|
Setiap orang pasti menghadapi masalah dalam perjalanan
hidupnya. Biasanya ketika menghadapi masalah, secara
otomatis orang mencari jalan keluar, mencoba mereka-reka
dengan kekuatan alamiah kita untuk menyelesaikannya. Kita
menganalisa dan mulai membuat pertimbangan, kemudian mulai
bertanya-tanya: “Bagaimana aku bisa membayar kebutuhan
anak sekolah anakku, bagaimana aku bisa mencapai destinasi,
bagaimana mimpiku digenapi.”
Apabila kita terus mempertanyakan Tuhan, bercokol dalam
masalah, bergumul dan mencoba menyelesaikannya dengan cara
kita sendiri, maka hal ini akan membuat kita putus asa,
berbeban berat, bahkan down dan depresi. Orang yang
penuh pertimbangan seperti ini hidupnya 100%
bertolak-belakang dari hidup percaya kepada Tuhan.
Kita tahu, bahwa semua pertimbangan dibuat di dalam pikiran.
Roma 8:7 berkata: “Sebab keinginan daging adalah
perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk
kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.”
Dalam terjemahan bahasa Inggris versi Amplified, ayat ini
dengan jelas mengatakan bahwa “(that is) because the
mind of the flesh (with carnal thoughts and
purposes) is hostile to God, for it does not submit
itself to God’s Law; indeed it cannot.”
Pikiran daging (carnal thoughts) kita berseteru atau
bermusuhan dan tidak pernah sesuai dengan pikiran Tuhan.
Selama kita mengikuti pikiran daging, kita tidak memikirkan
pikiran Tuhan, malah sesungguhnya kita sedang membenci
firman Tuhan, yang membuat kita tidak mentaati Tuhan. Pada
saat itu, sesungguhnya kita sedang bermusuhan dengan Tuhan.
Pertimbangan Menuntun pada Ketidak-taatan
Dalam menghadapi tantangan, setan berusaha sekuat tenaga
menipu kita dengan cara membuat kita mempertimbangkan dengan
pikiran duniawi kita. Akibatnya kita tertipu dan disesatkan.
Ketika Tuhan meminta kita untuk mengampuni maka pikiran kita
berkata: “Ah itu gila, yang salah ‘kan dia!” Kalau
kita terus melayani pikiran daging kita, maka akhirnya
pertimbangan kita yang sesungguhnya adalah dusta itu kita
anggap sebagai kebenaran.
Pertimbangan membawa kita pada ketidak-taatan. Orang yang
membuat pertimbangan secara tidak langsung sedang berkata:
“Tuhan, aku punya jalan yang lebih bagus daripada
jalan-Mu.”
Pada waktu kita bersandar pada pengertian kita sendiri, maka
sebenarnya kita sedang tidak mempercayai Tuhan sama sekali.
Kita ijinkan pikiran kita mengontrol kita, dan akibatnya
kita menikmati buahnya; yaitu kehidupan yang frustasi,
bingung dan kacau. Banyak orang Kristen hidup seperti ini.
Setiap kali menghadapi tantangan, secara otomatis dia
membuat pertimbangan; akibatnya hidupnya penuh dengan
kemarahan, emosionil dan mudah tersinggung.
Amsal 3:5 mengajarkan kepada kita untuk “Percayalah
kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar
kepada pengertianmu sendiri.”
Hidup dengan pertimbangan sama seperti orang yang bermain
jet coaster. Pikirannya liar tak terkendali. Pikiran liar
ini harus kita tundukkan kepada firman Tuhan dengan cara
mengambil keputusan untuk tidak menyelesaikan masalah dengan
kekuatan sendiri, melainkan percaya kepada Tuhan dengan
segenap hati bahwa Dia akan menuntun kita dalam damai
sejahtera.
Karena itu waspadalah terhadap alasan yang logis namun dapat
menuntun kita pada ketidak-taatan. Kita menemukan contoh
dalam 1 Samuel 15. Dengan jelas Tuhan sudah memberikan
perintah kepada raja Saul untuk menumpas seluruh bangsa
Amalek dan segala sesuatu yang ada pada mereka (1 Samuel
15:3). Namun raja Saul melanggar perintah Tuhan dengan tidak
menumpas seluruhnya. Pada saat nabi Samuel diperintahkan
Tuhan untuk mengkoreksi raja Saul atas ketidak-taatannya;
Saul membela diri dan mengajukan alasan-alasan logis
berdasarkan pertimbangannya sendiri.
