|
RUMAH merupakan salah satu kebutuhan yang sangat vital bagi
manusia. Di rumahlah, setiap orang menghabiskan seba-gian
besar hari-harinya. Wajar pula jika setiap orang mendambakan
rumah yang bisa membuatnya merasa aman, tenang dan nyaman
tinggal di sana.
Rumah dan segala kebutuhan hidup—yang dalam kesempatan ini
kita sebut saja harta—merupakan hal yang sa-ngat penting dalam
kehidupan. Harta yang kita miliki, bisa menjadi suatu
identitas tentang: who am I—siapa saya? Semakin banyak harta,
semakin besar penghormat-an orang pada kita. Tapi, rumah atau
harta benda seperti apa yang Tuhan kehendaki? Tentang hal ini,
Raja Salomo (dalam Mazmur 127 : 1) mengatakan, “Jikalau bukan
Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang
membangunnya…”.
Raja Salomo dikenal sebagai raja Israel yang tidak hanya
sukses memerintah kerajaannya, namun juga jenius dalam
mengelola usaha dan perdagangan. Tidak heran, berkat
kepiawaiannya itu, dia berhasil menumpuk harta benda yang
membuatnya sebagai raja yang kaya raya luar biasa. Sayang,
sebagai orang yang diberkati Tuhan dengan segudang kemam-puan
luar biasa itu, dia justru mela-kukan hal-hal yang tidak
disukai oleh Tuhan: memiliki ribuan wanita simpanan. Dia
memang sukses menumpuk harta, tapi gagal mem-bendung hawa
nafsu. Yang lebih menyedihkan, dia tergoda oleh salah seorang
wanita simpanannya sehingga terjatuh dalam penyem-bahan
berhala! Namun seluruh pengalaman itu tidak membuatnya merasa
bahagia. Sampai akhirnya, dalam perenungannya dia menyadari
bahwa tanpa pe-nyertaan Tuhan, semua sia-sia.
Bagi kita, rumah dan harta benda, memang telah men-jadi
semacam KTP. Orang mengenal, mengukur, dan menghormati kita
tergan-tung dari seberapa banyak harta kita. Harta benda
sebagai identitas menjadi konsentrasi dan perhatian semua
orang. Dengan harta yang cukup, seseorang itu akan dihargai.
Tapi sebaliknya, jika harta bendanya tidak cukup, dia
dicurigai. Apalagi tak punya apa-apa, ia akan dizalimi. Haknya
akan dirampas, dia akan diinjak-injak orang. Karena itu, harta
benda sebagai identitas menjadi mimpi setiap orang. Semua
orang akan berpacu untuk mendapatkannya, bagaimana pun caranya.
Korupsi, boleh-boleh saja. Mencuri, kenapa tidak? Menipu?
Lakukan! Orang akan mengesahkan segala cara demi harta ini.
Jika harta menjadi ukuran harga diri, maka kebenaran-kebenaran
hidup pun bergeser. Orang ber-pacu untuk membuktikan ke-kayaan
sebagai wujud “berkat” Tuhan. Harga diri tidak lagi me-nempel
pada nilai-nilai etis yang seharusnya dimiliki: kejujuran,
ke-sungguhan, kebenaran. Dalam hal seperti ini kita telah
melihat banyak fakta yang sangat menye-dihkan, demi harta
benda, korban berjatuhan. Dan tragedi yang lain adalah jika
harta dijadikan sebagai keyakinan, iman, menjadikannya sebagai
berhala. Jika sudah begini, maka Alkitab tidak ada apa-apanya
lagi. Tidak mendengar khotbah ju-ga bukan masalah. Yang
penting, asal jangan sampai nggak ada uang, asal jangan sampai
berku-rang properti, rumah dan harta benda. Bagi orang-orang
se-perti ini, pertarungannya ha-nya melulu untuk materi.
Karena materi baginya adalah berhala, maka dia siap melakukan
apa saja untuk itu. Dia siap menzalimi orang, bahkan saking
gilanya akan harta, tidak sedikit orang pergi ke Gunung Kawi,
me-nebar sesajen ke mana-mana, “berguru” ke sana-sini, asal
bisa kaya. Meski anak, anggota keluarga atau pembantunya
menjadi tum-bal, tidak masalah, yang penting bisa kaya. Sangat
mengerikan, dia rela nyawa orang hilang demi berhala yang
dipuja-pujanya: materi. Manusia semacam ini bukan lagi manusia,
karena bukan hanya dirinya saja yang dihargai dengan materi,
tetapi orang lain pun dia hargai dengan materi. Dia tidak
sungkan-sungkan mencabut nya-wa orang lain demi kelanggengan
materi yang mengalir ke dalam hidupnya. Seorang wanita yang
berstatus istri bisa saja mening-galkan suaminya demi materi.
Se-ring pula terjadi pengkhianatan dan memakan banyak korban
demi ma-teri yang sudah merupakan segala-galanya dalam
kehidupan.
Oleh karena itulah Alkitab me-ngajarkan kepada kita, “Kalau
har-ta benda seperti itu yang kau dam-bakan, sia-sialah”.
Kalau itu datang dari semangat dirimu, ketika itu kau jadikan
identitas, harga dirimu, ke-yakinan dirimu, berhalamu,
habislah hidupmu. Harta benda itu milik Tuhan, berasal dari
Tuhan, maka belajarlah bergantung hidup pada Tuhan, melakukan
sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan, bekerja sesuai yang
Tuhan kehendaki, rajin seperti yang dituntut Alkitab.
Harta benda bukan dosa, tetapi bagaimana memperlakukannya,
itulah yang jadi masalah. Karena itu biarkan Tuhan
membangunnya. Seharusnya gairah kita untuk men-cari harta
adalah semangat untuk melayani Tuhan. Sehingga di dalam gairah
mencari atau membangun materi, kita ada dalam kendali diri
yang penuh, tidak terjebak pada perangkap, rangsangan yang me-mang
luar biasa dari materi itu. Ma-ka, apa pun yang ada dalam
hidup kita, hanya omong kosong jika kita dapatkan dengan cara
tanpa Tuhan, mengabaikan Tuhan.(Diringkas dari Khotbah
Populer oleh Hans P.Tan)
(Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)
|