|
Pertanyaan :
BAPAK Pendeta, suatu hari di tempat kerja saya, ada beberapa
teman seiman yang sedang bercanda. Dalam canda itu mereka
membicarakan masalah orang gila dengan berbagai nasib serta
keanehannya. Di tengah keriuhan suasana, tiba-tiba ada yang
nyeletuk, “Apakah orang gila itu bila mati masuk surga?” Dan
pertanyaan “iseng” itu ternyata membuat perdebatan itu makin
hebat dan seru. Peserta terpecah pada dua kubu: pro dan kontra,
surga dan neraka. Tolong Bapak jelaskan menurut Alkitab.
Tri-Jakarta
Jawaban :
Apakah orang gila bisa masuk surga? Sebuah pertanyaan yang
bisa dipertanyakan kembali: Apa yang membuatnya tidak bisa
masuk Sur-ga? Kata “gila”, segera meng-ganggu kita. Dan jika
diperpan-jang, tentu saja banyak perta-nyaan lainnya, seperti
orang idiot dan seterusnya. Belum lagi bayi yang berumur satu
hari, atau bah-kan orang yang bermukim di pedalaman, yang
notabene tidak pernah mendengar Injil tapi sudah meninggal.
Keselamatan menjadi kebutuhan setiap orang, siapa pun dia (tua
atau muda, waras atau gila, pen-deta atau orang awam—semuanya
perlu keselamatan). Alkitab ber-kata, “Semua orang telah jatuh
ke dalam dosa sebagai konsekuensi kejatuhan Adam (I Korintus
15: 20-22). Ini disebut sebagai dosa turunan, dosa warisan, di
mana Adam sebagai reseprentatif manu-sia, berdosa kepada Tuhan.
Dan perbuatan dosa itu telah menjadi nyata di dalam kehidupan
manusia (Roma 3: 9-20).
Jadi, sekali lagi setiap manusia perlu diselamatkan, dan
kesela-matan itu hanya ada di dalam penebusan Yesus Kristus.
Ini juga berarti, setiap orang bisa dise-lamatkan berdasarkan
kemurahan Tuhan, bukan melihat apakah manusianya itu waras
atau gila. Ka-rena apabila berdasarkan peme-nuhan syarat, maka
tidak seorang pun yang selamat, entah dia waras atau tidak,
karena tidak seorang pun yang layak, yang memenuhi syarat,
untuk diselamatkan.
Sekarang, mari kita pahami apa yang dikatakan Alkitab soal
keselamatan.
Efesus 2:8-9. Keselamatan adalah kasih karunia. Dengan tegas
Alkitab mengatakan keselamatan bukanlah hasil usaha manusia,
baik pribadi maupun kolektif. Karena itu manusia tidak bisa
memegahkan diri, untuk apa yang telah dia perbuat. Keselamatan
sebagai ka-runia Allah, mendahului setiap tin-dakan (pelayanan,
persembahan, ibadah, doa, puasa) maupun status manusia (kaya,
miskin, sehat, sakit, waras, atau gila).
Yohanes 3:16. Keselamatan adalah karena percaya/beriman. Iman
yang muncul karena dorongan kasih karunia (bukan kemampuan
rasio), yang memam-pukan manusia per-caya kepada Yesus sebagai
Tuhan yang menebus dosa dan juru selamat manusia (I Korintus
12: 3).
Yohanes 16: 8-11. Untuk percaya, tentu saja diawali dengan
kesadaran dan penga-kuan manusia akan dosanya. Kesadaran dan
pengakuan yang muncul sebagai anugerah yang dikerjakan oleh
Roh Kudus, yang diikuti de-ngan pengakuan percaya kepada Yesus
Kristus. Kepercayaan manusia timbul karena dimam-pukan oleh
Roh Kudus.
Sementara bagi peristiwa di luar jangkauan manusia, seperti
keselamatan bayi atau orang yang tidak sempat mendengar Injil
selama hidupnya, Alkitab berkata dalam Ulangan 29: 29: Hal hal
yang tersembunyi ialah bagi Tuhan Allah kita, tetapi hal hal
yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak anak kita sampai
selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum
Taurat ini. Artinya ada bagian yang kita me-ngerti yaitu
percaya selamat, menolak binasa. Yang menolak yang binasa,
bukan yang tidak waras. Sementara yang tidak sempat percaya
atau bayi, menjadi kedaulatan Allah yang tidak kita ketahui.
Allah adil dalam tiap tindakan-Nya.
Nah, rekan Tri, saya harap jawaban ini cukup jelas, bahwa
keselamatan adalah anugerah dan orang gila pun bisa
mendapatkan-nya. Menyangkut sikap “percaya”, itu unik sekali,
karena lebih merupakan sikap hati/iman yang melintasi rasio.
Ketidak-warasan seseorang, itu tidak sama dengan tidak beriman.
OK, selamat melanjutkan dis-kusinya dengan teman-teman seiman.
Semoga semua sudah berlangganan REFORMATA, supaya dapat
informasi yang selalu up to date.
(Nantikan Kupasan Firman Tuhan
selanjutnya!)
|