|
TAK bisa dipungkiri jika ada orang yang punya motivasi
tertentu dalam beragama. Ini perlu dibedah .
Ucapan itu dilatarbelakangi peristiwa ketika Yesus memberi
makan 5.000 orang hanya dengan lima roti dan dua ikan.
Mukjizat itu memang membuat perut orang-orang yang hadir
menjadi kenyang. Di lain sisi, hal itu memberi kesan
tersendiri, yakni makan gratis. Kesan lainnya: ternyata ikut
Tuhan tidak lapar. Di sini terlihat aktivitas keagamaan yang
sangat menarik, di mana orang-orang mencari dan menemukan
Yesus di seberang laut. Bagi mereka, Kristus tampak sebagai
sesuatu yang sangat indah dan luar biasa. Untuk mencari
Yesus, mereka meninggalkan aktivitas, keluarga, dan
lain-lain.
Ini kegiatan keagamaan yang patut dipuji. Saat mencari Yesus
mereka tampak beragama. Tetapi Yesus tidak memuji. Sementara
gereja masa kini tentu akan berterimakasih dan memuji jemaat
yang terus datang mencari Tuhan, sekalipun pencarian itu
dilatari dua kemungkinan: palsu atau asli, atau ada selubung
tertentu. Tapi gereja memang bukan Tuhan. Gereja tidak peka
seperti Yohanes Pembaptis, yang tahu kepalsuan hati
orang-orang yang mau dibaptis itu, maka dia pun menghardik,
“Pulang kau ular-ular beludak!”
Orang jaman sekarang memang kurang peka dibanding para rasul.
Mungkin itu sebabnya kita mudah menipu dan tertipu dalam
konteks beragama. Tetapi yang namanya asli atau palsu bisa
dikenali Tuhan, sehingga Ia berkata (ayat 26), “Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya kamu mencariku bukan karena telah
melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti
itu dan kamu kenyang”. Mereka memang tidak bisa melihat
kenyataan bahwa Yesus itu sejatinya Tuhan. Jadi, mereka
mencari Yesus bukan untuk memuji dan memuliakan Dia. Artinya,
mereka mencari Tuhan karena masalah ekonomi, masalah uang.
Beragam motivasi
Yesus melakukan mukjizat atau tanda-tanda, supaya
orang-orang bisa mengerti dan mengenal Allah dalam Dia.
Tetapi mereka memang bukan mencari itu. Sementara, perempuan
Samaria (Yohanes 4), menemukan dan tahu bahwa Dia-lah Mesias,
anak Allah yang hidup. Tetapi banyak orang mencari Yesus
yang bisa kasih makan. Yang mereka cari adalah roti yang
bisa mengenyangkan perut. Dalam Yohanes 6: 36 dikatakan,
“Tetapi Aku berkata kepadamu, sungguh pun kamu telah melihat
Aku, kamu tidak percaya”. Artinya, orang bisa beragama
karena berbagai kondisi, misalnya karena frustrasi, sakit,
dan sebagainya. Mereka beragama dalam kepalsuan. Dalam
Alkitab, banyak contoh orang yang keberagamaannya “asli”,
seperti perempuan Samaria tadi. Yang palsu juga banyak.
Contohnya, orang-orang yang menyalibkan Yesus, mereka adalah
ahli-ahli Taurat, yang lebih mengerti tentang agama.
Di gereja, banyak orang berdalih mencari Yesus, namun
sejatinya mereka hanya mencari roti yang dibuat-Nya. Mereka
mencari Yesus untuk mengenyangkan perut, untuk memuaskan
kebutuhan. Tapi mereka tidak bisa menipu Yesus yang bisa
melihat hati dan membongkar kepalsuan beragama yang tumbuh
subur masa kini. Orang dengan segudang motivasi bisa ada di
gereja. Mereka bisa menaikkan doa-doa yang tampak-nya muluk
dan luar biasa. Orang-orang ini, tingkat kerajinannya amat
mengagumkan. Karena apa? Karena memang punya kepentingan
perut. Maka mereka pun “rajin” mencari Kristus. Tampaknya
indah. Tetapi mereka mencari Yesus supaya perut mereka
terisi, ekonomi terjamin, kenyang dan puas. Keberagamaan
yang ujung-ujungnya perut, suatu hal yang berbahaya dalam
kehidupan jemaat. Realita persoalan perut, ekonomi ini terus
bergulir dari masa ke masa, tak bisa dihindari. Jangankan
pada jaman sekarang yang sangat modern, di jaman Yesus pun
sudah ada motivasi palsu dalam beragama.
Maka perut-perut yang lapar ini menciptakan kepalsuan. Dan
bukan hanya demi perut, demi status sosial, orang bisa
melakukan banyak cara. Akhirnya kesaksian palsu pun banyak
mengalun untuk uang! Kesulitan-kesulitan direkayasa.
Penipuan–penipuan dengan dalih persoalan kesulitan kehidupan
yang mengatasnamakan Yesus muncul di gereja. Hal semacam ini
sudah jadi mainan, dan tidak lagi menimbulkan rasa takut.
Celakanya banyak orang Kristen tertipu karena tidak lagi
peka mendengar suara Allah. Ini sangat menakutkan, karena
ternyata bukan hanya kesaksian, khotbah pun bisa
diperjualbelikan.
Teguran keras terhadap orang Israel di masa lampau, kiranya
bisa kita cermati sebagai teguran keras Yesus kepada kita.
Jangan mencari Kristus hanya karena bangkrut. Jangan mencari
Kristus hanya karena perlu jaminan keuangan atau tertimpa
persoalan bisnis. Seriuslah beragama, jangan sampai Tuhan
berkata, “Kalian bukan mencari Aku, tetapi mencari roti yang
sudah membuat perutmu kenyang. Kalian tidak mencari Aku,
karena sekalipun kalian mencari dan melihat Aku, kalian
tidak percaya”. Hati-hati!
(Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)
(Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)
|