|
Dan barangsiapa meninggikan diri, ia
akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan
ditinggikan. (Matius 23:12)
Dari segi tata bahasa, kata “rendah” adalah antonim (lawan)
dari “tinggi”. Dalam pengertian bahasa dan ke-hidupan
sehari-hari, kedua kata di atas jelas berbeda. Dan perbedaan
sema-cam ini cukup banyak mewarnai Al-kitab. Di sini kita
dapat melihat adanya perbenturan yang sangat dahsyat an-tara
nilai yang ditetapkan Yesus de-ngan nilai yang diterapkan
dunia. Ini sebenarnya tidak menyenangkan bagi banyak kalangan,
termasuk para ahli Taurat yang merasa memiliki nilai
tersendiri.
Ayat di atas muncul ketika Yesus mengkritik orang-orang Farisi
dan ahli Taurat. Mereka memang mengajarkan Taurat tentang
kebenaran, menga-jarkan supaya setiap orang berperilaku benar.
Namun, perilaku mereka sendiri tidak benar. Mereka tidak
melakukan hal-hal yang semestinya mereka lakukan sebagai
konsekuensi penga-jaran mereka. Artinya mereka telah berbuat
kesalahan. Tragis, khotbah yang mereka sampaikan tidak lebih
hanya berupa konsumsi dari mulut ke kuping. Tingkah laku
mereka sehari-hari berlawanan dengan isi khotbah mereka. Ini
tentu saja suatu penipuan, penyelewengan, yang tidak disukai
oleh Tuhan.
Mereka ingin menempatkan diri sebagai Musa pada jaman mereka.
Mereka menempatkan diri menjadi tinggi, hebat, luar biasa
melebihi siapa pun. Yang lebih parah, mereka juga sudah
menempatkan diri sebagai wakil Tuhan. Maka terjadilah
penekanan para pemimpin agama terhadap umat. Tidak heran, jika
banyak umat menjadi bodoh, karena tidak mau mencari kebenaran
Allah, tetapi hanya mau mengarahkan telinga ke khotbah-khotbah
yang seringkali tidak benar. Kondisi ini benar-benar
mengerikan, apalagi umat sendiri pun kelihatannya kurang
bergairah dalam membaca Alkitab dengan kritis dan teliti. Umat
menjadi korban yang mudah di-ninabobo-kan oleh berbagai
kepal-suan. Umat tidak lagi selektif atau sen-sitif untuk
memperhatikan ayat demi ayat, kata demi kata.
Dengan menempatkan diri sebagai rabbi, para ahli Taurat juga
menem-patkan diri sebagai pusat segalanya, yang tahu segalanya.
Artinya mereka meninggikan diri dengan merebut porsi Allah,
dengan segala kepongahan. Me-reka telah bermusuhan dengan
Allah, sebab Allah sangat benci terhadap orang yang sombong,
pongah, yang hanya gemar meninggikan diri. Dalam doa pun,
mereka hanya menonjolkan diri di hadapan Tuhan. Sebaliknya
orang lain dijelek-jelekkan, seperti bunyi salah satu doa ini:
“Tuhan, beruntunglah aku. Aku seorang ahli Taurat, Farisi,
yang seminggu berpuasa dua kali, tidak seperti si pemungut
cukai yang berdosa itu…”
Jebakan keagamaan memang mengerikan. Karena itu hati-hatilah
agar jangan sampai membuat suatu pengakuan sepihak bahwa kita
adalah yang terbaik. Jangan sampai seperti ahli Taurat yang
karena merasa dirinya paling suci, paling hebat, paling jago,
malah berusaha merebut kekuasaan Allah. Dan karena itulah
Tuhan mem-peringatkan, “Barangsiapa meninggi-kan dirinya, dia
akan direndahkan.” Sebaliknya, berbahagialah mereka yang
merendahkan dirinya. Merendah-kan diri bukan berarti
menempatkan diri lebih rendah dengan membungkukkan badan.
