|
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang tidak adil
tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah
sesat! …, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat
bagian dalam Kerajaan Allah.” (1 Korintus
6:9a,10b)
1. Asal Mula Gosip
Gosip adalah suatu tindakan percakapan yang bisa
berbentuk lisan atau tertulis, dimana
seseorang menyampaikan suatu informasi, tetapi ia tidak
menjadi bagian dari informasi tersebut, dan ia juga
bukan menjadi solusinya. Percakapan itu bisa
berbentuk sebagai suatu perbincangan sambil lalu
saja, atau perbincangan dengan tujuan untuk
mendiskreditkan nama orang(-orang) lain. Gosip sering
mempunyai sepercik dasar kebenaran yang
dipergunakan sebagai awal percakapan oleh paling sedikit
dua orang, tetapi lebih sering perbincangan tersebut
berasal dari daya khayal mereka sendiri. Jadi
bergunjing, terkadang bisa mempunyai sebab-musabab, dan
terkadang tidak.
Gosip adalah hasil produksi dari ketidak-mampuan
seseorang untuk mengendalikan lidah/mulut, ketidak-mampuan
untuk menguasai diri/emosi, kesombongan, rasa unggul diri
(atau kebalikannya: rasa minder), ketidak-sopanan,
kekurang-ajaran, ketidak-sabaran, kemarahan, kekasaran,
keinginan untuk membalas dendam, dan yang paling utama:
kecemburuan/iri hati!
Gunjing sering dilontarkan dari atas mimbar-mimbar gereja
di balik penyampaian firman Tuhan untuk menista dan
melecehkan individu-individu tertentu yang kebetulan
tidak hadir di sana, termasuk juga pencercaan hamba-hamba
Tuhan lainnya yang belum tentu bersalah.
Artikel-artikel tulisan yang mengandung tema-tema
seperti itu dapat juga digolongkan sebagai gosip,
bahkan terkadang dapat dikategorikan sebagai
penggosipan firman Tuhan. Kebiasaan tidak terpuji ini
sering menjadi penyebab kesedihan hati, keputus-asaan dan
perpecahan-perpecahan, yang dapat mengakibatkan kehancuran
persahabatan dan persekutuan kudus di dalam tubuh
Kristus.
Ingatlah, ‘Kasih’ adalah lambang utama Roh
Kudus, seperti yang diutarakan firman Tuhan di dalam 1
Korintus 13:4-7: “Kasih itu sabar; kasih itu
murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak
memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak
melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari
keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan
tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita
karena ketidak adilan, tetapi karena kebenaran. Ia
menutupi segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu,
sabar menanggung segala sesuatu.”
Apakah Roh Kudus akan mendukung sikap-sikap di luar
kasih, meskipun dilakukan oleh salah satu hamba-Nya
dari atas mimbar gereja, atau melalui dunia sibernetika?
Tentu saja tidak! Sikap bergunjing jelas berlawanan
dengan ciri-ciri khas Roh Kudus, yang adalah Kasih
itu sendiri!
“Allah adalah kasih, dan barang siapa tetap
berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan
Allah di dalam dia.” (1 Yohanes 4:16b)
2. Gosip adalah Dosa
Pada umumnya persepsi masyarakat kristiani mengenai
gosip amat berlainan. Ada yang berpendapat seperti
masyarakat pada umumnya, yaitu ‘buah mulut’ adalah
sesuatu hal yang lumrah terjadi di dalam kehidupan
sehari-hari, sesuatu kenyataan yang tidak bisa dihindari.
Mereka tidak mengkategorikan gosip sebagai perbuatan dosa,
atau paling sedikit, tidak sebagai dosa-dosa lain yang
sudah dipandang oleh umum sebagai dosa-dosa yang nyata,
seperti: percabulan, perzinahan, pembunuhan, perampokan
atau pencurian harta-benda sesama, dan lain
sebagainya.
Padahal gosip sebenarnya mempunyai hubungan sangat erat
dengan perintah Allah yang kesembilan kepada umat Israel:
“Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.”
(Keluaran 20:16) Di dalam kitab yang sama Tuhan berfirman:
“Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong;
janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan
menjadi saksi yang tidak benar.” (Keluaran 23:1)
Ayat-ayat tersebut jelas menyetarakan kedudukan
gosip dengan taraf dosa-dosa lain yang sudah dianggap
sebagai dosa besar oleh orang-orang percaya, sebab
bergunjing dapat menyebabkan konsekuensi yang
sering tidak terduga sebelumnya oleh para penggemarnya,
baik yang dilakukan oleh masyarakat umum, maupun yang
dilakukan oleh orang-orang kristiani, entah mereka adalah
jemaat biasa ataupun para pemimpin-pemimpin gereja yang
terpandang.
