|
Bulan Desember bukan hanya indah, namun juga selalu gegap
gempita karena seluruh dunia menyongsong Natal. Gegap gempita
itu bercam-pur baur dengan sukacita karena Kristus datang
melawat umat manusia.
Yesus datang ke dunia atau Natal bukan sebuah rencana di
pertengahan jalan, tetapi Natal adalah sebuah rencana Allah
yang sangat luar biasa. Allah menge-tahui bagaimana bebalnya
manusia yang akan melanggar perintah-Nya dan jatuh ke dalam
dosa. Dan untuk itulah Allah sudah menyediakan keselamatan
bagi manusia.
Dulu, nun jauh di Taman Eden, berita Natal pertama kali
dikuman-dangkan, walaupun aktualisasinya terjadi ribuan tahun
kemudian. Ini perlu kita ingat bersama supaya tidak terjebak
dalam perangkap rutinitas atau religiusitas dari Natal ke
Natal.
Apa yang terjadi di Taman Eden?
Saat itu, manusia ada di dalam kesempurnaannya. Manusia hidup
begitu berkelimpahan. Tidak ada persoalan ekonomi, manusia
bisa makan, minum. Apa pun yang diinginkannya dengan sangat
mudah didapat. Hakekat manusia pun adalah hakekat dalam
kesem-purnaan sebagai penguasa alam semesta. Apa pun tunduk
pada dia. Maka indahlah kehidupan di sana, dulu.
Namun sayang, di dalam kesem-purnaannya, di dalam
ketidakber-dosaannya, manusia melanggar perintah Allah.
Manusia jatuh ke dalam dosa, dan harus binasa! Namun kasih
Allah kepada manusia membuat Dia rela turun ke dunia, menjadi
sama dengan manusia, untuk menebus dosa manusia. De-ngan cinta
kasih Allah, manusia memiliki pengharapan. Itulah kekuatan
Natal yang membuat Dia rela turun, membuat Dia rela tak
mendapat tempat. Yang membuat Dia rela ditolak, karena
ketidaktaat-an manusia yang sudah mencipta-kan bencana panjang
bagi dirinya sendiri, tetapi harus dibereskan oleh Yesus
Kristus.
Oleh karena itu, mari kita sikapi dan pahami Natal itu dengan
benar. Natal bukanlah sebuah kelayakan kehidupan manusia.
Justru Natal adalah penebusan atas dosa karena pemberontakan
kita terhadap Dia, membuat Dia rela turun dari surga ke dunia.
Dia turun dalam kerelaan padahal sebenarnya tidak ada
kewajiban bagi Dia untuk menyela-matkan manusia. Tetapi cinta
kasih-Nya membawa-Nya melawat kita. Bukankah seharusnya kita
bersyu-kur? Maka gegap gempita Natal ter-letak pada pemahaman
kita, sejauh mana kita mampu memahami pertolongan Allah. Jika
kita mampu memahaminya, maka sejauh itulah kita akan bersuka
cita dalam Natal.
Waktu terus bergulir. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa,
persoalan silih-berganti diciptakan: sampai ke jaman Nuh,
terus ber-gulir sampai ke jaman Sodom dan Gomora. Bahkan
sampai saat ini kita melihat, dosa terus-menerus dicip-takan.
Dosa memang sangat kreatif menciptakan berbagai bentuk,
termasuk dengan apa yang dina-makan dosa modern. Dosa sangat
luar biasa untuk menelan korbannya.
Oleh karena itu, di kandang hina, melihat realita seperti itu,
di mana tidak ada harapan hidup manusia, Yesus Kristus anak
Allah mau turun dari sorga. Dia rela menjadi manu-sia, sama
seperti kita bahkan ting-gal di tempat di mana kita tidak
ingin tinggal. Ia rela menjadi sama seperti kita untuk
melakukan karya keselamatan.
Di kandang hina, Ia datang. Berita Natal berkumandang, gembala
mendengarkan. Natal dinyatakan, Tuhan dipermuliakan. Tetapi
jangan lupa, semua dilakukan dalam kehinaan dan ketiadaan.
Karenanya, yang datang adalah gembala, bukan raja. Orang-orang
Majus yang datang pun adalah orang-orang kafir, bukan bangsa
pilihan, bukan Yahudi. Tapi di sini, di tempat yang hina
inilah kemuliaan dinyatakan. Di kandang yang tidak mulia ini,
Natal keselamatan justru menjadi nyata.
Meski demikian, kita tidak perlu merayakan Natal dengan
ber-susah-susah, berhina-hina, sedih, porak poranda, dan
sebagainya supaya mampu memahaminya. Ini bukan soal fenomena,
bukan soal apa yang bisa kita lihat dengan mata atau kita
rasakan. Tetapi ini persoalan kualitas yang paling utuh, yakni
bagaimana kita melakukannya dengan suasana hati dan pemahaman
yang utuh. Karena itu, pengenalan akan Alkitab menjadi modal
pertama kalau kita mau merayakan Natal. Bukan berapa besar
kapital yang ada pada kita. Tetapi berapa jauh kita mengenal
Dia di dalam hidup kita. Berapa jauh kita mengenal Dia di
dalam semangat gairah, berapa jauh iman kita meng-Allah kepada
Yesus Kristus, anak Allah.
Saya kira ini suatu pemikiran atau renungan yang jarang sekali
kita pahami. Sehingga kita betul-betul masuk ke suasana Natal
yang utuh itu. Sekali lagi, Natal bukan soal tempatnya, tetapi
bagaimana kita melakukan apa yang Allah mau dalam kualitas
pemahaman kita. Ini semua perlu kita pahami supaya tidak
terjebak dalam perangkap-perangkap rutin, sebaliknya kita
perlu diingatkan secara rutin. Jangan setiap tiba Natal kita
melaksanakan seremonialnya saja tetapi kehilangan maknanya.
Dan tragedinya, dalam kehilangan makna, kita justru mengatakan,
“Hati-hati jangan sampai kehilangan makna.” Tetapi kata-kata
“jangan sampai kehilangan makna” itu pun sudah kehilangan
makna.
Maka tidak ada kata yang pas untuk mengingatkan, kecuali sikap
iman yang benar. Tidak ada kata yang pas kecuali pemahaman
yang utuh. Tidak ada kata yang pas kecuali hubungan pribadi
dengan Tuhan. Karena itu berbahagialah Anda di Natal ini,
kalau Anda beriman pada Dia. Jangan nodai Natal dalam keluh
kesahmu kepada Tuhan hanya karena tidak paham pada apa yang
sedang terjadi di dalam kehidupan: kekecewaan, kemarahan
berkepanjangan yang tidak pada tempatnya.
Akhirnya, jangan nodai Natal, hanya karena tidak cukup uang
untuk membeli seperangkat barang yang diinginkan dalam rangka
merayakan Natal. Jangan nodai Natal dengan perasaan cemburu
karena orang lain bisa menghias rumahnya. Sebab sesungguhnya,
Natal adalah momentum yang tepat bagi kita untuk mensyukuri
apa yang sudah Tuhan berikan untuk kita. (Diringkas dari
kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)
(Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)
|