|
‘Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,
menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu
oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang
Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.’ (Mazmur
139:13-14)
Pernahkah di dalam mengarungi tantangan arus kehidupan
yang sering penuh perjuangan sulit untuk dipahami oleh
daya pikiran, kita mencari sesuatu yang dapat kita
kambing-hitamkan sebagai penyebab segala kegagalan
dan penderitaan yang harus kita alami? Tidak jarang
tuduhan tersebut kita lontarkan dalam bentuk gerutuan akan
semua perasaan kekurangan-kekurangan yang kita
miliki, seperti tabiat, sikap, tingkah laku, dan … yang
paling sering, adalah paras dan perawakan
tubuh jasmani kita.
Seringkali kita mengingini kesempurnaan karakter,
wajah, atau bentuk tubuh sesama, dengan menangisi,
yang menurut pendapat kita, merupakan
kekurangan-kekurangan yang kita miliki. Padahal, apakah
sebenarnya kekurangan-kekurangan tersebut? Kurang cantik?
Kurang tampan? Kurang mancung? Kurang tinggi? Kurang tegap?
Kurang jantan? Kurang luwes? Kurang wibawa? Kurang sabar?
Kurang kaya? Kurang sehat? Bahkan: Kurang ajar?
Apakah gerutuan-gerutuan seperti itu merupakan bagian dari
berbagai-macam kekurangan-kekurangan lain yang ada di
dalam daftar kita?
Marilah kita telusuri sejenak kehidupan seorang anak Tuhan
dari kota Brisbane, Australia, agar kita dapat
mensyukuri SEMUA kelebihan-kelebihan yang telah
Tuhan karuniakan KHUSUS kepada kita. Sekilas hidup
pemuda yang hampir berumur 22 tahun ini pasti akan membuat
Anda terpesona mengagumi kasih Tuhan, sebab setiap umat
ciptaan-Nya harus mengambil keputusan sendiri di
dalam menyadari tujuan hidupnya sebagai alat yang sudah
dipilih untuk kemuliaan Nama dan Kerajaan Tuhan, apapun
keadaannya. Sesuai dengan firman-Nya (Efesus 1:4-5;
Galatia 1:15-16), tidak ada seorang pun yang kebetulan
lahir, atau hadir di dunia ini tanpa suatu tujuan yang
telah ditetapkan oleh Tuhan sebelumnya.
Namanya Nick Vujicic. Ia bermukim di salah satu
‘suburb’ kota Brisbane yang letaknya tepat
bersebelahan dengan daerah dimana kami bertempat-tinggal.
Karena itu kadang kala kami berpapasan di dalam
shopping centre(s) setempat. Pada waktu berhadapan
muka dengannya, saya selalu berusaha untuk tidak menatap
matanya, bahkan berpura-pura seolah-olah tidak melihatnya,
dengan harapan, agar ia tidak merasa sebagai pusat
perhatian orang-orang. Saya tidak mengetahui latar
belakang Nick sampai pertengahan bulan Oktober 2004 yang
lalu, ketika ia diundang untuk pertama-kalinya sebagai
tamu terhormat gereja kami, untuk memberikan khotbah
diselingi kesaksian hidup yang malam tersebut dapat
menyebabkan hati nurani setiap pendengarnya merasa
tertegur sekali.
Dengan ‘berdiri’ sambil ‘berjalan’ kian
kemari di atas panggung tambahan altar gereja, Nick
memulai kisah perjalanan hidupnya. Sejujurnya, kami semua
mendapat kesulitan amat besar untuk menerima
kisahnya, disebabkan oleh karena bakat berkomunikasi yang
dimiliki olehnya. Sepanjang penyajiannya ia selalu
memperlihatkan sikap positif yang mengagumkan, dan karena
orangnya kocak sekali, para hadirin mau tak mau tertawa
terpingkal-pingkal pada waktu mendengar dan menyaksikan
tingkah lakunya, meskipun bola-bola mata mereka terlihat
lembab digenangi oleh airmata. Terus terang saja, malam
itu saya sendiri tidak dapat memutuskan tindakan yang
harus saya lakukan, apakah saya mau menangis, atau …
haruskah saya ikut tertawa dengan jemaat yang lain?
Memperhatikan wajah mudanya yang amat tampan untuk
pertama-kalinya, saya dapat melihat sinar kedewasaan di
dalam Kristus yang berkilauan terang terpancar keluar dari
dalam dirinya, melalui wajah tersenyum-simpul berlesung
pipit yang dapat menyentuh dan menimbulkan rasa haru di
dalam hati. Dengan mempergunakan kefasihan bakat yang
sangat mengherankan, Nick mengingatkan kami semua, bahwa
kita sebagai umat-Nya, tidak seharusnya menggerutu atas
perasaan kekurangan-kekurangan yang kita miliki,
tetapi selalu memakai segala kenyataan
kelebihan-kelebihan karunia Tuhan, untuk melaksanakan
amanat agung-Nya.
Pada masa pertumbuhannya sebagai anak seorang pendeta
sebuah gereja tradisional di Melbourne, Australia,
Nick merasa bahwa doa-doanya tidak pernah mendapat jawaban
dari Tuhan. Sedari kecil ia harus tabah menghadapi
berbagai-macam tantangan, baik di sekolah maupun di
tempat-tempat umum. Saat itu ia tidak bisa mengerti,
mengapa Tuhan mengijinkan ‘hal-hal seburuk itu’
menimpa hidupnya. Ia berpikir: “Jika Tuhan mengasihi aku,
mengapa Ia membiarkan diriku menanggung penderitaan
sebesar ini?” Seringkali ia mempertanyakan keberadaan
Tuhan, terutama mengenai kebenaran kasih-Nya.
