|
Justru
Efektifitas
sang
hidup
tidak
terletak
pada
gelak
tawa
dan
pesta
pora
tetapi
dalam
dukacita
dan
lembah-lembah
kekelaman.
Lihat
saja
seorang
yang
petantang-petenteng
sok
kuat
ia
akan
diselimuti
kabut
dukacita
yang
membuatnya
lemah
tidak
berdaya!
Kalau
saja
boleh
menawar
maka
setiap
orang
akan
menghindari
penderitaaan
sejauh
mungkin
dan
memilih
kemakmuran
sepanjang
hidupnya.
Itulah
natural
disire
yang
dimiliki
semua
orang
yakni
hasrat
alami
yang
tertancap
didalam
eksistensi
yang
bernama
manusia.
Ngotot
kepingin
memilih
kaya
orang
lari
sekeras
mungkin
menghindari
kemiskinan
tapi
toh
ia
terjerembab
menyangkut
batu
yang
membuatnya
kakinya
patah,
dan
menghabiskan
berbulan-bulan
diranjang
rumah
sakit
yang
membuatnya
lebih
miskin
lagi!
Selalu
memilih
keindahan
tidaklah
salah
tetapi
kita
tidak
bisa
membuang
sahabat
yang
bernama
kesusahan
dan
air
mata.
Justru
Efektifitas
sang
hidup
tidak
terletak
pada
gelak
tawa
dan
pesta
pora
tetapi
dalam
dukacita
dan
lembah-lembah
kekelaman.
Lihat
saja
seorang
yang
petantang-petenteng
sok
kuat
ia
akan
diselimuti
kabut
dukacita
yang
membuatnya
lemah
tidak
berdaya!
Hidup
menjadi
kokoh
sekeras
batu
karang
jika
dirinya
rela
diterpa
ombak
dan
dibakar
teriknya
mentari
sepanjang
tahun!
Hidup
manusia
bagaikan
gado-gado
dimana
suka
dan
duka
tidak
pernah
berpola
dalam
kehadirannya.
Campur
aduk
terkadang
enak
karena
telurnya
yang
pertama
digigit
tetapi
adakalanya
pare
yang
membuat
bibir
ini
nyengir,
pahit,
harus
juga
ditelannya.
“demikianlah
ungkapan
Eka
Darma
Putera
dalam
buku
kotbahnya.
Orang
tidak
bisa
ngotot
pengin
cepet
kaya
“luar
dalam”
tanpa
melewati
cucuran
air
mata
dan
lembah
kekelaman.
Pengkotbah
menyadari
keadaan
manusia
seutuhnya
sehingga
ia
bertutur
sederhana
bahwa
:
“Untuk
segala
sesuatu
ada
masanya,
untuk
apapun
di
bawah
langit
ada
waktunya.
Ada
waktu
untuk
lahir,
ada
waktu
untuk
meninggal,
ada
waktu
untuk
menanam,
ada
waktu
untuk
mencabut
yang
ditanam;
ada
waktu
untuk
membunuh,
ada
waktu
untuk
menyembuhkan;
ada
waktu
untuk
merombak,
ada
waktu
untuk
membangun;
ada
waktu
untuk
menangis,
ada
waktu
untuk
tertawa;
ada
waktu
untuk
meratap;
ada
waktu
untuk
menari...
(Peng
3:1-4)
Hidup
ini
juga
boleh
digambarkan
seperti
wayang
kulit
yang
terdiri
dari
yang
jahat
dan
yang
baik.
Mereka
yang
ada
dilajur
kanan
adalah
baik
yakni
pendowo
limo
sementara
yang
kiri
adalah
kumpulan
yang
jahat
buto
cakil
bersama
krewnya.
Bila
hanya
sebelah
saja
maka
permainan
tidak
akan
dapat
dimulai.
Harus
ada
yang
baik
melawan
yang
jahat
atau
sebaliknya.
Terkadang
yang
baik
dan
yang
jahat
sama-sama
sakti
dan
kalahlah
mereka
yang
berada
dilingkungan
yang
baik
tetapi
dalam
akhir
cerita
tentu
akan
berkisah
tentang
happy
ending.
