Selamat datang di Sahabat Surgawi 
» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
  Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 











 
» Pemahaman Alkitab

 

Pelajaran 44
KETULUSAN

Pembacaan Alkitab: II Korintus 1:12
Tujuan :Agar peserta memiliki kehidupan yang ditandai ketulusan hati

 
PENDAHULUAN
Masa kita sekarang ini adalah masa yang penuh dengan kepalsuan, tiruan dan samaran. Di mana-mana kita bisa menemukan kepalsuan. Ada bunga palsu, gigi, rambut, kaki, tangan dan sebagainya. Sepintas kita akan mengalami kesulitan untuk membedakannya. Tentu saja tidak ada yang salah dengan bunga, gigi, rambut, kaki, tangan yang palsu tersebut yang salah adalah apabila yang dipalsukan adalah sifat-sifat manusia. Kadangkala manusia melapisinya dengan kegiatan agama supaya tidak bisa dibedakan - inilah KEMUNAFIKAN. Manusia bisa dikelabui tapi Tuhan tidak pernah bisa.

Panggilan Tuhan kepada kita sebagai anak-anaknya adalah supaya kita bersikap TULUS dalam kekristenan kita, membuang segala kepalsuan dan kemunafikan kita. Gereja terus -menerus dituduh sebagai tempat yang penuh dengan kemunafikan. Sebab itu kita harus mewaspadai ragi kemunafikan ini sama seperti Yesus memberi peringatan kepada murid--muridnya tentang ragi orang Fansi. Orang munafik adalah orang yang bermuka dua. Artinya orang yang pandai bersandiwara misalnya setiap minggu rajin beribadah, teratur berdoa tetapi dalam hidupnya sehari-hari penuh dengan ketidakjujuran misalnya: bisnis, suka nyontek dan sebagainya.

PENGERTIAN KETULUSAN
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia "tulus" berarti murni, tidak punya tendensi yang lain, ikhlas, tidak ada rasa ingin memiliki, tidak ada rasa eman (sayang).
Jadi, ketulusan itu sebenarnya berbicara tentang kemurnian hati yang sama sekali tidak ada tujuan lain yang menyimpang selain menolong sesama.
Francois de la Rochefoucauld berkata, "Ketulusan adalah keterbukaan hati; kita menemukannya dalam diri segelintir orang saja".
Dunia sedang kekurangan orang yang tulus, itu sebabnya Yesus memanggil kita bukan hanya untuk memperoleh anugrah keselamatan namun juga supaya kita dapat memberikan atau menunjukkan kepada dunia bahwa murid-murid Yesus adalah orang yang tulus.

MENGAPA HARUS TULUS ?
Ada beberapa hal penting yang menjadi alasan mengapa kita harus hidup dalam ketulusan, yakni:
a. KETULUSAN ADALAH SIFAT KRISTUS.
Bila kita menelaah dengan seksama kehidupan Kristus selama Ia berada di dunia maka kita akan menemukan teladan yang paling hebat dalam ketulusan adalah Yesus Kristus. Apa yang ia kerjakan tidak pernah ada kepalsuan di dalanmya, Ia selalu terang-terangan dalam menyatakan kebenaran, dan motivasi dalam menolong sesamapun tidak ada tujuan apa-apa selain untuk kebaikan orang yang ditolong tersebut karena memang Ia datang untuk menjadi Juruselamat manusia. Apa yang Ia lakukan murni hanya untuk mentaati kehendak BapaNya. (Yoh 4:34).
b. TELADAN HIDUP RASUL-RASUL.
Contoh nyata rasul yang memiliki ketulusan dan kemurnian hati yang luar biasa adalah rasul Paulus (II Kor 1- 12). Ia melayani di manapun tidak ada motivasi lain selain untuk mencari jiwa dan menumbuhkan iman jemaat yang dilayaninya.
Rasul-rasul telah tiada, siapakah yang akan mendemostrasikan ketulusan sejati kepada dunia ini kalau bukan anak-anaknya, yakni setiap orang percaya kepada Kristus. Jika Kristus adalah Bapa kita maka sewajarnya bila anak-anaknya memiliki sifat Bapanya.

CIRI-CIRI KETULUSAN.
1. JUJUR (I Tawarikh 29:9)
Orang yang tulus adalah orang yang jujur, apa adanya. Semua ini terjadi karena orang tulus tidak memiliki tendensi lain selain daripada berbuat baik dan menolong orang lain. Orang yang tulus dapat menolong atau memberi bantuan tidak ada pamrih, semuanya dikerjakan dengan sukarela.
2. TIDAK SUKA MENYAKITI SESAMA (Matius 1: 19)
Orang yang tulus tidak ada keinginan untuk menyakiti sesama walaupun ia disakiti. Hatinya memiliki roh pengampunan yang kuat. Ia tidak membalas kejahatan tetapi sebalikmya ia mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:14, 17, 21).
3 . DAPAT MENERIMA KEHENDAK ALLAH (Matius 1:24).
Orang yang tulus menyadari bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik sekalipun hal itu mungkin tidak masuk akal atau bertolak belakang dengan pemikiran kita. Yusuf menyadari hal ini sebab itu ia tidak ragu-ragu lagi menerima Maria sebagai isterinya. Demikian pula Maria menerima kehendak Allah itu dengan hati yang terbuka walau pun pikirannya bertanya-tanya "bagaimana mungkin seorang perawan bisa hamil" namun hal itupun akhirnya menjadi kenyataan.
Orang yang tulus adalah orang yang akan banyak melihat bagaimana rencana Allah
terjadi dalam hidupnya. Mengapa demikian? karena tidak ada perbantahan dalam hidupnya.

Bacaan Penunjang :

1. W. Powell, Paul, Murid Sejati, Bandung: Kalam Hidup 1982.
2. Santoso, Ananda & Priyanto S, kamus lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya : Katika 1995.
 

(Sumber : Benih Kekal - Departemen Pemuda & Anak Gereja Bethel Indonesia)

| APRIL |



Sahabat Surgawi

Media pelayanan antara jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2001, Tim Sahabat Surgawi