Merendahkan diri di sini me-nyangkut sikap hati yang takluk
pada kebenaran Allah, tunduk dan menya-dari diri sebagai orang
berdosa. Status seperti ini sangat penting kita miliki. Ketika
orang dekat dengan Tuhan, ke-sadarannya sangat tinggi. Hal
seperti ini juga pernah dialami oleh Petrus. Saking merasa
sangat rendah di hadapan Tuhan, dia malah meminta agar Tuhan
menjauhinya, “Tuhan, menjauhlah dariku, orang berdosa ini...”
Sementara orang yang pongah dan besar kepala justru mengangkat
diri dan senantiasa berbuat dosa. Saat berbuat dosa pun dia
sudah tidak sadar. Jika dinasihati, malah marah. Akhirnya dia
semakin dalam terperosok ke dalam kesombongan, merasa diri
sebagai orang yang paling hebat, pa-ling baik. Lucifer,
malaikat yang mem-buat dirinya sama dengan Allah, akhir-nya
dibuang dari surga. Nasib sama menimpa Adam dan Hawa. Karena
ingin sama dengan Allah, keduanya diusir dari Taman Eden.
Oleh karena itulah, setiap orang Kristen seharusnya
mencerminkan suatu kerendahan hati. Wujud keren-dahan hati
seorang kaya bukan de-ngan cara mengenakan pakaian seder-hana.
Kerendahan dalam konteks ini menyangkut sikap hati, bukan
bagai-mana penampilan diri. Suatu kesadaran bahwa diri kita
bukanlah apa-apa, me-rupakan salah satu wujud kerendahan hati.
Jika seseorang menyadari kalau dirinya bukan apa-apa, maka apa
pun yang ada padanya bukan dianggap sebagai miliknya. Maka
pengendalian diri dari dalam, menjadi sesuatu yang paling
penting.
Dalam dunia kerja, kita sebagai pekerja pun seharusnya
menyikapi ini semua dengan kesungguhan yang utuh. Nikmati apa
yang ada, yang Tu-han berikan. Kita tidak perlu berpura-pura
merendahkan diri dengan menge-nakan pakaian compang-camping ke
kantor. Kalau kita memang bisa, ke-napa tidak memakai pakaian
yang ba-gus? Tidak perlu memakai sandal jepit jika kita
sanggup beli sepatu. Tetapi jangan pula membeli pakaian bagus
da-ri tumpahan darah atau keringat orang lain. Sekali lagi,
bukan penampilan luar yang berbicara tentang kerendahan hati,
tetapi sikap hati. Sehingga kita merasa lebih bukan karena
punya ba-nyak uang, bukan pula karena kita punya jabatan.
Sebaliknya, kita me-rasa kurang, bukan lantaran tidak pu-nya
uang atau tidak punya jabatan. Tetapi yang penting, lebih atau
ku-rangnya kita dalam kehidupan, kita perlu senantiasa
menanyakan apakah kita dekat dengan Tuhan?
Jika kita dekat dengan Tuhan, DIA-lah nilai lebih kita. Sebab
kalau kita ber-sama Tuhan maka DIA akan mengang-kat kita.
Jikalau kita bersama dengan Tuhan, DIA akan meninggikan kita.
Oleh kebenaran, kita direndahkan. Oleh kebenaran pula kita
akan diting-gikan. Oleh karena kebenaran kita di-angkat oleh
Tuhan. Tetapi barangsiapa meninggikan diri melewati kebenaran,
dia akan direndahkan.
Jika mendapat penghinaan, atau direndahkan, puji Tuhan. Itu
kesem-patan untuk merendahkan hati, bukan untuk merendahkan
diri. Tetapi jika kita kecewa atau marah terhadap tekanan,
berarti kita telah membuang harta benda yang luar biasa
nilainya. Kesem-patan seperti itu ibarat mutiara yang terindah,
pemberian Tuhan. Jadi, jangan dibuang. * (Diringkas dari
Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)
(Nantikan Khotbah selanjutnya)
|