Demikianlah
gambaran
hidup
ini
tidak
hanya
mengecap
yang
baik
dan
indah
tetapi
ada
masa-masa
kegetiran
yang
terkadang
menguras
pikiran
dan
mencabik-cabik
perasaan
seseorang.
Semuanya
itu
harus
dijalani
sebab
mau
tidak
mau
dua
kubu
yang
bersebelahan
terus
menanti
untuk
singgah
dalam
dimensi
kehidupan.
Ulangan
11:26
menyatakan
Lihatlah,
aku
memperhadapkan
kepadamu
pada
hari
ini
berkat
dan
kutuk:
Seorang
suami
yang
mendampingi
istrinya
saat
persalinan
buah
hatinya
tidak
tertarik
pada
senyuman
cantik
yang
tersungging
lepas
dibibir
sang
kekasih
tetapi
lebih
tertambat
akan
tangisan
dan
jeritan
sang
bayi...oek...oek...oek.
Tangisan
ini
bukan
hanya
menandakan
kebebasan
derita
sang
bunda
dalam
masa-masa
kehamilan
dan
juga
bukan
stempel
resmi
suami
menjadi
bapa
bagi
sang
anak
tetapi
tangisan
dan
jeritan
inilah
yang
memberi
hidup
sang
bayi
sekaligus
merupakan
awal
kesusahan
sang
anak
manusia
dalam
mengarungi
samudera
kehidupan
yang
luas
didepan
matanya.
Ayub
konglomerat
di
zaman
purba
mengatakan
“Bukankah
manusia
harus
bergumul
di
bumi,
dan
hari-harinya
Seperti
hari-hari
orang
upahan?
(Ayub
7:1).
Mengapakah
manusia
perlu
bergumul
dan
merangkak
dalam
derita
dan
air
mata?
Sebab
disana
ada
bayangan
Tuhan
yang
menyelinap
masuk
dalam
relung-relung
kehidupan
manusia.
Konon
semakin
keras
tangisan
sang
bayi
itu
berarti
menandakan
bahwa
ia
sehat
dan
tumbuh
sebagai
manusia
normal.
Jeritan
dan
air
matanya
akan
membuka
paru-parunya
supaya
berkembang
dan
tulang-tulangnya
berdiri
tegak
tidak
seperti
kepompong
dalam
rahim
ibunya.
Susunan
syaraf-syaraf
yang
selama
ini
tidur
nyenyak
kontan
saja
berinteraksi
dengan
seluruh
peredaran
darah.
Seluruh
organ-organ
tubuh
mensuplay
jaringan-jaringan
pancaindera
supaya
bereksistensi
menjadi
manusia.
Kisah
derita
sang
anak
keluar
dari
rahim
tersebut
bukan
hanya
menunjukkan
tanda-tanda
medis
untuk
kepentingan
kesehatan
saja
tetapi
juga
menunjukkan
kiprah
kehidupan
manusia
yang
sebenarnya
yang
rentan
terhadap
pancaroba
kehidupan.
Air
mata
dan
penderitaan
lebih
baik
disebut
sebagai
sahabat
yang
terus
menerus
mengunjungi
bagaikan
armada
yang
selalu
mencari
tempat
persinggahan
sebagai
peristirahatannya.
Hanya
saja
dibutuhkan
orang
pandai
yang
dapat
mengatur
lalu
lintas
antara
perahu
yang
bernama
sukacita
dan
kapal
dukacita
yang
akan
berkunjung
menghampirinya.
Kemakmuran
dan
air
mata
bagaikan
anak
kembar
yang
saling
melengkapi
dalam
kehidupan
ini.
Damai
akan
akan
dapat
diperoleh
sesudah
ada
peperangan
dan
kericuhan.
Kekuatan
didapat
sesudah
orang
sadar
bahwa
dirinya
lemah
dan
tidak
berdaya.
Seperti
Paulus
katakan
“Tetapi
jawab
Tuhan
kepadaku:
“Cukuplah
kasih
karuniaKu
bagimu,
supaya
justru
dalam
kelemahanlah
kuasaKu
menjadi
sempurna.”
Sebab
itu
terlebih
suka
aku
bermegah
atas
kelemahanku,
supaya
kuasa
Kristus
turun
menaungi
aku.(2
Kor
12:9)
Apa
jadinya
hidup
ini
tanpa
penderitaan
kesulitan
dan
sakit
penyakit?
Jawabya
singkat
hidup
itu
akan
menjadi
liar
dan
arogan!
Boleh
percaya
atau
tidak
seorang
anak
yang
tidak
pernah
mengecap
santapan
derita
dan
minuman
air
mata
maka
ia
bertumbuh
menjadi
seorang
yang
menganggap
diri
seorang
super
man.
Bukan
itu
saja
ia
akan
overconvidence
dan
overprotector
terhadap
dirinya
sendiri
akibatnya
ia
underistimate
terhadap
orang
lain
yakni
selalu
menganggap
rendah
orang
lain.
Jika
karakternya
baik
ia
akan
menjadi
orang
yang
hebat
tetapi
tetap
rentan
terhadap
gelombang
dan
badai,
ia
akan
segera
roboh,
dan
tidak
bangun
lagi.
Namun
bila
seseorang
bertumbuh
dalam
derita
dan
air
mata
tekanan
hidup,
ia
akan
bertumbuh
menjadi
orang
hebat
yang
bagaikan
batu
karang
tahan
menahan
amukan
gelombang
dan
badai.
Suatu
derita
dalam
kehidupan
bagaikan
mesin
yang
memproduksi
tangisan
sukacita
dan
gelak
tawa
tanpa
batas,
enjoy
dan
sangat
happy.
Sebaliknya
sukacita
dunia
yang
terus
menerus
malah
justru
akan
mendatangkan
derai
air
mata
yang
tidak
dapat
dihibur
oleh
siapapun.
Paulus
mengatakan
bahwa
:
“Aku
tahu
apa
itu
kekurangan
dan
aku
tahu
apa
itu
kelimpahan.
Dalam
segala
hal
dan
dalam
segala
perkara
tidak
ada
sesuatu
yang
merupakan
rahasia
bagiku
baik
dalam
hal
kenyang,
maupun
dalam
hal
kelaparan,
baik
dalam
hal
kelimpahan
maupun
dalam
hal
kekurangan
(Fil
4:2).
Perlu
dipahami
bahwa
Tuhan
tidak
menciptakan
hanya
satu
tumbuhan
tetapi
beraneka
tumbuhan
muncul
di
bumi
sebagai
keindahan
dan
kidung
pujian
bagiNya.
Sekuntum
mawar
merah
tidak
bisa
tumbuh
tanpa
duri
yang
melekat
disekujur
batangnya
demikian
keindahan
akan
muncul
dalam
kehidupan
jikalau
penderitaan
dan
air
mata
menjadi
santapan
setiap
harinya.
Raja
Daud
untuk
mencapai
puncak
kejayaannya
selalu
diiringi
oleh
nyanyian
ratapan
setiap
harinya.
Masmur
6:7
Lesu
aku
karena
mengeluh;
setiap
malam
aku
menggenangi
tempat
tidurku,
dengan
air
mataku
aku
membanjiri
ranjangku.
Sekalipun
ia
sudah
ditetapkan
dan
diurapi
untuk
menjadi
raja
atas
Israel,
ia
harus
berputar-putar
terlebih
dahulu
untuk
mengitari
lembah-lembah
dan
jurang-jurang
penderitaan
bahkan
maut
mengintainya
setiap
saat
sebelum
ia
duduk
di
tampuk
pemerintah
dan
menjadi
orang
pertama
di
negeri
pilihan
Tuhan
itu.
Pada
umumnya
semua
manusia,
baik
mereka
yang
tinggal
dibantaran
sungai
sampai
istana
raja,
memahami
akan
adanya
penderitaan
dan
kesusahan.
Manusia
dengan
permainan
maind
yang
dimilikinya
akan
meminimalkan
kesulitan
dan
menggantinya
dengan
kesukaan.
Ini
upaya
yang
terus
menerus
tanpa
henti.
Manusia
berpikir
keras
bagaimana
menghindarkan
diri
dari
berbagai
macam
kesulitan
kalau
perlu
meniadakannya
dan
menggantinya
dengan
selera
pilihannya.
Namun
untuk
meniadakannya
sudah
pasti
tidak
mungkin
sebab
variasi
hidup
manusia
adalah
derita!
