|
Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga
adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah
- Galatia 3:29.
Ringkasan Pengajaran bagian 1
Abraham tetap teguh memegang janji Allah bagi dirinya. Ia
percaya bahwa janji Allah untuk memberikan keturunan
kepadanya pasti digenapi. Sekali pun pada awalnya ia sempat
tidak percaya, bimbang, pesimis.
Untuk menghentikan ketidak-percayaan Abram, Allah
memerintahkannya keluar dari kemah, melihat ke atas dan
menghitung bintang-bintang di langit. Abram mengikuti perintah
Tuhan dan dikatakan bahwa Abram menjadi percaya (Kejadian
15:1-19).
Allah berjanji akan menjadikan Abram bapa segala bangsa,
memberikan kepadanya negeri yang berlimpah susu dan madu
sebagai warisan agar keturunannya hidup dalam damai sejahtera
di negeri itu dan bahwa Abram dan keturunannya akan hidup
sebagai bangsa yang perkasa, sehat, berkelimpahan dan
berkemenangan.
Detik kita lahir baru, kita sah menjadi umat perjanjian Allah,
dan juga keturunan Abraham yang mewarisi semua janji Allah
kepada Abraham.
Bagian 2:
Inti perjanjian Allah dan Abraham
Inti perjanjian Allah dengan Abraham adalah bahwa kemakmuran
dan kekayaan menjadi bagian keturunan Abraham. Kita diberkati
untuk memberkati (Kejadian 12:1-3). Ulangan 8:17-18 berkata
”ingat kepada Tuhan”. Kata ”ingat” selalu berhubungan dengan
suatu perjanjian, supaya kita tidak melupakan janji itu.
Kekuatan atau kuasa untuk mengambil kekayaan itu sudah
diberikan Allah kepada kita ketika kita lahir baru. Jadi kuasa
yang Allah berikan bukan hanya untuk menengking setan, tetapi
untuk mengambil kekayaan dengan maksud meneguhkan
perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek
moyangmu (Ulangan 8:18b). Yaitu perjanjian bahwa
”Olehmu segala bangsa akan diberkati.” (Galatia
3:8b).
Sebagai umat perjanjian Allah, kita memiliki perjanjian yang
dimeteraikan oleh darah Yesus. Dan ketika kita lahir baru,
kita ”disunat” sebagai tanda sah perjanjian kedua belah pihak.
“Sunat” perjanjian baru adalah sunat hati. ”Karena itu
ingatlah bahwa dahulu kamu – sebagai orang-orang bukan Yahudi
menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh
mereka yang menamakan dirinya ”sunat”, yaitu sunat lahiriah
yang dikerjakan tangan manusia …” (Efesus 2:11). Detik itu,
perjanjian Allah kepada Abraham berlaku atas kita.
Satu-satunya perjanjian Allah yang kekal sampai ke anak-cucu
kita adalah perjanjian Abraham, sebab semuanya digenapi
melalui Yesus.
Mengapa orang Kristen tidak memiliki janji Allah pada
Abraham?
Sebagai umat perjanjian Allah, kita memiliki perjanjian yang
serius di mana ada berkat tetapi ada juga kutuk (Ulangan
28:1-68). Tetapi melalui Yesus semua kutuk disingkirkan karena
Yesus menjadi kutuk kita. Yesus menanggung segala kutuk dan
hukuman akibat dosa kita supaya kita bisa mewarisi janji-janji
Allah pada Abraham melalui iman dalam Yesus Kristus. Di
perjanjian baru tidak ada kutuk lagi karena Yesus sudah
menanggung semuanya.
Tetapi kenapa kenyataannya banyak orang Kristen yang sudah
lahir baru, berbahasa roh, pelepasan, namun hidup miskin di
bawah kutuk? Kenapa mereka tidak menjadi berkat bagi orang
lain. Sebab mereka tidak mengerti perjanjian Allah. Orang
Kristen yang tidak mengerti janji-janji Allah pada Abraham
sama dengan orang ”asing”. Ia seperti pendatang di bumi, tanpa
pengharapan, tanpa Allah (Efesus 2:12).
Padahal Firman Tuhan di Efesus 2:19 berkata: Demikianlah
kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan
sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga
Allah,... Jadi bila kita sudah lahir baru, seharusnya kita
bukan orang asing atau pendatang.
Bagaimana pikiran kita mengerti dan dikontrol oleh
perjanjian Allah?
Roma 12:2 mengatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan
dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga
kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik,
yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Kita harus memperbaharui pikiran kita dengan janji-janji Allah
sehingga seluruh pikiran kita dikontrol oleh perjanjian
tersebut. Pikiran Allah selalu dan selamanya ada pada
perjanjian-Nya. Pikiran kita juga harus fokus kepada
perjanjian-Nya. Kita dituntut untuk berpikir sama dengan Tuhan
karena ada kuasa dalam kesepakatan. Karenanya kita harus rajin
memperbaharui pikiran setiap hari. Pertobatan (= metanoia)
adalah perubahan pikiran.
