» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» KHOTBAH POPULER                                                                          Pdt. Bigman Sirait


JANGAN DIPERALAT HARTA BERSAMA
Oleh : Pdt. Bigman Sirait
 


HARTA adalah sesuatu benda yang tidak pernah melakukan kesalahan. Memiliki harta juga bukan suatu kesalahan. Yang salah adalah jika harta itu memperalat kita. Makanya kita perlu memikirkan apakah kita memperalat harta.

Di abad pertengahan pernah ada ordo-ordo yang sangat unik. Mereka yakin bahwa di dalam kesulitan dan kemiskinanlah kebenaran itu ada dan nyata. Berdasarkan keyakinan itu, banyak dari mereka—yang tadinya kaya-raya—menjual seluruh harta bendanya, sampai akhirnya tidak memiliki apa-apa lagi. Lalu hasil penjualan harta benda yang jumlahnya sangat banyak itu diberikan kepada orang-orang miskin. Mereka sendiri pun akhirnya hidup sebagai orang miskin. Mereka seperti anti terhadap harta duniawi.

Selain itu ada juga di antara mereka yang hidup secara askese (menyiksa diri), mengubur diri ke dalam tanah sebatas leher. Ada juga yang sengaja tidur di atas pohon selama berbulan-bulan sampai kulitnya menempel dengan kulit pohon itu. Saking lamanya kulitnya menyatu dengan pohon, belatung pun mulai muncul. Semakin banyak belatung di sana, semakin hebat dan ajaiblah dia menurut anggapannya.

Konsep-konsep semacam ini pernah hidup di abad pertengahan. Tetapi kita tidak perlu meniru mereka. Kita tidak perlu ekstrim kiri atau ekstrim kanan. Tidak usah bercita-cita jadi orang superkaya misalnya untuk bisa melayani. Sebaliknya kita tidak perlu hidup miskin dengan maksud membuktikan kalau Tuhan hidup di dalam diri kita. Apa yang Tuhan percayakan kepada kita, silakan lakukan. Sebaliknya apa yang tidak dipercayakan oleh-Nya, jangan lakukan. Tetapi dengan kecerdikan yang telah dititipkan oleh Tuhan kepada kita, sadarlah kita bahwa itu semua bukan semata untuk menghidupi diri kita sendiri, namun kecerdikan yang ada pada kita harus kita amalkan sebagai saluran berkat bagi orang lain.

Dalam Amsal 19: 17 dikatakan, “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, (maka dia) memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu.” Memiutangi Tuhan, adalah istilah yang sangat menarik. Sebab bagaimana mungkin manusia membuat Tuhan berhutang kepada manusia? Padahal intinya adalah Tuhan akan menyatakan cinta kasih kepada orang yang menyalurkan cinta kasih itu. Jadi dengan demikian, memiutangi dalam konteks ini bukan membuat Tuhan mempunyai kewajiban membayar utang kepada manusia. Istilah itu hanya untuk melukiskan bahwa Tuhan akan mengasihi kita dan membimbing kita sebagai orang yang mengasihi Dia.
Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Artinya, orang beriman pasti berbuat sesuatu yang berguna bagi sesama dan menyenangkan hati Tuhan. Jika punya uang atau harta, itu akan dipakai untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Dan itu dilakukan sebagai luapan rasa syukur yang Tuhan taruh di dalam batinnya. Maka orang yang sadar bahwa dosanya sudah diampuni, akan berbuat banyak, memberi banyak, untuk kemuliaan Tuhan.

Harus cerdik
Maka orang yang diampuni oleh Tuhan, mestinya memiliki kesadaran yang besar di dalam dirinya untuk gemar berbuat baik dalam hidupnya. Hidupnya pun mengalir sebagaimana Tuhan juga memberkati dia. Tuhan memberkati dia bukan karena dia memberi. Tetapi Tuhan memberkati dia karena dia hidup dalam kebenaran, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Kita diberkati Tuhan bukan lantaran kita memberi. Sebab banyak orang yang memberi namun motivasinya bermacam-macam. Ingat, Tuhan tidak bisa dibodoh-bodohi. Dia tahu apa motivasi seseorang sewaktu memberi persembahan. Tetapi jika kita memberi dengan sungguh-sungguh dan rela, maka berkat yang akan kita dapatkan dari Tuhan sungguh melimpah. Tuhan akan memberikan segala apa yang menjadi kebutuhan hidup kita.
Setiap orang percaya mestinya juga cerdik. Orang cerdik mampu memperalat peluang, bukan diperalat oleh peluang itu. Karena itu pintarlah memanfaatkan setiap peluang atau kesempatan, tetapi dengan cara yang jujur. Kemampuan memanfaatkan peluang secara baik dan positif inilah yang membedakan anak-anak terang dengan anak-anak yang bukan terang. Jangan sampai hidup sebagai orang Kristen yang bodoh. Orang Kristen yang bodoh adalah orang yang diperalat oleh uangnya. Jika kita suka membagi-bagi uang kepada orang lain dengan maksud supaya kita dikenal dan dihormati, itu suatu tindakan bodoh, karena kita telah diperalat uang kita. Oleh karena itu, kita yang mengaku percaya kepada Tuhan, seharusnya mampu mengaktualisasikan iman itu dalam kehidupan secara tepat. Jangan merasa berbuat baik terhadap sesama manusia karena suka membagi-bagikan uang.
Kita sebagai pekerja di kantor pun, harus bijak supaya mampu menciptakan masa depan yang lebih baik sesuai keinginan Tuhan. Salah satu caranya tentu saja dengan menjalin pergaulan yang harmonis dengan siapa saja, sesuai etika kekristenan. Gaya hidup yang penuh etika kekristenan akan membuat setiap orang merasa senang dan kagum terhadap kita. Selanjutnya, interaksi yang sangat bagus ini akan bisa pula mengantarkan kita menjadi pribadi yang dipercaya oleh atasan sehingga memberikan kedudukan terhormat. Dan sikap hidup sebagaimana seorang Kristen ini tetap kita bawakan dalam berinteraksi dengan kehidupan di mana pun kita berada. Akhirnya semua orang akan tahu siapa kita.

                                                              (Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)
 

| A R S I P | BIODATA |

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi