 |
 |
|
|
 |
 |
|
|
|
|
|
|
|
derap remaja adalah bahan
pembinaan untuk remaja.
disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu
bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan
metode penyampaian.
telah terbit edisi 25. tahun
XIII
para penulis derap remaja
2008 : pdt. addi soselia
patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. widi
artanto, pdt. didik
tridjatmiko, pdt. wisnu
sapto nugroho,
pdt. tabita
kartika christiani,
margaritifera
lystiakusumadewi
tata letak: abiya wyanto
kontak: widi artanto,
samirono baru 72 komp. lpps,
yogyakarta, 55281.
telp.(0274) 514721-551592
fax. 0274) 543001
Harga per eksemplar Rp.
25.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan
memakai blangko yang
dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA
cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi
Artanto.
Segera kirimkan
pemberitahuan pengiriman
bank.
|
|
|
|
|
September 2010 |
1. Ragu-ragu
1 Korintus 10:23- 11:1
2. Marah
Markus 10:13-16
3. Malu Bukan Tabu
Yeremia 8:1-12
4. Tatkala Musim Cuek Tiba
Yunus 1:1-17
|
Ragu-ragu
|
|
FOKUS |
Bacaan: I Korintus 10:23 -11:1
Bahan yang diperlukan: Fotokopi bahan studi kasus
|
Manusia senantiasa diperhadapkan dengan berbagai pilihan untuk menentukan sikap hidup. Setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan sikapnya sendiri, tetapi menentukan sikap yang tepat dan benar tidak selalu mudah. Perasaan ragu-ragu dapat muncul saat harus menentukan sikap dalam situasi tertentu. Pada remaja rasa ragu lebih sering terjadi, sebab remaja belum sepenuhnya dewasa - meskipun juga bukan anak-anak lagi. Umumnya keraguan tersebut terjadi karena remaja takut jika sikap yang diambilnya salah atau jika sikapnya tidak sesuai dengan tuntutan orang tua, guru, masyarakat, atau teman-temannya. Hal ini wajar. Oleh karenanya remaja membutuhkan prinsip-prinsip hidup yang dapat dijadikan pegangan, diantaranya yang akan dipelajari hari ini. Melalui pelajaran hari ini diharapkan remaja tidak ragu-ragu untuk mengambil sikap yang tepat dan benar dalam pergumulan hidupnya sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan dapat memuliakan namaTuhan. |
Penjelasan Teks
1. Orang Kristen di kota Korintus hidup di tengah masyarakat yang tidak percaya kepada Allah; mereka menyembah dewa-dewa. Penyembahan kepada dewa seringkali menggunakan hewan-hewan yang dikorbankan di kuil-kuil. Daging binatang yang telah dipersembahkan kepada dewa kemudian dijual ke pasar. Jadi, apabila orang Kristen hendak membeli daging, yang tersedia di pasar hanya daging bekas persembahan kepada dewa. Maka timbullah pendapat yang berbeda di kalangan umat Kristen mengenai boleh atau tidak boleh makan daging bekas persembahan itu, khususnya jika mereka diundang pesta di rumah orang yang tidak percaya kepada Allah. Sekelompok orang berpendapat tidak boleh makan daging itu. Pendapat ini berlatar belakang kepercayaan terhadap perintah dalam hukum Taurat untuk menjauhi penyembahan berhala. Ikut makan daging itu berarti juga ikut menyembah berhala. Kelompok yang lain berbeda pendapat. Sebagai orang Kristen, mereka sudah bebas dari hukum Taurat. Dengan demikian, boleh makan daging bekas persembahan kepada berhala. Daging itu tetap daging biasa yang tidak dapat mempengaruhi seseorang untuk ikut menyembah berhala.
2. Menanggapi perselisihan yang ada, Paulus meluruskan bahwa orang Kristen memang tidak lagi diperbudak oleh dosa, tidak juga oleh aturan-aturan keagamaan. Namun kebebasan itu bukan asal bebas, melainkan ada prinsip-prinsip yang tetap harus diperhatikan, yakni:
a. Prinsip kegunaan
Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna (ayat 23). Orang Kristen harus mempertimbangkan segala hal yang dilakukannya apakah berguna atau tidak. Jika tidak, tentu sia-sia saja dilakukan.
b. Prinsip membangun iman
Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu membangun (ayat 23). Orang Kristen harus mempertimbangkan apakah yang dilakukan membangun iman atau malah membuat iman mengalami kemunduran.
c. Prinsip kebersamaan
"Janganlah seorang pun yang mencari keuntungan sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain" (ayat 24). Artinya janganlah seseorang melakukan sesuatu berdasarkan niat untuk menguntungkan diri sendiri tanpa peduli bagaimana dengan orang lain. Sebab bisa terjadi diri sendiri
untung, tetapi orang lain dirugikan.
Paulus memberi contoh bahwa iapun berusaha untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan orang lain,bukan untuk keuntungannya sendiri (seperti memperoleh nama besar atau kehormatan), melainkan agar orang lain juga diselamatkan (ayat 33).
d. Prinsip memuliakan nama Allah "Jika engkau makan atau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah" (ayat 31).
Jika orang Kristen melakukan segala sesuatu, dasar dari tindakannya se-harusnya adalah kesadaran untuk memuliakan nama Allah. Oleh karena itu perilaku orang Kristen harus dijaga agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.
3. Paulus menegaskan bahwa prinsip-prinsip di atas harus diperhatikan agar jangan sampai orang Yahudi, orang Yunani, maupun jemaat Kristen lainnya timbul syak di dalam hatinya (ayat 30).
Kata "jangan menimbulkan syak"dalam hasa aslinya adalah aproskopos yang artinya jangan membuat orang lain berbuat dosa. Bisa juga berarti jangan menyebabkan orang lain mempersalahkan. Dengan kata lain, Paulus mengatakan sekalipun makan daging bekas persembahan berhala diperbolehkan, jangan sampai itu membuat pihak lain yang belum percaya kepada Allah atau ragu-ragu jatuh ke dalam dosa atau mendapat kesempatan untuk mempersalahkan kekristenan.
Pengenaan
Sebagai orang Kristen, remaja adalah orang yang sudah dibebaskan dari perbudakan dosa. Oleh karenanya dalam menjalani hidup yang baru mereka mesti memiliki sikap hidup yang benar. Namun dalam situasi tertentu ternyata tidak mudah menentukan sikap yang tepat dan benar. Hal ini menimbulkan keragu-raguan tentang sikap apakah yang harus diambil. Karenanya remaja Kristen harus berpegang pada prinsip-prinsip kristiani agar dapat menentukan sikap yang tepat dan benar sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, agar nama Tuhan dimuliakan.
Langkah-langkah Penyampaian
1. Awali penyampaian dengan ilustrasi. Berikan ulasan bahwa Lawing telah mengambil sikap yang benar sekalipun awalnya ia ragu-ragu.
2. Tanyakanlah kepada remaja kapankah mereka pernah merasa ragu-ragu? Kemudian sampaikanlah bahwa ragu-ragu adalah perasaan yang wajar terjadi saat remaja berhadapan dengan situasi yang mengharuskannya menentukan sebuah sikap (lihat fokus). Misalnya: ikut-ikutan atau tidak saat diajak teman merokok, mencontek atau tidak saat ulangan, patuh atau tidak terhadap larangan orang tua untuk tidak berpacaran dulu sebelum lulus SMA, menerima atau tidak pernyataan cinta atau perhatian khusus dari seseorang. Kemudian beri pertanyaan bagaimanakah remaja kristen menghadapi situasi semacam itu?
3. Ceritakanlah perbedaan pendapat yang terjadi di jemaat Korintus perihal makan daging bekas persembahan berhala dan latar belakangnya (lihat Penjelasan Teks 1).
4. Jelaskanlah bagaimana Paulus menanggapi perselisihan yang ada dengan mengemukakan empat prinsip yang harus diperhatikan oleh umat Israel (lihat Penjelasan Teks 2).
5. Tegaskan bahwa sekalipun ragu-ragu adalah hal yang wajar, namun remaja Kristen harus terus belajar untuk dapat menentukan sikap hidup yang benar. Jangan sampai sikap hidup remaja menjadi batu sandungan bagi orang lain dan tidak memuliakan nama Tuhan (lihat Penjelasan Teks 3 dan pengenaan).
6. Akhiri dengan kegiatan.
Ilustrasi
Menghormati Ciptaan Tuhan
Lawing adalah seorang anak suku Dayak. Suatu hari Lawing diajak oleh teman-temannya pergi ke belakang kampung mengetapel burung-burung. Sebenarnya ia ragu-ragu dan tidak suka membunuh burung-burung yang tidak bersalah itu. Tetapi karena takut ditertawakan teman-temannya, ia terpaksa ikut. Tidak jauh dari kampung, mereka melihat sebuah pohon yang terdapat banyak burung sedang berkicau. Dengan sangat perlahan-lahan anak-anak kampung itu menuju pohon tersebut. Ketika sudah cukup dekat, mereka melepaskan ketapelnya dari ikat pinggang dan mengambil batu kerikil dari dalam kantong celananya. Mereka sudah siap untuk membidik.
Waktu lonceng gereja mulai berbunyi, suaranya bercampur dengan kicau burung. Bagi Lawing suara lonceng itu merupakan suara dari surga. la tepuk tangan, mengusir burung-burung, sehingga kawan-kawannya tidak sempat membidiknya.
Sejak hari itu rasa hormat dan cintanya terhadap segala makhluk hidup tertanam di hati Lawing.
(dikutip dari buku "Lawing" karya Yan Zwiss, MSF)
Kegiatan
Studi kasus
Kasus Toni
Toni adalah seorang pelajar kelas 3 SMU. la ingin sekali melanjutkan studi ke sebuah perguruan tinggi. la sudah beberapa kali mendatangi perguruan tinggi idamannya dan mencari berbagai informasi yang diperlukan. Toni bahkan sudah menyisihkan sebagian uang jajannya untuk ditabung supaya bisa dipakai melengkapi biaya masuk perguruan tinggi. Saat mengikuti ujian akhir, ternyata ia lulus dengan nilai memuaskan.
Pada suatu hari orang tua Toni memanggil Toni dan mengajaknya berbicara. Ternyata mereka berterus terang bahwa saat ini mereka tidak punya cukup uang untuk biaya masuk Toni ke perguruan tinggi. Usaha mereka baru saja ditipu orang dan mereka kehilangan uang dalam jumlah puluhan juta rupiah. Akibatnya uang tabungan untuk kuliah Toni pun juga ikut ludes. Malah kini mereka masih harus menanggung cicilan hutang bank yang tidak sedikit jumlahnya.
Toni sangat kecewa. la juga merasa sedih dan marah. Toni tidak marah kepada orang tuanya. la marah kepada orang yang menipu orang tuanya karena orang itu sebenarnya sudah dianggap saudara sendiri oleh keluarga Toni. la juga marah terhadap keadaan yang membuatnya tidak berdaya. Kini masih pula ia dihadapkan pada persoalan lain, yakni ayahnya bermaksud meminjam tabungannya untuk membayar angsuran hutang bank. Mereka mengatakan bahwa tahun depan mungkin Toni sudah dapat masuk perguruan tinggi idamannya jika selama setahun ini mereka dan Toni bekerja dengan giat.
Toni sangat bingung, di satu sisi ia sayang melepaskan uang tabungannya, di sisi lain ia tahu bahwa orang tuanya benar-benar butuh uang. Jika jatuh tempo angsuran bank tidak dibayar, maka mereka akan terkena denda, yang tentu semakin memberatkan keluarga Toni. Toni juga meragukan apakah ia bisa bekerja. Kerja apa yang akan dilakukannya? Apakah ia bisa melakukannya? Bagaimana nanti komentar teman-temannya jika tahu bahwa ia tidak jadi melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi? Pasti rasanya malu sekali. Namun Toni harus mengambil keputusan. (berdasarkan kisah nyata)
Pertanyaan
Jika kamu menjadi Toni, bagaimana kamu menentukan sikap?
A R S I P
|
 |
 |
|
|
|
|