Penuhi pikiran Anda dengan janji Allah dan pegang janji Allah.
Efesus 6:8 berkata: “Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik
hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu
yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.” Ini
adalah hukum resiprokal, artinya kalau satu pihak
mentaati persyaratan dari perjanjian tersebut, maka pihak yang
lainnya mempunyai kewajiban untuk melakukan bagiannya.
Fokus pada Allah dan perjanjian-Nya
Tuhan tidak pernah melakukan apa pun tanpa membuat janji dan
menyampaikan Firman-Nya terlebih dahulu. Tuhan tidak akan
melakukan apa pun di luar Firman-Nya karena Ia dibatasi oleh
Firman-Nya sendiri. Ketika kita berdoa, kita mengingatkan
Allah akan janji-janji-Nya. Tuhan hanya ingat akan
perjanjian-Nya sebagaimana dikatakan Mazmur 111:5
”Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia.
Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya”.
Taruh fokus Anda pada perjanjian Allah dengan manusia, dan
bukan pada permasalahan yang Anda hadapi. Ingat bagaimana
Abram keluar dari kemah dan memandang ke arah bintang-bintang
di langit. Abram tidak fokus pada kelemahan dirinya, tetapi ia
fokus pada janji Allah! Ia kemudian percaya dan sesuatu yang
luar biasa terjadi. Kalau pikiran kita fokus dan sejalan
dengan pikiran Tuhan, maka kuasa perjanjian Tuhan
dimanifestasikan dalam kehidupan kita.
Sikap perjanjian
Kalau Anda mengerti kuasa perjanjian, maka Anda percaya bahwa
Tuhan pasti menepati doa Anda karena Anda mendoakan sesuatu
yang sesuai dengan kehendak-Nya. Anda akan mempunyai sikap
perjanjian: sikap sukses, berani, optimis, berkemenangan
sekali pun situasi sedang tidak baik bahkan bisa tertawa dalam
keadaan buruk. Anda akan percaya dengan teguh karena tahu
Allah tidak bisa melanggar janji-Nya.
Belajar dari sikap orang-orang di Alkitab yang benar-benar
bermental perjanjian. Kelakuan mereka luar biasa, berani, kuat,
tidak takut sama sekali, tidak bingung, tidak frustrasi, tidak
ragu-ragu. Lihat bagaimana Sadrakh, Mesakh dan Abednego masuk
ke api seolah-olah tidak ada api. Mereka masuk dengan tenang
dan berani. Daniel di hadapan singa yang lapar, sangat tenang,
seperti tidak ada singa. Mereka tahu, mengerti dan percaya
akan perjanjian Allah.
Kalau Anda hidup berdasarkan perjanjian Allah dengan Anda,
Anda bisa berjalan dalam kemenangan Allah dalam hidup Anda dan
menyaksikan dan menyatakannya bahwa perjanjian Allah itu benar.
Kunci manifestasi janji-janji Allah dalam hidup Anda
Ketika kita lahir baru, yang ditebus baru roh kita. Jiwa kita
sedang ditebus dengan cara memperbarui pikiran. Ini merupakan
proses terus-menerus sampai kita serupa dengan Kristus.
Semakin pikiran kita diperbaharui, semakin kita seperti Yesus.
Karena itu jangan puas dengan keselamatan roh saja, tetapi
bertumbuh dewasa dengan memperbaharui pikiran dengan
perjanjian Allah.
Kunci agar janji-janji Allah dimanifestasikan dalam hidup Anda
adalah:
1. Kenali isi perjanjian Allah dengan Abraham dan keturunannya
yaitu kita
2. Perbaharui pikiran Anda senantiasa dengan pengertian akan
perjanjian Allah (Roma 12:1-2), sebab DIA selamanya ingat akan
janji-janjiNya!!!! (Mazmur 111:5)
Allah sangat ingin memberkati kita melalui penggenapan
janji-janji-Nya. Dan Ia hanya dapat melakukan itu semua ketika
Ia menemukan partner di bumi, yaitu umat yang percaya dan
tidak bimbang akan Firman-Nya. Tuhan tidak bisa melakukan
apa-apa dengan umat yang tidak percaya. Ketika Anda bimbang,
Anda mencuri kesempatan Tuhan untuk memberkati Anda. Jadilah
seperti Maria yang berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah
hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
(Lukas 1:38).
Untuk mengerti
betapa dahsyatnya KUASA PERJANJIAN agar Anda dapat hidup
sebagai umat perjanjian-Nya, belajar dengan lebih mendalam
dari kaset dengan judul yang sama. Hubungi bagian media MMM di
(021) 631 7875.
|