|
GELOMBANG perjalanan hidup manusia dalam usahanya memahami
Allah sudah terjadi sejak dulu. Sudah barang tentu usaha
untuk memahami Allah akan mengalami kegagalan.
Pada tahap pra-modern, mistik sangat berkembang sehingga
semua orang cenderung bertuhan. Hal itu antara lain karena
realita kehidupan pada waktu itu semua orang sangat
bergantung pada alam semesta. Dengan sendirinya pula,
kondisi keberagamaan yang sangat kuat pengaruhnya,
mendominasi kehidupan banyak manusia. Kemudian pada
gelombang kedua yaitu modern, di mana terjadi penemuan
mesin-mesin, cakrawala pikir manusia pun berkembang luar
biasa. Struktur pemikiran ini menimbulkan suatu kepongahan
dalam diri (pikiran) manusia untuk menjangkau Allah.
Terjadilah era yang disebut rasional.
Kemudian di era yang berikutnya lagi, berkembang pemikiran
posmo dan isme, di mana yang menjadi titik utama adalah
perasaan, bukan lagi pada kemampuan berpikir. Dalam
pemikiran ini, kemampuan merasa (feeling) menjadi
segala-galanya. Maka peranan agama kembali bergeser. Yang
paling utama adalah yang ada di dalam, yaitu perasaan.
Namun jangan pernah menganggap kalau kekristenan “mati”di
dalam mistik, rasio atau perasaan. Sebab kekristenan justru
hidup. Namun yang membuat repot atau menjadi masalah adalah
kekristenan itu di dalam tahap-tahap-nya juga dipengaruhi
oleh paham mistis, rasionalisme, maupun paham yang sangat
mengagung-agungkan perasaan. Nah, kehidupan-kehidupan
semacam ini mewarnai atau lebih tepat menodai ke-kristenan.
Tetapi jangan salah mengerti, hal ini bisa terjadi bukan
karena Alkitab kurang kuat, atau kebenarannya kurang tepat,
tetapi karena ketidakmampuan kita sendiri menjawab realita
yang berkembang pada jaman kita masing-masing.
Kebenaran yang hakiki itu adalah Alkitab. Tetapi tidak
sedikit kekristenan membuka lubang, sehingga ajaran-ajaran
yang salah itu datang, masuk dan memengaruhi kekristenan.
Tugas utama kita adalah memengaruhi yang lain-lainnya itu
supaya sejalan dengan nilai-nilai kekristenan, karena kita
disebut sebagai garam dan terang dunia. Garam mengasinkan
dan memberi keawetan pada apa yang dijangkaunya, dan terang
mene-rangi segala celah yang mampu dijangkaunya. Begitulah
seharusnya orang Kristen.
Yohanes 4: 20-24 berbicara tentang seorang perempuan Samaria
yang berdialog dengan Yesus tentang nenek moyangnya yang
menyembah di atas gunung. Dan Yesus mengoreksi pendapat
perempuan itu dengan mengatakan bahwa Allah itu roh, maka
barang siapa menyembahnya harus dalam roh dan kebenaran.
Kalimat yang diucapkan Yesus kepada perempuan Samaria itu
ternyata menggema di sepanjang jaman: Bahwa seharusnyalah
kita menyembah Bapa di dalam roh dan kebenaran. Karena apa?
Allah itu roh, dan barang siapa menyembah Dia, harus
menyembah-Nya di dalam roh dan kebenaran.
Bersifat mutlak
Kebenaran bersifat mutlak, dan tidak memerlukan pengakuan
supaya dia menjadi benar. Kita boleh bilang, bahwa benar itu
benar. Tetapi benar itu tidak menjadi benar karena kita
mengatakannya benar. Sebaliknya, sekalipun kita tidak
mengatakan bahwa benar itu benar, dia tetap benar. Karena
kebenaran itu tidak memerlukan sebuah pengakuan supaya dia
menjadi benar. Sebab kebenaran, benar pada dirinya.
Kebenaran, adalah benar pada hakekatnya. Dan kebenaran itu
hanya berasal dari/ atau ada pada Allah. Maka seluruh
kebenaran yang ada di muka bumi ini adalah common grace,
anugerah umum. Dan anugerah umum itu benar-benar ada dan
dipahami oleh semua orang. Tetapi secara special grace,
kebenaran menemukan kesejatian Sang Kebenaran yang datang ke
dunia di dalam diri Yesus Kristus. Hanya orang yang
diperkenankan Tuhan, yang dicintai Tuhan, dinyatakan dengan
itu. Dan pernyataan Tuhan terhadap orang-orang yang
dicintai-Nya menjadi misteri pribadi lepas pribadi.
Beruntunglah perempuan Samaria menemukan kesejatian itu,
sehingga dia boleh mengenal Tuhan.
Jadi Allah yang benar adalah Allah yang benar pada diri-Nya,
yang tidak memerlukan pengakuan kita sehingga Dia menjadi
benar, dan Dia tidak terganggu karena ketidakbenaran, dan
itu tidak mengurangi nilainya. Sebaliknya, kebenaran Allah
membenarkan kita yang tidak benar sehingga kita yang tidak
benar menjadi benar. Jika kita benar, bukan karena kita
benar, tetapi karena Allah yang benar membenarkan kita.
Allah itu roh, maka kita tidak bisa mengurungnya di dalam
ruang semau kita, atau membentuk Dia seperti apa yang kita
kehendaki. Dia tidak bisa kita kurung bahkan di dalam
pikiran kita, karena Dia roh yang melintasi ruang dan waktu,
melintas batas secara luar biasa.
Allah yang roh itu bisa hadir di mana-mana dalam waktu yang
bersamaan karena Dia Allah yang hidup, yang luar biasa. Nah,
Allah yang benar dan roh inilah menuntut kita supaya menjadi
penyembah-penyembah di dalam roh, yaitu tidak terkurung
dalam ruang dan waktu. Oleh karena itu, maka kita harus
memerhatikan betul-betul di tengah kehidupan kita, hakekat
daripada kebenaran Allah itu. Kebenaran ini nyata di dalam
diri kita, membenarkan diri kita.
(Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)
(Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)
|