusia yang pernah diajarkan Musa yang kesemuanaya menyangkut diriNya sendiri. Gambaran persembahan korban domba, merpati yang tampak secara lahiriah akan segera di genapinya melalui penyaliban. Maka Ia memulai suatu bentuk ibadah secara rohani yang selalu berangkat dari pengorbanan dan kasihNya dan bukan secara lahiriah dengan aneka ragam korban! Kemarahan ini tidak mendatangkan dosa melainkan kemarahan kudus.

( timotiusbakti_sarono@yahoo.com )




(Nantikan artikel selanjutnya!)

| A R S I P | OTOBIOGRAFI |

  Sahabat Surgawi, Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 2002-2007,
Tim Sahabat Surgawi