|
HARTA adalah sesuatu benda yang tidak pernah melakukan
kesalahan. Memiliki harta juga bukan suatu kesalahan. Yang
salah adalah jika harta itu memperalat kita. Makanya kita
perlu memikirkan apakah kita memperalat harta.
Di abad pertengahan pernah ada ordo-ordo yang sangat unik.
Mereka yakin bahwa di dalam kesulitan dan kemiskinanlah
kebenaran itu ada dan nyata. Berdasarkan keyakinan itu,
banyak dari mereka—yang tadinya kaya-raya—menjual seluruh
harta bendanya, sampai akhirnya tidak memiliki apa-apa lagi.
Lalu hasil penjualan harta benda yang jumlahnya sangat
banyak itu diberikan kepada orang-orang miskin. Mereka
sendiri pun akhirnya hidup sebagai orang miskin. Mereka
seperti anti terhadap harta duniawi.
Selain itu ada juga di antara mereka yang hidup secara
askese (menyiksa diri), mengubur diri ke dalam tanah sebatas
leher. Ada juga yang sengaja tidur di atas pohon selama
berbulan-bulan sampai kulitnya menempel dengan kulit pohon
itu. Saking lamanya kulitnya menyatu dengan pohon, belatung
pun mulai muncul. Semakin banyak belatung di sana, semakin
hebat dan ajaiblah dia menurut anggapannya.
Konsep-konsep semacam ini pernah hidup di abad pertengahan.
Tetapi kita tidak perlu meniru mereka. Kita tidak perlu
ekstrim kiri atau ekstrim kanan. Tidak usah bercita-cita
jadi orang superkaya misalnya untuk bisa melayani.
Sebaliknya kita tidak perlu hidup miskin dengan maksud
membuktikan kalau Tuhan hidup di dalam diri kita. Apa yang
Tuhan percayakan kepada kita, silakan lakukan. Sebaliknya
apa yang tidak dipercayakan oleh-Nya, jangan lakukan. Tetapi
dengan kecerdikan yang telah dititipkan oleh Tuhan kepada
kita, sadarlah kita bahwa itu semua bukan semata untuk
menghidupi diri kita sendiri, namun kecerdikan yang ada pada
kita harus kita amalkan sebagai saluran berkat bagi orang
lain.
Dalam Amsal 19: 17 dikatakan, “Siapa menaruh belas kasihan
kepada orang yang lemah, (maka dia) memiutangi Tuhan, yang
akan membalas perbuatannya itu.” Memiutangi Tuhan, adalah
istilah yang sangat menarik. Sebab bagaimana mungkin manusia
membuat Tuhan berhutang kepada manusia? Padahal intinya
adalah Tuhan akan menyatakan cinta kasih kepada orang yang
menyalurkan cinta kasih itu. Jadi dengan demikian,
memiutangi dalam konteks ini bukan membuat Tuhan mempunyai
kewajiban membayar utang kepada manusia. Istilah itu hanya
untuk melukiskan bahwa Tuhan akan mengasihi kita dan
membimbing kita sebagai orang yang mengasihi Dia.
Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati.
Artinya, orang beriman pasti berbuat sesuatu yang berguna
bagi sesama dan menyenangkan hati Tuhan. Jika punya uang
atau harta, itu akan dipakai untuk menyatakan kemuliaan
Tuhan. Dan itu dilakukan sebagai luapan rasa syukur yang
Tuhan taruh di dalam batinnya. Maka orang yang sadar bahwa
dosanya sudah diampuni, akan berbuat banyak, memberi banyak,
untuk kemuliaan Tuhan.
Harus cerdik
Maka orang yang diampuni oleh Tuhan, mestinya memiliki
kesadaran yang besar di dalam dirinya untuk gemar berbuat
baik dalam hidupnya. Hidupnya pun mengalir sebagaimana Tuhan
juga memberkati dia. Tuhan memberkati dia bukan karena dia
memberi. Tetapi Tuhan memberkati dia karena dia hidup dalam
kebenaran, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Kita
diberkati Tuhan bukan lantaran kita memberi. Sebab banyak
orang yang memberi namun motivasinya bermacam-macam. Ingat,
Tuhan tidak bisa dibodoh-bodohi. Dia tahu apa motivasi
seseorang sewaktu memberi persembahan. Tetapi jika kita
memberi dengan sungguh-sungguh dan rela, maka berkat yang
akan kita dapatkan dari Tuhan sungguh melimpah. Tuhan akan
memberikan segala apa yang menjadi kebutuhan hidup kita.
Setiap orang percaya mestinya juga cerdik. Orang cerdik
mampu memperalat peluang, bukan diperalat oleh peluang itu.
Karena itu pintarlah memanfaatkan setiap peluang atau
kesempatan, tetapi dengan cara yang jujur. Kemampuan
memanfaatkan peluang secara baik dan positif inilah yang
membedakan anak-anak terang dengan anak-anak yang bukan
terang. Jangan sampai hidup sebagai orang Kristen yang bodoh.
Orang Kristen yang bodoh adalah orang yang diperalat oleh
uangnya. Jika kita suka membagi-bagi uang kepada orang lain
dengan maksud supaya kita dikenal dan dihormati, itu suatu
tindakan bodoh, karena kita telah diperalat uang kita. Oleh
karena itu, kita yang mengaku percaya kepada Tuhan,
seharusnya mampu mengaktualisasikan iman itu dalam kehidupan
secara tepat. Jangan merasa berbuat baik terhadap sesama
manusia karena suka membagi-bagikan uang.
Kita sebagai pekerja di kantor pun, harus bijak supaya mampu
menciptakan masa depan yang lebih baik sesuai keinginan
Tuhan. Salah satu caranya tentu saja dengan menjalin
pergaulan yang harmonis dengan siapa saja, sesuai etika
kekristenan. Gaya hidup yang penuh etika kekristenan akan
membuat setiap orang merasa senang dan kagum terhadap kita.
Selanjutnya, interaksi yang sangat bagus ini akan bisa pula
mengantarkan kita menjadi pribadi yang dipercaya oleh atasan
sehingga memberikan kedudukan terhormat. Dan sikap hidup
sebagaimana seorang Kristen ini tetap kita bawakan dalam
berinteraksi dengan kehidupan di mana pun kita berada.
Akhirnya semua orang akan tahu siapa kita.
(Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)
|