Perbuatan gosip, beralasan ataupun tidak, adalah
perbuatan dosa!
3. Iblis Selalu Bersembunyi di Balik Gosip
“karena perjuangan kita bukanlah melawan darah
dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah,
melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia
yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”
(Efesus 6:12)
Alkitab mengatakan bahwa Setan adalah ‘pendakwa
saudara-saudara kita’. (Wahyu 12:10) Adalah pekerjaan
Iblis untuk mempersalahkan, mengadu, dan mengkritik
anggota-anggota keluarga Allah. Setiap kali kita melakukan
hal yang sama, kita sedang dipakai oleh dia untuk
melakukan pekerjaannya. Rasul Paulus menulis:
“Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan
damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.”
(Roma 14:19)
Di Efesus 6:10-20, ia juga menjelaskan tentang peperangan
yang sedang berlangsung di alam pikiran kita, yang
merupakan medan pertempuran rohani musuh-musuh
terbesar kita, roh-roh jahat di udara. Mereka terus
bekerja keras untuk menaburkan bibit-bibit racun gosip
yang jahat ke dalamnya, dengan memberikan
informasi-informasi yang keliru kepada kita,
mempergunakan segala macam tipu daya untuk melemahkan,
bahkan menghancurkan iman kita. Ia selalu bersembunyi di
balik setiap gosip-gosip jahat yang tersebar di
mana-mana di antara orang-orang kristiani, apapun
motivasinya.
Janganlah menambahkan bahan-bahan tidak bermutu di
medan pertempuran rohani kita yang dapat dipergunakan oleh
Iblis sebagai alat, untuk menyuapi dan
mengelabui pikiran kita, yang pada akhirnya hanya akan
merugikan pertumbuhan iman kita sendiri. Bahkan yang dapat
mengakibatkan timbulnya perpecahan-perpecahan di antara
persekutuan-persekutuan kudus gereja Tuhan, disebabkan
oleh karena keterlibatan kita di dalamnya. Sebab memang
itulah yang menjadi tujuan utama Iblis!
Ingatlah, orang-orang Kristen yang lain, sebagaimana
pun besar perbedaan pendapat kita dengan mereka,
bukanlah musuh-musuh kita yang sebenarnya. Setiap waktu
yang kita pergunakan untuk membanding-bandingkan dan
mengkritik orang-orang percaya lainnya, adalah waktu
yang seharusnya kita pergunakan untuk membangun tubuh
Kristus.
Rasul Paulus menasehati jemaat di Efesus untuk mengenakan
seluruh perlengkapan senjata Allah, yaitu firman
Tuhan, agar mereka mendapatkan kekuatan untuk bertahan
melawan tipu muslihat Iblis.
Nasihat yang juga sangat berguna bagi semua umat Tuhan
di akhir zaman ini. Sebab memang hanya firman-Nya saja
yang harus menjadi dasar terpenting dalam kehidupan kita
sehari-hari untuk dapat menelanjangi tipu daya
Iblis di balik semua penggosipan-penggosipan, baik tentang
umat Tuhan yang lain, maupun tentang kebenaran firman
Tuhan.
4. Sikap Menghadapi Gosip
Di dalam buku kristiani terlaris di dunia saat ini
‘Purpose Driven Life’, Ps Rick Warren menulis,
bahwa kita harus selalu bersikap tegas di dalam
menanggapi edaran-edaran gosip. Jika seseorang
mulai menceriterakan kejelekan atau ‘affairs’
orang-orang lain kepada kita, punyailah ketegasan diri
untuk segera memotong percakapannya dengan berkata:
“Maafkanlah! Saya tidak mempunyai hasrat untuk
mendengarkannya lebih lanjut. Apakah Anda sudah berbicara
secara langsung dengan orang yang bersangkutan?”
PERCAYALAH, mereka yang mau bergunjing DENGAN kita,
pasti akan bergunjing MENGENAI kita! Mereka tidak
akan pernah bisa dipercaya!