Ketika nabi Samuel berkata: “Kalau begitu kenapa ada bunyi
domba dan lembu yang kudengar?” Raja Saul menjawab: “Oh itu
rakyat yang mau! Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek,
sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu
yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban
kepada Tuhan, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas.”
Kita lihat di sini, raja Saul selalu membuat
pertimbangan-pertimbangannya sendiri. Akibatnya dia tidak
mentaati Tuhan dan akhirnya ditolak Tuhan sebagai raja atas
umat Tuhan. “Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa
bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah
berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman
TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja." – 1
Samuel 15:23.
Tipuan karena Pertimbangan
Tuhan menghendaki kita menjadi pelaku firman, bukan hanya
pendengar firman saja, seperti dikatakan dalam Yakobus 1:22
– “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan
hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu
diri sendiri.”
Dalam terjemahan bahasa Inggris, dijelaskan bahwa kalau kita
hanya mendengar, maka kita menipu diri sendiri karena
membuat pertimbangan-pertimbangan (reasoning) yang
bertentangan dengan kebenaran. “But be doers of the Word
(obey the message), and not merely listeners to it,
betraying yourself (into deception by reasoning contrary
to the Truth)” – James 1:22.
Raja Saul masuk dalam tipuan karena membuat
pertimbangan-pertimbangan yang menjadikan dia sombong dan
akhirnya melawan Tuhan. Deception by reasoning! Orang yang
sombong adalah orang yang berjalan dengan cara berpikirnya
sendiri.
Percaya dan Taat
2 Korintus 10:5 berkata, “Kami mematahkan setiap siasat
orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh
keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah.
Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada
Kristus.”
Siasat ada di pikiran kita. Kita harus mematahkan setiap
siasat, menawan pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.
Ketika kita menaklukkannya kepada Kristus, maka kita ijinkan
Kristus yang menguasai pikiran kita. Kita belajar berjalan
sesuai dengan pendapat Tuhan dan bukan pendapat kita
sendiri. Berhenti mengatasi situasi Anda dengan kekuatan
Anda sendiri sebaliknya percayalah kepada Tuhan! Yang Tuhan
kehendaki dari kita hanyalah ketaatan kita.
Apabila kita berhenti membuat pertimbangan, maka kuasa supra
natural Allah akan membawa kelepasan dalam kehidupan kita.
Kunci agar kita terlepas dari pertimbangan-pertimbangan kita
adalah percaya kepada Tuhan – Trust in God.
Percaya kepada Tuhan membawa peristirahatan dan memberikan
kepada kita sukacita, damai sejahtera dan kemenangan.
Ketika kita percaya kepada Tuhan maka kita sedang berkata:
“Baik Tuhan, aku percaya kepada-Mu. Seluruh hidupku ada
di tangan-Mu, aku tidak berusaha mengerti segala-galanya,
aku tidak tahu bagaimana caranya, namun bila Engkau yang
memegang situasiku maka hidupku pasti berubah.”
Akibatnya kita terlepas dari roh beban berat.
Bila kita sadar bahwa hanya Tuhan yang bisa memberikan
kemerdekaan dan kelepasan kepada kita, maka kita harus
berhenti mereka-reka. Mari kita mempraktekkan apa yang Tuhan
pikirkan sesuai Filipi 4:8 yang berkata: “Jadi akhirnya,
saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua
yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang
sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut
dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Promo: Pertimbangan membawa
Anda pada kebingungan, kesombongan dan kekacauan. Temukan
pengajaran yang membuat Anda mencapai tempat di mana Tuhan
ingin Anda berada. Lihat diri Anda menang setiap hari setiap
saat. Temukan kunci untuk keluar dari
pertimbangan-pertimbangan Anda sendiri. Pelajari cd dan vcd
“judul khotbah”
(Nantikan artikel selanjutnya!)
Belajar lebih
banyak mengenai Firman Tuhan melalui kaset dan CD / VCD
khotbah yang diajarkan dengan praktis dan jelas. Hubungi
bagian media MMM di (021) 3510535 - 40 Dengan senang hati kami
membantu Anda untuk memilih topik yang Anda perlukan. Tuhan
tidak pernah kehabisan ide untuk menolong Anda.
Untuk menjadi mitra kerja dari Maria Magdalena Ministries,
hubungi bagian MITRA KERJA di (021) 3510535 - 40 dengan Yoan atau
Linda. Kami rindu Anda menerima impartasi berkat dan urapan
yang ibu Indri terima dari Tuhan.
|