» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» KHOTBAH POPULER                                                                          Pdt. Bigman Sirait


SIA-SIA, TUMPUK HARTA
TANPA PENYERTAAN TUHAN
Oleh : Pdt. Bigman Sirait
 


RUMAH merupakan salah satu kebutuhan yang sangat vital bagi manusia. Di rumahlah, setiap orang menghabiskan seba-gian besar hari-harinya. Wajar pula jika setiap orang mendambakan rumah yang bisa membuatnya merasa aman, tenang dan nyaman tinggal di sana.

Rumah dan segala kebutuhan hidup—yang dalam kesempatan ini kita sebut saja harta—merupakan hal yang sa-ngat penting dalam kehidupan. Harta yang kita miliki, bisa menjadi suatu identitas tentang: who am I—siapa saya? Semakin banyak harta, semakin besar penghormat-an orang pada kita. Tapi, rumah atau harta benda seperti apa yang Tuhan kehendaki? Tentang hal ini, Raja Salomo (dalam Mazmur 127 : 1) mengatakan, “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya…”.

Raja Salomo dikenal sebagai raja Israel yang tidak hanya sukses memerintah kerajaannya, namun juga jenius dalam mengelola usaha dan perdagangan. Tidak heran, berkat kepiawaiannya itu, dia berhasil menumpuk harta benda yang membuatnya sebagai raja yang kaya raya luar biasa. Sayang, sebagai orang yang diberkati Tuhan dengan segudang kemam-puan luar biasa itu, dia justru mela-kukan hal-hal yang tidak disukai oleh Tuhan: memiliki ribuan wanita simpanan. Dia memang sukses menumpuk harta, tapi gagal mem-bendung hawa nafsu. Yang lebih menyedihkan, dia tergoda oleh salah seorang wanita simpanannya sehingga terjatuh dalam penyem-bahan berhala! Namun seluruh pengalaman itu tidak membuatnya merasa bahagia. Sampai akhirnya, dalam perenungannya dia menyadari bahwa tanpa pe-nyertaan Tuhan, semua sia-sia.

Bagi kita, rumah dan harta benda, memang telah men-jadi semacam KTP. Orang mengenal, mengukur, dan menghormati kita tergan-tung dari seberapa banyak harta kita. Harta benda sebagai identitas menjadi konsentrasi dan perhatian semua orang. Dengan harta yang cukup, seseorang itu akan dihargai. Tapi sebaliknya, jika harta bendanya tidak cukup, dia dicurigai. Apalagi tak punya apa-apa, ia akan dizalimi. Haknya akan dirampas, dia akan diinjak-injak orang. Karena itu, harta benda sebagai identitas menjadi mimpi setiap orang. Semua orang akan berpacu untuk mendapatkannya, bagaimana pun caranya. Korupsi, boleh-boleh saja. Mencuri, kenapa tidak? Menipu? Lakukan! Orang akan mengesahkan segala cara demi harta ini.

Jika harta menjadi ukuran harga diri, maka kebenaran-kebenaran hidup pun bergeser. Orang ber-pacu untuk membuktikan ke-kayaan sebagai wujud “berkat” Tuhan. Harga diri tidak lagi me-nempel pada nilai-nilai etis yang seharusnya dimiliki: kejujuran, ke-sungguhan, kebenaran. Dalam hal seperti ini kita telah melihat banyak fakta yang sangat menye-dihkan, demi harta benda, korban berjatuhan. Dan tragedi yang lain adalah jika harta dijadikan sebagai keyakinan, iman, menjadikannya sebagai berhala. Jika sudah begini, maka Alkitab tidak ada apa-apanya lagi. Tidak mendengar khotbah ju-ga bukan masalah. Yang penting, asal jangan sampai nggak ada uang, asal jangan sampai berku-rang properti, rumah dan harta benda. Bagi orang-orang se-perti ini, pertarungannya ha-nya melulu untuk materi.

Karena materi baginya adalah berhala, maka dia siap melakukan apa saja untuk itu. Dia siap menzalimi orang, bahkan saking gilanya akan harta, tidak sedikit orang pergi ke Gunung Kawi, me-nebar sesajen ke mana-mana, “berguru” ke sana-sini, asal bisa kaya. Meski anak, anggota keluarga atau pembantunya menjadi tum-bal, tidak masalah, yang penting bisa kaya. Sangat mengerikan, dia rela nyawa orang hilang demi berhala yang dipuja-pujanya: materi. Manusia semacam ini bukan lagi manusia, karena bukan hanya dirinya saja yang dihargai dengan materi, tetapi orang lain pun dia hargai dengan materi. Dia tidak sungkan-sungkan mencabut nya-wa orang lain demi kelanggengan materi yang mengalir ke dalam hidupnya. Seorang wanita yang berstatus istri bisa saja mening-galkan suaminya demi materi. Se-ring pula terjadi pengkhianatan dan memakan banyak korban demi ma-teri yang sudah merupakan segala-galanya dalam kehidupan.

Oleh karena itulah Alkitab me-ngajarkan kepada kita, “Kalau har-ta benda seperti itu yang kau dam-bakan, sia-sialah”. Kalau itu datang dari semangat dirimu, ketika itu kau jadikan identitas, harga dirimu, ke-yakinan dirimu, berhalamu, habislah hidupmu. Harta benda itu milik Tuhan, berasal dari Tuhan, maka belajarlah bergantung hidup pada Tuhan, melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan, bekerja sesuai yang Tuhan kehendaki, rajin seperti yang dituntut Alkitab.

Harta benda bukan dosa, tetapi bagaimana memperlakukannya, itulah yang jadi masalah. Karena itu biarkan Tuhan membangunnya. Seharusnya gairah kita untuk men-cari harta adalah semangat untuk melayani Tuhan. Sehingga di dalam gairah mencari atau membangun materi, kita ada dalam kendali diri yang penuh, tidak terjebak pada perangkap, rangsangan yang me-mang luar biasa dari materi itu. Ma-ka, apa pun yang ada dalam hidup kita, hanya omong kosong jika kita dapatkan dengan cara tanpa Tuhan, mengabaikan Tuhan.(Diringkas dari Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)


                                                              (Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)

 

| A R S I P | BIODATA |

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi