» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» PENGAJARAN : PDT. INDRI GAUTAMA

Kenapa Tuhan ijinkan
kita melihat kelemahan pemimpin?

Pdt. Indri Gautama

 

TUNDUK PADA OTORITAS

Rasa hormat dan takut akan Tuhan harus ada di dalam diri kita supaya kita bisa hidup dengan sikap tunduk kepada otoritas. Mari kita melihat pada apa yang terjadi sewaktu Nabi Samuel diutus Allah untuk mengurapi Daud pada 1 Samuel 16:1-13. Daud mempunyai sikap hati yang hormat dan takut akan Tuhan karena ia mengenal Allahnya dengan intim, ini membuat dirinya percaya pada apa yang sudah direncana kan Allah baginya. Ketika Allah menyuruh Nabi Samuel pergi ke Betlehem untuk mengurapi Daud, apa yang terjadi? Nabi Samuel beberapa kali hendak mengurapi kakak-kakak Daud yang bukan dimaksud oleh Tuhan.
1 Samuel 16:5-10
(5) "…Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengun dang mereka ke upacara pengorbanan itu.
(6) Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya."
(7) Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
(8) Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN."
(9) Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN."
(10) Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN."


Apa yang kita lihat baik di mata belum tentu sesuai dengan pandangan Allah, karena Ia memandang bukan dari paras seseorang melainkan dari hatinya. Nabi Samuel adalah orang yang bergaul dengan Allah, dikatakan dalam 1 Samuel 3:19-20
(19) Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.
(20) Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.


Allah sudah berkata kepada Nabi Samuel untuk disampaikan kepada Raja Saul dalam 1 Samuel 13:14 Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu." Orang yang Tuhan pilih memiliki hati yang berkenan kepada-Nya dan Samuel tidak menyerah setelah ketujuh anak pertama Isai di perkenalkan kepadanya dan ternyata tidak ada satu pun yang berkenan kepada Allah dan Samuel bertanya: "Inikah anakmu semuanya? Dan ternyata masih ada yang bungsu namanya Daud,
1 Samuel 16:11-13
(11) Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari."
(12) Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia."
(13) Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.


Kita bisa melihat dengan seksama kenapa Tuhan berkata Daud memiliki hati yang berkenan kepada Allah. Bayangkan Nabi Samuel itu adalah hakim yang dihormati di Israel, pada waktu beliau mengunjungi rumah Isai di Betlehem, seluruh penatua Betlehem keluar dan menyambut kedatangannya; apalagi ke tempat tinggal keluarga Isai, pasti ramai sekali kota tersebut. Coba bayangkan, seperti kedatangan Benny Hinn ke rumah kita pasti seisi rumah senang dan bergairah menyambut Benny Hinn. Namun Isai dan ketujuh anaknya tidak peduli mengundang Daud untuk bertemu Nabi-Nya. Daud tidak merasa tertolak dan sedih dengan bertanya: "Oh, aku kok tidak diundang?" atau "Kenapa aku dikucilkan? atau "Selalu saya tidak dianggap penting, ayahku pilih-pilih kasih" Daud mengenal sifat Allah, bahwa Allah melihat kepada hati orang, sekalipun keluarganya menyepelekannya namun Allah memandangnya di tempat penggembalaan kambing bahkan Allah mempromosikan Daud di hadapan kakak-kakaknya. Halleluyah!

Pada suatu hari bangsa Israel diserang oleh bangsa Filistin dan muncullah Goliat. Daud yang diurapi sebagai raja di hadapan kakak-kakaknya datang ke medan peperangan atas perintah Isai untuk mengetahui kondisi kakak-kakaknya. Di medan peperangan Daud melihat kakak-kakaknya dan Raja Israel bersembunyi ketakutan di belakang batu di dalam gua karena Goliat. Kakak-kakak Daud malu di hadapan Daud dan memaki Daud karena kehadirannya mempermalukan mereka 1 Samuel 17:28. Namun Daud tidak mempedulikan sakit hati, kekecewaan karena dimaki oleh kakak-kakaknya, ia berpaling dari racun kepahitan dan pergi berpaling kepada orang lain 1 Samuel 17:29-30 Sikap hati seperti ini yang dicari oleh Tuhan . Dia tidak mau bergaul dengan kepahitan dan dia suka mengampuni.

