» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» Pdt. Indri Gautama

 Pengajaran:

BERPOLA PIKIR
PERJANJIAN ALLAH
DAN ABRAHAM
(Bagian 1)
 


Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah - Galatia 3:29.

Detik kita lahir baru, detik itu kita menjadi umat perjanjian Allah. Kita sah sebagai keturunan Abraham dan mewarisi semua janji-janji Allah kepada Abraham.

Perjanjian Allah dengan Abraham diteguhkan dalam Kejadian 12:1-3, bahwa Allah akan menjadikan Abram bapa segala bangsa, memberikan kepadanya negeri yang berlimpah susu dan madu sebagai warisan agar keturunannya dapat hidup dalam damai sejahtera di negeri itu. Janji-janji Allah untuk Abraham dan keturunannya bersifat khusus dan dahsyat (Ulangan 28:1-14). Allah berjanji bahwa Abram dan keturunannya akan hidup sebagai bangsa yang perkasa, sehat, berkelimpahan dan berkemenangan.

Abraham adalah orang yang kepercayaannya teguh kepada Tuhan. Walau pun dia sudah berusia 100 tahun, dia tetap teguh memegang janji Allah bagi dirinya. Ia percaya bahwa janji Allah untuk memberikan keturunan kepadanya pasti digenapi.

Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, - seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa” – di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran (Roma 4:16-22).

Apakah Abraham selalu teguh kepercayaannya? Apa yang membuat Abraham mempunyai kekuatan percaya yang begitu besar pada Allah? Mari kita pelajari kitab Kejadian 15:1-19. Di ayat 1 dikatakan bahwa Allah menampakkan diri kepada Abram dan memberi peneguhan kepadanya bahwa Ia adalah Allah yang memberi upah besar kepada Abram dan keturunannya.

Di ayat 2, respon Abram kepada Allah seperti kita semua. Dia tidak percaya, bimbang, pesimis, negatif. Cara bicaranya seperti orang yang lemah iman. Untuk menghentikan ketidak-percayaan Abram, di ayat 5 Allah memberi perintah kepadanya untuk keluar dari kemah, melihat ke atas dan menghitung bintang-bintang di langit. Jika ia bisa menghitungnya maka sedemikian banyaknyalah keturunan Abram nanti. Abram keluar dari kemahnya dan menuruti perintah Tuhan. Di ayat 6 dikatakan bahwa Abram menjadi percaya.

Bagaimana Abram yang semula tidak percaya dan mempertanyakan janji Allah menjadi percaya? Dua hal terjadi ketika Abram melangkah keluar dari kemahnya untuk menghitung bintang-bintang di langit:
1. Abram melangkah keluar dari kenyamanan dan mengubah cara berpikir.
2. Abram melihat kepada janji Allah dengan melihat bintang-bintang di langit dan tidak melihat kelemahan dirinya.


Allah membuat Abram percaya kepada-Nya. Lalu Allah menjanjikan hal yang lebih besar lagi kepadanya yaitu bahwa Abram akan memiliki negeri. Ia kembali tidak percaya. Sulit baginya untuk percaya bahwa Allah sungguh-sungguh akan melakukan perkara sebesar itu kepadanya.

Di ayat 8 Abram berkata: “Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” Respons kita seringkali sama seperti Abram. Kita sering bertanya: “Aku tahu aku harus percaya janji-Mu Tuhan, tetapi bagaimana hal itu terjadi padaku? Apakah aku layak mendapatkannya?”

Untuk menghentikan ketidak-percayaan Abram, Allah memerintahkan Abram untuk mempersiapkan upacara perjanjian yaitu MEMOTONG PERJANJIAN DARAH. Pada jaman Abram, kata yang dipakai adalah “to cut a covenant” atau “memotong perjanjian”. Korban harus dipotong dan darah mengalir (Kejadian 15:9-10). Di ayat 17, Allah turun dari surga secara pribadi yang dilambangkan dengan “Perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu”. Selanjutnya di ayat 18 dijelaskan bahwa pada hari itu lah Allah mendeklarasikan perjanjian-Nya dengan Abram dan keturunannya.

Allah kita adalah Allah yang luar biasa, Ia sendiri turun ke bumi. Ia tidak mengutus orang atau malaikat untuk menjelaskan kepada Abram sesuai dengan apa yang bisa Abram pahami. Dari pihak Abram, dia juga memotong perjanjian dengan cara sunat (Kejadian 17:10-13). Melalui sunat, darah Abram keluar dan itu membuat perjanjian menjadi sah. “…., maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal” (Kejadian 17:13b).

Perjanjian darah menjamin bahwa perkataan seseorang berlaku mutlak dan tidak dapat dibatalkan. Darah adalah lambang nyawa artinya perjanjian ini baru batal jika Allah yang membuat perjanjian ini mati. Abram tahu pasti, bahwa Allahnya tidak bisa mati. Allah Abraham, Ishak dan Yakub adalah kehidupan dan kebangkitan! Jadi, perjanjian Allah dengan Abram tidak mungkin dibatalkan. Dia menjadi penuh keyakinan bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Lalu namanya menjadi “Abraham”, artinya “Bapa segala bangsa”.

Begitu kokohnya pengertian Abraham akan kuasa perjanjian darah, sehingga tidak ada satu pun permintaan Allah yang bisa menggoncangkan imannya. Bahkan ketika Allah menguji Abraham dengan meminta ia mengorbankan Ishak, anak yang paling dikasihinya, Abraham tanpa ragu melakukannya. Sikapnya tenang, aman dan penuh keyakinan (Kejadian 22). Abraham tahu bahwa ia punya perjanjian dengan Allah, ia adalah ”Bapa segala bangsa”. Ia yakin Allah akan melakukan apa pun juga untuk membuat perjanjian-Nya digenapi.

Ketaatan Abraham dengan meletakkan Ishak di mezbah korban membuka jalan bagi Allah untuk melakukan yang sama seperti Abraham yaitu mengorbankan anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus di kayu salib.

Jadi pada waktu Allah membuat perjanjian dengan Abraham di bumi, Allah juga sedang membuat perjanjian dengan Yesus di surga. Pelajari Galatia 3:16. Allah berkata, hukum-Ku menuntut kalau Aku melakukan janji-Ku dengan sempurna maka mitra perjanjian-Ku yang sepakat dengan perjanjian tersebut otomatis harus melakukan yang sama.

Tetapi tidak ada seorang manusia pun yang berhasil. Sampai Allah menyatakan bahwa Ia harus membuat hukum yang baru buat dunia: “Aku akan turun ke bumi dan memakai tubuh manusia dengan sah, lahir di bumi dan tinggal di bumi dan melakukan tugas”. Allah membuat perjanjian dengan seseorang, yaitu Yesus yang Dia yakin tidak akan pernah membatalkan atau mengingkari perjanjian itu.

Yesus berkata: “Akulah manusia Allah itu. Aku akan melakukan semua perjanjian Allah dengan sempurna, tanpa cacat dan gagal. Melalui Aku, apa yang Allah tuntut untuk dilakukan manusia, sudah diselesaikan.” Oleh karena itu, waktu Yesus menyelesaikan perjanjian Allah dengan Abraham di kayu salib, Ia berkata: “Sudah selesai!” artinya bagian yang harus dilakukan pihak manusia sesuai perjanjian Allah sudah selesai dilakukan oleh Yesus dengan sempurna.

Melalui Yesus, perjanjian Allah dengan Abraham hidup kembali. Yesus menjadi jembatan antara perjanjian lama dan perjanjian baru. Dia menutupi celah antara Allah yang sempurna dan kita yang sudah lahir baru. Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka (Ibrani 7:25). Selama Yesus menjadi pengantara kita maka kita akan menerima janji Allah.

Dan sekarang karena kita milik Kristus dan keturunan Abraham, maka apa yang Tuhan janjikan pada Abraham bisa kita claim. Perjanjian baru Tuhan dengan umat-Nya dibuat dengan darah Yesus. Berarti perjanjian baru ini adalah perjanjian darah yang tidak bisa dibatalkan. “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” (Bilangan 23:19). Tuhan menyatakan sendiri bahwa apa yang dikatakan-Nya tidak akan dilanggar.

(Bersambung minggu depan)
 


Untuk mengerti betapa dahsyatnya KUASA PERJANJIAN agar Anda dapat hidup sebagai umat perjanjian-Nya, belajar dengan lebih mendalam dari kaset dengan judul yang sama. Hubungi bagian media MMM di (021) 631 7875.

 

:: A R S I P ::


 

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi