|
“Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah!
Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia
mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau
menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum,
tetapi hakim nya.” (Yakobus 4:11)
Seorang yang mengaku dirinya sebagai hamba Tuhan,
tanpa merasa malu, pernah berkata kepada saya beberapa
tahun yang lalu mengenai seorang Gembala Sidang sebuah
gereja Indonesia di Australia yang pernah saya dengar
khotbahnya. Komentarnya penuh dengan kedengkian: “Oh …,
Bapak Gembala (…?) itu kalau khotbah mah ‘ngibulnya
banyak sekali.”
Suatu pernyataan berbau gosip yang amat mengejutkan, dari
seorang yang seha rusnya mengetahui akibat perbuatan
semacam itu, jika ditinjau dari sisi firman Tuhan yang
tentu sudah dikuasai olehnya. Ia telah menghakimi
seorang hamba-Nya yang lain, dengan menaburkan bibit-bibit
racun yang jahat ke dalam benak pikiran, atau yang lebih
konyol lagi, … ke dalam hati orang!
Di akhir zaman ini Tuhan menghendaki kekudusan
gereja-Nya, yaitu tubuh Kristus yang tidak bercela
menjelang saat kedatangan-Nya untuk kedua kali. Akibatnya
tentu sangat mengerikan, jika kita mengingat akan
ayat-ayat firman Tuhan yang menyatakan sikap tegas-Nya
terhadap orang-orang semacam itu.
Mazmur Daud mengatakan: “Orang yang sembunyi-sembunyi
mengumpat teman nya, dia akan kubinasakan. Orang
yang sombong dan tinggi hati, aku tidak suka.” (Mazmur
101:5)
Seandainya saja, tuduhannya tersebut ternyata benar,
siapakah yang telah memberi hak kepadanya untuk berbagi
berita mengenai detil seorang Gembala Sidang kepada orang
lain? Apalagi kepada seorang yang juga sudah mengenal
individu yang digosip olehnya? Apakah Gembala Sidang yang
dituduh sudah memberikan ijin kepadanya? Pertanyaan yang
segera timbul di dalam hati saya pada waktu itu adalah
motivasi, serta tujuan pernyataannya tersebut. Apakah
gunanya?
Lagi pula, siapakah yang sebenarnya tampak lebih buruk di
dalam kasus ini? Yang DIGOSIP, atau yang MENGGOSIP? Tentu
Anda semua amat sependapat dengan saya di dalam memilih
salah satu dari dua kemungkinan ini!
Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Roma: “Siapakah
kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain?
Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan
tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena
Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.” (Roma 14:4)
Biasanya luka-luka terparah yang diderita oleh seekor
domba Allah, bukanlah disebabkan oleh gigitan
serigala-serigala liar yang berkeliaran di luar, melainkan
karena gigitan domba-domba lain yang ada di dalam kandang
yang sama. Sungguh kenyataan yang amat mengenaskan!
Rasul Paulus memperingati kita akan ‘kanibal-kanibal
Kristen’ yang mempunyai kebiasaan untuk saling
menerkam, dan yang akhirnya justru sering mengakibatkan
kehancuran persekutuan umat Tuhan.
Di dalam Galatia 5:15, Rasul Paulus menulis: “Tetapi
jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah,
supaya jangan kamu saling membinasakan.” Suatu
nasihat yang amat berguna, terutama bagi mereka yang
selalu haus untuk menyak sikan kehancuran umat, atau hamba
Tuhan yang lain, yang diberkati oleh-Nya.
Cara terbaik untuk mengatasi dan mengakhiri
persoalan-persoalan yang disebabkan oleh para
penggemar-penggemar gosip semacam itu adalah untuk segera
menegur dan menasehati dengan kasih, agar mereka
mau berhenti melakukan kejahatan-kejahatan tersebut. Raja
Salomo menulis: “Bila kayu habis, padamlah api; bila
pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran.” (Amsal
26:20)
Dan Alkitab juga menganjurkan kepada kita, jikalau teguran
dan nasihat sudah tidak ada gunanya lagi, untuk segera
menghindari pengacau-pengacau tersebut.
“Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu
janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut.”
(Amsal 20:19)
(Nantikan artikel lanjutannya!)
|