|
Kehadiran
tunas baru Reuben Morgan di dalam tim pemusik utama
Hillsong Church sejak tahun 1997 tidak hanya membawa
hembusan angin baru yang segar bagi musik karya mereka,
tetapi juga telah ikut membantu mengubah haluan gaya musik
dan lirik yang mereka tawarkan kepada para penggemar musik
rohani di seluruh dunia.
Album ‘By Your Side’, yang terbit tahun 1999
memperlihatkan untuk pertama-kalinya tanda-tanda perubahan
haluan tersebut. Album Gereja Hillsong yang kedelapan ini
jelas menawarkan suatu gaya musik dan lirik praise and
worship yang berlainan dibandingkan dengan album-album
sebelumnya. Lagu-lagunya diproduksi dengan nada dan tehnik
yang amat unik, yang mudah membedakan grup ini dari
grup-grup pemusik rohani lainnya.
Album yang memperkenalkan lagu-lagu baru yang tidak kalah
hebatnya ini, terlihat mempunyai tujuan untuk sekaligus
menjangkau masyarakat dunia, baik orang-orang percaya
maupun bukan, dari dua generasi-generasi yang berbeda. Dan
ternyata …, tujuan mereka tersebut sangat jitu mengenai
sasarannya.
Oleh karena banyaknya permintaan dari para ‘turis’
luar daerah Sydney, dan juga yang datang dari luar negeri,
untuk mengikuti konferensi yang mereka adakan di tahun
1999, Gereja Hillsong harus mengadakan konferensi tersebut
selama dua minggu berturut-turut. Konferensi yang biasanya
hanya berlangsung selama seminggu, ternyata harus diulang
sekali lagi pada minggu berikutnya, karena ‘venue’
yang mereka pergunakan tidak cukup besar untuk dapat
menanggulangi permintaan para pengunjung yang datang dari
seluruh penjuru bumi.
‘Live recording’ album ‘By Your Side’
menghasilkan lagu-lagu pujian dan penyembahan yang tidak
mudah dilupakan oleh para penggemar musik rohani, baik
generasi yang sudah berumur maupun generasi yang masih
muda. ‘My Redeemer Lives’, ‘This is How We Overcome’,
‘You Said’, ‘Dwelling Places’, ‘What the Lord has Done in
Me’, dan tak terlupakan lagu klasik ‘Eagle’s Wings’,
telah mempersatukan kedua generasi-generasi ini tanpa
pamrih lagi.
Menyadari kesuksesan pergantian arah musik yang mereka
sajikan melalui rekaman album tersebut, memberanikan
mereka untuk maju selangkah lagi, mempertaruhkan visi
mereka dengan melakukan suatu proses produksi bersama,
yang belum pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
Terekamlah album kesembilan, ‘For This Cause’ pada
tahun 2000. Album ini merupakan suatu hasil persatuan dua
generasi tim-tim pemusik Hillsong Church, yaitu para
pemusik utama gereja di bawah pimpinan Russell Fragar,
dan para pemusik persekutuan muda-mudi yang berada di
bawah pimpinan seorang Pendeta Muda, Marty Sampson,
yang juga adalah seorang pencipta lagu-lagu rohani
berbakat.
Beberapa tahun sebelumnya para pemusik muda Gereja
Hillsong ini sudah dikenal di dunia musik rohani sebagai
grup yang bernama ‘Youth Alive - NSW’, yang sudah
merekam beberapa album dengan nama tersebut. Tetapi
semenjak tahun 2000 mereka merekam dan mengeluarkan
album-album ‘live’ baru dengan nama yang lain:
‘United’. Album pertama mereka yang berjudul ‘Best
Friend’, terjual dengan laris di pasaran musik rohani,
dan mendapat sambutan yang tidak kalah hangatnya dari
kalangan muda-mudi Kristen di seluruh dunia.
Pemersatuan kedua tim-tim pemusik berbakat ini melahirkan
suatu nada alunan pujian dan penyembahan yang amat segar
dan berbau ‘muda’ sekali, disertai lirik-lirik lagu
yang manis dan orisinil. Semenjak saat itu kesuksesan
Gereja Hillsong di bidang musik praise and worship dapat
dikategorikan sebagai suatu ‘Fenomena’ yang tidak
dapat ditahan-tahan lagi.
Secara berturut-turut Gereja Hillsong menerbitkan
album-album ‘live recording’ berirama segar seperti
itu, yang setiap tahun selalu dipenuhi oleh unsur-unsur
yang baru. Lahirlah lagu-lagu pujian dan penyembahan yang
mengubah gaya dan nada musik ibadah di pelbagai
gereja-gereja dunia, seperti ‘You are Near’ dari
‘For This Cause’ (2000), ‘Worthy is the Lamb’ dari
‘You are My World’ (2001), ‘Made Me Glad’ dari
‘Blessed’ (2002), ‘My Hope’ dan ‘Can’t Stop
Praising’ dari ‘Hope’ (2003).
Belajar dari pengalaman yang harus mereka lalui sebelumnya,
mulai tahun 2001 Hillsong Church memindahkan ‘venue’
mereka ke sebuah stadion besar: ‘Sydney Superdome and
Sport Centre’, agar dapat serentak menampung semua
pengikut-pengikut konferensi yang berjubel-jubel datang.
Diperkirakan bahwa konferensi-konferensi yang mereka
adakan setiap tahun tersebut telah menarik kehadiran lebih
dari 21 000 delegasi-delegasi Kristen dari seluruh
penjuru bumi.
Ternyata bukan hanya pengunjung konferensi yang mereka
adakan setiap tahun saja yang berkembang dengan pesat,
tetapi juga jumlah anggota jemaat Gereja Hillsong di kota
Sydney. Bangunan gereja yang mereka pergunakan, yang sudah
dapat digolongkan sebagai sebuah gedung yang amat besar
dan moderen, tidak dapat mengatasi ‘luncuran’
peningkatan jumlah anggota jemaat yang datang beribadah
setiap minggu di sana.
Awal tahun 2002, sebelum konferensi mereka tahun itu
dimulai, sebuah bangunan baru Gereja Hillsong yang sangat
besar, bagus dan dapat menampung beribu-ribu orang
sekaligus, telah dibuka dan disahkan oleh Perdana Menteri
Australia, PM John Howard.
Suatu hal yang amat langka telah terjadi di dalam sejarah
negara Kangguru ini. Seorang politikus yang paling
berkuasa di Australia mau terlibat dengan pembangunan
dan pembukaan sebuah gedung Gereja yang tidak mempunyai
hubungan sama sekali dengan hal-hal berbau politik?!
(Nantikan lanjutannya!)
|