|
Rasa hormat
dan takut akan Tuhan harus ada di dalam diri kita supaya
kita bisa hidup dengan sikap tunduk kepada otoritas. Mari
kita melihat pada apa yang terjadi sewaktu Nabi Samuel
diutus Allah untuk mengurapi Daud pada 1 Samuel 16:1-13.
Daud mempunyai sikap hati yang hormat dan takut akan Tuhan
karena ia mengenal Allahnya dengan intim, ini membuat
dirinya percaya pada apa yang sudah direncana kan Allah
baginya. Ketika Allah menyuruh Nabi Samuel pergi ke
Betlehem untuk mengurapi Daud, apa yang terjadi? Nabi
Samuel beberapa kali hendak mengurapi kakak-kakak Daud
yang bukan dimaksud oleh Tuhan.
1 Samuel 16:5-10
(5) "…Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang
laki-laki dan mengun dang mereka ke upacara pengorbanan
itu.
(6) Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu
pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang
diurapi-Nya."
(7) Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah
pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku
telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang
dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata,
tetapi TUHAN melihat hati."
(8) Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di
depan Samuel, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak
dipilih TUHAN."
(9) Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel
berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN."
(10) Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di
depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya
ini tidak dipilih TUHAN."
Apa yang kita lihat baik di mata belum tentu sesuai dengan
pandangan Allah, karena Ia memandang bukan dari paras
seseorang melainkan dari hatinya. Nabi Samuel adalah orang
yang bergaul dengan Allah, dikatakan dalam 1 Samuel
3:19-20
(19) Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan
tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya
gugur.
(20) Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba,
bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.
Allah sudah berkata kepada Nabi Samuel untuk disampaikan
kepada Raja Saul dalam 1 Samuel 13:14 Tetapi sekarang
kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang
yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk
dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak
mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu."
Orang yang Tuhan pilih memiliki hati yang berkenan
kepada-Nya dan Samuel tidak menyerah setelah ketujuh anak
pertama Isai di perkenalkan kepadanya dan ternyata tidak
ada satu pun yang berkenan kepada Allah dan Samuel
bertanya: "Inikah anakmu semuanya? Dan ternyata masih ada
yang bungsu namanya Daud,
1 Samuel 16:11-13
(11) Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu
semuanya?" Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi
sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada
Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk
makan, sebelum ia datang ke mari."
(12) Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia
kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu
TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah
dia."
(13) Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu
dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya.
Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas
Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.
Kita bisa melihat dengan seksama kenapa Tuhan berkata Daud
memiliki hati yang berkenan kepada Allah. Bayangkan Nabi
Samuel itu adalah hakim yang dihormati di Israel, pada
waktu beliau mengunjungi rumah Isai di Betlehem, seluruh
penatua Betlehem keluar dan menyambut kedatangannya;
apalagi ke tempat tinggal keluarga Isai, pasti ramai
sekali kota tersebut. Coba bayangkan, seperti kedatangan
Benny Hinn ke rumah kita pasti seisi rumah senang dan
bergairah menyambut Benny Hinn. Namun Isai dan ketujuh
anaknya tidak peduli mengundang Daud untuk bertemu
Nabi-Nya. Daud tidak merasa tertolak dan sedih dengan
bertanya: "Oh, aku kok tidak diundang?" atau "Kenapa
aku dikucilkan? atau "Selalu saya tidak dianggap penting,
ayahku pilih-pilih kasih" Daud mengenal sifat Allah,
bahwa Allah melihat kepada hati orang, sekalipun
keluarganya menyepelekannya namun Allah memandangnya di
tempat penggembalaan kambing bahkan Allah mempromosikan
Daud di hadapan kakak-kakaknya. Halleluyah!
Pada suatu hari bangsa Israel diserang oleh bangsa
Filistin dan muncullah Goliat. Daud yang diurapi sebagai
raja di hadapan kakak-kakaknya datang ke medan peperangan
atas perintah Isai untuk mengetahui kondisi
kakak-kakaknya. Di medan peperangan Daud melihat
kakak-kakaknya dan Raja Israel bersembunyi ketakutan di
belakang batu di dalam gua karena Goliat. Kakak-kakak Daud
malu di hadapan Daud dan memaki Daud karena kehadirannya
mempermalukan mereka 1 Samuel 17:28. Namun Daud
tidak mempedulikan sakit hati, kekecewaan karena dimaki
oleh kakak-kakaknya, ia berpaling dari racun kepahitan dan
pergi berpaling kepada orang lain 1 Samuel 17:29-30
Sikap hati seperti ini yang dicari oleh Tuhan . Dia
tidak mau bergaul dengan kepahitan dan dia suka
mengampuni.
Dalam 1 Samuel 18:6-9, Daud kembali dari medan
peperangan mengalahkan Filistin bersama Raja Saul. Para
perempuan Israel menyambut Raja Saul dan Daud dengan sorak
sorai dan tari-tarian, mereka bernyanyi berbalas-balasan:
"Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud
berlaksa-laksa." 1 Samuel 18:7. Terlihatlah hati Raja
Saul yang sesungguhnya, ia seorang raja yang tidak aman
dalam pergaulannya dengan Allah, Saul tidak mengenal hati
Allahnya. Kalau ia Mengenal karakter Allah maka ia tidak
perlu terancam, sebab jabatan raja itu dari Tuhan bukan
dari rakyat. Jadi kita tidak perlu takut ditolak orang,
walaupun orang-orang tidak suka kepada kita tidak berarti
Tuhan tidak memilih kita! Panggilan itu dari Tuhan! Kita
harus berakar yang dalam pada Firman Allah dan kasih Allah
supaya tidak mudah diombang-ambingkan pada apa kata orang!
Saul merasa terancam karena rakyatnya lebih menyanjung
Daud daripadanya dan sejak itu Raja Saul membenci Daud.
1 Samuel 18:10-11
(10) Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu
berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah
rumah, sedang Daud main kecapi seperti sehari-hari. Adapun
Saul ada tombak di tangannya.
(11) Saul melemparkan tombak itu, karena pikirnya:
"Baiklah aku menancapkan Daud ke dinding." Tetapi Daud
mengelakkannya sampai dua kali.
Namun respon raja Daud dikatakan dalam kitab 1 Samuel
18:14 Tuhan memperlihatkan kepada Daud kejahatan Raja
Saul namun "Daud selalu bersikap bijaksana dan hikmat
sehingga Tuhan menyertai dia selalu dan membuat
perjalanannya selalu berhasil." (Amlplified Bible)
1 Samuel 18:29-30
(29) Saul semakin takut kepada Daud; dan Saul menjadikan
Daud musuhnya seumur hidup.
(30) Apabila raja-raja orang Filistin maju berperang,
setiap kali mereka maju berperang, maka Daud lebih
berhasil dan menjadi lebih bijaksana dari semua pegawai
Saul, sehingga namanya sangat dikasih dan sangat masyhur.
(Amplified Bible)
Sebenarnya Saul mengetahui bahwa Tuhan telah memilih Daud
untuk menggantikannya sebagai raja Israel. Beberapa kali
Saul mencoba membunuh Daud tetapi diluputkan oleh Tuhan.
Sebaliknya dengan Daud, ia mempunyai kesempatan beberapa
kali untuk membunuh Saul sebagai balas dendam tetapi tidak
dilakukannya karena ia tidak mau mengusik orang yang
diurapi Tuhan walaupun perbuatan Saul salah dan sangat
jahat padanya. Daud mengenal hati Allahnya, pembalasan itu
milik Tuhan. Tuhan menguji kesetiaan Daud pada-Nya dengan
memberikan kesempatan kepadanya untuk membunuh Saul, lihat
dalam kitab 1 Samuel 24:1-8a. Dan Perhatikanlah pada ayat
5-8, apa yang dikatakan Daud kepada anak buahnya ketika ia
mempunyai kesempatan untuk membunuh Saul di gunung
En-Gedi.
(1) Daud pergi dari sana, lalu tinggal di kubu-kubu
gunung di En-Gedi.
(2) Ketika Saul pulang sesudah memburu orang Filistin itu,
diberitahukanlah kepadanya, demikian: "Ketahuilah, Daud
ada di padang gurun En-Gedi."
(3) Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih
dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan
orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan.
(4) Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di
sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang
hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian
belakang gua itu.
(5) Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: "Telah
tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku
menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah
kepadanya apa yang kaupandang baik." Maka Daud bangun,
lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam.
(6) Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia
telah memotong punca Saul;
(7) lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya:
"Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan
hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi
TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi
TUHAN."
(8) Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu;
ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul…"
Setelah memotong punca jubah Saul hati Daud berdebar-debar
karena sadar bahwa ia baru saja mengusik orang yang
diurapi Tuhan. Dengan rasa takut akan Tuhan ia berkata
kepada anak buahnya untuk tidak bangkit melawan Saul. Saya
kagum pada Daud yang memiliki karakter ilahi dan sungguh
ia adalah seorang yang takut dan hormat akan Tuhan. Ia
mengerti hukum Tuhan tetap berlaku bagi orang yang diberi
urapan oleh Tuhan sekalipun orang itu bersalah, kita tidak
bisa menghakiminya karena penghakiman adalah milik Tuhan.
