|
Anak lelaki itu masih bau
kencur. Umurnya paling
banter 14 tahun. Mengenakan
kaos kumal abu-abu dan
celana pendek coklat.
Berdiri di tengah jembatan
penyeberangan busway di
depan Pasar Rumput, Jakarta
Selatan. Matahari menyalak
dari langit ketika saya
lewat di depannya.
Tiba-tiba anak itu
menghadang dengan
merentangkan kedua lengannya.
“Mbak, minta uang buat makan,”
katanya.
Saya terkejut bukan kepalang.
Jantung mendadak berdebar
kencang. Hari masih terang.
Tapi hanya ada saya dan dia
di jembatan penyeberangan
pada tengah hari itu. |
|
Tuhan tolong, bisikku dalam
hati. Lalu muncul keberanian
entah darimana. Jemari saya
terangkat dan menyentuh
punggung tangannya. Dengan
lembut saya menurunkan
tangan kanannya yang
terentang. Saya melempar
senyum padanya.
“Masih kecil, jangan memalak
orang ya, Dek.” Kemudian
saya melangkah meninggalkan
dia yang mematung. Sempat
muncul kekhawatiran kalau
dia mengejar dan melakukan
kekerasan. Untunglah, dia
hanya terpaku.
Jantung saya sebenarnya
masih berdegup kencang.
Kaget juga ada anak kecil
sudah menjadi preman.
Menodong di tengah jembatan.
Apa dia nggak sekolah? Ini
masih jam sekolah. Apa
orangtuanya tahu dia
melakukan kejahatan? Gila
memang zaman sekarang. Kalau
kecil sudah berani begini,
gimana nanti besarnya?
Jangankan anak orang miskin.
Anak pejabat saja bisa masuk
penjara, terlibat narkoba,
tawuran. Yang sudah dewasa
jadi koruptor, masuk
televisi, fotonya dimuat di
koran. Lalu kita menyalahkan
pemerintah dan sistem
hukumnya yang tidak tegas.
Menyalahkan kemiskinan dan
sistem ekonomi. Menyalahkan
guru, sekolah dan sistem
pendidikan. Kita selalu
menyalahkan orang lain.
Kita lupa. Semuanya berawal
dari keluarga. Dari peran
seorang ayah.
Rick Warren bilang begini
lewat status Twitter-nya:
“In the poorest slums on
earth I’ve learned that
gangs and violence are not
created by poverty but by
the absence of fathers.”
Seseorang bisa saja
mempunyai ayah. Tapi apakah
ayah melakukan perannya
dalam keluarga? Atau ia
menyerahkan peran mendidik
anak hanya pada ibu? Apakah
ayah berbicara akrab dengan
anak-anaknya seperti seorang
sahabat, mentor sekaligus
pelindung? Apakah ayah
bertindak tegas sekaligus
lemah lembut?
Saya ingat, ayah sayalah
yang membuat saya
tergila-gila pada musik,
seni dan buku. Ayah saya
banyak mempengaruhi cara
berpikir saya. Sosok ayah
saya membentuk siapa saya.
Ayah saya memang tidak
sempurna. Tapi saya punya
Ayah di Surga yang sempurna.
Itu lebih dari cukup.
Kalau kamu punya ayah yang
tidak sempurna, atau bahkan
tidak punya ayah; jangan
khawatir, tataplah ke atas,
Ayahmu yang di Surga begitu
sempurna. Ia selalu menjaga
dan melindungimu.
Telinga-Nya selalu tersedia
untuk mendengar ceritamu.
Tangan-Nya tak akan
membiarkanmu jatuh
tergeletak.
Dan kalau Anda seorang ayah,
saya mewakili anak, ingin
bilang: tiap orang
merindukan sosok ayah dalam
hidupnya. Sosok seorang ayah
menentukan akan menjadi
seperti apa anaknya kelak.
Sosok seorang ayah
menentukan generasi
mendatang. Sosok seorang
ayah menentukan nasib bangsa.
|
Miliki pengajaran
‘Bagaimana
Menaklukkan Gunung
Keluarga’. Mari kita
genapi Maleakhi
4:5-6, membuat hati
bapa-bapa berbalik
kepada anak-anaknya
dan hati anak-anak
kepada bapa-bapanya.
Jangan biarkan
generasi ini menjadi
generasi tak berbapa.
Rebut kembali
keluarga Anda!
Hubungi segera
021-2555 4646 (Agoestine/
Marlin - Selasa -
Jumat 9.00 sampai
17.00) |
|