|
Pertanyaan :
Pak Pendeta yth.
Laporan Utama REFORMATA tentang Islam Hanif (edisi Agustus
2005), menurut saya sangat menambah pengetahuan tentang apa
yang sedang terjadi di sekitar kita sebagai orang yang beriman
teguh, bahwa keselamatan itu hanya karena anugerah Kristus
Tuhan kita. Namun pada dimensi yang lain, saya justru menjadi
sangat khawatir atas pemuatan topik-topik semacam Islam Hanif
yang bertentangan dengan iman Kristen yang kita imani. Mohon
tanggapan Pdt.Bigman Sirait.
Paul R Rompas—Rawasari, Jakarta Pusat
paul rompas”
<paulrompas_2003@yahoo.com
Jawaban:
Terimakasih, untuk tanggapan sekaligus pertanyaan Anda sebagai
pembaca kritis REFORMATA. Memang, interaksi seperti ini sangat
kita harapkan dalam konteks pembelajaran bersama. Surat Anda
kami muat di kontak pembaca (Surat Pembaca—Red). Sedangkan
pertanyaannya, kami jawab di ruang Konsultasi Teologi ini,
sebagai berikut:
Dalam memahami Alkitab, kita harus menyadari bahwa yang
namanya multi-tafsir itu tidak terhindarkan. Beda pendeta,
beda pendapat, tapi semua berkata bahwa, “Ini kata Alkitab” .
Untuk itu, tentu saja kita harus memer-hatikan konteks dan
kesinam-bungan dari keseluruhan Alkitab.
Menurut Pdt.Robert Walean (tentang Islam hanif), dia hanya
mengatakan “apa yang dikatakan Alkitab”. Tetapi, apakah memang
begitu, tentu perlu diuji. Pen-dekatan historikal dan teologis,
sudah disampaikan oleh para nara sumber (ahli Perjanjian Lama)
untuk menanggapi tulisan ter-sebut. Sekarang, saya akan coba
melengkapi dari sisi lain.
Pdt.Robert Walean menga-takan bahwa pendapatnya itu adalah
“kata Alkitab”. Tetapi saya melihat bahwa itu hanya mengacu
pada satu bagian Alkitab saja. Dia memang menyebut di banyak
bagian Alkitab, tetapi sayang, tidak jelas bagian yang mana.
Yang pasti adalah bahwa Alkitab tidak pernah berbicara secara
lepas dengan mengatakan bahwa bangsa Israel akan selamat semua
(masuk surga). Lihat kasus perjalanan umat Israel dari Mesir
menuju tanah perjanjian, banyak yang dibinasakan oleh murka
Tuhan (I Kor 10:8-10, Bil 25:1-9, Kel 17:2, Kel 32, Bil16:41).
Jadi, bukan karena kebangsaan-nya seseorang diselamatkan,
melainkan kebenaran (menaati ketetapan Tuhan). Memang
dikatakan ada sedikit Islam Hanif yang serius (tetapi tidak
jelas kelompok mana dan ukurannya apa). Dalam konteks
kebangsaan, tidak ada bangsa lain yang menjadi bangsa pilihan,
kecuali Israel (Keluaran).
Jadi, sangat sulit memahami bani Nebayot dan Kedar
disela-matkan karena ke-banian-nya (tafsir yang dipaksakan).
Dan, kalaupun itu diyakini sebagai kata Alkitab, maka menurut
saya, Niniwe lebih berhak dibicarakan dalam satu kitab, bukan
ayat (Kitab Yunus). Hanya saja, Niniwe memang tidak memiliki
daya tarik dalam konteks keagamaan di Indonesia (kurang seru
untuk diangkat).
Kemudian secara progresif, Alkitab (Perjanjian Lama ke
Perjanjian Baru) membawa kita melihat keselamatan itu
diberikan kepada setiap bangsa. Kesela-matan karena percaya (bukan
karena Nebayot atau Kedar), yaitu yang percaya kepada Yesus
Kristus—entah Nebayot, Kedar, atau bangsa apa pun (Yoh 14:6,
Kis 4:12, dll—dan ini, kata Alkitab).
Jadi, tidak ada ditemukan secara konsisten dari PL ke PB,
bahwa seseorang diselamatkan karena kebangsaannya, bahkan
ke-agamaannya, melainkan karena percaya (iman) kepada Mesias
yang dijanjikan (PL), yaitu Yesus Kristus yang menyatakan diri
(PB, Yoh 1:1-18, Fil 2:5-11). Dan, setiap orang yang percaya
kepada Yesus Kristus, adalah pengikut Kristus, yang disebut
Kristen (sekalipun seorang yang beragama Kristen belum tentu
pengikut Kristus yang sejati). Sebagai pribadi, tentu saja
saya amat sangat berbeda dengan paham Pdt.Robert Walean. Namun
dalam konteks wacana, bukankah ini merangsang kita untuk
meru-muskan iman yang benar (paling tidak yang kita yakini).
Nah, dalam konteks itu pula, menurut saya, REFORMATA
mengangkat opini ini tujuannya tentu dalam rangka sebagai
pembelajaran. Jadi, tak perlu goyah, maju terus. Hidup memang
bukan satu warna, sekalipun penting untuk berwarna. Selamat
untuk Sdr.Paul, teruslah menjadi pembaca setia dan kritis.
Dan, untuk para pembaca REFORMATA yang lain, silahkan kirim
pertanyaan atau tanggapan, demi pencerah-an, menemukan
kebenaran sejati. Syalom.*
(Nantikan Kupasan Firman Tuhan
selanjutnya!)
|