|
SETIAP orang Kristen pasti tahu berdoa, terlepas dari faktor
apakah yang bersang-kutan tidak mau atau malu ketika diminta
untuk berdoa. Namun pa-da dasarnya semua orang bisa berdoa dan
mengetahui apa itu doa. Doa tidak bisa lepas dari hidup orang
benar. Persoalannya, apa-kah kita mengerti makna yang se-sungguhnya
dari doa? Ini per-tanyaan yang serius, sebab jika diminta
berdoa, yang kita lakukan adalah melipat tangan, menutup mata
dan berkata-kata, tetapi tidak jelas apa sebenarnya yang ada
dalam benak atau hati kita.
Apakah doa? Pertama-tama kita harus ingat bahwa doa bukan
sebuah kewajiban. Artinya, doa itu hukumnya tidak wajib. Doa
itu bukan suatu keharusan. Membaca kalimat di atas,
kemungkinan besar kita rada tersentak, karena selama ini kita
semua yakin bahwa yang namanya orang Kristen harus dan wajib
berdoa. Tapi saya mengata-kan, doa bukan kewajiban, bukan pula
keharusan!
Kalau doa sebuah kewajiban, maka suka atau tidak suka kita
akan selalu berdoa. Jika kita berdoa sekalipun hati tidak suka,
ini sesuatu yang gawat, sebab kita munafik. Jika kita berdoa
hanya karena kewajiban: lipat tangan, tutup mata, dan
berkata-kata, apakah Tuhan pasti menerima? Tidak. Tuhan
berkata, “Janganlah kamu berdoa seperti orang munafik, yang
mengucapkan doanya, berdiri di mana-mana, tetapi hatinya tidak
tahu ke mana”. Dengan kata lain, orang-orang seperti di atas
melakukan doa hanya sebagai kewajiban ritual kekristenan.
Bukan itu doa yang dimaui Tuhan.
Jika doa suatu keharusan, ber-arti ada unsur terpaksa. Jika
doa hanya suatu kewajiban, maka ada peluang orang berdoa
dengan hati yang terpaksa, bukan dengan hati rela. Jadi, doa
adalah sebuah kebutuhan yang ada pada diri setiap manusia.
Orang percaya diberikan kerinduan itu oleh Tuhan. Orang
percaya selalu punya kehausan: butuh akan Allah. Sama seperti
kita butuh ma-kan, tidak perlu diajari untuk itu. Bayi yang
belum bisa ngomong tahu minta makan, dengan mena-ngis.
Tangisan itu secara otomatis akan timbul jika sang bayi merasa
lapar. Semakin dia dewasa, dia tidak perlu menangis lagi.
Kalau lapar, dia cari makan sendiri. Makan adalah suatu
kebutuhan yang tidak perlu diajarkan. Makan adalah suatu
kebutuhan yang dilakukan dengan kerelaan, wong kita memang
butuh kok. Tetapi kalau makan suatu kewajiban, celakalah kita.
Kita tidak enjoy, ti-dak tenang, karena terpaksa. Tetapi
karena makan sebuah ke-butuhan, kita pun menikmatinya.
Maka doa adalah sebuah kebutuhan bagi orang percaya, yang
tidak bisa tidak harus ada. Doa harus ada. Tanpa doa kita
tidak mungkin hidup. Tanpa doa kita akan mati. Doa adalah
sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi, yang harus kita lakukan.
Dan suatu kebutuhan tidak pernah dilakukan dengan terpaksa.
Kebutuhan dilakukan dengan sikap enjoy, menyenangkan. Bahkan
kebutuh-an itu akan kita cari sendiri. Kalau kita sadar doa
adalah suatu kebu-tuhan, pasti kita tidak akan pernah berhenti
berdoa, bukan? Kita akan sangat suka berdoa dan melaku-kannya
dengan penuh sukacita, bukan karena terpaksa.
Doa bukan pula suatu tradisi, yang dilakukan karena memang
sudah begitu dari dulu. Misalnya doa pada waktu makan bersama
keluarga di rumah. Kenapa kita berdoa sebelum makan? Untuk
bersyukur. Tapi, jika kita makan permen atau minum teh botol
di kantin misalnya, apakah kita berdoa? Kalau memang berdoa
adalah mengucap syukur karena ada makanan, apakah permen bukan
makanan? Jawabannya bisa menjadi sangat ironis dan lucu.
Sebenarnya, kalau mau jujur banyak di antara kita berdoa waktu
makan karena tradisi, bukan suatu kesadaran. Tetapi kalau
betul-betul mau mengucap syukur, apa pun yang kita makan atau
minum, harus lebih dahulu mengucapkan syukur. Jika sedang
makan di restoran atau pinggir jalan, mungkin kita tidak perlu
melipat tangan, tapi paling tidak bisa mengatakan,
“Terimakasih Tuhan untuk permen ini.”
Doa juga bukanlah perilaku kristiani, sebab semua penganut
agama melakukannya, sebagai kewajiban. Jika kita sebagai orang
Kristen berdoa hanya karena kewajiban, lalu apa bedanya kita
dengan mereka? Jadi, doa bukanlah perilaku kristiani yang
harus kita lakukan karena kita Kristen. Tetapi doa adalah
sebuah kehidupan. Doa itu merupakan warna dominan dari
perjalanan hidup orang Kristen. Mengapa? Karena yang pertama
tadi, doa adalah sebuah kebutuhan, yang harus dipenuhi.
Mungkin, saat melipat tangan, tutup mata, dan berkata-kata,
kita menganggap kalau kita sedang berdoa, namun sebenarnya
tidak, sebab Tuhan tidak mendengar suara hati, kecuali suara
mulut kita. Jika sudah demikian, kita akhirnya terjebak pada
konsep yang salah. Ingat, doa bukan sekadar susunan kata yang
indah, panjang dan puitis. Kalau suara mulut berbeda dengan
suara hati, kita tidak sedang berdoa, tapi sedang berbasa-basi,
dan mencoba menipu Tuhan dengan kalimat-kalimat indah. Apakah
Tuhan senang? Tidak. Kita harus selalu berhati-hati karena
Tuhan tahu isi hati kita.
Doa juga bukan suatu mantera yang jika diucapkan berkali-kali
akan terwujud. Banyak orang Kristen membuat doa seperti
mantera, menekankan apa yang dia mau, bukan yang Tuhan mau.
Jika doa menjadi semacam mantera, si pendoa menjadi seperti
dukun yang membaca-baca mantera. Doa bukan kata-kata magis.
Doa adalah ungkapan hati yang murni dari seorang anak Tuhan
yang menyuarakan suara hati lewat mulut, yang tidak berbeda
antara apa yang diucapkan dengan yang terkandung di dalam
hatinya.?
(Diringkas dari Khotbah Populer oleh Hans P. Tan)
(Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)
|