Selamat datang di Sahabat Surgawi 
» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
  Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 











 
» Pemahaman Alkitab

 

Pelajaran 49
PERLUKAH GEREJA MERAYAKAN NATAL?

Pembacaan Alkitab: Galatia 4:4;Yohanes 1 :10-11; 3:16.
Tujuan : Agar peserta memiliki pemahaman dan sikap yang benar dalam memperingati kelahiran Juru selamat dunia


PENDAHULUAN
Pertanyaan tersebut sangat wajar sering muncul karena alasannya Natal tidak ada dalam Alkitab. Perintah Allah kepada Nabi Musa tentang hari-hari yang harus diraya kan: "Inilah hari raya yang ditetapkan ... yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap." (Im. 23:4 dst). Adapun 7 hari raya tersebut adalah sebagai berikut: Paskah, Roti tidak beragi, Buah Bungaran, Pentakosta, Sangkakala, Perdamaian, dan Pondok Daun (Tabernakel) yang harus dilakukan bangsa Israel. Letak nilai dari perayaan-perayaan tersebut bukan pada pelaksana annya tetapi pada makna dan tujuan. Tuhan pernah merasa jemu, jijik dan benci terhadap pelaksanaan perayaan ritualistis formalitas yang kosong (Band. Yes. 1: 11, 13, 14). Makna dan tujuan perayaan terletak pada 3 aspek yaitu: historis, profetik dan personal.

A. Hari Raya Paskah (sebagai contoh)

1. Aspek historis
Hari itu diselenggarakan agar umat ingat peristiwa bersejarah. Karya Allah yang besar dan dahsyat yang telah membebaskan dari perhambaan di Mesir, dimulai dari percikan darah anak domba paskah di ambang pintu sehingga selamat dari Malaikat Maut.

2. Aspek prophetic
Bahwa darah anak domba yang tidak bercacat itu memberitakan Yesus Anak Domba Allah yang akan datang, mencurahkan darahnya, mati disalibkan untuk menebus dosa manusia agar manusia terbebas dari hukuman dosa. Dan luar biasa Yesus disalibkan tepat pada masa perayaan Paskah bangsa Israel, sebagai penggenapan, pengisian makna Paskah yang sebenarnya. Dan gereja sekarang merayakan Paskah dengan isi pemahaman yang baru.

3. Aspek personal
Umat yang merayakan Paskah sekedar tradisi hanya menyembelih domba karena orang lain juga melakukan tanpa didasari sikap hati, kasih akan Allah (Ul. 11:22; 1 Sam. 15:22), tidak mendapat perkenan Tuhan bahkan bisa menjadi kebencian Allah. Semua hukum Taurat termasuk semua hukum tata ibadah diberikan oleh Tuhan sebagai sarana respon kasih- hormat manusia terhadap kasih Allah yang mendahu luinya. Respon pribadi kasih-hormat terhadap Allah di sini letak nilai atau substansi dari perayaan gerejawi.
Percuma ikut merayakan Perjamuan Kudus kalau tidak dilandasi rasa hormat, kagum, mengindahkan dan mcrcsapi salib Yesus. Bahkan cara ikut Perjamuan Kudus yang salah bisa mendatangkan hukuman. I Kor. 11:27-32.
Berarti bila Demikian dengan hari-hari Raya yang lain, maka perayaan tersebut akan melibatkan ketiga aspek tersebut.

B. Hari Natal
Memang perayaan Natal tidak berakar dari Sejarah Alkitab tetapi dari sejarah tradisi gereja. Ketika Kaisar Roma menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran dewa Matahari (Natalis Solis Invicti) dan untuk menentang perayaan kafir tersebut maka gereja di Roma menyatakan hari itu (tanggal 25 Desember th 336) sebagai hari kelahiran Yesus Kristus yang diyakini sebagai Matahari Kebenaran. Sementara tradisi Gereja Armenia menetapkan 6 Januari sebagai hari Epiphania yang dirayakan sebagai hari kelahiran Yesus Kristus - Epiphania dari kata Yunani, epi artinya sebe lah luar (lahir) dan phainein artinya tampak, kelihatan, arti keseluruhannya nampak secara lahiriah dengan mata kepala. Jadi sebenamya tidak salah kita merayakan Natal asal penerapan 3 aspek tersebut tepat.
1. Aspek historis
Kita merayakan Natal tidak berkonotasi pada dewa matahari, apalagi dalam sejarah nya itu berasal dari protes gereja yang menentang, dari pada menyembah dewa matahari lebih baik menyembah Yesus sebagai terang dunia, sebagai matahari pagi yang sejati (Luk.1:78).

