|
KEBERADAAN manusia sebagai makhluk beragama penting kita
pahami, supaya di tengah k
Kitab Kejadian 1: 27-28, dan Matius 22: 37 mengajak kita
untuk menelusuri keberadaan manusia sebagai makhluk
berbudaya dan beragama. Sebagai makhluk berbudaya, manusia
mengatur hubungan dengan sesama. Sebagai makhluk beragama,
manusia diberi kemampuan untuk berelasi dengan Allah, dalam
persekutuan yang utuh antara umat dengan penciptanya.
Beragama merupakan kemampuan lahiriah yang diberikan Allah
kepada manusia. Hal ini juga membedakan manusia sebagai
ciptaan yang utama dengan binatang yang tidak punya
kemampuan religius untuk beribadah kepada Sang Pencipta.
Namun kejatuhan manusia ke dalam dosa telah mengakibatkan
kerusakan pada sistem nilai manusia. Manusia sebagai makhluk
beragama yang seharusnya tunduk kepada kebenaran, justru
melawan kebenaran. Manusia yang seharusnya takluk kepada
Allah kini tidak lagi tunduk seutuhnya, bahkan sebaliknya
memanipulasi atau mengatur Allah dengan caranya yang disebut
agama. Ada yang menjadikan agama hanya sekadar baju, dan
tidak memberikan ruang dalam hati bagi Tuhan. Kita mengurung
Tuhan dalam hidup kita, dan menginginkan agar DIA melakukan
apa yang kita mau. Kita bukan hidup seperti apa yang Tuhan
mau.
Agama berasal dari kata “a-gamos”, yang artinya “tidak kacau”.
Jadi, agama secara umum sebetulnya menghindari kekacauan.
Dengan beragama manusia menjadi makhluk yang tertib dan
bermoral—kecuali kalau agama yang dianutnya memiliki dasar
ajaran yang merusak, menyakiti dan menghancurkan. Ini
biasanya disebut bidat (sekte). Namun pada hakekatnya, agama
tidak pernah mengajarkan untuk merusak atau menimbulkan
kekacauan. Tetapi sebagai ekses dari sebuah agama, kekerasan
bisa muncul. Kalau melihat ekses dari suatu agama, jangan
salahkan agamanya, sebab yang namanya ekses bisa ada dan
terjadi pada agama apa pun. Ekstrimis bisa ada pada agama
apa pun.
Sifat agama
Secara umum dapat dikatakan, agama punya beberapa sifat.
Pertama, agama itu bersifat eksklusif. Kenapa? Karena agama
merupakan sebuah keyakinan yang menciptakan sistem
kepercayaan ke dalam (intern). Penganut yang eksklusif akan
menolak segala sesuatu yang berbeda dengan keyakinannya. Di
luar mereka dianggap sesat atau kacau. Jadi, agama sangat
sulit menerima suatu realita perbedaan. Agama punya
kecenderungan untuk menolak perbedaan. Inilah salah satu
bentuk eksklusivitas agama.
Sifat kedua, radikal. Karenanya, agama itu akan
mempertahankan diri dan menolak keras perbedaan agama, kalau
perlu dengan cara radikal, menghancurkan. Sehingga muncullah
wajah yang menakutkan dari agama, dan ini telah sering
dibuktikan sejarah. Jadi, perdebatan atau pertikaian soal
agama bisa membutuhkan waktu yang sangat panjang, bahkan
mungkin tidak akan pernah selesai. Ideologi (kenegaraan)
kadang-kadang bisa ditengahi, tetapi kalau sudah menyangkut
agama, sangat sulit, karena menyangkut keyakinan yang sangat
mendalam.
Ketiga, agama juga disebut mistis. Agama tidak sama dengan
ilmu pengetahuan. Agama itu digambarkan sakral, tidak bisa
diganggu gugat, karena keyakinan kadang kala tidak bisa
dijelaskan berdasarkan ratio. Agama bersifat mistis karena
memang mengan-dung sesuatu nuansa atau suasana yang
misterius: hubungan seseorang dengan Tuhannya. Hubungan ini
tidak bisa dipegang atau dijangkau. Jadi, dari sifatnya
agama secara umum menempatkan pengikutnya dalam kelompok,
untuk bertarung membuktikan diri sebagai yang paling benar,
dengan cara paling halus sampai cara paling kasar,
tergantung persfektif sang pemimpin.
Lalu bagaimana agama dipandang dari kaca mata Kristen? Dalam
Roma 3:11 dikatakan, “Tidak ada seorang pun yang berakal
budi. Tidak ada seorang pun yang mencari Allah...” Alkitab
mengajarkan kepada kita, sejatinya tidak ada orang yang
mencari Allah, karena semua manusia sudah berdosa. Sebagai
makhluk berdosa, manusia tidak lagi memiliki kemampuan untuk
mencari dan menemukan Allah. Tidak ada manusia yang benar,
seorang pun tidak. Manusia tidak punya kemampuan untuk
mencari Allah yang suci dan sejati. Sehingga secara umum
agama hanyalah suatu sistem di dalam keterbatasan. Sebagai
sistem, dia mampu menciptakan kebaikan, moral. Manusia yang
makin berbudaya, ditambah kombinasi kesadaran, pertumbuhan
di dalam kebutuhan akan lingkungan sosial yang makin dewasa,
ditambah ilmu pe-ngetahuan dan pengalaman-pe-ngalaman,
membuat manusia itu berpikir untuk menciptakan tatanan
kehidupan yang lebih dan lebih baik lagi.
Agama, dalam kaca mata Kristen, dapat dilihat dalam Yohanes
15: 16. Tuhan berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi
Akulah yang memilih kamu...”. Artinya manusia tidak pernah
punya inisiatif untuk mencari dan memilih Tuhan, tetapi
justru Tuhanlah yang berinisiatif memilih dan menemukan
manusia. Jika penganut agama secara umum berkata, “Engkaulah
Tuhanku”, maka pengikut Kristus justru mendapat anugerah:
dipilih menjadi murid Tuhan.
Di sinilah kita merasakan makna kekristenan yang dalam itu,
sehingga kekristrenan bukan sekadar agama dalam pengertian
secara umum. Kekristenan tidak bisa menjadi sama di dalam
pemahaman agama secara umum. Kekristenan harus diyakini
sebagai panggilan Kristus kepada orang berdosa, sehingga
oleh kemurahan Kristus, orang berdosa mendapat penebusan,
sehingga disebut Kristen: murid Kristus, atau Kristus kecil.
Jadi, jikalau Kristen dipandang sebagai agama, maka jangan
lupa Kristus adalah Allah yang menyatakan diri, bukan
dinyatakan oleh umat. Jadi, Kristen adalah sebuah kesaksian
Alkitab, bukan sebuah sistematika agama. Kekristenan hanya
berpegang pada apa yang dikatakan Alkitab. Apa yang
dikatakan dalam Alkitab, itu sudah cukup dan amin.
(Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)
(Nantikan Khotbah Populer selanjutnya!)
|