Nick lahir di kota Melbourne, pada tanggal 4 Desember
1982. Seruan: “Puji Tuhan!” adalah
kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulut ayah, atau
keluarganya, pada saat Nick menghirup udara segar untuk
pertama-kalinya di atas ranjang rumah sakit. Umumnya,
ibu-ibu yang baru saja melahirkan selalu mempunyai
keinginan untuk segera memeluk dan mencium bayi-bayi
mereka seketika itu juga. Tetapi hal itu tidak terjadi
pada saat kelahiran Nick! Penuh kekecewaan, ibunya
langsung memerintahkan para perawat rumah sakit untuk
membawa Nick keluar dari dalam kamarnya. Mereka sekeluarga
amat tertegun melihat keadaannya. Bahkan dokter-dokter di
situpun terpana, tidak dapat menerangkan kepada mereka,
sebab-musabab medis kelahiran Nick yang amat berbeda
dengan kelahiran bayi-bayi lain pada umumnya.
Seluruh keluarga, dan juga jemaat gereja yang digembalakan
oleh ayahnya tidak bersukacita, tetapi malah bersedih hati
atas kehadirannya di dunia. Mereka menangis tersedu-sedu,
pada waktu ayah Nick menyuruh pamannya, pada acara ibadah
di hari Minggu sesudah kelahirannya, untuk membacakan di
atas altar Yohanes 9, ayat 1 dan 2. Pamannya berusaha
untuk mengerjakan permintaan ayahnya, tetapi di balik sedu
sedan jemaat yang hadir di situ, sepatah katapun tidak
dapat keluar dari dalam mulutnya.
Seperti keluhan-keluhan Nick semenjak kecil, mereka
bertanya-tanya: “Jika Tuhan Mahakasih, mengapa Ia
mengijinkan hal seperti ini terjadi, dan justru menimpa
keluarga orang-orang Kristen yang hidup penuh pengabdian?”
Mula-mula ayah Nick memperkirakan, bahwa anaknya ini tidak
akan dapat bertahan hidup lama. Tetapi ternyata Nick
membuktikan kepada mereka semua, bahwa meskipun keadaannya
seperti itu, ia adalah seorang bayi yang sehat bagaikan
bayi-bayi lain pada umumnya. Kenyataan tersebut
menyebabkan mereka menjadi bimbang dan kuatir sekali,
ketika mereka mulai memikirkan masa depan Nick. Pada saat
itu tantangan terbesar bagi iman keluarga pengikut Kristus
yang setia ini adalah … meragukan kedaulatan Tuhan di
dalam setiap perkara.
Melalui waktu berbulan-bulan lamanya penuh genangan
tetesan-tetesan airmata kesedihan yang tak terlukiskan,
mereka terus mempertanyakan ‘nasib’ hidup mereka
kepada Tuhan. Sampai akhirnya Roh Kudus memberikan wahyu
khusus untuk menyadarkan mereka, bahwa dari awalnya Ia
sudah memperlengkapi mereka sekeluarga dengan suatu iman
yang teguh, kebijaksanaan dan keberanian di dalam
menghadapi masa depan tak menentu yang harus mereka lalui
bersama-sama.
Ketika Nick memulai pendidikannya di sekolah, ia selalu
berusaha untuk ‘hidup’ seperti anak-anak yang lain,
meskipun dari awalnya, ia harus menghadapi
penolakan-penolakan, ejekan-ejekan, bahkan
gertakan-gertakan teman-teman sebayanya. Kasih yang murni
disertai dukungan moral kedua orang tuanya saja, yang
akhirnya dapat membantu membentuk sikapnya, sehingga ia
mampu menghadapi dan memenangkan masa-masa sulit penuh
perjuangan tersebut.
Perlahan-lahan teman-teman di sekolahnya mau menerima Nick
seperti apa adanya, sebagai salah seorang pelajar yang
setaraf di antara mereka. Dan tidak lama sesudah itu,
Tuhan mulai memberkatinya dengan mengirimkan banyak
sahabat-sahabat baru, yang dapat menemani dan menghibur
dia dari rasa kesepian, dan penolakan-penolakan yang
pernah diderita oleh Nick sebelumnya.
Di sekolah minggu gereja ayahnya, Nick belajar, bahwa
Tuhan selalu mengasihi dan memelihara semua orang. Tetapi
pikiran kanak-kanaknya mempertanyakan ajaran tersebut,
yang menurut pendapatnya, melihat nasib dan keadaannya
sendiri, sukar untuk dapat dipercayai begitu saja. Apalagi
ayat Alkitab yang mengatakan, bahwa ia dilahirkan
sesuai dengan gambar dan rupa Allah, seperti tertera
di Kitab Kejadian 1:26. Ia mempertanyakan keseriusan dan
kebenaran firman tersebut.
Nick menyadari, bahwa di antara semua teman-temannya,
dirinya sendiri yang tampak paling janggal, begitu janggal,
membuat ia merasa sedih dan putus asa sekali. Menjelang
peralihan umur belasan tahun, Nick mulai kehilangan gairah
hidupnya. Benak pikirannya mendapat serangan depresi
berat yang amat menguatirkan semua anggota keluarganya.
Karena merasa dirinya benar-benar tidak berharga, terutama
melihat bahwa sepanjang hidupnya ia akan selalu menjadi
beban bagi semua orang di sekelilingnya, Nick percaya,
jalan keluar yang terbaik untuk mereka semua adalah … jika
ia secepatnya pergi meninggalkan dunia yang fana ini! Nick
berhasrat untuk mengakhiri semua penderitaan tersebut,
dengan mengakhiri hidupnya dalam usia amat dini!
(Nantikan artikel lanjutannya!)
|