|
Reformata.com - BERITA
tentang penampakan Yesus sudah sering kita dengar.
Beberapa tahun lalu, di Ambon (Maluku) pernah
merebak isu tentang Yesus yang menampakkan diri. Tak
lama setelah itu, isu yang sama melanda Kota
Jayapura (Papua). Kemudian warga Jakarta dan
sekitarnya juga pernah heboh oleh isu yang sama.
Berita tentang penampakan Yesus selalu mengundang
banyak orang untuk membuktikannya. |
Namun
kelanjutannya tidak pernah jelas, bahkan mungkin
mengecewakan bagi banyak orang, karena memang tidak bisa
dibuktikan. Sewaktu isu penampakan di Jakarta beberapa waktu
lalu, salah seorang pengunjung begitu ber-semangat
menceritakan tentang penampakan Yesus tersebut. Namun ketika
kepadanya ditanyakan apakah dia sendiri melihat Yesus, dia
justru berkelit bahwa cerita itu dia dengar dari orang lain.
Dia sendiri tidak pernah melihat penampakan itu.
Saudara, dalam Yohanes 20: 24-29 dibeberkan tentang Thomas,
salah seorang murid Yesus, yang tidak percaya akan
kebangkitan Yesus. Thomas yang selalu meragukan sesuatu di
dalam pemahamannya tentang Yesus yang bangkit, tidak bisa
menerima kenyataan, tidak bisa menerima kesaksian dan
kepastian dari murid-murid lain bahwa Sang Guru telah
bangkit dari kematian. Ini sebenarnya bisa dimengerti karena
murid-murid yang lain sebenarnya ada di dalam keraguan dan
kebingungan. Waktu Yesus memberikan kesempatan kepada Thomas
untuk menjamah tangan dan lambung-Nya, dia menjadi percaya
karena sudah melihat. Tetapi Yesus berkata, “Ber-bahagialah
mereka yang percaya sekalipun mereka tidak melihat”.
Sebelum Yesus naik ke surga, kepada kita diberikan
pengertian-pengertian yang jelas. Bahkan para murid tidak
bisa langsung mengerti kecuali lewat sebuah proses. Sebelum
Yesus naik ke surga, ada tenggang waktu antara kebangkitan
dan kenaikan, Dia menampakkan diri untuk meneguhkan dan
menjelaskan bahwa kebangkitan-Nya adalah sesuatu yang aktual.
Ini penting untuk meng-genapi apa yang diker-jakaan Tuhan
Yesus. Sesudah Yesus naik ke surga, cerita sudah menjadi
lain. Tidak ada lagi cerita bagaimana Dia menam-pakkan diri,
kecuali dalam beberapa hal yang menyangkut pertobatan,
seperti kepada Saulus yang kemudian menjadi Paulus. Itu pun
Paulus hanya melihat sinar.
Kebangkitan Yesus dari kematian memang menimbulkan
perdebatan karena sulit memahaminya. Karena kebang-kitan itu
adalah sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Kebang-kitan
dari orang yang menjanjikan sangat berbeda dengan
kebang-kitan Lazarus yang dibangkitkan Tuhan Yesus. Lalu
siapa yang membangkitkan Yesus? Jikalau Yesus mampu
membangkitkan orang mati seperti Lazarus, lalu siapa yang
bisa membangkitkan DIA? Oleh karena itu, Thomas yang selalu
skeptis, yang selalu meragukan sesuatu, yang rasional,
mengatakan tidak mungkin DIA bangkit. Maka ketika Thomas
datang ke tempat para murid berkumpul, Yesus langsung
berkata, “Thomas, taruhlah jarimu ke sini dan ulurkanlah
tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambung-KU, supaya engkau
percaya.”
Ketika kalimat itu diucapkan, artinya, Yesus tahu apa yang
menjadi pergumulan Thomas. Yesus tahu apa yang menjadi
keraguan Thomas, tetapi Yesus tidak marah, malah memberikan
kesempatan kepada Thomas untuk membuktikan itu. Dan seluruh
keraguan Thomas digugurkan oleh pembuktian dari Tuhan Yesus.
Itulah yang terjadi di masa transisi antara kebangkitan dan
kenaikan Yesus ke surga. Memang setelah Yesus bangkit pada
hari yang ketiga itu, para murid tidak langsung dapat
mengenalinya, kecuali seperti disebutkan Alkitab, Roh
Kuduslah yang menolong mereka. Tiba-tiba mata mereka
dibukakakan lalu sadarlah mereka, itu Yesus. Ada sesuatu
yang luar biasa, tubuh kebangkitan itu tidak langsung
dikenali.
Ketika Thomas menyentuh tangan dan lambung-Nya, dia langsung
berkata, “Ya Tuhan dan Allahku”. Ini pengakuan yang sangat
mendalam. Thomas tidak menyebut, “Ya guruku”, tetapi “Ya
Allah dan Tuhanku”. Di hadapan Yesus, si Rasional ini
menjadi sangat beriman. Dan Yesus berkata, “Karena engkau
telah melihat Aku, maka engkau percaya. Tetapi berbahagialah
mereka yang percaya sekalipun tidak melihat Aku”.
Rasional atau tidak
Yang berbahagia adalah mereka yang percaya sekalipun tidak
melihat Yesus. Ada iman yang kuat dan solid yag bertumbuh di
dalam hidup mereka. Tetapi di jaman kita ini justru terbalik.
Yang berbahagia justru mereka yang melihat Yesus maka
percaya. Itu sebab orang berlomba untuk datang dan melihat
ketika isu penampakan Yesus itu santer. Apakah mereka dapat
digolongkan sebagai orang yang tidak percaya sehingga harus
melihat dulu supaya percaya? Ataukah mereka orang percaya
yang berambisi besar untuk melihat? Sulit memang
menjelasakannya, karena kepercayaan dan iman yang kuat
adalah justru ketika semua itu terjadi di dalam pertempuran
pergumulan iman yang solid, membawa kita ke dalam pengalaman
iman yang utuh mengenal Allah yang hidup. Saudara, melihat
atau tidak melihat, sama bisa mengenal Yesus. Tetapi
berbahagialah mereka yang percaya kepada Yesus sekalipun
tidak melihat. Tetapi kenapa sekarang keinginan untuk
melihat Yesus menjadi sangat besar? Jawabannya sederhana,
saya kira jaman kita memang jaman visualisasi. Apa pun ingin
divisualisasikan, diwujudkan, ditampakkan. Maka manusia yang
rasional, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar,
ingin membuktikan segala sesuatu dengan indrawinya. Maka
peran iman seringkali tanpa sadar menjadi tergeser. Iman
dikaitkan dengan pemikiran: rasional atau tidak rasional.
Iman dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman mistis. Sehingga
iman yang aktual, iman yang sejati, iman yang murni
seakan-akan tidak lagi mempunyai tempat yang cukup di hati
anak-anak Tuhan. Pergaulan dengan Tuhan hanya diukur dengan
sesuatu yang bisa diukur: “Jika IA memberiku uang atau IA
memberiku kesembuhan, aku percaya”. Kesembuhan bukan sesuatu
yang salah, dan ingin punya banyak uang juga bukan salah,
tetapi jika itu menjadi ukuran anugerah Allah, oh betapa
sedihnya.
Pergeseran-pergeseran terjadi. Sekarang bagaimana kita
kembali kepada standpoint, itu harus menjadi pergumulan.
Sebagai Kristen yang sejati mari kita hidup sesuai firman
Tuhan supaya mereka tetap percaya sekalipun tidak melihat.
Kalaupun Tuhan menampakkan diri kepada seseorang, biarlah
itu urusan pribadinya dengan Tuhan, tetapi janganlah itu
disebarluaskan lalu dijadikan tontonan.
(Diringkas dari CD khotbah oleh Hans P Tan)
(Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)
|