Dalam 1 Samuel 18:6-9, Daud kembali dari medan peperangan mengalahkan Filistin bersama Raja Saul. Para perempuan Israel menyambut Raja Saul dan Daud dengan sorak sorai dan tari-tarian, mereka bernyanyi berbalas-balasan: "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa." 1 Samuel 18:7. Terlihatlah hati Raja Saul yang sesungguhnya, ia seorang raja yang tidak aman dalam pergaulannya dengan Allah, Saul tidak mengenal hati Allahnya. Kalau ia Mengenal karakter Allah maka ia tidak perlu terancam, sebab jabatan raja itu dari Tuhan bukan dari rakyat. Jadi kita tidak perlu takut ditolak orang, walaupun orang-orang tidak suka kepada kita tidak berarti Tuhan tidak memilih kita! Panggilan itu dari Tuhan! Kita harus berakar yang dalam pada Firman Allah dan kasih Allah supaya tidak mudah diombang-ambingkan pada apa kata orang! Saul merasa terancam karena rakyatnya lebih menyanjung Daud daripadanya dan sejak itu Raja Saul membenci Daud.
1 Samuel 18:10-11
(10) Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah rumah, sedang Daud main kecapi seperti sehari-hari. Adapun Saul ada tombak di tangannya.
(11) Saul melemparkan tombak itu, karena pikirnya: "Baiklah aku menancapkan Daud ke dinding." Tetapi Daud mengelakkannya sampai dua kali.

Namun respon raja Daud dikatakan dalam kitab 1 Samuel 18:14 Tuhan memperlihatkan kepada Daud kejahatan Raja Saul namun "Daud selalu bersikap bijaksana dan hikmat sehingga Tuhan menyertai dia selalu dan membuat perjalanannya selalu berhasil." (Amlplified Bible)

1 Samuel 18:29-30
(29) Saul semakin takut kepada Daud; dan Saul menjadikan Daud musuhnya seumur hidup.
(30) Apabila raja-raja orang Filistin maju berperang, setiap kali mereka maju berperang, maka Daud lebih berhasil dan menjadi lebih bijaksana dari semua pegawai Saul, sehingga namanya sangat dikasih dan sangat masyhur. (Amplified Bible)


Sebenarnya Saul mengetahui bahwa Tuhan telah memilih Daud untuk menggantikannya sebagai raja Israel. Beberapa kali Saul mencoba membunuh Daud tetapi diluputkan oleh Tuhan. Sebaliknya dengan Daud, ia mempunyai kesempatan beberapa kali untuk membunuh Saul sebagai balas dendam tetapi tidak dilakukannya karena ia tidak mau mengusik orang yang diurapi Tuhan walaupun perbuatan Saul salah dan sangat jahat padanya. Daud mengenal hati Allahnya, pembalasan itu milik Tuhan. Tuhan menguji kesetiaan Daud pada-Nya dengan memberikan kesempatan kepadanya untuk membunuh Saul, lihat dalam kitab 1 Samuel 24:1-8a. Dan Perhatikanlah pada ayat 5-8, apa yang dikatakan Daud kepada anak buahnya ketika ia mempunyai kesempatan untuk membunuh Saul di gunung En-Gedi.
(1) Daud pergi dari sana, lalu tinggal di kubu-kubu gunung di En-Gedi.
(2) Ketika Saul pulang sesudah memburu orang Filistin itu, diberitahukanlah kepadanya, demikian: "Ketahuilah, Daud ada di padang gurun En-Gedi."
(3) Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan.
(4) Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu.
(5) Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: "Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam.
(6) Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul;
(7) lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN."
(8) Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul…"

Setelah memotong punca jubah Saul hati Daud berdebar-debar karena sadar bahwa ia baru saja mengusik orang yang diurapi Tuhan. Dengan rasa takut akan Tuhan ia berkata kepada anak buahnya untuk tidak bangkit melawan Saul. Saya kagum pada Daud yang memiliki karakter ilahi dan sungguh ia adalah seorang yang takut dan hormat akan Tuhan. Ia mengerti hukum Tuhan tetap berlaku bagi orang yang diberi urapan oleh Tuhan sekalipun orang itu bersalah, kita tidak bisa menghakiminya karena penghakiman adalah milik Tuhan.

Kesempatan Daud untuk membunuh Saul terjadi kembali di bukit Hakhila, tempat di mana Daud bersembunyi dari kejaran Saul (1 Samuel 26:1-12). Setelah Daud mengetahui bahwa Saul datang mencarinya dan ingin membunuhnya maka ia turun bersama Abisai ke tempat perkemahan Saul pada waktu malam. Dilihat Daud mereka tertidur sangat lelap lalu ia bersama Abisai memasuki kemah Saul yang terletak di tengah-tengah perkemahan rakyatnya. Perhatikan apa yang dipilih oleh Daud pada ayat-ayat berikut ini:

1 Samuel 26:7-12
(7) Datanglah Daud dengan Abisai kepada rakyat itu pada waktu malam, dan tampaklah di sana Saul berbaring tidur di tengah-tengah perkemahan, dengan tombaknya terpancung di tanah pada sebelah kepalanya, sedang Abner dan rakyat itu berbaring sekelilingnya.
(8) Lalu berkatalah Abisai kepada Daud: "Pada hari ini Allah telah menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, oleh sebab itu izinkanlah kiranya aku menancapkan dia ke tanah dengan tombak ini, dengan satu tikaman saja, tidak usah dia kutancapkan dua kali."
(9) Tetapi kata Daud kepada Abisai: "Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?"
(10) Lagi kata Daud: "Demi TUHAN yang hidup, niscaya TUHAN akan membunuh dia: entah karena sampai ajalnya dan ia mati, entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap di sana. (11) Kiranya TUHAN menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi TUHAN. Ambillah sekarang tombak yang ada di sebelah kepalanya dan kendi itu, dan marilah kita pergi."
(12) Kemudian Daud mengambil tombak dan kendi itu dari sebelah kepala Saul, lalu mereka pergi. Tidak ada yang melihatnya, tidak ada yang mengetahuinya, tidak ada yang terbangun, sebab sekaliannya tidur, karena TUHAN membuat mereka tidur nyenyak.


Daud tidak memakai kesempatan itu untuk membunuh Raja Saul, ia memilih taat kepada perintah Tuhan daripada memikirkan keamanan dirinya dari kejaran Saul. Karena ia percaya Allahlah tempat perlindungan dan keamanannya.

Yang menjadi pertanyaan, saya tahu bahwa sikap hati Raja Daud itu baik tetapi saya tidak mengerti bagaimana caranya bisa memiliki sikap hati seperti itu? Saya bertanya kepada Tuhan, dan saya selidiki terlebih dahulu Firman Allah untuk terus belajar dari Tuhan, dan rahasianya adalah "Takut akan Allah"
Amsal 8:13 …"Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat."…

Mazmur 111:10 …"Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya."…


Yesus berfirman bahwa perbedaan antara guru palsu dan sejati tidak terlihat dari tebalnya urapan dan manifestasi karunia-karunia Roh Kudus tetapi dari buahnyalah akan terlihat perbedaan tersebut.
Matius 7:16
.."Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
Apa yang dimaksud dengan buah? Mari kita lihat dalam kitab Galatia 5:22-23…. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri..."

Raja Daud mempunyai penguasaan diri yang besar untuk tidak membalas dendam tetapi tetap mengasihi dan menghormati Raja Saul. Apakah Anda mengetahui bahwa penguasaan diri adalah buah roh? Sikap ini tingkatannya di atas "berhati-hati" jangan menyakiti orang supaya tidak disakiti kembali. Anda bisa super berhati-hati sekali hidupnya untuk tidak disakiti orang dengan membatasi orang-orang jenis tertentu saja yang boleh dekat dengan Anda. Penguasaan diri bukanlah produksi kekuatan manusiawi kita menahan emosi melainkan lebih dari pada itu. Penguasaan diri adalah buah yang ada di roh manusia kita yang dikerjakan oleh Roh Kudus akibat dari kita mau menjalani proses belajar memilih mentaati Firman di hadapan pencobaan-pencobaan.
Yakobus 1:2-3
(2) Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
(3) sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
Ini proses yang kita harus bayar harganya dan membutuhkan komitmen dengan Tuhan seratus persen didasarkan atas TAKUT AKAN ALLAH.
Keluaran 20:20 Musa menjelaskan mengapa Allah mengijinkan pencobaan terjadi dalam hidup kita, supaya takut akan Allah ada di hati agar kita tidak berdosa. Penguasaan diri, kesetiaan pada Tuhan adalah buah Roh, dari buah-buah yang nampak dalam setiap respon kitalah di tengah-tengah pencobaan yang menunjukkan pada dunia dan di hadapan Allah, rohani kita dewasa atau tidak?
 

(Nantikan kelanjutannya !)


 
 

ARSIP

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi