» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 














 











 
» KHOTBAH POPULER                                                                          Pdt. Bigman Sirait

Orang Tua,Harus Jadi Model bagi Anak
Oleh Pdt. Bigman Sirait


“Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah Tuhan, Allahmu, untuk dilakukan di negeri ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan cucumu takut akan Tuhan, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya....” (Ulangan 6: 1-9)

KITA harus menyelamatkan anak untuk menyongsong masa depannya. Ini perlu kita sadari karena kita harus mengakui kalau gereja sering kalah bertanding dengan jaman. Jaman melejit luar biasa memengaruhi banyak aspek lewat berbagai hal, khususnya lewat media. Sementara gereja tertinggal sangat jauh. Kita tidak lagi bisa mengantisipasi jaman, apalagi bertempur dan menjadi pemenang. Oleh karena itu kita harus sadar pada kenyataan, agar jangan seperti petinju yang sembarang memukul. Tahun 2000-an ini anak-anak sudah akrab dengan apa yang disebut dunia maya. Sekarang anak-anak bisa duduk berjam-jam di depan komputer main game, chatting, dan sebagainya. Banyak anak yang saking kecanduan bermain komputer jadi lupa segalanya, bahkan ada yang sekolahnya berantakan. Untuk mengatasi hal ini, tidak ada solusi selain orang tua harus menyediakan waktu lebih banyak lagi bagi anaknya, supaya dia kembali ke jalan yang benar, supaya tidak kecanduan pada komputer. Karena itulah kita sebagai orang tua harus memerhatikan bagaimana orang Israel diperlengkapi waktu memasuki Tanah Kanaan. “Hai bangsa Israel, ingatlah, dengar-kanlah: shema”. Shema dalam istilah Ibrani artinya: “dengar-kanlah, Akulah Tu-han Allahmu…” Kalimat itu perlu sekali bagi orang Israel untuk memasuki Tanah Kanaan, karena mereka sudah terpolusi di Mesir, mereka sudah dinodai di Mesir. Me-reka bangsa pilihan yang menyembah berhala. Jadi, kita mesti menyiapkan generasi kita memasuki masa depan, khususnya anak-anak kita. Bagai-mana kita melakukan itu? Secara agama kita sudah melihat sinkretis (semunya) agama. Dalam 2 Timotius 3 dikatakan, “Mereka beribadah, tetapi menyangkal kekuatan ibadah.” Semua kebaktian ujung-ujungnya duit. Agama hanya topeng. Sulit mencari orang yang berintegritas. Susah men-dapatkan orang yang seimbang dan sejalan antara kata dan tindakannya. Sebagai orang tua, kalau omongan kita tidak bisa dipegang anak-anak bagaimana mereka meniru kita? Anak tidak akan kagum pada orang tuanya jika tidak lihat modelnya. Anak tidak akan kagum pada kekris-tenan, jika menyaksikan perilaku orang tua yang melenceng dari nilai kekristenan.
Setiap orang tua mestinya menjadi model bagi anak-anaknya. Ini menjadi pertarungan kita. Nah oleh karena itu mari kita jalani hidup ini dan mengenalkan anak-anak kita kepada Tuhan. Kita melihat, jaman sekarang mental anak-anak melemah. Cengengnya minta ampun. Semangat Kristus itu tidak ada, padahal Yesus bilang, “Sangkal diri, pikul salibmu”. Firman Tuhan Oleh karena itu, pertama, mari kita menembus jaman dengan kembali pada firman Tuhan, mendemonstrasikan itu pada anak-anak kita. Mereka berhak melihat hidup dalam Tuhan itu seperti apa? Dan kita para orang tua adalah modelnya. Dan Tuhan menggugat kita supaya betul-betul mampu menjadi model bagi anak-anak. Kalau mau memberi mereka masa depan, orang tua bukan sekadar memasukkan mereka ke sekolah yang bagus, tetapi yang lebih penting lagi adalah menjadi model, bagaimana seharusnya hidup. Sehingga mereka bisa melihat dengan utuh, mendemonstrasikan. Ini menjadi pertarungan penting bagi kita. Yang kedua, “shema”, itu harus diwariskan kepada anak-anak kita dengan mengatakan kepada mereka, “Dengarkanlah Tuhan bicara apa?” Persoalannya, jangan cuma katakan “dengarkan”, tetapi kita tidak melakukan. Anak-anak sekarang sudah kritis. Jaman dulu mungkin dengar omongan, anak-anak sudah takut melawan orang tua. Anak-anak sekarang mikir. Anak-anak Indonesia sedang di persimpangan jalan: antara kepatuhan (terhadap orang tua) dan pemberontakan. Anak memprotes orang tua, seperti sudah biasa di Barat, pada satu sisi bagus, karena bisa menyatakan pendapat. Tapi jika kita lihat secara utuh, itu mengerikan. Rasa ketergantungan makin menipis di Barat, karena semua mandiri. Di satu sisi, mandiri bagus, tetapi lain sisi, semangat kemanusiaan makin hilang. Padahal, manusia harus saling membutuhkan. Kita butuh orang lain. Oleh karena itu, bagi anak-anak kita yang sedang di persimpangan jalan ini, perlu kita katakan “shema” dengarkanlah apa yang Tuhan katakan. Tetapi sebelumnya, tunjukkan dulu (model) supaya mereka mendengar apa yang kita katakan. Yang ketiga, hati-hati jangan sampai doa dan kebaktian itu hanya sekadar tradisi. Bagaimana kita menasihati anak-anak supaya bertingkahlaku baik bila mereka tahu kita sendiri sebagai orang tua tidak baik dalam perilaku? Bagaimana anak-anak sekolah minggu bisa baik sementara guru sekolah minggunya tidak memperlihatkan contoh yang baik di depan anak-anak? Untuk memberi masa depan penuh harapan kepada anak, pertama, sadarkan anak-anak kita akan dunia. Ceritakan dunia ini seperti apa. Mungkin anak-anak tidak langsung bisa terima, protes. Biarkan saja kebenaran itu mengendap. Satu dua tahun kemudian mereka akan mengerti bahwa itu benar. Maka belajar dalam kesabaran menuntun anak. Sadarkan dia. Yang kedua ajarkan dia firman Tuhan supaya dia makin mengerti: “she-ma, dengarkanlah apa kata Tuhan”, sehingga dia makin bertumbuh dalam kebenaran itu.q (Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)

                                                              (Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)

| A R S I P | BIODATA |

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi