|
“… dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu,
demikian pula segala kejahatan.” (Efesus 4:31b)
Yang paling mengerikan adalah kebiasaan yang terjadi di
akhir zaman ini, dimana gosip bukanlah disebarkan secara
khusuk atau pribadi lagi. Seperti kebiasaan umum yang
dapat dibaca di dalam majalah-majalah (bahkan koran-koran)
dunia sekuler yang populer, mengenai berita-berita isapan
jempol sekitar orang-orang yang sudah menjadi sorotan
masyarakat, gunjing seakan-akan juga sudah sah untuk
dilakukan dari atas mimbar-mimbar gereja dengan
berkedokkan firman untuk mencerca dan melecehkan
individu-individu tertentu yang kebetulan tidak hadir di
sana.
Hal-hal seperti itu bukan hanya terjadi di kalangan
gereja-gereja lokal kecil yang mandiri saja, tetapi juga
sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh
gereja-gereja besar yang termasyhur bertaraf internasional.
Dengan mempergunakan nama Tuhan sebagai perisainya,
jemaat yang tidak berdaya membela diri, orang-orang yang
dikenal masyarakat, bahkan hamba-hamba Tuhan lainnya yang
belum tentu bersalah, diumpat habis-habisan dari
atas mimbar dengan tuduhan-tuduhan kejam, sambil
membeberkan kejelekan atau affairs yang (diduga?)
telah mereka kerjakan.
Kemungkinan hal-hal seperti itu dapat terjadi, disebabkan
oleh karena akhir-akhir ini di dalam presentasi-presentasi
khotbah, sering kali terjadi ketidak-seimbangan prosentasi
antara ayat-ayat Alkitab (isi kebenaran
firman Tuhan) dengan pengalaman-pengalaman pribadi
yang diuraikan di dalamnya.
Pokok-pokok pengajaran yang berfokus pada firman Tuhan di
dalam khotbah denominasi-denominasi tertentu menjadi
sangat berkurang, sedangkan khotbah yang mengandung
tekanan pada pengalaman-pengalaman pribadi menjadi
kebiasaan yang sering dibagikan di dalam ibadah-ibadah
gereja. Ayat-ayat Alkitab hanya dipergunakan sebagai
penghias untuk meyakinkan para jemaat, bahwa presentasi
yang sedang mereka dengarkan adalah sebuah khotbah
kristiani.
Khotbah yang berkisar pada pengalaman-pengalaman hidup
yang dialami secara pribadi oleh pembawanya, memudahkan
terbukanya celah, yang bisa tanpa disadari oleh mereka
sendiri, cenderung untuk membicarakan umat-umat Tuhan
tertentu, dan juga membanding-bandingkan, mengkritik,
bahkan melecehkan hamba-hamba Tuhan yang lain.
Kebiasaan lain yang lebih menggelikan lagi, adalah
teguran-teguran keras dari atas mimbar bertamengkan
firman guna mengecam orang-orang tertentu tentang kabar
angin yang sedang berhembus di dalam gereja, di antara
jemaat yang ada. Biasanya firman semacam itu akan berakhir
tidak jauh berbeda dengan gosip yang sedang dibahas
olehnya. Sebab tanpa disadari oleh si penegur sendiri,
secara tidak langsung, ia juga sedang menciptakan
suatu tema gunjing yang baru dari atas mimbar, berdasarkan
gosip bahasannya, yang jelas akan tersebar jauh lebih luas
lagi, tidak lama sesudah ibadah itu berakhir.
Karena itu pentingnya keseimbangan prosentasi yang sehat
di dalam khotbah tidak boleh dilalaikan. Firman Tuhan
harus berfokus hanya pada kebenaran isi Alkitab, dan
berakar kuat di dalamnya.
Tentu saja penerapan-penerapannya di dalam
kehidupan masyarakat kristiani sehari-hari juga sangat
penting, untuk memudahkan pengertian dalam menghayati
perintah Tuhan yang sebenarnya, sebab firman-Nya adalah
firman yang hidup sepanjang masa. Tetapi penerapan firman
Tuhan pada kehidupan sehari-hari masa kini bukanlah
berarti memberikan kepada kita lisensi, serta
kebebasan untuk menyebutkan nama-nama orang lain di dalam
khotbah, membanding-bandingkan mereka dengan kita, bahkan
melecehkan mereka dengan tujuan melucu di atas
mimbar untuk mendapatkan sambutan ria penuh tawa dari
jemaat.
Kita harus berhati-hati, bahwa bukan
penerapan-penerapannya yang ditekankan di dalam
khotbah, oleh karena pengalaman-pengalaman pribadi kita,
tetapi yang harus mutlak menjadi landasan khotbah adalah
firman yang keluar dari mulut Allah!
Kalau sebelumnya telah tercantum di atas, bahwa Tuhan
menista dan membenci orang-orang yang gemar bergunjing-ria
atas nama mereka sendiri, apalagi kalau mereka
menggosipkan umat-Nya yang lain dengan mengatas-namakan
firman-Nya!
Pandangan/tafsiran mengenai isi Alkitab sesuai dengan
tradisi atau doktrin juga sering dipergunakan sebagai
senjata untuk menghakimi denominasi-denominasi tertentu
lainnya yang mempunyai tafsiran yang berbeda.
Ingatlah, tafsiran-tafsiran manusia biasa bukanlah suatu
jaminan yang pasti bahwa itu adalah wahyu Tuhan yang
sebenarnya! Mencari kesalahan, dan sekaligus
mengecam mereka dari atas mimbar dan di depan umum,
terutama terhadap hamba-hamba Tuhan yang lain, sebagai …
hamba-hamba Tuhan yang palsu atau keliru
adalah suatu tindakan tak terpuji yang mempermalukan Tuhan
dan umat kristiani lainnya yang tidak bersalah.
Ingatlah, gosip dapat meluncur keluar dari arah
bidikan dengan mudah sekali seperti lidah api yang
menjalar cepat, melanda dan menghanguskan yang sebenarnya
bukan menjadi sasaran utamanya. Pada akhirnya yang
menerima kabar angin tersebut, umumnya adalah orang-orang
yang berada di luar tubuh Kristus! Apakah reaksi
yang akan mereka berikan, jika menyaksikan hal-hal seperti
itu terjadi dikalangan orang-orang yang seharusnya menjadi
teladan untuk memenangkan jiwa mereka bagi Kerajaan Tuhan?
Apakah perbuatan-perbuatan itu tidak menjatuhkan kebesaran
nama Tuhan, dan juga sekaligus mempermalukan orang-orang
Kristen pada umumnya?
“…, tetapi mulut mereka mengeluarkan
perkataan-perkataan yang bukan-bukan …” (Yudas 1:16)
(Nantikan artikel lanjutannya!)
|