|
Barang siapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan
nyawanya. Dan barang siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku,
ia akan memperolehnya. (Matius 10: 39)
Berbicara tentang nyawa atau jiwa, kemungkinan kita berpenda-pat
bahwa ini hanya masalah hidup atau mati di mana, mati dianggap
hanya sekadar berhenti bernafas. Nyawa dalam konteks ini
menjadi sangat menarik karena mengacu pada satu pemahaman:
barang siapa mempertahankan nyawa-nya, sama saja
mempertahankan cara hidupnya. Selanjutnya, anggapan bahwa
manusia bisa me-nyelesaikan persoalan hidupnya dan
menyelamatkan diri sendiri, justru salah. Karena keselamatan
tidak tergantung pada kemampuan manusia.
Keselamatan meru-pakan anugerah Allah. Karena itu, barang
siapa berani kehilangan nyawanya karena Kristus, maka ia akan
mendapatkannya.
Prinsip-prinsip apa saja yang hendak kita pelajari dari
paradoks ini?
Yang pertama, berani berserah penuh kepada Tuhan. Keberanian
ini bersifat mutlak, dan merupakan tuntutan dari Tuhan yang
tidak bisa ditawar-tawar.
Maka kita harus berani mempersembahkan, mem-pertaruhkan
seluruh hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Prinsip per-tama ini,
bisa jadi merupakan bagian yang tidak kita sukai. Tetapi jika
ditanyakan, apakah kita rela mati untuk Kristus? Kita semua
pasti menjawab, "Rela." Hal ini mirip dengan ketika Petrus
ditanya oleh Yesus, beberapa saat sebe-lum menyerahkan diri
pada pasu-kan tentara Romawi. Saat itu Petrus menjawab, "Guru,
orang lain boleh lari, tetapi aku tidak." Namun Yesus yang
mengetahui isi hati manusia mengatakan, "Petrus, sebelum ayam
berkokok, kau telah tiga kali menyangkal Aku." Dan ternyata
perkataan Yesus itu terbukti, sebab Petrus melarikan diri
begitu tentara datang menangkap Yesus.
Dari paparan di atas dapat kita lihat bahwa pada awalnya
Petrus memang punya semangat yang bagus. Dan kita pun
seharusnya memiliki semangat yang bagus. Tetapi biarlah kita
menjelajahi seca-ra jujur hati nurani sendiri, agar ti-dak
terjebak pada statemen emosi kosong belaka. Jujur pada hati
nurani, menjadikan kita peka untuk mencermati sikap hidup kita.
Kalau secara jujur kita menemu-kan bahwa kita tidak berani
berserah diri, berdoalah supaya kita se-makin dikuatkan Tuhan.
Berdoa-lah, memohon belas kasihan dari Roh Kudus, yang akan
menuntun dan memampukan kita menyerahkan seluruh jiwa raga
pada Tuhan. Berani berserah artinya sama dengan berani
kehilangan segala yang kita miliki bahkan kehilangan nyawa.
Sikap berani kehilangan ini pernah dicontohkan oleh Rasul
Paulus dengan berkata, "Ada pun hidupku ini bukannya aku lagi,
tetapi Kristus hidup di dalam aku." Waktu dia kehilangan
dirinya, justru dia mendapatkan kesejatian dirinya.
Kenapa kita harus berserah diri? Karena dulu kita berkuasa
penuh atas diri kita, sehingga kita tidak mau mengendalikan
diri, juga tidak mau diatur.
Tetapi sekarang kita harus berserah diri, mau diatur oleh
Tuhan. Dan bukan diri kita lagi yang menjadi pemerintah atas
hidup kita, tetapi Tuhan.
Prinsip kedua, kita harus berani melupakan diri. Dalam hal ini
kita harus melupakan identitas, kepuasan, kebanggaan,
kebahagiaan di waktu lampau yang kita sebut se-bagai hidup
lama. Sebagai ganti-nya, sekarang kita mesti berani berpindah
ke dalam kehidupan yang baru, yang sesuai dengan "selera" dan
kehendak Tuhan. Jika ingin mendapatkan kehidupan yang baru,
maka rela-lah kehila-ngan. Berani berserah, berani melepas
harga diri, atau melupakan diri sendiri.