Tekanan perayaan bukan pada Natalnya tetapi pada fakta sejarah bahwa Firman sungguh telah menjadi daging, Yesus telah lahir lewat kandungan Maria yang dina ungi Roh Kudus. Tentang istilah yang diapdosi dari tradisi kafir, dalam Alkitab nama Allah memakai El juga diambil dari tradisi Asia Barat Daya Kuno yang konotasinya dewa yang tertinggi yang belum dikenal (Band. KR 17:22 dst). Walaupun Israel mengadopsi istilah tersebut namun diberi isi makna baru menjadi El Shaday, El Elyom (Allah yang Maha Tinggi Kej. 14:18,19); El Olam (Allah yang kekal Kej. 21:33; 26:23).
Hanya dalam merayakan Kelahiran Yesus tidak harus dipatok pada tanggal 25 Desember, karena perhitungan Masehi ada selisih perhitungan. Kenyataan Yesus lahir bisa th 4 SM dan bulannya bisa jatuh September atau Oktober. Yang penting bukan tanggalnya tetapi data sejarahnya, Ia betul lahir ke dunia.
Di dalam kitab Taurat saja telah ditetapkan harus dilaksanakan perayaan Paskah pada tanggal 14 bulan pertama (Abib), namun bagi yang dalam perjalanan jauh atau yang baru mengurus saudaranya yang meninggal (sehingga dikatagorikan najis) maka merayakan Paskah bisa dilakukan bulan kedua (Bil. 9: 10,11). Yang penting bukan peraturan formal yang kaku tetapi substansi perayaan itu, menghayati esensi maknanya.

2. Aspek prophetik
Merayakan kelahiran Yesus tidak hanya menoleh ke belakang sejarah, Yesus seba gai bayi terus. Tidak, Yesus sudah di sebelah kanan Allah Bapa dan akan datang lagi menyatakan diri. Kita menanti perayaan Epiphania yang sejati Yesus yang akan menampakkan diri dan akan menjadi Raja di atas segala raja.

3. Aspek personal
Tidak ada artinya merayakan kelahiran Yesus biarpun sampai 10 kali sebulan kalau
Yesus Kristus tidak pernah lahir atau masuk dalam hatinya dan mengubah hidupnya.
Apalagi perayaan Natal sudah terpolusi banyak budaya barat, Natal diasosiasikan dengan Santa Claus, Natal diasosiasikan dengan etalase toko yang dipenuhi dengan produk baru yang serba gemerlapan dari lampu hias sampai sepatu baru. Natal diaso siasikan dengan pesta-pora (X'mas, tak ada Kristusnya ) minum mabuk. Ini yang harus diwaspadai tiap pribadi yang merayakan kelahiran Yesus.
Kalau yang difokuskan Kelahiran Yesus maka Perayaan Natal tidak salah dirayakan oleh gereja. Apalagi dalam konteks Indonesia yang mayoritas non kristen maka bila Pemerintah memberikan tanggal merah di 25 Desember ini berarti Pemerintah meng hormati eksistensi Kristen, sehingga kalau orang Kristen sendiri tidak menghargai nya kemudian Natal dihapus sebagai hari libur nasional secara sosial politis orang Kristen yang rugi. Paling baik kita bersyukur dengan apa yang ada, pakai saja 25 Desember sebagai hari KKR tetap, kita isi dengan berita kedatangan Yesus yang positif Gereja masih relevan merayakan hari kelahiran Yesus. Lebih baik istilah Natal diganti Hari Kelahiran Yesus.
Sumber: Pdt. A. Soerjadi M.Sc seperti yang dimuat dalam majalah Penyuluh.

Buku Bacaan Penunjang:
1. Ismail. Andar, Selamat Natal, Jakarta: BPK Gunung Mulia.
2. Drane. John, Mengenali Perjanjian Baru, Jakarta: BPK Gunung Mulia.


 

(Sumber : Benih Kekal - Departemen Pemuda & Anak Gereja Bethel Indonesia)

| A R S I P |


Sahabat Surgawi

Media pelayanan antara jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2001, Tim Sahabat Surgawi