Dalam
tingkat
ini
manusia
dengan
akalnya
justru
mendatangkan
stress
yang
berkepanjangan.
Hidup
ini
biarkan
mengalir
seperti
sungai
dan
nikmat
bersama
Tuhan
diluar
hal
tersebut
maka
akan
stress
berat!
Alkitab
dengan
jelas
mengatakan
bahwa,
beginilah
firman
TUHAN:
“Terkutuklah
orang
yang
mengandalkan
manusia,
yang
mengandalkan
kekuatannya
sendiri,
dan
yang
hatinya
menjauh
dari
pada
TUHAN!
(Yermia
17:5).
Dengan
kata
lain
manusia
dengan
tidak
sadar
menghimpun
kutuk
didalam
dirinya
ketika
ia
mengandalkan
kemampuan
manusiawinya
dalam
mencari
solosi
menyelesaikan
masalahnya
sendiri!
Namun
bagi
orang
yang
berjalan
dalam
tingkatan
wisdom
sangatlah
berbeda
dalam
tingkatan
maind.
Dalam
tingkatan
ini
seseorang
mulai
welcome
terhadap
berbagai
beban
dan
kesulitan.
Dalam
arena
wisdom
berbagai
keruwetanhidup
akan
menjadi
mata
ari
kehidupan
dan
lembah
kegirangan.
Seorang
yang
dewasa
secara
rohani
akan
memahami
sepenuhnya
bahwa
segala
sesuatu
berjalan
untuk
kebaikan
bagi
mereka
yang
mengasihi
Dia
(Roma
8:28)
bahkan
lebih
lagi
segala
perkara
berjalan
sesuatu
dengan
keputusan
Allah
(Efe
1:11).Sehingga
tidak
perlu
ada
sedikitpun
kekuatiran
sebab
segala
peristiwa
berada
dalam
kerangkanya
Tuhan.
Dalam
tingkatan
ini
semua
yang
berbau
penderitaan
akan
menjadi
pupuk
kehidupan
agar
mendatangkan
buah-buah
yang
dapat
dinikmati
oleh
banyak
orang.
Sementara
orang
yang
ditingkat
total
surender
akan
menggunakan
kesulitan
sebagai
kehendak
Allah
yang
jadi.
Untuk
menjadi
golongan
yang
ketiga
ini
seseorang
tidak
mengambil
sampah
dan
membuangnya
tetapi
mengolahnya
menjadi
pupuk
sehingga
kehidupan
dapat
berbuah
lebat!
Lihat
saja
Yesus
Kristus
menggunakan
salib
yang
terkutuk
itu
menjadi
keselamatan
dan
kemuliaan
sorga
bagi
orang
yang
percaya!
Terkadang
Allah
tidak
dapat
dipahami
oleh
kekuatan
dan
keangkuhan
hidup
manusia
tetapi
malah
justru
keberadaanNya
dapat
dikenali
dalam
lembah-lembah
kekelaman
dan
air
mata
sebab
disana
gada
dan
tongkatNya
akan
nampak
penyertaanNya.
Ia
berbisik
ditengah-tengah
sukacita
dan
pesta
pora
tetapi
suaranya
begitu
gaduh
dan
sangat
memekakkan
telinga
ditengah-tengah
penderitaan.
Orang
harus
mulai
sadar
bahwa
air
mata
sering
kali
bagaikan
obat
mujarab
yang
menyembuhkan
luka
dan
sayatan
namun
sebaliknya
tawaria
dunia
lebih
kejam
dari
apapun
yang
membuat
sekarat
akan
sebuah
kehidupan
Penderitaan
dan
hukuman
Didalam
keadaanya
yang
berdosa
manusia
berhak
mengalami
berbagai
kesulitan
dan
air
mata.
Rentetan
hukuman
dan
kutuk
mengalir
didalam
dunia
dan
imbasnya
dihirup
oleh
manusia.
Ketika
Esau
tertolak
menjauh
dari
berkat
Ishak
maka
Ia
menerima
hal-hal
sebagai
berikut
:
“Sesungguhnya
tempat
kediamanmu
akan
jauh
dari
tanah-tanah
gemuk
di
bumi
dan
jauh
dari
embun
dari
langit
di
atas.
Engkau
akan
hidup
dari
pedangmu
dan
engkau
akan
menjadi
hamba
adikmu.
Tetapi
akan
terjadi
kelak
apabila
engkau
berusaha
sungguh-sungguh,
maka
engkau
akan
melemparkan
kuk
itu
dari
tengkukmu.”
(Kejadian
27:39-40)
Tuhan
tidak
pernah
memberikan
hukuman
kepada
seseorang
tanpa
sebab
yang
jelas.
Tidak
akan
pernah
ada
sesuatu
terjadi
secara
tiba-tiba
tanpa
kesalahan
yang
sudah
membingkainya
secara
keseluruhan.
Ketika
dosa
telah
membingkai
didalam
diri
seseorang
secara
penuh
maka
frame
itulah
yang
mengundang
segala
kutuk
yang
menghasilkan
aneka
malapetaka!
Sebab
sudah
merupakan
hukum
dari
Allah
bahwa
magnet
kutuk
akan
menarik
segudang
kesulitan
dan
marabahaya.
Tinggal
seseorang
menempatkan
dirinya
dimana
antara
kutuk
dan
berkat!
Tuhan
tidak
akan
mengutuki
orang
benar
dan
tidak
membenarkan
orang
yang
sedang
dikutuki!
Ia
menyediakan
dua
lingkaran
besar
yang
satu
bernama
berkat
dan
sukacita
yang
lainnya
kutuk
dan
malapetaka!
Pilihan
ini
bukan
harus
dikocok
seperti
dadu
dalam
permainan
judi
tetapi
dipilih
secara
sadar
dan
gamblang!
Daud
secara
tidak
sadar
sedang
memanggil
kutuk
kematian
untuk
anaknya.
Ketika
Ia
meneropong
Batsyeba
yang
sedang
mandi
dengan
mata
kelaki-lakiannya
maka
muncullah
gairah
liar
dan
tidak
terkendali.
Padahal
Allah
mengizinkan
Daud
untuk
mengambil
istri
wanita
manapun
bahkan
Ia
yang
memberi
istri-istri
(bukan
hanya
satu).
Alkitab
jelas
mengatakan
:
“Telah
Kuberikan
isi
rumah
tuanmu
kepadamu,
dan
isteri-isteri
tuanmu
ke
dalam
pangkuanmu.
Aku
telah
memberikan
kepadamu
kaum
Israel
dan
Yehuda;
dan
seandainya
itu
belum
cukup,
tentu
Kutambah
lagi
ini
dan
itu
kepadamu.(2
Sam
12:8).
Daud
sedang
melanggar
hukum
yang
berbicara
jangan
mengingini
istri
sesamamu
manusia
(Kel
20:17)
ini
berarti
pelanggaran
hukum
ke
sepuluh.
Belum
berhenti
sampai
disitu
dosa
itu
mengembang
ia
kemudian
tidur
dengan
Batsyeba
berarti
pelanggaran
hukum
ke
tujuh
soal
perzinahan
(ay
14).
Dampaknya
belum
cukup
maka
Daud
membunuh
Uria
yakni
pelanggaran
hukum
ke
delapan
(ay
13).
Pembunuhan
ini
berangkat
dari
dusta
yang
mengakar
didalam
diri
Daud
karena
ketertarikannya
kepada
Batyeba,
ini
bararti
pelanggaran
hukum
ke
sembilan
(ay
16).
Rentetan
dosa
yang
terus
membingkai
kehidupan
Daud
ini
memaksa
Natan
memberikan
perumpamaannya
dan
menembak
dosa
Daud
tanpa
ampun!
Paulus
dengan
tegas
menjelaskan
sebab
itu
barangsiapa
melawan
ketetapan
Allah
dan
siapa
yang
melakukannya,
akan
mendatangkan
hukuman
atas
dirinya.(Roma
13:2).
Akibatnya
sudah
dapat
ditebak
perjalanan
kendaraan
Daud
sedang
menuju
ke
terminal
kematian
bukan
kehidupan
bagi
sang
anaknya!
Magnet-magnet
dosa
akan
merindukan
kesengsaraan
untu
segera
memeluknya
dan
menggelayuti
seluruh
kehidupan.