Nasihat bijaksana di Kitab Amsal mengatakan: “Orang
yang berbuat jahat memperhatikan bibir jahat, seorang
pendusta memberi telinga kepada lidah yang mencelakakan.”
(Amsal 17:4)
Tuhan sering memperingati kita untuk berhenti mengkritik,
membanding-bandingkan, atau menghakimi sesama kita. Surat
Yakobus 5:9 mengatakan: “Saudara-saudara, janganlah
kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya
kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di
ambang pintu.” Jika kita mengkritik orang-orang
percaya lainnya yang sedang melakukan suatu pekerjaan
untuk Kerajaan-Nya, sesuai dengan iman, tugas dan
beban dalam kehidupan mereka, maka kita telah
ikut mencampuri urusan-urusan Tuhan.
Pandangan/tafsiran mengenai isi firman Tuhan sesuai dengan
tradisi atau doktrin denominasi-denominasi tertentu
janganlah dipergunakan sebagai senjata untuk menghakimi
orang-orang lain yang mempunyai tafsiran yang berbeda
dengan kita. Sadarilah selalu, tafsiran-tafsiran
manusia biasa bukanlah suatu jaminan yang pasti bahwa itu
adalah wahyu Tuhan yang sebenarnya! Kita wajib
menerima kenyataan, bahwa kekristenan bukanlah
nama sebuah denominasi, melainkan adalah lambang
suatu hubungan pribadi yang intim (perseorangan)
antara umat yang sudah diselamatkan, dengan Allah Bapa,
Pencipta yang Mahakudus, melalui pengorbanan Tuhan
Yesus Kristus di Kayu Salib.
Karena itu, marilah kita semua belajar untuk tidak
ikut mencampuri urusan Tuhan dengan saudara-saudara seiman
kita lainnya, dengan tidak menggosip, mengkritik atau
menghakimi mereka. Biarlah setiap orang memikul tanggung
jawab mereka masing-masing di hadapan Hakim yang adil,
yang sudah berdiri di ambang pintu!
Jika kita menerima artikel-artikel yang berbau gosip, yang
menyangkut nama-nama orang, meskipun dihiasi oleh
banyak ayat-ayat firman Tuhan di dalamnya, siapa pun juga
yang menjadi penulisnya, ambillah keputusan untuk tidak
mem-forward-kannya kepada orang-orang lain.
Biasakanlah diri Anda untuk menolak setiap tulisan
atau artikel-artikel, yang tidak memuliakan nama Tuhan,
jika Anda melihat bahwa isinya mempergunjingkan
firman-Nya, atau menghakimi pendapat dan pengajaran
denominasi-denominasi lain, dengan menjelek-jelekkan nama
pemimpin-pemimpin mereka. Apalagi jika mengandung
fitnahan-fitnahan tentang kehidupan pribadi mereka!
Artikel-artikel seperti itu, yang belum tentu terjamin
keotentikannya, bukan hanya dapat meracuni pikiran,
hati dan iman kita saja, tetapi juga, tanpa
kita sadari sendiri, dapat membuahkan perbuatan-perbuatan
dosa. Pada akhirnya, sebagai konsekuensi yang biasanya
selalu terjadi pada perbuatan-perbuatan gosip, adalah
efek tergulingnya domino yang akan melanda
kehidupan banyak orang-orang lain yang tidak bersalah di
sekitar kita.
5. Jangan Mau Terlibat Dalam Gosip
Kita semua tentu mempunyai pendapat yang sama, bahwa
menyebarkan kabar angin adalah suatu tindakan yang
tidak etis. Tetapi di samping itu, kita juga tidak
seharusnya bersedia menerima atau mendengarkan
gosip, jika kita berhasrat untuk melindungi kesejahteraan
gereja Tuhan.
Mendengarkan gosip mempunyai arti yang sama seperti
menerima, atau mengesahkan barang-barang curian/rampasan
orang lain. Secara tidak langsung kita sudah menjadi
tukang tadah bagi barang-barang yang tidak halal.
Kita harus menyadari, bahwa melakukan hal tersebut telah
membuat kita ikut bersalah, sama seperti seorang
pencuri atau perampok yang telah melakukan
suatu tindakan kriminil, dan kemudian memberikan
barang-barang hasil perbuatannya tersebut kepada kita.
Kesalahan yang tidak berbeda, juga berlaku bagi mereka
yang sudah menjadi calo-calo barang-barang curian
tersebut!
