|
Reformata.com -
SAUDARA, menyambut Natal, kita akan merenungkan
sabda Tuhan dalam Yohanes 1: 10-13. “Ia telah ada di
dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi
dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik
kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu
tidak menerima-Nya...”
Allah Sang Pencipta, mencipta-kan segala sesuatu
dalam kesem-purnaan-NYA. |
Diciptakannya
manusia dalam kemampuan berpikir yang mampu mengkopi apa
yang dilakukan Allah, memahami apa yang menjadi kehendak-Nya.
Diciptakannya manusia bukan
hanya dalam kemampuan mengkopi tetapi
kemudian menjadi creation di dalam dunia yang dibuat-Nya,
sehingga manusia menjadi pencipta di dalam dunia. Manusia mampu
menciptakan hal-hal yang baru bagi dirinya, menciptakan
kemungkinan-kemungkinan dalam hidupnya. Sampai kemudian manusia
jatuh ke dalam dosa, kegelapan mewarnai
kehidupan manusia. Seluruh kemuliaan yang Allah berikan,
dirampas manusia, dan manusia hidup dalam kengerian. Seluruh
kemampuan diklaim sebagai kemampuan diri bukan saja untuk
mengelola bumi, namun juga untuk mencari Allah. Manusia
mendemonstrasikannya lewat peristiwa Menara Babel.
Manusia yang terus bergerak, semakin jauh dari apa yang Tuhan
kehendaki. Manusia makin terpuruk dalam ketersesatannya.
sehingga dalam keunggulannya manusia merasa bisa melakukan
sesuatu tanpa perlu Allah. Toh manusia bisa bercocok tanam untuk
menda-patkan makanan; bisa membuat alat transportasi; bisa
membaca dan mengatur cuaca, bahkan bisa membuat hujan. Isu-isu
di waktu lampau tak lagi berlaku. Manusia yang mandul selalu
punya harapan untuk memiliki keturunan. Wanita bukan cuma bisa
melahirkan anak me-lalui bayi tabung, bahkan manusia bisa
“mengkopi” anaknya lewat teori kloning. Hebat sekali.
Tetapi coba bayangkan ke masa 2.000 tahun lalu ketika teknologi
itu belum ada, ternyata manusia telah memberontak secara luar
biasa. Manusia tidak mau percaya akan Allah. Artinya, semakin
maju teknologi semakin sulit memahami ada orang yang mau percaya
kepada Allah. Sebaliknya nun jauh di sana 2.000 tahun yang
lampau, juga ada orang-orang yang percaya. Maka dalam tiap jaman
pun ada yang seperti itu.
Sekarang mari kita lihat. Dia sekarang ada di dalam dunia yang
dijadikan-Nya, dan dunia tidak mengenal-Nya. Dunia gagal
mengenal Sang Pencipta, karena dunia sudah berlumuran dosa,
hidup dalam standar dosa. Sehingga ketika Allah yang suci, Yesus
Kristus Tuhan yang menjadi manusia datang ke dunia dalam
kesucian, Ia menjadi “barang” yang aneh, makhluk aneh dalam
hidup manusia. Orang sulit mengerti Dia. Itu sebab para ahli
Taurat saat berdiskusi dengan-Nya menganggap DIA gila, bahkan
kemudian menyalibkan-Nya.
Bagaimana mau mengerti orang asing ini. orang yang suci di
tengah orang berdosa. Orang yang dekat dengan Bapa. Sementara
orang-orang Yahudi dan manusia waktu itu hanya orang beragama
yang merasa dekat dengan Allah, tetapi sejatinya tidak. Mereka
yang rajin beribadah menyebut nama Allah dengan ritual yang
sangat mengagumkan. Siang dan malam berdoa, puasa dua kali
seminggu secara rutin, ternyata tidak mampu mengenali Yesus
Kristus Tuhan itu.
Jangan pernah berkata kalau kita lebih baik dari orang Farisi.
Karena saya khawatir kita hanya bergerak dalam sebuah perbedaan
saja. Kita mengatakan Yesus itu Tuhan dan menerimanya, sama
seperti Yahudi yang menerima Allah Bapa, tetapi menolak Yesus.
Kalau menerima Bapa harus menerima Yesus dong. Kalau kita
menerima Yesus kita harus melakukan perintah-Nya dong. Bila
tidak, maka bila Dia datang, ia akan tetap menjadi makhluk asing.
Yesus ada di mana?
Ada ilustrasi yang ironis tentang Natal. Dikisahkan, para rasul
sedang berkumpul di surga bersama orang-orang percaya. Petrus
bertanya, “Di musim Natal seperti ini di mana Yesus berada? Lalu
mereka jawab: Yesus ada di gereja, di semua gereja. Rasul Petrus
menjawab, “Salah. Hampir tak penting lagi Yesus ada di gereja.
Toh Dia ada atau tidak ada, gereja tetap jalan. Gereja akan
melakukan dan memutuskan sesuatu menurut analisis mereka,
semaunya saja. Kalau pun mereka rapat dan berdoa minta pimpinan
Tuhan, toh keputusan yang dikeluarkan hanya berbau semangat
kemanusiaan. Gereja terlalu sibuk dengan organisasinya”.
Ada yang berkata bahwa Yesus pasti pergi ke penjara, mengunjungi
para tahanan. Tetapi Petrus lagi-lagi berkata tidak ada gunanya
Yesus ke penjara. Narapidana memang suka Natal tiba, lalu berdoa
dan berharap orang Kristen datang. Karena mereka tahu pada saat
Natal, orang Kristen yang datang akan membawa kado dan mereka
akan menerima pemberian yang lebih baik dari hari-hari biasanya.
Jadi bagi para narapidana Natal sangat mengasyikkan karena
gereja akan datang dengan setumpuk hadiah. Syukur-syukur gereja
itu kaya raya maka hadiahnya mewah. Maka yang terjadi di sana
hanyalah barter rasa: yang satu merasa memberi yang lain merasa
menerima. Itu saja, tetapi semua dibungkus dalam Christmas
Carol.
Yang lain menimpali, “Aku tahu, Yesus pasti ke orang-orang
miskin!” Buat apa Yesus pergi ke orang-orang miskin? Toh mereka
pun akan bernasib sama seperti para narapidana. Mereka mendadak
diperhatikan, mereka mendadak menjadi orang penting. Bahkan
ketika mereka belum bangun pintu rumah mereka diketuk dan mereka
akan terkejut melihat bingkisan Natal di depan pintu. Orang
miskin kan tidak lebih dari orang yang dieksploitasi,
dipertontonkan seakan-akan kita yang memberi bingkisan penuh
dengan cinta kasih. Tetapi itukah kesejatian?
Ternyata tidak ada yang bisa menjawab, “di mana Yesus pada hari
Natal”. Dan itulah yang terjadi pada Natal. Sejatinya Yesus
datang, orang menolaknya. Lalu kalau begitu, setiap Natal Yesus
turun ke dunia, ke mana dia pergi? Dia mencari hati yang hancur
yang berkata, “Ya Tuhan, aku orang berdosa, tolonglah aku”.
Sejatinya, Dia ada di situ. Di situlah Yesus ber-Natal. Sangat
personal, satu dengan satu, face to face, bukan dalam kelompok
orang-orang banyak.
Karena itu, betapa ironinya Natal itu. Siapa yang suka Natal?
Kita tidak suka Natal dalam pengertian yang sejati. Kita terlalu
sibuk untuk diganggu Yesus. Acara kita terlalu banyak untuk Dia
menyela kita, masuk dalam acara kita. Kita terlalu sibuk dengan
diri kita. Natal memang ironi.
(Diringkas dari VCD khotbah oleh Hans P Tan)
(Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)
|