Dalam
episode
ini
seseorang
yang
terus
menerus
dengan
kesadaran
penuh
melakukan
pemberontakan
terhadap
Firman
Allah
akan
menanggung
akibatnya
(Amsal
13:13).
Daud
dalam
episode
selanjutnya
mengalami
duka
yang
mendalam,
ia
berpuasa
dan
menangis
dalam
doanya,
hari-harinya
dipenuhi
ratapan
dan
keluh
kesah!
Namun
semua
itu
tidak
dapat
membayar
resiko
yang
meski
ditanggungnya!
Lapisan
dosa
yang
ia
telah
kerjakan
telah
berlapis
dan
memenuhi
buku
kehidupan
Daud.
Kegagalannya
dalam
meminimise
akibat
dosanya
diceritakan
secara
rinci
dalam
Alkitab,
Lalu
Daud
bangun
dari
lantai,
ia
mandi
dan
berurap
dan
bertukar
pakaian;
ia
masuk
ke
dalam
rumah
TUHAN
dan
sujud
menyembah.
Sesudah
itu
pulanglah
ia
ke
rumahnya,
dan
atas
permintaannya
dihidangkan
kepadanya
roti,
lalu
ia
makan.
Berkatalah
pegawai-pegawainya
kepadanya:
“Apakah
artinya
hal
yang
kauperbuat
ini?
Oleh
karena
anak
yang
masih
hidup
itu,
engkau
berpuasa
dan
menangis,
tetapi
sudah
anak
itu
mati,
engkau
bangun
dan
makan!”
Jawabnya:
“Selagi
anak
itu
hidup,
aku
berpuasa
dan
menangis,
karena
pikirku:
siapa
tahu
TUHAN
mengasihani
aku,
sehingga
anak
itu
tetap
hidup.(
2
sam
12:20)
Pilihan
ada
ditangan
manusia
sendiri.
Ketika
manusia
memilih
untuk
berenang
dalam
lautan
kekelaman
dan
dosa
maka
ia
akan
mendapati
dirinya
dalam
penderitaan
dan
tangisan
sebab
disana
Tuhan
menyembunyikan
dirinya,
manusia
harus
mengintip
didepan
jendela
hatinya
dan
memandang
cahaya
pertobatan
yang
memulihkan
keadaannya.
Allah
sendiri
tidak
dapat
mengubah
pilihan
manusia
jika
manusia
sudah
dengan
setekad
baja
untuk
melawan
diriNya.
Ia
hanya
menyediakan
ratap
dan
gertak
gigi.
Alkitab
sendiri
mengatakan
bahwa
Yudas
telah
memilih
tempat
yang
wajar
baginya
(Kis
Ras
1:25).
Neraka
yang
sebenarnya
saat
ini
bukan
ruangan
yang
berisi
api
dan
belerang
yang
ditempati
setan
beserta
keluarganya
tetapi
hati
yang
hampa
dalam
derai
air
mata
keruwetan
dan
persoalan.
Orang
harus
bercermin
tentang
Tuhan
dalam
berbagai
persoalan
sebab
dimana
Tuhan
selalu
menyelinap
ditengah-tengah
badai
kesukaran.
Jika
ratapan
tidak
memperdengarkan
suaranya
kepada
manusia
maka
makluk
ciptaan
itu
akan
mengubah
dirinya
menjadi
sang
pencipta
akibatNya
Tuhan
tidak
kelihatan.
Terkadang
Tuhan
menyembunyikan
dirinya
kepada
manusia
karena
ulah
manusia
yang
merasa
sok
pintar
dan
bisa
tanpa
Tuhan.
Menara
babel
yang
berdiri
megah
di
Sinear
adalah
usaha
manusia
untuk
melawan
Allah.
Harus
diakui
didalam
diri
manusia
terdapat
unsur
kekuatan
yang
dapat
dipakai
untuk
melawan
Allah.
Allah
tidak
dapat
dilawan
dengan
kesombongan
dan
keangkuhan
hidup.
Ulah
manusia
yang
ceroboh
hanya
menghasilkan
murka
Allah
dicurahkan
kepada
manusia.
Tidak
pernah
secara
tiba-tiba
suatu
negeri
terjerembab
kedalam
krisis
multidimensi
secara
mendadak
tanpa
sebab.