Jika kita mau mendengarkan, menerima atau meneruskan
gosip-gosip dari orang-orang lain, Tuhan berkata, bahwa
secara tidak langsung, kita sudah termasuk di dalam
kelompok para pengacau-pengacau (troublemakers)
yang menyebabkan terjadinya kerusuhan-kerusuhan di
dalam persekutuan tubuh-Nya.
Raja Salomo menulis: “Siapa mengumpat, membuka rahasia,
tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.” (Amsal
11:13)
6. Gospel versus Gossip
…, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar,
seorangpun tidak.” (Roma 3:10)
Tentu saja tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang
dapat membuktikan kepada orang lain, bahwa mereka tidak
pernah terlibat di dalam dosa bergunjing. SETIAP ORANG di
masa kehidupannya yang singkat, baik orang-orang penting,
orang-orang biasa, orang-orang yang sudah tua/dewasa,
maupun anak-anak muda/kecil, pasti pernah melakukannya,
secara sadar ataupun tidak.
Pada saat kita menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai
Juruselamat pribadi, kita sudah lahir baru, dan
semenjak saat itu kita menjadi bagian di dalam
tubuh Kristus. Sebagai anggota gereja Tuhan, tidak
seharusnya kita membiarkan kebiasaan-kebiasaan lama yang
buruk mengikuti kita. Semua perbuatan-perbuatan dosa
harus kita tinggalkan, meskipun tampak sulit sekali
untuk melaksanakannya. Mengandalkan kekuatan sendiri,
tidak akan menjamin tujuan kita untuk menggagal kan
serangan-serangan Iblis. Kita harus selalu berusaha
melakukannya dengan pertolongan kekuatan yang
berasal dari Roh Kudus saja. Ingatlah, ‘Ia yang
memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.’
(1 Tesalonika 5:24)
Jika godaan untuk bergosip sudah mulai mengganggu
dan memikat pikiran kita, pergunakanlah lis di bawah
ini untuk mengecek kembali etika tindakan yang akan
kita lakukan:
a. Apakah kita mempunyai hak untuk melakukannya?
b. Siapakah yang memberikan ijin kepada kita untuk
berbagi berita mengenai (kehidupan) orang lain?
c. Apakah tindakan kita akan memuliakan nama Tuhan
Yesus Kristus?
d. Siapakah sebenarnya yang paling dirugikan oleh
tindakan yang akan kita lakukan?
e. Apakah keuntungan yang diperoleh, baik untuk kita,
mau pun orang-orang lain, disebabkan oleh tindakan yang
akan kita lakukan?
f. Apakah tindakan kita dapat membangun atau menguatkan
iman orang-orang percaya lainnya?
g. Kehidupan siapakah yang dapat kita selamatkan
melalui tindakan yang akan kita lakukan?
dan YANG PALING PENTING,
h. Apakah Tuhan Yesus Kristus mau melakukannya?
Jika ada salah satu poin saja yang tertera di dalam
lis di atas yang dapat memperingati atau menegur hati
nurani Saudara, putuskanlah dengan tegas, untuk segera
berhenti memikirkan tindakan yang akan Anda lakukan
tersebut. Usirlah Iblis dan antek-anteknya!
Hancurkanlah semua kehendak mereka dengan kuasa yang sudah
Tuhan berikan kepada kita, umat pilihan-Nya.
Pergunakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, yaitu
firman Tuhan!
Jika godaan untuk bergosip sudah mulai mengganggu dan
memikat pikiran kita lagi, ingatlah akan perintah
terakhir yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada
perempuan yang berzinah, setelah semua pendakwa yang
mengelilingi dan hendak merajamnya, pergi meninggalkan.
Ia berkata kepadanya: “Akupun tidak menghukum engkau.
Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari
sekarang.” (Yohanes 8:11)
Perintah Tuhan Yesus tersebut juga berlaku sampai
sekarang untuk semua orang yang sudah bertobat, yang
berjanji untuk selalu mengikuti langkah-langkah-Nya, dan
bersedia meninggalkan segala perbuatan-perbuatan dosa yang
pernah dilakukan.
Karena itu, … bukankah jauh lebih menguntungkan bagi
tubuh Kristus, jika kita menjadi pembawa ‘Kabar
Baik’ (GOSPEL), daripada menjadi pembawa
‘Kabar Angin’ (GOSIP).
Semoga memberkati!
Syalom,
John Adisubrata
john.m.a@optusnet.com.au
September 2004
(Nantikan artikel lainnya!)
|