|
Pertanyaan :
Bapak pengasuh yang baik.
Apa itu nazar? Sebatas apakah suatu janji dapat disebut nazar?
Jika misalnya kita mengatakan—kalau Tuhan melakukan sesuatu
hal padaku, aku akan melakukan ini atau itu—apakah dapat
dikatakan bahwa kita telah bernazar? Apakah Tuhan akan memberi
hukuman bagi orang yang melanggar nazar?
Naek—Jakarta Barat
0856-9061xxx
Jawaban :
Nazar—adalah kata yang kemungkinan besar berasal dari bahasa
Semit—bisa berarti dewa. Kata “nazar” yang ditemukan dalam
Alkitab, berkaitan dengan janji seseorang kepada Allah. Nazar
itu bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti:
1. Janji melaksanakan suatu tindakan (Kejadian 28: 20-22).
2. Janji menjauhkan diri dari se-buah tindakan (Mazmur 132:
15).
3. Janji agar Tuhan menyatakan
pertolongan-Nya (Bilangan 21: 1-3).
Nazar sebagai janji harus dipenuhi, dan adalah dosa jika tidak
memenuhinya. Itu sebab, sebelum bernazar, seseorang harus
memikirkannya dengan sungguh sungguh, bukan melakukannya
karena emosional (Amsal 20: 25). Bernazar atau tidak bernazar
bukan dosa. Yang berdosa adalah, bernazar tetapi tidak
memenuhinya.
Yefta, menjadi suatu kasus yang sangat menarik tentang nazar.
Ketika dia bernazar akan memberikan apa pun yang keluar dari
pintu rumahnya untuk dipersembahkan kepada Tuhan (Hakim Hakim
11: 29-40). Dalam kasus Yefta, anak perempuannya
dipersembahkan sebagai “gadis yang tidak pernah mengenal
laki-laki” ayat 39, (nazir Allah) yang mengabdikan diri pada
Allah seumur hidupnya. Yefta, harus memenuhi nazarnya
sekalipun hatinya sangat hancur (ayat 35). Untuk kasus ini,
ada yang ber-anggapan seolah-olah anak gadis Yefta dibu-nuh (Alkitab
mela-rang persembah-an dengan mem-bunuh anak-anak seperti
kebiasaan keji pada pengi-kut Dewa Molokh (Im 18: 21, 20: 2-5,
Ul 12: 31). Jadi dipersembahkan, bukan dibunuh melainkan jadi
nazir Allah.
Pengkhotbah 5: 4, menga-takan: “Lebih baik engkau tidak
bernazar, daripada bernazar tetapi tidak menepatinya”. Jadi,
dalam Perjanjian Lama (PL) sudah tampak sangat jelas bahwa
nazar bukanlah suatu keharusan, melainkan kesadaran khusus (pergumulan
yang harus diper-tanggungjawabkan), pada situasi khusus, yang
berlaku khusus. Dalam Perjanjian Baru (PB), kasus nazar muncul
dalam Kisah 18:18 (band. 21:23), Paulus dikatakan bernazar (Yunani:
euche), namun harus diperhatikan hal ini bersifat sementara
dari seorang nazir (yaitu, mencukur rambut), jadi tidak dapat
dijadikan model bagi orang Kristen pada umumnya.
Paulus dalam Roma 12:1, mengatakan, “Persembahkanlah tubuhmu (seluruh
aktivitasmu) sebagai persembahan yang hidup, kudus dan
berkenan pada Allah”. Ucapan Rasul Paulus ini sangat tepat
kita sikapi dan lakukan dalam hidup sebagai orang beriman,
dibanding bernazar tanpa pengetahuan yang jelas.
OK, Saudara Naek, selamat menikmati hidup selalu dalam
pimpinan Tuhan, tanpa terjebak bernazar sebagai model
kebanyakan orang, khususnya dalam konteks ekonomi: “Tuhan,
berkati usaha saya, saya akan beri sekian persen untuk Tuhan”.
Seharusnya, berikanlah apa yang harus diberikan kepada Allah,
bukan karena nazar melainkan panggilan hidup orang percaya
yang telah menerima penebusan Kristus. Syalom.
(Nantikan Kupasan Firman Tuhan
selanjutnya!)
|