Berani
taruhan
berapapun
titik
kulminasi
dari
sebuah
kesengsaraan
disebabkan
karena
telah
menimbun
kebobrokan
disana
sini.
Ibarat
benang
sudah
terlalu
ruwet
dan
tidak
lagi
bisa
diurai
kecuali
di
potong
dikit
demi
sedikit
dan
disambungnya
kembali!
Perlawanan
kepada
kebenaran
yang
terus
menerus
akan
menghasilkan
awan-awan
kerusuhan
yang
bergelantungan
di
ruangan-ruangan
kehidupan
berbangsa.
Jika
awan
tersebut
sudah
didapati
menebal
dan
ukurannya
bagaikan
bongkahan
es
dikutub
utara
dan
selatan,
sudah
pasti
akan
mencair
bila
matahari
mengarahkan
wajahnya
dan
membakarnya.
Ketidak
benaran
alias
kebobrokan
pasti
akan
terbakar
dihadapan
Tuhan,
sebab
Ia
adalah
api
yang
menghanguskan.
(Ibrani
12:29)
Derita
adalah
obat
penyembuh
Bertutur
soal
kesengsaraan
tidak
ada
orang
yang
melebihi
Yesus
Kristus.
Dirinya
sangat
tertolak
orang-orang
disekitarnya
bukan
karena
suatu
tindak
kejahatan
malah
justru
karena
kebaikanNya.
Karena
tercatat
dalam
sejarah
bahwa
dirinya
tidak
pernah
memukul
atau
menghajar
seorang
hingga
babak
belur
tidak
karuan,
Ia
sangat
santun
dan
manis
bersuara
indah
dalam
kotbahnya
yang
membuat
para
pendengarnya
sangat
terpesona.
Naumun
kebencian
tokoh
agama
menghantarkan
Yesus
ke
via
dorosa
yang
berujung
penyaliban
yang
terkutuk
(Gal
3:13).
Kalil
Gibran
dalam
buku
kearifannya
mengatakan
tentang
pribadi
Yesus
ini
demikian
: “
Umat
manusia
memandang
Yesus
sang
Nazarin
sebagai
yang
terlahir
miskin,
yang
mengalami
kesengsaran
dan
hinaan
bersama
semua
kaum
lemah.
Dan
Dia
dikasihani,
karena
umat
manusia
yang
percaya
bahwa
Dia
disalib
secara
menyakitkan...
dan
yang
diberikan
umat
Manusia
kepadaNya
hanyalah
tangis
dan
raungan
dan
ratapan.
Selama
berabad-abad
umat
manusia
memuja
kelemahan
dalam
memainkan
perannya
sebagai
sang
Penyelamat.
Sang
Nazarin
itu
tidak
lemah!
Dia
kuat
dan
memang
kuat!
Tetapi
orang
tidak
mendengarkan
arti
sebenarnya
dari
kekuatan!
Air
mata
adalah
cairan
yang
melumasi
mata
secara
otomatis
untuk
menghindarkan
dari
infeksi
dan
membunuh
virus-virus
yang
membahayakan
mata..
Demikian
juga
air
mata
Yesus
yang
menetes
ke
bumi
ketika
menangisi
Yerusalem,
dirinya
sedang
mengobati
bukan
hanya
kota
Yerusalem
tetapi
seluruh
bumi
akan
menyaksikan
dokter
dari
segala
dokter
sedang
memberikan
pengobatannya!
Tetesan
air
mata
Tuhan
dan
sayatan
tubuhnya
yang
sangat
menderita
tersebut
telah
mengobati
dosa
dunia
sehingga
pulih
dan
dianggap
sehat
untuk
bertemu
Bapa
di
sorga!
Dunia
yang
sudah
bobrok
ini
dibenahi
oleh
Tuhan
Yesus
bukan
dengan
tawaran
kemewahan
dan
harta
dunia
ini
tetapi
Ia
menawarkan
penderitaan
dan
salib
agar
dunia
diselamatkan.
Ini
berarti
penderitaan
merupakan
proses
pembenahan
bagi
siapapun
yang
akan
mampu
menyelesaikan
berbagai
macam
persoalan!
(Nantikan
artikel
selanjutnya!) |