Kesempatan Daud untuk membunuh Saul terjadi kembali di
bukit Hakhila, tempat di mana Daud bersembunyi dari
kejaran Saul (1 Samuel 26:1-12). Setelah Daud
mengetahui bahwa Saul datang mencarinya dan ingin
membunuhnya maka ia turun bersama Abisai ke tempat
perkemahan Saul pada waktu malam. Dilihat Daud mereka
tertidur sangat lelap lalu ia bersama Abisai memasuki
kemah Saul yang terletak di tengah-tengah perkemahan
rakyatnya. Perhatikan apa yang dipilih oleh Daud pada
ayat-ayat berikut ini:
1 Samuel 26:7-12
(7) Datanglah Daud dengan Abisai kepada rakyat itu pada
waktu malam, dan tampaklah di sana Saul berbaring tidur di
tengah-tengah perkemahan, dengan tombaknya terpancung di
tanah pada sebelah kepalanya, sedang Abner dan rakyat itu
berbaring sekelilingnya.
(8) Lalu berkatalah Abisai kepada Daud: "Pada hari ini
Allah telah menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, oleh
sebab itu izinkanlah kiranya aku menancapkan dia ke tanah
dengan tombak ini, dengan satu tikaman saja, tidak usah
dia kutancapkan dua kali."
(9) Tetapi kata Daud kepada Abisai: "Jangan musnahkan
dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi
TUHAN, dan bebas dari hukuman?"
(10) Lagi kata Daud: "Demi TUHAN yang hidup, niscaya TUHAN
akan membunuh dia: entah karena sampai ajalnya dan ia
mati, entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap di
sana. (11) Kiranya TUHAN menjauhkan dari padaku untuk
menjamah orang yang diurapi TUHAN. Ambillah sekarang
tombak yang ada di sebelah kepalanya dan kendi itu, dan
marilah kita pergi."
(12) Kemudian Daud mengambil tombak dan kendi itu dari
sebelah kepala Saul, lalu mereka pergi. Tidak ada yang
melihatnya, tidak ada yang mengetahuinya, tidak ada yang
terbangun, sebab sekaliannya tidur, karena TUHAN membuat
mereka tidur nyenyak.
Daud tidak memakai kesempatan itu untuk membunuh Raja
Saul, ia memilih taat kepada perintah Tuhan daripada
memikirkan keamanan dirinya dari kejaran Saul. Karena ia
percaya Allahlah tempat perlindungan dan keamanannya.
Yang menjadi pertanyaan, saya tahu bahwa sikap hati Raja
Daud itu baik tetapi saya tidak mengerti bagaimana caranya
bisa memiliki sikap hati seperti itu? Saya bertanya kepada
Tuhan, dan saya selidiki terlebih dahulu Firman Allah
untuk terus belajar dari Tuhan, dan rahasianya adalah
"Takut akan Allah"
Amsal 8:13 …"Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan;
aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku
yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat."…
Mazmur 111:10 …"Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN,
semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik.
Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya."…
Yesus berfirman bahwa perbedaan antara guru palsu dan
sejati tidak terlihat dari tebalnya urapan dan manifestasi
karunia-karunia Roh Kudus tetapi dari buahnyalah akan
terlihat perbedaan tersebut.
Matius 7:16
.."Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau
buah ara dari rumput duri?
Apa yang dimaksud dengan buah? Mari kita lihat
dalam kitab Galatia 5:22-23…. "Tetapi buah Roh
ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran,
kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri..."
Raja Daud mempunyai penguasaan diri yang besar untuk tidak
membalas dendam tetapi tetap mengasihi dan menghormati
Raja Saul. Apakah Anda mengetahui bahwa penguasaan diri
adalah buah roh? Sikap ini tingkatannya di atas
"berhati-hati" jangan menyakiti orang supaya tidak
disakiti kembali. Anda bisa super berhati-hati sekali
hidupnya untuk tidak disakiti orang dengan membatasi
orang-orang jenis tertentu saja yang boleh dekat dengan
Anda. Penguasaan diri bukanlah produksi kekuatan manusiawi
kita menahan emosi melainkan lebih dari pada itu.
Penguasaan diri adalah buah yang ada di roh manusia kita
yang dikerjakan oleh Roh Kudus akibat dari kita mau
menjalani proses belajar memilih mentaati Firman di
hadapan pencobaan-pencobaan.
Yakobus 1:2-3
(2) Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu
kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai
pencobaan,
(3) sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu
menghasilkan ketekunan.
Ini proses yang kita harus bayar harganya dan
membutuhkan komitmen dengan Tuhan seratus persen
didasarkan atas TAKUT AKAN ALLAH.
Keluaran 20:20 Musa menjelaskan mengapa Allah
mengijinkan pencobaan terjadi dalam hidup kita, supaya
takut akan Allah ada di hati agar kita tidak berdosa.
Penguasaan diri, kesetiaan pada Tuhan adalah buah Roh,
dari buah-buah yang nampak dalam setiap respon kitalah di
tengah-tengah pencobaan yang menunjukkan pada dunia dan di
hadapan Allah, rohani kita dewasa atau tidak?
|