Dalam Alkitab sering ditemukan istilah "manusia lama" dan "manusia
baru".
Kita jangan mau terus berkutat sebagai manusia lama, melainkan
harus hidup sebagai manusia baru. Jika kita tetap hidup
sebagai manusia lama, dan tidak pernah mau menjadi manusia
yang baru, maka kita tidak akan pernah merasakan betapa
nikmatnya menjadi manusia baru itu. Dan oleh karena kita hanya
berkutat pada kemanusiaan lama itu, maka nilai kepercayaan
yang ada pada kita pun menjadi sia-sia.
Namun perlu dicamkan, melupa-kan diri dalam konteks ini tidak
sama dengan lupa diri. Lupa diri adalah sesuatu yang negatif,
karena lupa diri adalah suatu kondisi yang tidak terkendali
(out of control). Keberanian melupakan diri yang kita
maksudkan di sini adalah kemauan yang utuh untuk menaruh
seluruh kehendak Allah menjadi kehendak yang final di dalam
hidup kita. Selanjutnya, kehendak Allah yang sudah terpateri
di dalam hidup itu kita laksanakan dalam aktivitas sehari-hari.
Jadi, penye-rahan mutlak kepada Tuhan, itu menjadi sesuatu
yang tidak bisa ditawar-tawar.
Kita harus berani berserah diri dan melupakan diri.
Kedua kata kunci tersebut, yakni berserah diri dan melupakan
diri, sangat penting kita resapi su-paya kita tidak berkutat
hanya ke-pada diri, kebutuhan diri, sema-ngat diri, tetapi
berkutat pada ke-hendak Allah. Kita pun semestinya senantiasa
bertanya pada diri sendiri, "Apa yang diinginkan
Allah untuk saya lakukan, sehingga pengabdian saya total
kepada Dia?"
Dan jika kita mampu menjawabnya, yakni dengan mampu
melak-sanakannya, ini akan menjadi ke-sukaan tersendiri di
dalam hidup kita. Itulah yang membuat kita mengalami dan
mendapatkan kesejatian hidup. Kita mendapatkan kesejatian
hidup ketika kita berani melupakan diri kita yang dulu,
kehidupan yang lama itu, sehingga mendapatkan diri yang
sekarang, yang baru. Ini terjadi karena kita berani berserah.
Keberanian yang ketiga, yakni berani berkorban untuk Tuhan,
menuntut kita untuk mempersem-bahkan seluruh kehidupan untuk
Tuhan. Sehingga dengan demi-kian, di dalam kehilangan kita
akan mendapatkan. Dan di dalam kehi-langan itulah kita akan
menemu-kan. Alkitab memberi satu ilustrasi yang menarik, yakni
biji gandum tidak akan pernah tumbuh menjadi sebatang pohon
gandum kalau biji itu tidak mati lebih dahulu. Kenapa? Karena
biji gandum yang mati itu harus terlebih dahulu membelah
dirinya. Dan oleh karena kematian, dan kemudian membelah
dirinya itulah biji gandum tersebut mendapatkan kehidupan.
Dengan kata lain, biji gandum mendapatkan kehidupan (yang baru)
justru kalau dia membelah dirinya terlebih dahulu. Jika
dibandingkan dengan manu-sia, maka manusia harus berani
mengorbankan dirinya untuk Tu-han, baru kemudian memperoleh
hidup yang baru.
Maka keberanian untuk berse-rah, keberanian melupakan diri,
dan keberanian untuk berkorban, sangat kita butuhkan untuk "membelah"
diri kita sehingga dari diri kita muncul kehidupan dan
pengharapan. Jadi penyerahan diri bukan suatu wujud dari
ketidak-berdayaan. Mengorban-kan sesuatu bukan berarti akan
kehilangan sesuatu. Melupakan diri tidak berarti kehilangan
diri. Tetapi yang akan kita dapatkan justru sebaliknya, yakni
kehidu-pan, kekuatan, dan identitas diri yang baru.*
(Diringkas dari Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)
(Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)
|