|
Rambut saya kering,
bercabang dan rontok.
Meskipun terus tumbuh rambut
baru, saya takut kalau nanti
sudah tua akan botak. Yah,
problem rambut ini terjadi
karena rambut saya sering
dipermak. Dikeriting 2 kali,
diluruskan lagi 2 kali, tapi
tidak pernah benar-benar
dirawat. Salah sendiri!
Selain itu, saya juga sering
menarik-narik rambut
bercabang saya. |
|
Gatal melihatnya. Jadi saya
seringkali memperhatikan
kerusakan rambut saya tanpa
berusaha mengobatinya.
Tiba-tiba saya ingat sesuatu.
Di Alkitab Tuhan bicara soal
rambut.
Dan kamu, rambut kepalamu
pun terhitung semuanya.
- Matius 10:30
Kalau Tuhan hitung berapa
helai jumlah rambut saya,
berarti Dia tahu berapa
helai yang rontok per
harinya. Kata Alkitab lagi,
burung pipit tidak akan
jatuh tanpa seijin Tuhan,
berarti SEMUA hal terjadi
atas seijin Tuhan. Termasuk
kerontokan rambut saya.
Termasuk kering dan
pecah-pecahnya rambut saya.
Dia ijinkan itu terjadi.
Kalaupun saya tanya, "KENAPA
TUHAN, KENAPA RAMBUTKU RUSAK?
ENGKAU TIDAK ADIL MEMBIARKAN
RAMBUTKU RUSAK BEGINI!"
Orang-orang pasti bilang
saya sinting. Salah sendiri,
mau cantik tapi tidak mau
merawat.
Kalau dipikir-pikir, persis
dengan kehidupan ini.
Sebelumnya saya tidak
berhenti bertanya kenapa
mama bunuh diri dan Tuhan
ijinkan, kenapa banyak hal
buruk – padahal Tuhan tidak
pernah merancangkan
kecelakaan atas manusia –
Tuhan ijinkan terjadi?
Kenapa Tuhan biarkan rambut
saya rontok?
Hmph, saya jadi ingin
tertawa sendiri. Masalah
rambut rontok ini salah
sendiri, bukan salah Tuhan.
Saya yang mau rambut saya
dikeriting. Saya juga yang
memilih untuk tidak
merawatnya. KENAPA TUHAN
IJINKAN? Tepatnya, KENAPA
SAYA IJINKAN? Kadang hal-hal
yang menjadi free will saya
kaitkan dengan kehendak
mutlak Tuhan.
Dua macam kehendak, kehendak
yang diijinkan Tuhan, dan
kehendak Tuhan yang mutlak.
Kadang saya menyatukan
keduanya dengan semena-mena
lalu menyalahkan Tuhan
akibat dari kehendak saya
sendiri. Misalnya saya
bertanya, "Hari ini aku pake
baju apa ya, Tuhan? Baju
koko atau rok mini?" "Warnanya
apa, Tuhan? Merah hoki gak
buat hari Kamis?" KAMU PIKIR
TUHAN ITU APA? Cenayang?
Pakar kecantikan? Guru
Fengshui?
Pertanyaan-pertanyaan itu
bisa dijawab sendiri dengan
akal sehat. Misalnya pergi
malam-malam pakai rok super
ketat lalu disuitin
abang-abang, ‘kan salah
sendiri. Misalnya lagi, si
mama depresi lalu bunuh diri,
salahnya sendiri juga. Orang
bisa bahagia atau tidak itu
pilihannya sendiri, tidak
peduli seberapa terpuruknya
keadaan yang ada.
Nah, kembali ke masalah
rambut rontok, tidak ada
satu helai pun rambut saya
yang rontok tanpa seijin
Tuhan. Berarti kalau Tuhan
mengijinkan rambut saya
rontok, saya harus berbuat
sesuatu terhadap kesalahan
saya yang tidak merawat
rambut. Sama juga dengan
kenapa Tuhan mengijinkan
adanya kesalahan-kesalahan
yang dibuat manusia terjadi.
Karena Tuhan mau manusia
belajar. :)
Yah, kalau Tuhan sebegitu
pedulinya dengan rambut saya,
Dia akan lebih peduli lagi
dengan hati saya.
If God does
care so much
about my
hair, HE
will care a
LOT more
about my
heart.
|
|
Kenapa banyak
kejadian buruk,
kehilangan,
kesedihan, rasa
marah, bencana yang
Tuhan ijinkan
terjadi di kehidupan
saya? Karena Tuhan
mau saya belajar.
Tuhan mau saya
mengandalkan Dia.
Saya belajar untuk
percaya kedaulatan
Tuhan dan belajar
untuk tidak menuntut
jawaban atas semua
pertanyaan saya. |
Saya belajar percaya Tuhan
tanpa mempertanyakan ini dan
itu. Seperti domba yang ikut
ke mana gembalanya membawa
dia. Pusing juga kalau ada
domba yang bertanya, "Kenapa
mesti ke padang rumput ini?
Kenapa mesti air di sungai
ini? Air di sungai ini tidak
enak, ke tempat lain saja."
Tuhan juga mau saya
membagikan pengalaman ini
dan menjadi penghiburan buat
orang yang mengalami
kejadian yang sama. Lagipula,
bukan Tuhan yang
merancangkan kecelakaan,
tapi manusia dengan free
will-nya sendiri yang
seringkali mendatangkan
bencana, seperti bencana
rambut rontok saya. Dan
manusia banyak yang
mengulangi kesalahannya. Dan
orang yang melakukan
kesalahan yang sama
cenderung mengerti orang
lain yang melewati
pengalaman yang sama
dengannya.
Saya mau percaya dan memang
percaya kalau saya bisa
melihat kebaikan Tuhan lewat
penderitaan, trauma batin
dan rasa sakit. Kalau saya
selalu mengalami yang
baik-baik saja, mungkin saya
tidak butuh Tuhan.
Jadi, saya tidak cuma
melihat Tuhan menyelamatkan
jiwa, perasaan, hati dan
hidup saya, tapi juga jiwa,
perasaan, hati dan hidup
orang lain yang punya
pengalaman yang sama. Untuk
merekalah saya ada. Untuk
memperlihatkan KENAPA Tuhan
mengijinkan hal-hal buruk
terjadi.
Written by VP
|