|
Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan
semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang
saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa,
sehingga kamu memperolehnya! – 1 Korintus 9:24
Tuhan sangat tahu bahwa umat-Nya bersifat seperti anak kecil,
karena itu Tuhan suka memberi upah untuk memotivasi kita
mentaati Dia. Kita belajar mengenal Tuhan, belajar
mentaati-Nya dan Tuhan menjanjikan upah di setiap ketaatan
kita. Lama kelamaan hal ini akan membangun roh Anda, membangun
karakter Anda dan membangun gaya hidup Anda yang berjalan
dipimpin Roh.
Ketika Anda sudah berjalan dipimpin Roh, Anda akan mencapai
titik di mana Anda berkata: “Diberi upah atau tidak, hal
itu tidak mengganggu saya. Saya mengasihi Tuhan dan mau
melayani Dia. Saya mau patuh kepada perintah-perintah-Nya
karena Dia adalah Tuhan.”
Saya berani mengatakan hal ini, karena saya sudah mengalaminya.
Ingat Firman Tuhan yang berkata bahwa “Orang buta tidak bisa
menuntun orang buta”, artinya Anda tidak bisa dituntun oleh
seseorang menuju ke suatu tempat bila orang yang menuntun Anda
belum pernah ke sana.
Bergaul intim dengan Tuhan
Tuhan kita suka diburu oleh umat-Nya. Karena Tuhan
menginginkan hubungan pribadi yang intim dengan kita.
Berdoa syafaat adalah mengejar Tuhan. Pada waktu Anda
bersyafaat, Anda sedang memburu Allah dan janji-janji-Nya.
Tuhan suka memberi upah pada orang yang tekun memburu-Nya.
Tuhan memotivasi dengan upah supaya kita tekun menjalani
Firman. Tetapi Tuhan lebih mementingkan keintiman ketika kita
mengejar Dia dengan tekun daripada upah yang akan
diberikan-Nya.
Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan
semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang
saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa,
sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut
mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam
segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu
mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota
yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku
bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku
melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah
memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri
ditolak. – 1 Korintus 9:24-27.
Berdoa dengan sifat memburu
Murid-murid Yesus tidak pernah meminta Dia untuk mengajarkan
mereka cara memperoleh berkat atau cara berkhotbah. Mereka
meminta Yesus mengajarkan cara berdoa. Mereka menyadari bahwa
kunci keberhasilan Yesus selama 33½ tahun memakai tubuh
manusia berdosa di bumi adalah hubungan intim-Nya dengan Bapa
di surga. Jadi mereka bertanya bagaimana hubungan itu?
Di Lukas 11:1-13 kita baca mengenai murid-murid Yesus yang
bertanya tentang cara berdoa kepada-Nya.
1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat.
Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari
murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa,
sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.”
2 Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah:
Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.
3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya
4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni
setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa
kami ke dalam pencobaan.”
5 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu
pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan
berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti,
6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan
singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk
dihidangkan kepadanya;
7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan
mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku
sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada
saudara.
8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia
tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu
adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu,
ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang
diperlukannya.
9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan
diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah,
maka pintu akan dibukakan bagimu.
10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang
yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya
pintu dibukakan.
11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari
padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?
12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya
kalajengking?
13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik
kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan
memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Ayat 8 menggambarkan sikap memburu Allah tanpa putus asa.
Allah selalu meresponi pemburu. Anda harus memburu janji Allah
seperti seseorang yang memburu harta kekayaan dunia. Kalau
yang dijanjikan dunia bersifat sementara, maka kita harus
lebih sungguh-sungguh lagi mengejar janji Allah yang bersifat
kekal.
Dibutuhkan ketekunan dalam berdoa. Tuhan lebih mementingkan
karakter kita daripada berkat yang akan diberikan-Nya kepada
kita. Ini merupakan strategi Tuhan supaya kita mengejar
(pursue) Dia.
Kita tidak perlu memelintir tangan Tuhan supaya Dia melakukan
apa yang Anda mau, karena Tuhan lebih rindu untuk menggenapi
kehendak-Nya daripada Anda.
Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai
juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan
olahraga. – 2 Timotius 2:5
Berdoa dengan tujuan
Saya belajar mengenai “The Secret Place” dari Leonard
Ravenhill, seorang pendoa syafaat yang membangkitkan
kebangunan rohani dan penulis buku “The Awakening”.
Hanya orang yang masuk ke tempat rahasia-Nya akan tahu hati
dan keinginan Tuhan. Setelah Anda mengetahui tempat rahasia
Tuhan dan hati Tuhan, maka Anda akan dapat berdoa dengan
tujuan dan target.
Tuhan mau kita diam di dalam Secret Place- Nya. Tuhan
berjanji di Mazmur 25:14 bahwa TUHAN bergaul karib dengan
orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya
diberitahukan-Nya kepada mereka.
Pendoa syafaat itu digambarkan oleh asisten Suzette Hattings
seperti seseorang yang pergi berperang dengan busur berisi
anak-anak panah di punggungnya. Anda tidak bisa berperang
dengan mengambil lima anak panah dan membidiknya sekaligus.
Pasti tidak ada yang kena sasaran. Anda harus memilih target
yang Tuhan mau. Fokus pada target itu. Satu anak panah untuk
satu sasaran.
Pada waktu Anda bersyafaat artinya Anda sedang mengejar Tuhan.
Jika kita mengejar Tuhan maka sukses tidak bisa dielakkan,
tetapi bila Anda mengabaikan Tuhan dalam segala upaya Anda,
maka kegagalan pun tidak bisa dielakkan. “If you ignore
God, failure is in evitable but if you pursuit God, success is
inevitable”. Tuhan harus ada di depan kita.
Jika Anda mengalami kegagalan sebelumnya, sekarang saatnya
Anda harus mengambil sikap positif. Pelajari letak kegagalan
Anda dan mulai ambil langkah yang baru dengan sikap yang baru.
karena Allah kita adalah Allah yang merestorasi. Selalu ada
jalan jika Anda mencari Dia.
Sampai kita benar-benar tekun mencari dan mengejar Dia, maka
kehidupan kita tidak akan berubah. Kejar Tuhan, karena Tuhan
suka memberi upah pada yang tekun memburu-Nya.
(Nantikan artikel Pengajaran
selanjutnya!) |