|
Manusia adalah makhluk yang pintar. Manusia juga sadar serta
yakin akan kepin-tarannya itu. Kepintaran ini pula yang
membuat manusia mampu menjelajahi alam semesta, khususnya Bumi.
Manusia mampu menggali isi perut Bumi dan memanfaatkannya demi
kemudahan hidup serta kesejahteraan.Yang lebih spektakuler,
makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia ini sudah mendarat di
Bulan. Sayang, berdasarkan penelitian, tidak ada peluang bagi
makhluk bumi untuk hidup dan berdomisili di Bulan. Meski
demi-kian, manusia ternyata belum puas. Penelitian angkasa
luar serta pembangunan teknologi pendukungnya terus dilakukan.
Hasilnya, Amerika Serikat dengan NASA-nya belum lama ini
sukses mendaratkan pesawat di Planet Mars. Pesawat tanpa awak
yang diken-dalikan dari Bumi ini mengambil gambar-gambar di
permukaan Planet Mars dan secara berkala mengirimkannya ke
Bumi. Berdasarkan foto-foto inilah para ahli se-dang meneliti
apakah planet merah ini layak dihuni oleh warga Bumi.
Berkat anugerah kepintaran ini, manusia bisa menciptakan
segala sesuatu demi kemudahan hidup. Dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, manusia mampu mengembangkan
penemuan-penemuan baru yang serba luar biasa.
Di bidang kedokteran misalnya, pasangan suami-istri yang
kesulitan punya anak bisa ikut program bayi tabung. Dan yang
lebih spektakuler, dengan teknologi kloning, bisa dibuat "fotokopi"
seseorang-meskipun dia sudah lama meninggal dunia.
Sadar akan kehebatannya itu, tidak sedikit pula manusia jaman
sekarang yang merasa tidak membutuhkan orang lain. Realita ini
membuat sifat individualistis ma-nusia semakin menonjol. Salah
satu bentuk dari sifat tidak membutuhkan orang lain ini sering
tampak dalam kehidupan suami-istri. Dulu, rasa kebergantungan
seorang istri terhadap suami begitu kuat. Tetapi di era modern
ini, rasa kebergantungan itu semakin tipis.
Bahkan, istri-istri pada jaman sekarang sudah ada yang "berani"
berkata, "Memangnya cuma suami saja yang bisa cari makan? Saya
juga bisa!"
Kenyataan-kenyataan seperti ini memang pahit. Di mana ketika
manusia dalam penjelajahan dan pencahariannya itu semakin
pintar, ternyata pada titik yang sama muncul sebuah kebodohan
yang amat sangat. Semakin manusia itu pintar, ternyata dia
semakin bodoh. Kenapa? Karena di dalam realita sosialnya saja,
semakin manusia itu pintar atau semakin he-bat,
individualistisnya semakin kuat. Jika perasaan mandirinya
semakin kuat, dia semakin tidak membutuhkan orang lain pula.
Namun, justru di sinilah kebodohan manusia itu mulai
ditunjukkan. Padahal konsep penciptaan manusia oleh Allah
adalah untuk saling bergantung. Dalam Kejadian 2: 18 Tuhan
Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri
saja. AKU akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan
dengan dia."
Dengan demikian, maka konsep kebersamaan, kebergantungan
manusia yang satu dengan yang lain merupakan persekutuan yang
paling tinggi di dalam hakekat ke-manusiaan. Oleh karena itu,
manusia yang semakin pintar dan membuat dia makin
individualistis itu juga akhirnya semakin bodoh karena
menghilangkan atau menyangkal hakekatnya sebagai makhluk yang
memerlukan orang lain. Sebab dengan adanya perasaan tidak
membutuhkan orang lain, sebenarnya manusia sedang membunuh
perasaannya. Padahal unsur ini (rasa membutuhkan orang lain)
sangat perlu di dalam diri seorang manusia. Sifat kebersamaan,
sifat membutuhkan orang lain, perlu dan mutlak untuk terus
dipupuk.
Jelaslah bahwa kepintaran manusia yang hebat itu, hikmatnya
yang sangat luar biasa itu, ternyata menjadi kebodohan pula.
Karena semakin manusia itu ber-hikmat, semakin bertambah
ilmunya, dia semakin tidak mengenal Allah, karena dia tidak
mau tahu Allah. Ia semakin mengabaikan Allah dan menganggap
bahwa dirinyalah Allah. Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia
yang makin pintar itu sekaligus pada saat yang bersamaan juga
menjadi semakin bodoh? Oleh karena itu, kemajuan jaman menjadi
malapetaka pula. Di satu sisi, kemajuan jaman memberikan
pengharapan, serta suatu nilai plus.
Tetapi pada saat yang bersamaan kemajuan jaman mengancam
keimanan manusia, bahkan membunuh dan mencabik-cabiknya.
Sehingga manusia kehilangan pegangan kepercayaan yang sejati
kepada Allah.
Kenyataan-kenyataan seperti ini membuat kita harus
berhati-hati. Sebab ternyata keberhasilan tidak selalu menjadi
kesukaan. Keberhasilan ternyata tidak selalu membawa kita pada
kebahagiaan. Karena kesukaan, kehebatan, keberhasilan, justru
bisa membawa kita ke ledakan malapetaka yang sangat mengerikan,
di mana kita bisa kehilangan rasa cinta terhadap sesama,
kehilangan rasa kebergantungan, dan bahkan kehilangan
kepercayaan. Oleh karena itu, di dalam paradoks seperti ini
kita ti-dak boleh terjebak, tetapi bagaimana seharusnya kita
belajar untuk menekuni, meyakini kebenaran Alkitab.
Alkitab mengatakan bahwa orang-orang berdosa itu adalah
orang-orang bodoh.
Sebaliknya, menurut ukuran manusia, orang yang menguasai ilmu
pengetahuan itu disebut pintar. Tetapi mereka itu menjadi
bodoh jika diukur dari ukuran Tuhan. Mereka itu memang bodoh,
karena tidak bisa mengenal Tuhan.
Jadi, pada waktu orang tidak bisa mengenal Tuhan, itu adalah
sebuah kebodohan, karena dia tidak akan menemukan jalan
keselamatan. Dan tragisnya adalah, kebodohan itu justru muncul
pada saat manusia itu mempunyai hikmat yang paling tinggi,
ilmu pengetahuan dan teknologi serba canggih,
penemuan-penemuan yang paling hebat. Dengan demikian, bukankah
merupakan suatu tragedi yang sangat menyesakkan ketika manusia
itu disebut bodoh?
Seharusnya, dengan kecerdasan yang luar biasa serta
penemuan-penemuan yang mencengangkan itu, manusia semakin
mengerti dan mengenal Allah. Tetapi yang terjadi justru
kebalikannya. Ini benar-benar sebuah tragedi yang sangat
menyedihkan dan sangat pahit. Tetapi ini adalah realita yang
tidak bisa dielakkan dari kehidupan umat manusia. Oleh karena
itu kita harus berhati-hati di tengah-tengah kehidupan supaya
tidak terjebak ke dalam perangkap-perangkap yang pada satu
sisi sepertinya sangat menjanjikan, tetapi di segi lain
mematikan. Pada satu sisi kita tampak semakin bijak dan pintar
tetapi di sisi lain kita semakin kehilangan arah. Maka,
berpeganglah senantiasa pada Allah, sebab hanya DIA-lah jalan
keselamatan itu.*
(Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)
(Nantikan Khotbah selanjutnya)
|